12 August 2013

Radio Media FM Surabaya Spesialis Pop Nostalgia

Pagi ini, 12 Agustus 2013, saya ngopi di sebuah depot tak jauh dari Bandara Juanda Surabaya, kawasan Sedati, Sidoarjo. Seperti biasa, pemilik kafe itu memutar lagu-lagu lawas nonstop. Sejak buka sampai tutup musiknya pop Indonesia nostalgia mulai era Kopral Jono, 70an, 80an, 90an, hingga pertengahan 2000an.

Saat mengetik naskah ini terdengar Payung Fantasi ciptaan Ismail Maruki dalam irama jazz. Lagu lama tapi asyik sekali karena dimainkan dalam aransemen jazz yang swing habis. "Payung fantasi arah ke mana dituju... Hei hei tunggu dulu!" Kalau tak salah yang nyanyi Elfa Singers.

"Lagu-lagu nostalgia itu enak-enak, nancap di hati," kata bapak pemilik depot yang memang doyan musik sejak muda itu. Lagu sekarang juga bagus-bagus, aransemen lebih kaya, mutu rekaman jauh lebih oke, tapi kurang nancap. Ngetop sejenak kemudian dilupakan orang.

Beda dengan lagunya Bob Tutupoly yang terdengar saat ini. "Jangan pernah berkata benci padaku... " Begitu syair lagu si nyong Ambon yang besar di Surabaya itu.

Si tuan warung tak perlu memutar lagu-lagu sendiri. Cukup nancap di FM 90.1 Radio Media FM Surabaya. Stasiun radio yang bermarkas di Jalan Jawa 31 Surabaya itu memang sangat populer di kalangan orang-orang lawas, 30 tahun ke atas. Mereka sudah punya banyak file musik masa lalu sehingga sulit diajak untuk menggandrungi lagu-lagu pop baru.

Makin tua usia makin banyak koleksi file masa lalunya. Sisi inilah yang dengan jeli dimasuki Pak Bambang Samiaji, pengusaha Tionghoa Surabaya, ketua komunitas Anxi Jawa Timur, untuk membuat radio khusus lagu-lagu nostalgia. Virus tembang kenangan ditularkan Bob Tutupoly di Indosiar beberapa tahun lalu, disusul Zona 80 dan Zona Memori di Metro TV.

"Semua orang itu suka musik pop. Dan radio sangat efektif untuk memberi hiburan kepada masyarakat. Cuma para pendengar ini punya selera yang berbeda-beda tergantung usia dan komunitasnya," kata Bambang Samiaji suatu ketika.

Orang Surabaya asli dan lawas pasti tahu Pak Bambang Samiaji yang selalu energetik itu. Tahun 1970an, ketika radio swasta di Surabaya hanya 10, Bambang Samiaji sudah jadi bos Radio Susana Jaya yang bermarkas di Simolawang Baru V/2 Surabaya. Radio ini kemudian berganti nama menjadi Suzana FM dan pernah sangat terkenal pada 1980an hingga menjelang 2000.

Sampai sekarang Suzana masih eksis dan punya banyak anak. Salah satunya ya Media FM. Ada lagi yang namanya EBS, Strato, Merdeka FM. Yah, Bambang Samiaji memang salah satu raja radio swasta di Jawa Timur.

Kembali ke Media FM radio nostalgia. Meski tidak saya putar setiap hari, saya melihat penggemarnya sangat banyak dan tersebar di banyak kota di Jawa Timur. Ini karena jangkauannya memang luas. Beda dengan Strato FM yang terbatas di komunitas Tionghoa penggemar pop mandarin. Bahkan tak sedikit orang muda di bawah 30 tahun yang requiest lagu.

"Requiest sering kali terlalu banyak sehingga kami terpaksa melakukan pembatasan. Kasihan pendengar lain tidak dapat kesempatan," kata Bung Didit, salah satu penyiar Media FM.

Suatu ketika saya berkunjung ke studio Strato FM menemui Lidya Laoshi, guru bahasa Mandarin yang siaran di Strato. Oh, ternyata studio Strato bersebelahan dengan Media. Belasan ibu-ibu muda tampak antusias menemui sang penyiar lagu-lagu lawas pujaan mereka.

Antusiasme pendengar Media FM itu tidak terasa di Strato FM. Lidya Laoshi yang lulusan Taiwan itu hanya sendirian cuap-cuap di ruang kaca yang luasnya hanya sekitar 4 x 4 meter.

Salam nostalgia!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment