17 August 2013

Pelukis kaya setelah meninggal

Menjelang Idulfitri selalu ada acara pemberian santunan kepada seniman-seniman Jawa Timur oleh gubernur. Paling banyak seniman rupa alias pelukis. Dan, biasanya, selalu ada gunjingan di sana-sini karena pembagian tali asih itu dianggap tidak merata.

Mengapa si A dapat si B tidak? Kok kubu itu-itu saja yang dapat? Maklum, seniman itu punya kubu-kubuan kayak politisi. Ironis juga karena nilai tali asih atau THR itu tak seberapa besar. Di bawah upah minimum provinsi atau kabupaten.
Mengapa pelukis-pelukis layak disantuni? Rupanya pemerintah tahu betul sebagian besar pelukis kurang sejahtera. Lukisan-lukisannya banyak tapi jarang laku atau tidak laku. Lah, kalau tak ada karya yang terjual, si pelukis dapat uang dari mana?

Ada memang pelukis yang karyanya dihargai puluhan juta, ratusan juta, bahkan miliaran rupiah. Tapi biasanya yang begini ini tidak banyak. Faktanya, sebagian besar pelukis di Jawa Timur yang senen kemis bergulat dengan persoalan ekonomi.

Bahkan ada pelukis senior yang hobinya meminta uang rokok atau bensin dari temannya yang bukan pelukis. Broer, minta 20 untuk pulang ke Sidoarjo! Broer, minta ditraktir makan siang dulu! Broer.... Ada-ada saja permintaan seniman nyentrik ini.

Anehnya, ketika diskusi membahas nasib seniman lukis, si pelukis senior ini paling keras membantah pendapat bahwa pelukis itu ekonominya pas-pasan. "Siapa bilang pelukis miskin? Pelukis itu kaya. Sangat kaya. Dia punya karya yang harganya tak ternilai," katanya.

Anggap saja satu lukisan harganya Rp 5 juta, maka 10 lukisan nilainya Rp 50 juta. Seratus lukisan sudah setengah miliar. Jadi, memang betul pelukis bukan golongan ekonomi lemah atau keuarga miskin. Apalagi membuat lukisan biasanya tak butuh waktu lama. Srat sret srot... jadilah karya seni rupa.

Sayang, nilai aset ratusan juta itu belum mewujud menjadi uang tunai. Masih sebatas asumsi atau taksiran di atas kertas belaka. Dan, biasanya, lukisan-lukisan itu dihargai mahal, tak cuma lima juta, justru setelah sang pelukis meninggal dunia. Karya-karyanya jadi buruan kolektor.

Maka, sang pelukis pun menjadi kaya raya setelah meninggal dunia. Berbahagialah pelukis-pelukis yang sudah mencicipi kekayaan sebelum meninggal dunia.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment