26 August 2013

Lagu liturgi khas Flores di Surabaya

Sudah bertahun-tahun saya tak mendengar nyanyian ini di gereja. Nyanyian liturgi Katolik yang mengingatkan kampung halaman di pelosok Lembata, kawasan Flores Timur, NTT. Mengingatkan mama yang sudah tiada yang mengajariku lagu ini ketika saya masih bocah.

Ekaristi sakramen mahakudus... Oh santapan rezeki umat Allah... Yang berziarah menuju surga...

Yah, nyanyian liturgi yang dulu sangat populer di kampung-kampung Flores itu kini saya nikmati lagi di Surabaya. Dibawakan paduan suara pelajar SMPK Santo Yosef, Joyoboyo, saat perayaan ekaristi di Gereja Katolik Yohanes Pemandi, Wonokromo, Surabaya. Misa dipimpin Romo Silas Wayan Eka SVD yang suaranya menggelegar itu.

Saya pun larut dalam lagu lama itu. Membayangkan masa silam ketika melihat orang-orang kampung berlatih kor di gereja desa berdinding bambu, berlantai pasir, beratap alang-alang. Karena orang desa tak punya buku Syukur Kepada Bapa alias SKB, maka Ama Polus, guru SD saya almarhum, menulis notasi dan teks di papan tulis. Pakai kapur tulis cap Sarjana.

"Kita mulai dengan membaca not dulu," Ama Polus mengajak umat Stasi Mawa, Lembata.

Do mi sol do... Si re do si la sol mi... Mi re mi fa.. La la sol sol fa mi....

Itulah lagu Ekaristi Sakramen Mahakudus yang sangat terkenal ketika saya masih SD. Lagu lain yang ngetop adalah Aku Rindu Akan Tuhan, Kucinta Hanya Dikau Tuhan, Hormat Sembah Syukur, Kepada Bapa yang Esa, Mengasih Maria, Siti yang Mulia...

Pindah ke Jawa Timur, kecenderungan musik liturgi di Keuskupan Malang dan Keuskupan Surabaya ternyata beda jauh dengan tiga keuskupan di Flores (Larantuka, Ende, Ruteng). Kor-kor di Jawa di kota besar sangat profesional dengan referensi klasik yang sangat kuat.

Organis-organis di Jawa umumnya hebat karena hasil sekolahan. Beda dengan kor kampung di pelosok Flores yang tanpa piano, organ, bahkan listrik. Tapi banyak pula kor Katolik di Jawa yang berantakan karena nekat memilih lagu-lagu yang terlalu sulit, sementara kemampuan penyanyi pas-pasan.

Kali pertama ikut misa di Jawa, saya kaget karena umat begitu lancar menyanyikan paket misa Lauda Sion atau Misa Raya di Madah Bakti. Kaget karena ordinarium ini tergolong sulit dan panjang. Beda dengan lagu-lagu pendek di Flores yang tingkat kesulitannya hampir tidak ada.

Lama-lama saya pun terbiasa dengan komposisi sulit di Jawa. Aktif di paduan suara dengan lagu-lagu Ave Verum Corpus, Exultate, Hallelujah Handel, hingga nyanyian inkulturasi. Saya pun lupa dengan lagu-lagu liturgi khas Flores yang suka dinyanyikan bapa mama ade kaka di kampung halaman itu.

Syukurlah, tiba-tiba saya kok ingin misa di Wonokromo, sebelah RSAL Ramelan. Dan... air mataku jatuh ketika mendengar anak-anak SMPK Santo Yosef, Joyoboyo, membawakan lagu Ekaristi Sakramen Mahakudus. Diiringi permainan organ yang indah, lagu untuk mengiringi komuni kudus ini jauh lebih bagus ketimbang di kampung saya dulu yang tak punya organ.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment