10 August 2013

Babu, batur, pembantu, jongos, opas

Selama dua minggu para majikan di kota berlibur ke vila-vila di luar kota. Atau boyongan ke hotel. Bukan apa-apa. Para pembantu rumah tangga alias PRT mendapat jatah mudik atau pulang kampung untuk berlebaran bersama keluarganya.

Budaya mempekerjakan PEMBANTU memang sudah mendarah daging di Indonesia. Tuan-tuan Belanda dulu punya banyak JONGOS untuk mengurus rumah mereka yang sangat besar. Jongos alias kacung londo ini bahkan sangat bangga karena punya penghasilan tetap ketimbang petani-petani di desa yang penghasilannya tak menentu.
Di luar Jawa, khususnya NTT, jongos ini biasa disebut OPAS. Dan mereka bangga pakai predikat ini. Maka ada orang tua yang bernama Opas Frans, Opas Belen, Opas Mekin, dan sebagainya.

Opas kok bangga? Yah, zaman dulu opas-opas ini jadi pesuruh atau kaki tangan aparat Belanda dan punya kekuasaan. Dia lebih tinggi ketimbang bumiputra biasa alias inlander.

Selama liburan Lebaran ini saya iseng-iseng membaca novel pop lawas karya Motinggo Busye terbitan 1980an. Ringan tapi asyik dan lincah. Almarhum Motinggo adalah pencerita ulung yang sangat piawai mengaduk emosi pembaca disertai bumbu humor yang pas. Plus bumbu asmara dan adegan ranjang.

Nah, Motinggo Busye ini saya perhatikan banyak menggunakan kata BABU di semua novelnya. Memang tokoh-tokoh si Motinggo ini selalu orang berpunya yang rumahnya besar, punya mobil, punya babu. Begini petikan kalimat Motinggo Busye di novel berjudul Senyum Duka Doktoranda Linda:

"Di rumah Kidung tidak ada orang. Hanya dua orang BABU dan seorang tukang kebun. Kata BABU, ibu Kidung sedang ke rumah sakit memeriksakan adik Kidung yang masih bayi."

Dari sini kita bisa melihat bahwa istilah BABU pada tahun 1980an bersifat netral, tidak kasar. Tak ada kesan merendahkan. Pekerjaan babu rupanya dibedakan dengan tukang kebun. Rupanya babu itu hanya mengurus rumah tangga, memasak, bersih-bersih rumah, cuci piring, umbah-umbah dan sebagainya. Tukang kebun khususnya bekerja di kebun atau taman milik si majikan.

Makin lama terjadi eufemisme di Indonesia pada era 1990an. Harga naik dibilang disesuaikan. Ditangkap polisi dibilang diamankan. Kata BABU yang tadinya netral pun dihaluskan menjadi PEMBANTU. Tapi di Surabaya saya masih sering dengan beberapa majikan menyebut pembantunya dengan BATUR. Yang begini ini biasanya kelas priyayi lama, nyonya rumah era 70an dan 80an.

Kata pembantu pun dianggap kurang halus. Tak enak di kuping. Maka diperhalus lagi menjadi PRT: pembantu rumah tangga! Dengan menggunakan akronim, makna sesungguhnya bisa lebih tersamar. Sejak 1990an boleh dikata tidak ada lagi media massa menggunakan kata BABU atau batur atau jongos.

Beberapa tahun lalu ada seorang pejabat di Surabaya yang marah-marah, mau menggugat sebuah koran lokal, gara-gara disebut JONGOS. Menurut pejabat itu, kata jongos sangat kasar sehingga tidak layak digunakan untuk menyebut dirinya. Koran itu kemudian minta maaf dan melakukan koreksi seperlunya alias memberi hak jawab.

Istilah PRT yang berarti pembantu rumah tangga pun rupanya masih dianggap kurang halus oleh kementerian tenaga kerja. Kementerian ini mengimbau semua pihak, khususnya wartawan, untuk mengartikan PRT sebagai penatalaksana rumah tangga. Sebab kerja PRT itu urusan housekeeping.

Sementara itu, para aktivis perempuan dan buruh migran juga meminta media massa untuk menyebut PRT sebagai pekerja rumah tangga. Jangan disebut pembantu.

