22 August 2013

Pilgub Jatim dan Nasib Pengungsi Sampang

Soekarwo, Eggi, Bambang DH, Khofifah

Sampai sekarang sekitar 300 pengungsi asal Sampang, Madura, masih bertahan di rusunawa Jemundo, Sidoarjo. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum lama ini datang ke Surabaya antara lain membahas persoalan ini. Tapi belum jelas mereka dipulangkan ke kampung halaman di Madura.

Harapan presiden agar mereka bisa berlebar di kampungnya jelas tak kesampaian. Sudah ada upaya dialog tapi belum ada titik terang. Menteri Agama Suryadharma Ali malah meminta para pengungsi berpaham Syiah itu dicerahkan dulu agar bisa pulang.

Lantas, bagaimana sikap empat calon gubernur Jawa Timur terhadap masalah Syiah di Sampang ini? 

Semuanya kurang cerah alias abu-abu. Maklum, masalah Syiah ini sangat sensitif dan dianggap kontraproduktif dengan elektabilitas.

Para cagub, termasuk inkumben, tentu saja memilih suara khalayak ramai, ulama Madura, yang ingin komunitas itu taubat nasuha alias dicerahkan dulu. Terlalu dekat dengan pengungsi Syiah bisa membuat kandidat tidak disukai karena dianggap mendukung aliran sesat.

Isu ini pula yang kita dengar saat kampanye di Madura hari-hari ini. Para cagub mau tak mau mengikuti suara massa yang menolak masuknya aliran sesat di Madura. Sudah terang aliran sesat apa yang dimaksud.

Karena itu, tidak mungkin empat cagub ini merangkul 300 pengikut Tajul Muluk dengan risiko kehilangan jutaan suara. Padahal, konstitusi kita jelas menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk menganut agama/keyakinan tertentu. Pasal-pasal tentang hak asasi manusia pun sudah dimasukkan di dalam UUD 1945.

Tak hanya Syiah, dalam debat kandidat di televisi, cagub independen Eggi Sudjana pun saya perhatikan agak gamang menjawab pertanyaan Prof Ayu Sutarto tentang aliran kepercayaan. Guru besar Universitas Jember ini bertanya bagaimana sikap Eggi Sudjana terhadap 65 aliran kepercayaan yang ada di Jawa Timur.

"Kita kembali ke konstitusi," kata Eggi Sudjana. Namun, Eggi menambahkan, para penganut aliran kepercayaan itu perlu terus didakwahi agar.... 

Bel pun berbunyi.

Begitulah. Masalah agama, kepercayaan, sekte, denominasi, memang sangat sensitif di Indonesia, tak hanya di Jawa Timur. Ketika sudah berurusan dengan pemilihan kepala daerah, pemilihan umum legislatif, pemilihan presiden... elektabilitas, popularitas, maka seorang politisi atau kandidat kepala daerah pun memilih untuk memihak keinginan massa.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

4 comments:

  1. Semangat Konstitusi1:19 AM, August 23, 2013

    Paling gampang memang menyalahkan golongan minoritas. Dulu pas Orde Baru, walaupun Suharto Islam dia juga penganut kejawen, aliran2 kepercayaan Jawa terlindungi. Yang disalah2kan aliran kepercayaan Konghutju, karena diasosiasikan dengan ke-Cina-an, jadi tabu untuk dibicarakan. Makanya penganut Konghujtu pada pindah agama, jadi Protestan, Katolik, bahkan Islam. Seharusnya pejabat yang bijaksana akan menggunakan momen seperti ini untuk memberikan pendidikan dan pencerahan politik kepada rakyat: begini lah seharusnya bersikap yang benar secara konstitusional. Bukannya malah memihak, atau seperti si Ali goblok, mengompori.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Khonghucu atau agama Tionghoa (Tridharma) jauh lebih beruntung karena tetap eksis dan berkembang. Bahkan sudah diakui sebagai agama resmi keenam di Indonesia. Agama2 asli Indonesia yang disebut aliran kepercayaan itu perlahan-lahan dihabiskan karena tidak disukai Orde Baru.

      Setelah reformasi, ada kecenderungan masyarakat pun semakin konservatif dan skripturalistik. Meskipun sudah menganut agama resmi, ya, masih dianggap kurang islami, kurang kristiani dsb. Katanya, era kebangkitan agama dengan simbol2 luar yg makin menonjol.

      Delete
  2. Terima kasih bung sudah diposting, klo kata bung Hurek kasian deh lo jadi minoritas disalah satu tulisannya :). Menarik memang berbicara kedua agama ini, tanpa maksud merendahkan agama lain, jikalau kata almarhum Gus Dur kedua agama ini yang hanya mempunyai semangat misiologi dan dakwah tetapi sayangnya membicarakan kedua agama ini, kedua jamaah’nya terperangkap oleh pendekatan abad pertengahan atau era perang salib dimana kafir mengkafirkan adalah hal yang umum sehingga dari isu mualaf sampai pemimpin yang harus seiman menjadi topic yang terus diperdebatkan di dunia dan Indonesia khususnya terlepas dari kemampuan dan visinya.

    Founding fathers kita, Sukarno – Hatta salah satunya, dengan cara penyampaian yang berbeda – beda telah mengingatkan bahwa Negara Indonesia adalah Negara untuk semua orang, semua golongan dan hendaklah setiap warga negara bertuhan dengan keyakinannya masing2 itu artinya Indonesia adalah Negara gotong royong, Negara guyub dan hak berketuhanan, berkeyakinan adalah milik individu Negara menjamin kebebasannya.

    Indonesia tidak sama dengan Mesir, Amerika, Indonesia adalah Negara yang banyak suku dan ini tidak bisa dibantah, orang2 animisme di Indonesia adalah orang yang spiritual, buktinya perdamaian cultural tiga batu di Papua, lain di NTT , lain pula di Bali yang bisa mendamaikan konflik agama bapa Abraham yang sudah berabad - abad ini, Yahudi, Kristen, Islam, Druz dan sebagainya masih konflik sampai sekarang di timur tengah.

    Untuk Egi, ga usa RASIS-lah.

    ReplyDelete
  3. Masalah aliran kepercayaan atau juga disebut AGAMA ASLI memang sejak Orde Baru sudah ada perintah GBHN. Intinya, aliran2 kepercayaan itu dibina, diawasi, didakwahi agar tidak berkembang menjadi agama baru. Kedua, masyarakat penganut aliran kepercayaan (kebatinan) supaya didirong untuk memeluk salah satu agama yang diakui di Indonesia. Khususnya agama mayoritas di wilayah komunitas itu berada.

    Jadi, jawaban Eggi Sudjana dalam debat kandidat gubernur Jatim di televisi itu memang sudah standar GBHN. Hampir semua orang Indonesia yang lahir di zaman GBHN memang berpendapat seperti itu karena indoktrinasi GBHN, P4, dsb sangat gencar selama 30 tahun.

    Terima kasih atas komentar sampeyan yang selalu memperkaya sentilan pendek saya. Sangat menarik karena komentarnya malah lebih berbobot ketimbang artikelku. Heheehehe....

    Salam pencerahan!

    ReplyDelete