15 August 2013

Kulit gelap no problem



Obrolan santai di sebuah kafe di Surabaya itu biasa saja. Mengalir, enteng-entengan. Beberapa orang wanita merapatkan lengan, membandingkan warna kulit. Mana yang bening, gelap, gelap banget.

"Gak usah khawatir, ada whitening kok. Usahakan jangan terkena sinar ultraviolet," kata seorang wanita yang kulitnya bening.

Si kulit gelap tampaknya kurang konfiden dan merasa tidak cakep. Maklum, orang-orang kota di Jawa ini sangat mengidolakan artis atau bintang film kulit bening. Makanya artis blasteran bule paling laris di Indonesia sejak puluhan tahun silam.

Pemain film yang berkulit gelap biasanya jadi pembantu atau figuran semacam kuli atau tukang pukul. Penyanyi-penyanyi pun yang diutamakan berkulit bening. Suara bagus tapi kulit gelap tak dapat tempat di industri musik. "Gak iso didol," kata seorang produser di Jakarta.

Mendengar ocehan orang-orang di kafe Surabaya itu, saya teringat orang-orang di Indonesia timur, khususnya tempat asal saya NTT, khususnya Flores dan Lembata. Mayoritas orang NTT itu berkulit gelap rambut tak lurus.

Apakah orang-orang berkulit gelap ini risau hanya karena warna kulitnya kontras dengan ideal orang Indonesia di Jawa? Sama sekali tidak. Biasa-biasa saja. Dan memang tak pernah dibahas serius maupun santai.

Ketika pulang mudik ke NTT beberapa waktu lalu, saya melihat anak-anak muda masih senang menjemur badan di bawah sinar matahari setelah mandi di laut. Kebiasaan yang juga selalu saya lakukan semasa kecil hampir setiap hari di Lembata. Maklum, rumah saya hanya sekitar seratus meter dari pantai Laut Flores.

Habis jemur, cebur ke laut, menantang gelombang, jemur lagi, cebur lagi, sampai bosan. Tentu saja kulit tubuh yang sudah gelap itu menjadi semakin gelap dan hitam. Rambut pun menjadi kekuningan karena terkena air laut bergaram tinggi.

Toh tidak ada yang menertawakan badan gelap karena memang semua orang berbadan gelap. Biasanya orang NTT mulai sensitif dengan urusan warna kulit ketika hijrah ke Jawa untuk sekolah atau bekerja. Awalnya cuek tapi lama-lama akhirnya sadar bahwa ternyata kulit gelap itu jadi masalah besar bagi sebagian besar orang kota.

Ketika jalan-jalan ke Kuta dan Sanur, Bali, saya melihat begitu banyak orang Barat kulit putih sengaja menjemur tubuh mereka di atas pasir. Sangat dinikmati. Rupanya bule-bule itu ingin kulitnya gelap seperti orang NTT.

"Di Eropa saya jadi pusat perhatian jemaat. Mereka selalu mengagumi warna kulit saya yang gelap," tutur seorang pastor asal Flores yang bertugas di Eropa.

Wow, rupanya rumput tetangga memang selalu lebih hijau. Yang Indonesia ingin memutihkan kulit, sementara yang bule malah ingin menggelapkan kulit.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

7 comments:

  1. Shalom,

    lama ta jumpo Uda, ha, ha, ha iya beda budaya lain lubuk lain ikanya, ya kebanyakan korban iklan, padahal Tuhan mencipta warna kulit berbeda ada maksudnya sesuai kondisi geografis dan sosial kultur setempat, ya syukuri saja apa yang ada miris juga klo liat orang kulit hitam dari, Jawa, Batak, NTT, Papua berpacu mengejar kemajuan hingga lupa siapa qta sebenarnya sehingga yang terjadi culture shock dan anak muda Bali banyak juga yang menjadi korban iklan ini, bukankah Alkitab mencatat di kidung Agung bahwa puteri yerusalem itu hitam tapi manis, akhir kata tetap menulis kaka n karunia Allah sertamu :)

    ReplyDelete
  2. Aaaahh ya benar. Saya merasakan rasisme di Jawa, terutama di Jakarta yg benar2 mengidolakan orang2 berkulit putih. :( Walaupun saya orang Jawa disini, saya tau rasanya diskriminasi warna kulit. Jjur saya slah satu org Jawa yg berkulit gelap, ntah kenapa orang2 slalu bertanya, "Kamu ini orang Jawa tp kok berkulit gelap???" Jujur saya pernah merasa minder sekali, tp semenjak pnya bnyak teman dri org2 Indonesia timur, saya jd lebih pede dan lebih menyukai kulit saya. Mereka tdk peduli orang mau bicara apa. Mau kulitnya gelap, rambutnya bergelombang... Mereka ttp pede. Saya jd suka kulit gelap, saya ga perlu menutup-nutupi diri saya sndiri. Saya bangga sbagai slah satu org indonesia yg berkulit gelap...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orang Jawa mendiskriminasi sesama Orang Indonesia keturunan Tionghoa yang kulitnya lebih terang, dasarnya kecemburuan sosial (inferiority complex). Eh ternyata Orang Jawa mendiskriminasi sesama Jawa dan sesama Orang Indonesia dari timur yang kulitnya lebih gelap, dasarnya rasa superioritas sosial (superiority complex). Warna kulit ternyata bisa menjadi tanda identitas sosial seseorang.

      Delete
  3. hehehe analis mas Duku sangat tepat sekali.

    ReplyDelete
  4. Sedikit banyak ada kaitan dengan pembagian kelas masyarakat pada era Hindia Belanda. Kelas 1 Belanda/Eropa, kelas 2 Tionghoa/Arab (Timur Asing), kelas 3 pribumi alias inlander, kelas 4 orang2 Indonesia timur yg masih primitif. Setelah merdeka, meskipun teorinya sama rata sama tinggi, perasaan lebih tinggi dari etnis lain masih terasa. Apalagi di luar negeri pun orang2 hitam masih sering dianggap manusia kelas 2. Bahkan USA yang dianggap jawara demokrasi pun manusia2 keturunan Afrika sering dianggap warga negara kelas 2 atau kelas 4.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pak Lambertus benar. Di atas kertas memang dikatakan "All Men are Created Equal". Itu di mukadimah konstitusi Amerika, yang menjadi insipirasi mukadimah UUD 1945 juga. Pada kenyataannya, hanya pada tahun 1863, Lincoln mengumumkan Emancipation Proclamation atau Proklamasi Emansipasi para budak, yang kemudian diikuti oleh pemberontakan dan perang saudara yang sangat berdarah antara utara-selatan. Hanya tahun 1920, perempuan boleh ikut pemilu. Hanya pada tahun 1968, setelah perjuangan panjang dan juga berdarah, Civil Rights Act (UU Hak Asasi) disahkan. Setelah itu pun, orang hitam masih diperlakukan tidak adil dan tingkat kemiskinan dan tindakan kriminal di antara masyarakat keturunan Afrika masih tinggi secara proporsional jumlah mereka. Orang bilang, some men are created more equal than others. Orang kulit putih, ternyata diciptakan lebih sama daripada yang lain! Tetapi, nah di Amerika ini selalu ada tetapinya. Selalu ada orang-orang berhati mulia yang berjuang sebagai aktivis.

      Delete
    2. Ralat untuk Anonymous. "All men are created equal" itu ada di Declaration of Independence (proklamasi kemerdekaan), bukan konstitusi.

      Delete