01 August 2013

Jakarta yang Kelebihan Muatan

Sehebat-hebatnya Jokowi atau Ahok tidak akan mampu mengatasi masalah kemacetan di Jakarta. Mengapa? Penduduk Jakarta plus kota-kota satelit Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi sudah terlalu banyak. Jakarta itu ibarat kapal atau truk gandeng yang kelebihan muatan.

Maka, satu-satunya cara untuk menyelamatkan Jakarta adalah dengan mengurangi muatan yang berlebihan itu. Gerson Poyk, sastrawan asal Sumba, Nusa Tenggara Timur, sejak 1980-an selalu ngomong soal overpopulasi ibukota ini melalui tulisan-tulisannya baik esai, cerpen, maupun reportase jurnalistiknya di Sinar Harapan.

Minggu lalu, Pak Gerson kembali menyentil kemacetan Jakarta dalam cerpennya di Kompas Minggu tentang pengacara pikun. Saya tertawa sendiri membaca cerpen kocak yang masih konsisten dengan teori buang beban kapal laut itu. Kalau beban itu tidak dibuang ke laut, maka kapal bernama Jakarta itu akan tenggelam.

"Jakarta harus dikosongkan 50 persen," kata Gerson Poyk lewat mulut salah satu tokoh cerpennya. 

Penduduk DKI Jakarta yang sekarang ini 10 juta harus disisakan menjadi 5 juta saja. Dengan lima juta jiwa orang, Jakarta punya ruang untuk bernapas. Lalu lintas di jalan raya masih bisa lancar meskipun tidak akan selancar Jakarta era 1970-an dan 1980-an.  

Mengosongkan Jakarta berarti menghidupkan ekonomi di semua daerah di tanah air, Sabang sampai Merauke. Orang-orang daerah yang keasyikan cari makan di Jakarta didorong untuk kembali ke kampung halamannya. Bekerja membangun kampung halamannya sendiri.

Mungkinkan itu? "Kenapa tidak?" ucap pria sepuh yang masih suka bertani di kawasan Depok, Jawa Barat ini.

Gerson menegaskan, kebijakan pembangunan di Indonesia salah sejak dulu. Ekonomi, lapangan kerja, hanya tumbuh di kota-kota. Anak-anak desa yang sekolah di kota bekerja di kota, tak akan kembali lagi ke kampung halamannya. Kota-kota diserbu orang desa, urbanisasi, sehingga Jakarta setiap tahun kedatangan penduduk baru.

Menjelang Lebaran, setiap musim mudik massal, seperti ini saya selalu ingat kata-kata Gerson Poyk. Jakarta memang ditinggal 50 persen penduduknya untuk silaturahmi plus berlibur plus pamer kesuksesan di desa. Tapi cuma untuk dua minggu. Setelah itu ramai lagi, macet lagi, overload lagi.

Gerson Poyk sendiri pun lebih memilih bertani di Depok, dekat Jakarta, sembari tetap berkreasi sebagai sastrawan dan budayawan. Kakek yang satu ini tak berani pulang bertani di Sumba, NTT, membangun di kampung halamannya. 

Begitulah. Bicara memang selalu lebih mudah ketimbang melakukannya. 

4 comments:

  1. Sebenarnya gampang. Masalahnya kan hanya supply dan demand. Anda bilang demand dikurangi (manusia dipindahkan dari Jakarta). Tetapi kota itu sebenarnya tempat yang sangat efisien untuk berbagi berbagai sarana.

    Sebenarnya banyak sekali kota2 besar yang seperti Jakarta di dunia ini, dalam arti menjadi pusat politik, perdagangan, dan keuangan. Yang sudah pernah saya kunjungi: Paris, Frankfurt, Munich, Tokyo, Singapura, Hongkong, New York City, sangat nyaman berkeliling di kota2 tsb. Bedanya ialah, pemerintah2 di kota2 tersebut bisa mengantisipasi kebutuhan untuk bandar laut, bandar udara, sistem transportasi masal, pemipaan air, pembuangan air (got, kanal / kali), jaringan listrik, jaringan internet, dll. jasa2 yang diperlukan oleh sebuah kota metropolitan. Orang-orang Indonesia yang pandai pun bisa mengantisipasi, karena kalau kita lihat rencana ruang tata kota (master plan) itu wuih, hebaaat.

    TETAPI (dan ini selalu jadi tetapi di Indonesia) tingkat korupsi Indonesia, terutama Jakarta, itu terlalu tinggi, karena mental pejabat2 itu rusaaak. Sehingga ijin bangunan tidak menurut tata kota, sehingga air bawah tanah disedot oleh hotel2 dan apartemen2 dan mal2 sampai Jakarta pasti akan ambles. Pasar dikuasai preman, sistem transportasi masal tidak segera diimmplentasi karena benturan kepentingan keuangan dari politisi2 yang terlibat. Surabaya suasana kekeluargaannya dan solidaritas masih lebih tinggi, jadi mungkin bisa lebih baik.

    Seperti Jokowi dan Ahok itu kan membuat keputusan2 yang secara logika gampang. Tapi kenapa kok kelihatan sulit? Karena terbentur kepentingan2 ekonomi dari mafia / preman. Semua baliknya ke duit. Jokowi dan Ahok tidak perlu duit, karena walaupun mereka tidak kaya raya tetapi sudah berkecukupan. Dan mereka berintegritas tinggi, biarpun digonggongi oleh anjing2, sebagai kafilah yang kalem mereka tetap berlalu, dan menjalankan kebijakan2 mereka.

    Pejabat seperti Jokowi dan Ahok itu kalau di negara2 lain yang sudah madani, itu biasaaaa banget. Tapi kalau di Indonesia mereka termasuk superhero karena yang lainnya anjing semua.

    ReplyDelete
  2. udah rumit permasalahan jakarta, dan tampaknya surabaya 5-7 tahun kedepan juga akan seperti jakarta. macet karena sistem transportasi masal kurang nyaman, bahkan under nyaman. pusat perdagangan di indonesia timur terletak di surabaya. infrastruktur daerah yg kurang, membuat orang berpindah ke pusat

    ReplyDelete
  3. manajemen mudik harus diperhatikan pemerintah, jalan raya, khususnya pantura perlu diperkuat. jangan rusak melulu. mudik itu budaya yg tidak akan bisa dihilangkan. pemerintah punya waktu 1 tahun untuk ngurusin mudik ini.

    ReplyDelete
  4. Masalah perkotaan itu selalu rumit, tetapi gampang penyelesaiannya, asal ada kemauan pejabatnya saja. Kalau duit sih banyaaaak. Triliunan, wong ekonomi Indonesia lagi booming. Ini bukan mengirim orang ke bulan atau space station. Wong contohnya sudah banyak, yang dekat2 aja, macam Singapura, sudah ada.

    Cuman ya itu, pejabatnya mau dan mampu gak?

    ReplyDelete