28 August 2013

Pasar Barter Katolik-Islam di Flores Timur

Di era internet dan mini market ini, sebagian orang Flores Timur dan Lembata di NTT masih melakoni perdagangan barter. Barang ditukar barang. Ikan ditukar telur, jagung, kelapa, singkong, ubi kayu, dan sebagainya.

Kenangan masa kecil saya di Flores Timur pun muncul kembali saat melihat liputan Ramadan di televisi dan surat kabar bulan Juli 2013 lalu. Yah, pasar barter ini memang ada di berbagai wilayah di bumi Lamaholot yang meliputi Solor, Adonara, Lembata, dan Flores Timur daratan.

Di daerah asal saya, Ile Ape, tradisi pasar barter ini bisa dijumpai di Lewotolok, Mawa, Lemau, Baopukang, atau Dulitukan. Frekuensi dan kemeriahannya memang sudah beda dengan era 1990an dan 1980an tapi nuansa kekeluargaannya sangat terasa.

Mengapa sistem barter marak di Flores Timur pedalaman? Karena sebagian besar orang desa tidak pegang uang tapi punya barang. Dompet memang kosong tapi orang kampung punya ayam, telur, jagung, ubi, singkong, hingga kambing atau babi.

Belum lama ini media nasional terbitan Jakarta meliput pasar barter di Watanpao, Adonara. Ina Tina yang Katolik menukar pisang dan uwe wohi alias ubi jalar dengan garam dapur dari Ina Siti asal kampung Islam.

Saudara-saudari kita yang muslim memang sangat membutuhkan pisang, ubi, kacang hijau untuk kolak berbuka puasa. Dan kebetulan sebagian besar muslim Lamaholot ini orang pantai yang tak biasa bekerja di kebun. Mereka nelayan dan pelaut-pelaut ulung.

Selain pasar Watanpao, di Pulau Adonara terdapat pasar barter di Waiwadan, Waiwerang, dan Baniona. Di Pulau Solor pasar barter bisa dijumpai di Pamakayo, Menanga, Lohayong, Kelike.

Pasar barter sekaligus menjadi ajang silaturahmi antarwarga berbagai desa di Flores Timur. Juga ajang komunikasi dan sambung rasa antara warga yang beragama Islam dan Katolik. Dalam bahasa daerah di kampung saya:

Ata kiwan nong ata watan kerung wekike teti wulen!

Ata kiwan berarti orang Katolik yang biasanya tinggal di dekat gunung. Ata watan berarti orang pantai yang merujuk pada umat Islam di Flores Timur. Harian Kompas edisi 2 Agustus 2013 menulis: "Rasa saling membutuhkan ini membuat hubungan antara umat kristiani dan muslim di Flores begitu akrab."

Betapa sulit membayangkan Ata Kiwan bisa hidup tanpa Ata Watan, dan sebaliknya. Mana mungkin manusia bisa hidup dengan hanya makan ikan dan garam tanpa jagung, beras, atau umbi-umbian. Sebaliknya, Ata Kiwan pun niscaya selalu membutuhkan ikan, garam, gula pasir, baju, kopi, dan kebutuhan lain yang dijajakan pedagang watanen (muslim).

Membayangkan suasana pasar barter di Lewotanah, yang biasa berlangsung seminggu sekali, saya teringat lagu daerah Gambus Adonara yang diputar keras-keras di pasar. Suasananya gembira, sedih, kadang menyayat hati.

Keleng laleng keleng....
Siti bote laleng keleng....


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment: