01 August 2013

Doyan Mudik, Emoh Kerja di Desa

Sepuluh hari menjelang Lebaran, biasanya orang-orang yang bekerja di kota-kota besar macam Surabaya atau Jakarta sudah sibuk memikirkan mudik. Pulang kampung. Mulai daftar mudik gratis, belanja macam-macam, atau pesan tiket. Mudik, mudik, mudik, mudiiiiiik....

Begitu antusiasnya orang untuk mudik, meskipun sudah tinggal belasan atau puluhan tahun di kota, tiket kereta api Jakarta ke Surabaya dan kota-kota lain di Jawa sudah habis dua bulan sebelum puasa. Tiket pesawat pun begitu. Maka, jangan harap kita mendapat tiket murah di hari-hari menjelang Lebaran.

"Mudik itu hukumnya wajib," kata Mas Ali, pekerja di Sidoarjo.

Ali sudah meninggalkan kampung halamannya di Nganjuk sejak mahasiswa. Dus, hidupnya lebih lama di Surabaya/Sidoarjo ketimbang di tanah kelahirannya. Tapi, bagi pria jelang 40 tahun ini, Surabaya-Sidoarjo tak lebih sebagai kot tempat cari makan. Dia tidak mungkin tidak mudik.

"Hari raya itu harus di kampung halaman," katanya. 

Meski orang tuanya sudah tak ada, keluarga besarnya ada di desa. Di Surabaya-Sidoarjo yang ada cuma teman kerja. Hubungan kita tidak akan serapat di desa. Di kota Ali bukan siapa-siapa, hanya orang kampung belaka. Di kampung halamannya, Ali dianggap hebat. Dianggap orang berhasil karena punya uang. Hehehe....

Fenomena mudik Lebaran ini memang luar biasa di Pulau Jawa. Di luar Jawa kurang terasa. Bahkan, di Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti pernah saya bahas, tidak ada mudik massal saat Natal, apalagi Lebaran. Saya lihat jarang sekali ada orang Flores Timur yang tinggal di Kupang mau keluar uang banyak untuk mudik bersama keluarganya ke Solor, Adonara, atau Lembata.

Bahkan, jeleknya di NTT, orang-orang kampung yang tinggal di kota macam Kupang atau Ende atau Maumere atau Denpasar sekaligus pindah status penduduk. Dia jadi penduduk di kota. Melepaskan ikatan dengan kampung halamannya. Lama-lama dia akan hilang karena anak cucunya pun hampir tidak pernah menengok kampung asal bapak atau kakek-neneknya. 

Maka, berbahagialah orang-orang di Pulau Jawa yang tak pernah melupakan kampung halamannya. Sangat antusias mudik meskipun perjalanan sangat tidak nyaman dan mahal. Uang THR biasanya amblas saat mudik itu. Toh, pengorbanan itu terbayar oleh kepuasaan batin yang tak mungkin dinilai dengan uang.

Anehnya, meskipun mati-matian pulang mudik, membayar dengan harga berapa pun, beli tiket di mafia calo, sebetulnya puluhan juta orang Jawa itu tidak suka menjadi orang desa. Hampir semuanya ingin tinggal dan kerja di kota.

Mana ada orang kota, yang orang tua atau leluhurnya orang desa, mau tinggal di desa untuk seterusnya? Kembali ke desa, membangun desa, menetap di desa untuk seterusnya?

"Kalau tinggal di desa kita tidak bisa dapat uang. Mau kerja apa?" kata Mas Ali saat cangkrukan di warung kopi.

Maka, setelah berhari raya selama satu minggu, paling lama dua minggu, Mas Ali dan jutaan pemudik lain ramai-ramai kembali ke Surabaya atau Jakarta. Kota besar pun penuh lagi. Dan, biasanya orang-orang desa pun tertarik mengadu nasib ke kota agar bisa mudik ke desa saat hari raya. Urbanisasi ini akan terus berlangsung layaknya lingkaran setan yang sulit diputus.

Karena itu, jangan heran penduduk Kabupaten Sidoarjo saat ini sudah mencapai 2,3 juta jiwa. Padahal, sepuluh tahun lalu tak sampai satu juta. Jakarta yang sudah 10 juta bakal lebih sesak lagi setelah Lebaran. 

Selamat mudik!

No comments:

Post a Comment