01 August 2013

Apresiasi Tionghoa untuk Sanggar Alang-Alang

Sejak 1998 Didit Hari Purnomo (61 tahun) mengelola Sanggar Alang-Alang di kawasan Terminal Joyoboyo. Sudah ratusan, bahkan ribuan anak jalanan yang berhasil dientaskan Didit. Suami Budha Ersa itu bertekad terus membina anak-anak dari keluarga kurang mampu di Kota Surabaya.

Konsistensi Didit Hape, sapaan akrab mantan wartawan dan produser TVRI Jawa Timur, mendapat apresiasi dari kalangan pengusaha di Surabaya. Ahad pagi (28/7/2013), sekitar 40 pengusaha yang tergabung dalam Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Perpit) Jawa Timur dan Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya (PMTS) mengunjungi markas Sanggar Alang-Alang. 

Dipimpin Ridwan Sugianto Harjono, ketua Perpit Jatim, rombongan pengusaha disambut dengan ansambel musik kulintang yang dimainkan anak-anak binaan Didit dan keluarganya. 

Para pengusaha itu pun tak sungka menyapa dan berdialog dengan anak-anak itu. Menurut Liem Ouyen, koordinator PMTS, pihaknya sangat mengapresiasi kerja keras Didit Hape dalam mengentaskan anak-anak dan remaja di bidang pendidikan, kesenian, moralitas, dan sosial kemasyarakatan itu. 

"Alang-Alang ini sudah seperti rumah sendiri. Soalnya, sudah 10 tahun kami melakukan anjangsana dan bakti sosial ke sini," kata Liem.

Kepada para pengusaha Tionghoa itu, Didit menjelaskan, saat ini Sanggar Alang-Alang menampung 210 anak dan remaja. Mulai usia taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama. Begitu mencapai usia 17 tahun, anak-anak itu 'diwisuda', kembali ke masyarakat untuk bekerja di berbagai tempat. 

"Yang diwisuda di Alang-Alang ini tidak dapat ijazah, tapi life skill. Insya Allah, mereka bisa mencari nafkah yang halal dan berinteraksi dengan masyarakat lain," kata wartawan senior yang dulu terkenal dengan liputan khas Rona-Rona di TVRI Surabaya itu.

Saat ini Didit mengaku tengah membina anak-anak jalanan di Surabaya Utara, tepatnya di kawasan Morokrembangan. Sekitar 80 anak yang selama ini luntang-lantung mencari nafkah di jalanan ditampung di unit baru itu. 

"Kita ajari musik, mengaji, etika, dan moral, sehingga mereka bisa tumbuh menjadi orang yang punya masa depan," ujarnya.

Usai mendengar penjelasan Didit, satu per satu pengusaha memberikan bingkisan berupa makanan, alat tulis-menulis, sabun, odol, hingga camilan kepada anak-anak Alang-Alang. Sementara grup angklung kembali memainkan beberapa lagu daerah. 

Usai doa bersama yang dipimpin Didit Hape, para pengusaha itu pun meninggalkan markas anak jalanan di pinggir sungai itu.  

No comments:

Post a Comment