10 August 2013

Prof Thohir Luth tokoh Muhammadyah dari Flores Timur


 Saya beberapa kali kontak dengan Prof Dr Thohir Luth MA via ponsel. Saya coba pakai bahasa Lamaholot, bahasa daerah kami di Flores Timur, NTT. Wah, Pak Thohir pun terkejut mendengar saya bicara dalam bahasa daerah.

Maka percakapan singkat itu pun bukan lagi wawancara tapi ngobrol kekeluargaan antara sesama orang Flores Timur di Jawa Timur. Saat ini Prof Thohir Luth, guru besar Universitas Brawijaya Malang, menjabat ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Ulama besar dengan umat puluhan juta yang tersebar di 38 kabupaten/kota.

Mengurus sekian banyak amal usaha Muhammadyah seperti sekolah, universitas, rumah sakit, panti asuhan dan sebagainya. Tak heran putra asli Lamaholot yang lahir di Lohayong, Kabupaten Flores Timur, ini sibuk bukan main.

"Mo ata belen ka urus ribu ratu pe," kata saya dalam bahasa daerah khas Flores Timur.

Saat itu Prof Thohir Luth berada di Kalimantan. Pakar hukum Islam ini pun menjawab SMS dalam bahasa daerah:

"Syukur tite bisa herun nawate, tutu koda onet. Kalau ama ke Malang kontak-kotak goe biar tite bisa herun nawate balik."

Artinya, syukur kita bisa bertemu, saling berbincang dan cerita. Kalau anda ke Malang, kontak saya supaya kita bisa bertemu lagi.

Saya gembira betul karena sudah lama tidak mendengar Lamaholot logat Solor Timur, khususnya Lohayong. Selama di Jawa Timur saya hanya dengar Lamaholot versi Ileboleng Adonara dan Ileape Lembata. Logat Lohayong Pak Thohir ini mirip Lamakera atau Lamahala yang sama-sama kampung Islam.

Tampilnya Thohir Luth sebagai profesor doktor, ulama, ketua Muhammadiyah, memang layak dibanggakan orang NTT, khususnya Flores Timur. Bukan apa-apa. Selama ini Solor hanya dianggap sebagai pulau tandus, kering, sulit maju karena topografinya berbukit-bukit. Tak ada tanah datar untuk sekadar membuat lapangan bola sederhana.

Medannya begitu berat sehingga untuk membuat jalan raya saja susah. Tapi kok bisa muncul tokoh sekaliber Prof Thohir Luth? Itulah berkat Tuhan. Dan kegigihan orang Solor dalam menuntut ilmu hingga jenjang tertinggi.

Desa Lohayong, kampung halaman Prof Thohir Luth, sejak dulu terkenal sebagai salah satu dari lima kerajaan Islam di Flores Timur yang disebut Watan Lema. Watan artinya pantai, lema = lima. Lima pantai. Kelima kerajaan Islam itu adalah Lohayong, Lamakera, Lamahala, Terong, Labala.

Di wilayah lima kerajaan di pinggir pantai inilah warga etnis Lamaholot pertama kali memeluk agama Islam yang disebarkan dari tanah Jawa pada tahun 1420-an. Islam justru masuk lebih dulu sebelum kedatangan misionaris Katolik dari Portugis. Rakyat Lohayong bahkan berhasil mengusir Portugis yang meninggalkan jejak berupa Benteng Hendrikus yang terkenal itu.

Karena itu, sebagai warga asli kerajaan Islam, tentu saja sejak kecil Thohir Luth sudah mendapat penggemblengan dalam ilmu agama Islam. Bakat dan kemampuannya yang cermerlang membuatnya berhasil mendapat gelar doktor kemudian profesor.

Meski begitu, Pak Profesor tetap menunjukkan diri sebagai sosok yang rendah hati dan bersahaja. Beliau tak lupa asal usulnya sebagai putra daerah Flores Timur yang saat ini dipercaya sebagai ketua umum PW Muhammadiyah Jawa Timur.

"Jabatan itu amanah," Prof Thohir Luth menegaskan. "Go pia urus ribu ratu wi...." (Saya lagi mengurus ribuan umat.)

Selamat bertugas Ama Thohir!

Soga naran Lewotanah! Urus ribu ratu mang sare-sare! Ake lupang lewotanah Lohayong watan lolon!

9 comments:

  1. Salut sama Prof Thohir Luth yg berhasil mengangkat nama Flores Timur di bidang dakwah Islam. Jarang ada orang muslim NTT yg menonjol di tingkat nasional.

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah Prof. Thohir bisa memberikan banyak manfaat bagi Flores NTT, saya juga kebetulan Orang Flores "Manggarai Barat" orang tua masih disana. Hurek orang Flores juga ya...., sayangnya saya gak bisa Bahasa Flores karena dari kecil di Bima.

    ReplyDelete
  3. Terima kasih bung zuraid bima. Prof thohir memang sering diminta masukan pendapat tentang pembangunan di NTT khususnya solor. Beliau tinggal di Jawa Timur tapi punya konsen dgn kampung halaman.

    Saya memang asli suku Lamaholot alias Flores Timur tapi beda pulau. Saya di lembata, pak thohir di solor. Saya tinggal di Surabaya. Selamat idulfitri maaf lahir batin.

    ReplyDelete
  4. gak nyangka prof thohir itu orang flores... very interesting!!!!

    ReplyDelete
  5. Prof Thohir seorang intelektual Muslim yg sederhana dan low profile. Kita membutuhkan figur seperti beliau.

    ReplyDelete
  6. Saya senang dg tulisan yg mengapresiasi ulama, intelektual muslim, seperti Prof Thohir Luth. Jadi kagum sama orang Flores yg ternyata punya potensi besar.

    ReplyDelete
  7. Beliau adalah dosen saya ketika saya menyelesaikan pendidikan di Universitas Brawijaya. Beliaulah yang memperkenalkan pertama kali pemikiran filsafat yang rumit dengan bahasa yang sangat mudah difahami. Disitulah saya begitu kagum dengan pemikiran beliau yang luar biasa! Terimakasih Prof Thohir atas curahan ilmu yang bermanfaat..

    ReplyDelete