"PRT itu pekerja, bukan pembantu yang bisa disuruh bekerja sekehendak hati majikan. Mereka harus punya kontrak kerja, hak normatif, upah minimum, seperti pekerja industri atau pabrik," kata seorang aktivis perempuan di Surabaya.

Aktivis ini menegaskan bahwa pekerja rumah tangga itu berbeda dengan pembantu atau babu atau batur atau jongos. Babu tak punya posisi tawar, penghasilannya tergantung belas kasihan majikan. Sementara pekerja rumah tangga punya hak dan kewajiban yang jelas.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment:

  1. Sudah lama sekali saya tidak mendengar atau membaca kata batur, padahal kata itu doeloe sering sekali digunakan di Bali dan Jawa. Mengapa istilah BATUR tidak digunakan lagi di Indonesia ? Apakah jeleknya menjadi abdi dalem ? Yang penting adalah gaji yang tinggi atau memadai. Kok mesti selalu mencari istilah baru yang jelimet ? Masyarakat Indonesia pikirannya masih sangat feodal, pekerjaan yang mamakai tenaga dianggap kasar dan rendah.
    Orang Eropa tidak pernah merasa direndahkan, jika mereka bilang; ayah saya tukang batu ( Maurer ), perawat ( Krankenpfleger ), petani ( Bauer ), penjahit ( Schneider ), buruh ( Arbeiter )...dll.
    Di Tiongkok yang komunis, juga banyak istilah2 yang diganti, sesuka udelnya.
    Feodalisme bertentangan dengan Komunisme, tetapi didalam otak orang2-nya kok mirip. Istilah yong-ren ( pembantu ) di China tabu, diganti dengan
    bao-mu ( babysitter, nanny ). Rumah-tangga kami di Tiongkok hanya terdiri dari saya dan bojo. engkong dan emak, tidak ada baby, buat apa kami punya bao-mu.
    Justru sebaliknya, jika kami sedang di Tiongkok, istri-saya lah yang masak untuk batur dan kedua anaknya, sebab pembantu kami tidak bisa masak, bisanya cuma goreng telur dicampur tomat. Maklumlah batur-kami itu dulunya, sejak lulus sekolah dasar sudah jadi buruh serabutan, angkat semen, batu bata, diproyek dll.
    Dia dan anak2-nya dulu selalu makan di-warung2 pinggir jalan, yang menjual makanan murah. Saya dan istri sering juga makan di-warung2 seperti itu, tetapi tidak pernah mencret, seperti kalau makan di Indonesia. Sebab makanan mereka dimasak didepan kita dan disajikan panas2. Yang paling penting adalah air pam atau air ledeng dikota kami sangat jernih, bersih, dingin, lancar dan berkualitas air minum. Adakah sekarang air pam sejenis itu di Indonesia ? Saya besar juga dari air sumur, tetapi adakah sekarang air sumur di Depasar dan Surabaya yang masih layak diminum mentah.
    Bung Hurek, disemua kota2 besar Eropa, ada yang disebut Sekolah Kejuruan Butler ( Akademi Jongos dan Babu ). Sekolah2 ini adalah Sekolah swasta, dan uang sekolahnya mahal, tidak ditanggung oleh pemerintah. Mengapa di Eropa, orang bule ingin jadi Butler, meskipun minimum harus lulusan SMA, dan seleksinya sangat ketat : penampilan, karakter, kesehatan, dll. Guru2-nya adalah Butler2 senior yang sudah berpengalaman.
    Gaji seorang Butler yang baik bisa sampai 10.000,- Euro per bulan, jauh lebih tinggi daripada sarjana2 lulusaan universitas. Yang sangup mempekerjakan seorang Butler, adalah kaum multi millioner dan milliarder. Kecuali pelayanan yang super perfek, juga karena gengsi. Seorang Butler harus sudah tahu sebelumnya, apa kehendak majikan, dan diskretion adalah sikap nomor satu seorang Butler, bukan seperti PRT-Indonesia yang diluaran suka ngerasani dan memaki majikan pakai kata Asu, dll. Saya pernah lihat tayangan tentang Sekolah Butler di TV. Presenter bertanya kepada kepala sekolah : Siapakah yang bisa bayar seorang Butler berijasah dari sekolah anda ? Jawabnya : orang2 Cina kaya diseluruh Asia, termasuk Tiongkok. Gengsi-kan, inlander bisa punya jongos londo.

    ReplyDelete