08 August 2013

Lebaran tiba, bebas makan siang

Lebaran pun tiba. Tak hanya umat muslim yang senang tapi juga nonmuslim. Bukankah nonmuslim tak berpuasa? Betul. Tapi selalu ada ras waswas ketika harus makan siang di depot, restoran, atau warung nasi di pinggir jalan.

Kalau di Surabaya atau Sidoarjo atau Malang sih no problem. Pemerintah dan masyarakatnya sangat cerdas dan modern. Kita bisa makan siang hari tanpa rasa takut bakal digaruk satpol PP atau ormas tertentu. Pun tak ada perda atau surat wali kota yang melarang orang menjual makanan dan minuman pada siang hari selama bulan puasa.

Tapi di sejumlah kabupaten sudah lama ada perda yang melarang orang menjual nasi atau makanan siang hari. Yang paling terkenal adalah Pasuruan. Kabupaten dan kota yang punya objek wisata pegunungan yang indah itu sangat sering menurunkan petugas gabungan untuk merazia warung dan restoran.

Orang-orang yang ketahuan makan siang hari karena memang tidak berpuasa, termasuk nonmuslim, sering dipermalukan. Seakan-akan makan siang itu suatu tindak pidana atau kejahatan. Bahkan foto orang yang makan siang itu dimuat media massa lokal. Katanya untuk menimbulkan efek jera.

Tahun ini perda soal makan pagi atau siang selama Ramadan di Pasuruan sedikit dilonggarkan. Warung atau restoran boleh buka tapi harus ditutup kain agar tidak kelihatan dari luar. Pengunjung pun tidak boleh makan atau minum di tempat tapi membeli makanan bungkusan untuk dibawa pulang.

Kalau ada yang ketahuan makan di warung itu. Tetap dirazia dan diberi sanksi sesuai perda yang berlaku. Karena itu, Bu Sum pekan lalu sangat ketakutan ketika saya membuka tirai merah di warungnya, dekat tempat wisata air terjun terkenal, pada siang hari.

"Saya takut dirazia," kata ibu yang lugu ini.

"Sumpek Bu, gelap. Saya kan ngopi sambil baca koran," kata saya kepada ibu warung langganan saya di Kabupaten Pasuruan itu.

"Kalau ada razia saya tanggung jawab. Yang tidak boleh itu minum bir, maksiat, melacur, mencuri, molimo Bu. Makan dan minum itu bukan perbuatan maksiat. Saya kan bukan muslim," saya menegaskan.

Tapi Bu Sumiati tetap saja takut meski sudah dibekingi rombongan wisatawan asal Surabaya. Dia khawatir usahanya dipersulit pemerintah daerah. Bisa-bisa tidak bisa jualan lagi.

Saya baca di internet, ada PNS di Pasuruan terkena razia ketika sedang makan siang di sebuah warung sederhana. Malunya luar biasa karena dia diperiksa, ditanya macam-macam, dipotret, diberitakan di media massa. Termasuk di media online.

Syukurlah, hari raya sudah tiba, razia warung nasi pun berakhir. Semoga ke depan aparat keamanan lebih serius merazia pungutan-pungutan liar, prostitusi terselubung maupun terbuka, oknum-oknum korup ketimbang merazia warung nasi di siang hari.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment