10 August 2013

Flores Timur di media nasional


Sebagai putra Lamaholot alias Flores Timur di Jawa, saya melihat ada perkembangan menggembirakan dalam pemberitaan media akhir-akhir ini. Begitu banyak liputan menarik di media-media nasional tentang Flores Timur. Tidak lagi melulu soal rawan pangan alias kelaparan atau wabah rabies.

Majalah Tempo edisi Lebaran, 11 Agustus 2013, ini membahas sastra pesantren dan sastra seminari. Kebiasaan para siswa Seminari Hokeng di Flores Timur yang banyak membaca, belajar bahasa Latin dan bahasa-bahasa asing, berdiam diri, refleksi, menulis puisi dibahas secara mendalam.

Memang, setiap hari Sabtu para seminaris dilarang berbicara. Silencio magnum, hening total. Dalam keheningan itulah mereka merenungkan sabda Tuhan, keindahan alam, menemukan Tuhan, dan menciptakan puisi. Begitu banyak syair yang tercipta dalam keheningan.

Pater Leo Kleden SVD, filsuf dan dosen Seminari Tinggi Ledalero, yang juga alumnus Seminari San Dominggo Hokeng menulis:

Pada mulanya adalah Sunyi
Dan Sunyi itu melahirkan Kata
Dan Kata menciptakan alam semesta
Dan alam semesta menyanyikan madah


Liputan tentang seminari yang didirikan pada 15 Agustus 1950 ini benar-benar menyingkap sisi lain Flores Timur. Bahwa lingkungan pendidikan calon imam di NTT punya potensi untuk mencetak imam, teolog, filsuf, hingga penyair. Para seminaris digembleng untuk hidup dan berkarya dalam sunyi.

Liputan lain yang tak kalah menarik adalah jejak peradaban cendana di Pulau Solor, Flores Timu yang dimuat Kompas. Menarik tapi menyedihkan karena hutan cendana yang mengundang masuknya penjajah itu kini tinggal cerita lalu.

Sebelum ini Flores Timur, tepatnya Larantuka, diliput panjang oleh Jawa Pos saat pekan suci Paskah awal April 2013.Tradisi perarakan setiap Jumat Agung yang disebut Semana Santa dibahas secara mendalam oleh Jawa Pos dan ratusan koran yang bernaung di Jawa Pos Group.

Jawa Pos juga mengupas tuntas keberadaan raja Larantuka yang bertugas merawat tradisi Semana Santa itu. Hebatnya, tradisi Katolik kuno itu di negara asalnya, Portugal, sudah tidak ada lagi.

Berbagai liputan ini setidaknya membuka mata orang Indonesia untuk lebih mengenal Flores. Selama ini belum banyak orang Jawa yang tahu di mana Flores berada.

"Flores itu di Maluku ya? Atau Papua? Flores itu dekat NTT ya? Flores itu di Timor Leste ya?"

Begitu antara lain pertanyaan-pertanyaan konyol yang masih sering saya dengar di Jawa. Termasuk dari kalangan intelektual alias orang-orang berpendidikan tinggi.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

6 comments:

  1. Flores itu Jawa bagian mana? Hhahaha... ada org pernah dahang goe seperti itu, ama... menyangkut postingan di atas, menrut saya baguslah... masyarakat Indonesia yang belum lulus Peta Buta bisa tahu di mana Flores, di mana Solor dan lain-lain... Hmmm itu Seminari Hokeng, orang tua sanak keluarga saya semua di sana sekarang.... sy jg pernah mengenyam pendidikan di sana, tapi gagal di tengah jalan, hehehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe.. hebat Ancis. Ternyata mo alumni seminari hokeng meskipun mo toalo. No problem.. ata diken rang tuana ne tergantung panggilan. Kalo Tuhan Allah mayang hala tetap bisa hala. Kadang2 Tuhan mayang tite, tite tapan hala hehehe... Salam nusa tadon!

      Delete
  2. Jempol dan terima kasih buat Ama Hurek yang sudah banyak berbagi tentang Kampung Tite.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ana Lewohala, mo longet oring goen pi. Salam lewotanah.

      Delete
  3. Jangan lupa Sail Komodo 2013 ini membuat Flores dan NTT makin terangkat ke forum nasional dan dunia. Jangan lupa komodo itu adanya cuma di NTT, khususnya Flores Barat. Thanks atas tulisan2nya yang bermanfaat dan inspiratif.

    ReplyDelete
  4. Ya ini membuktikan bahwa di daerah yang terpencil pun, pendidikan tingkat tinggi dapat dilakukan. Juga membuktikan bahwa tidak beda manusia dari kota vs desa. Dari ras Jawa, Tionghoa, atau Flores, asal mendapatkan kesempatan pasti bisa menjadi orang tercerahkan.

    ReplyDelete