05 August 2013

608 tahun kedatangan Sam Poo Kong

Ratusan warga Tionghoa dari berbagai kelenteng di Jawa Timur Senin (5/8/2013) memperingati kedatangan Sam Poo Kong ke tanah air. Perayaan dilangsungkan di Kelenteng Sam Poo Sing Bio alias Mbah Ratu di Jalan Demak 380 Surabaya.

Cing Hwie, pengurus kelenteng ini, menjelaskan, Sam Poo Kong merupakan pelaut ulung dari Tiongkok yang ditugaskan untuk melakukan ekspedisi keliling dunia. Laksamana ini lebih dikenal dengan nama Haji Muhammad Cheng Hoo, yang juga seorang penyiar agama Islam.

"Setiap tahun kami selalu membuat perayaan khusus untuk mengenang kedatangan Sam Poo Kong ke tanah air," kata Cing Hwie.

Hanya saja, tahun ini perayaan dilakukan secara sederhana dengan sembahyang bersama disusul santap malam bersama.
Dulu, biasanya peringatan kedatangan Cheng Hoo ini digelar selama tiga hari dengan aneka pertunjukan tradisional Jawa dan Tionghoa. Pergelaran wayang kulit semalam suntuk tak pernah absen.

"Tapi kali ini sederhana saja karena situasi ekonomi kurang kondusif," ujar pria berkacamata ini.

Menurut CIn Hwie, Kelenteng Sam Poo Sing Bio yang lebih terkenal dengan sebutan Mbah Ratu memang didirikan untuk menghormati Laksamana Cheng Hoo alias Sam Poo Kong. Karena itu, altar utama kelenteng ini adalah Sam Poo Kong yang tentu saja berbeda dengan kelenteng-kelenteng umumnya.

Tak ketinggalan replika kapal Cheng Hoo dan sebatang kayu yang diyakini pecahan kapal armada Cheng Hoo ketika berlayar di perairan Surabaya.

"Jadi, Cheng Hoo ini merupakan tokoh besar yang dihormati berbagai kalangan agama. Tokoh yang sangat pluralis," katanya.

Karena itu, Cing Hwie menambahkan, Kelenteng Mbah Ratu sejak dulu dikunjungi banyak warga yang bukan etnis Tionghoa, khususnya pada Jumat Legi. Kolaborasi Tionghoa-Jawa ini masih terasa sampai sekarang. "Siapa saja boleh berkunjung ke sini," kata Cing Hwie.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment