07 August 2013

Orang NTT jarang mudik

Menjelang lebaran ratusan juta orang Jawa pulang kampung. TKI pun banyak yang mudik meskipun ongkosnya lebih mahal ketimbang gaji sebulan. Semua demi silaturahmi dengan keluarga, kerabat, teman masa kecil di kampung halaman.

"Saya bisa mati kalau tidak mudik lebaran," kata Lia yang bekerja di Malaysia. Guyon tapi sangat serius.

Mudik sudah jadi budaya lama di Jawa sejak era kerajaan-kerajaan lama macam Majapahit. Orang desa yang juga kawula kerajaan mudik ketika ada hajatan besar di kampung halaman. Tradisi ini makin disempurnakan dengan tradisi silaturahim setelah masuknya agama Islam.

Karena itu, jutaan orang Jawa yang tinggal di Jakarta atau Surabaya wajib hukumnya pulang kampung untuk beridulfitri. Jalan raya sejelek apa pun diterobos asal bisa balik kampung. Kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan uang.

Lain Jawa lain luar Jawa, khususnya NTT yang mayoritas kristiani. Saya lihat budaya mudik ini sangat kurang, bahkan tidak ada. Sangat jarang orang NTT mudik untuk natal di kampung. Orang Islam di kampung saya di Flores Timur pun jarang yang mudik. Bahkan teman saya Idris yang kerja di Malaysia sudah 20an tak pulang kampung.

Saya hanya ketawa-ketawa saja mendengar cerita tentang teman SD yang jago berkelahi dan main bola ini. Idris bahkan tak merasa perlu balik kampung yang masih belum maju itu. Teman-teman muslim asal Flores di Jawa pun tak ada yang mudik.

"Idulfitri itu di mana pun sama saja," kata Mat alias Muhamad asli Lembata. Hehehe.... Aneh juga. Rupanya hiruk pikuk mudik di Jawa tak berimbas sama sekali ke orang NTT yang satu ini.

Mengapa budaya mudik hari raya tidak ada di NTT? Karena setiap Desember pemerintah melarang kapal-kapal berlayar antarpulau karena gelombang sangat tinggi. Bahaya. Sementara orang-orang dari 22 kabupaten umumnya kuliah atau bekerja di Kupang.

Selain bahaya gelombang, kapal pun sangat terbatas. Apalagi zaman dulu hanya ada kapal atau perahu layar yang waktu tempuhnya tidak jelas. Bisa-bisa penumpang terkatung-katung di laut selama satu minggu. Sementara hari rayanya sudah selesai.

Itu yang di Kupang. Di wilayah satu kabupaten pun boleh dikata orang-orang desa tidak mudik hanya untuk berhari raya Natal atau Lebaran. Contohnya orang-orang asal Kecamatan Ileape atau Omesuri yang tinggal di Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata, tidak pernah pulang ke kampung halamannya karena merasa sudah punya kampung halaman yang baru di kota.

Orang-orang desa di NTT umumnya sangat gandrung jadi orang kota dan lupa desanya. Sementara orang-orang Jawa yang tinggal bertahun-tahun di Jakarta, Surabaya, Semarang dan sebagainya tetap merasa sebagai orang kampung sehingga merasa wajib untuk mudik.

Selamat lebaran! Maaf lahir dan batin! Salam mudik!
Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment