29 August 2013

Hilangnya lembaga pemantau pemilu

Pemilukada Jawa Timur memasuki hari pencoblosan 29 Mei 2013. Anehnya, sejak awal tahapan tak ada lembaga pemantau pemilu independen yang bekerja. Pilgub pun jalan terus gelundung semprong saja.

Rumah seorang kawan aktivis di Medaeng yang dulu jadi markas pemantau pemilu kini diubah jadi penginapan murah. Maklum, dekat Terminal Bungurasih. Markas JPPR juga di Medaeng sudah jadi kos-kosan. Kiprah Jaringan Pendidikan Pemilu untuk Rakyat pun tak terdengar lagi.

Pentolan JPPR yang saya kenal, dulu cangkrukan hampir setiap malam, sudah merintis karier baru di Jakarta. Tak ada kaderisasi atau upaya meneruskan upaya election watch dan pendidikan pemilih seperti dulu.

"Sekarang waktunya cari uang. Idealisme sudah selesai. Kita tidak bisa makan idealisme," kata teman bekas aktivis pemantau pemilu.

Ada lagi teman lama eks aktivis pemantau pemilu di Surabaya yang kini lebih suka hunting foto dan gendong anaknya. Bagaimana Anda melihat pilgub Jatim?

"Hehehe.... Aku no comment aja. Kita bahas kuliner yang enak lah," kata si pria yang saya pergoki asyik memotret pertunjukan barongsai itu.

Bagaimana dengan KIPP? Pun sudah lama tenggelam di samudera kesibukan mantan-mantan aktivis lawas itu. Kita tidak lagi mendengar kiprah pemantau-pemantau pemilu di Jatim.

Dari ratusan, bahkan ribuan berita pilgub di surat kabar, tak ada satu pun berita tentang kegiatan lembaga atau aktivis pemantau pemilu. Karena memang tidak ada kegiatannnya. Mau diberitakan apanya?

Ironis, ketika pelanggaran pemilu makin menjadi-jadi -- istilah MK-nya massal, masif, sistematis -- tak ada aktivis yang mau jadi sukrelawan untuk memantau pemilu. Maka kerja pemantauan pemilu malah diserahkan kepada ormas-ormas yang tidak independen.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment