24 August 2013

Orang Flores yang lupa bahasanya

Kemarin saya cangkrukan di lapangan belakang Boen Bio, kelenteng Khonghucu, Kapasan, perkampungan lama Tionghoa di Surabaya. Cari informasi tentang Kinghoping alias sembahyang rebutan sembari menikmati nasi goreng yang khas. Nasi goreng buatan wanita Tionghoa asal Kupang, NTT, yang bersuamikan laki-laki Tionghoa asli Kapasan.

"Beta bikin nasi goreng khusus na. Lu cari di semua restoran sonde katamu," kata pedagang nasi goreng dalam bahasa Kupang. Logat Kupangnya tetap kental meski sudah bertahun-tahun jadi orang Surabaya.

Seperti biasa, kami pun bicara bahasa Melayu Kupang, bahasa persatuan orang NTT. Curhat soal tiket pesawat ke Kupang yang makin mahal hingga perkembangan Kupang yang makin maju. Tak lagi ndeso seperti sepuluh tahun lalu.

Tiba-tiba muncul seorang pria 50an tahun. "Bung, dia itu orang Flores Timur. Sama dengan Bung," kata ibu Kupang ini meminta kami berkenalan.

Wow, senang bukan main hatiku karena jarang-jarang bertemu orang Flores Timur. Saya pun mulai memancing beliau ini berbicara dalam bahasa Lamaholot, bahasa daerah Flores Timur dan Lembata.

"Ama, moe aku lewun?" Saya bertanya.

"Saya dari Larantuka."

"Larantuka Nagi le Tanjung Bunga le Adonara..."

"Saya dari Leworere. Itu lho yang di dekat Waibalun," dia menjawab.

Cukup. Setiap pertanyaan saya dalam bahasa daerah dijawab bahasa Indonesia campur Jawa. Jelas dia sangat paham bahasa Lamaholot tapi enggan menggunakannya. Mungkin lupa karena sudah terlalu lama tinggal di Jawa.

Bung ini tidak sendiri. Saya memang biasa mengetes kemampuan dan kemauan berbahasa daerah orang Flores Timur dan Lembata di perantauan. Hasilnya, sebagian besar orang malu (atau lupa) bahasa ibunya. Bahasa ibu dianggap kurang gengsi, bahasanya orang kampung yang belum maju.

Setelah bung itu pergi, pamit dalam bahasa daerah, saya mulai membahas kasus kecil ini dengan ibu Tionghoa Kupang penjual nasi goreng itu. Saya kasih tahu bahwa orang Flores tadi sudah lupa bahasa daerah.

"Beta ajak bung itu omong bahasa daerah, dong jawab pake bahasa Indonesia," kata saya.

"Beta sonde parcaya na kalo bung itu lupa. Sonde mungkin lupa maskipun kitong su lama di Jawa," ibu itu menjawab sambil tertawa.

Saya melanjutkan menikmati nasi goreng khas Kapasan Dalam. Saya menyimak pembicaraan sebagian besar konsumen yang mayoritas Tionghoa. Ada yang berbahasa Hokkian, Mandarin, Tionghoa Surabaya, hingga bahasa Madura. Tidak ada yang berbahasa Indonesia kecuali Bung Flores yang sudah pergi itu.

Wah, luar biasa orang Tionghoa di Surabaya itu. Bahasa leluhurnya hidup terus dan berkembang pesat meski Orde Baru berusaha mematikannya. Orang Tionghoa mampu melestarikan bahasa daerah leluhurnya plus bahasa nasional Putunghoa alias Mandarin meskipun lingkungannya Jawa, Madura, Kupang, Betawi dan sebagainya.

Sebaliknya, bahasa-bahasa daerah etnis bumiputra makin lama makin terdesak karena penutur aslinya malu berbahasa ibu. Rupanya Orde Baru kualat. Politik bahasanya yang merepresi Tionghoa malah kontraproduktif.

Bahasa-bahasa etnis Tionghoa hidup subur, sementara bahasa-bahasa pribumi makin mundur. Angkat topi untuk Tionghoa!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment