30 August 2013

PDIP kurang serius, Soekarwo menang mutlak

Hasil pemilihan gubernur Jawa Timur 29 Agustus 2013 sesuai prediksi. Bahkan perolehan suara Soekarwo-Gus Ipul melebihi perkiraan. Luar biasa karena pasangan Karsa ini beroleh suara hampir 50%.

Selisih suara Khofifah dengan Soekarwo hampir 10% berdasar hitung cepat beberapa lembaga survei. Perbedaan ini terlalu mencolok mengingat DPT Jawa Timur itu mencapai 30 juta. Artinya, beda suara nomor 1 dan 4 ini sekitar 3 juta atau setidaknya 2,5 juta.

Optimisme Khofifah-Herman dan timnya ternyata meleset jauh saat pencoblosan. Jangankan bertarung tiga putaran seperti tahun 2008, pemilukada kali ini selesai hanya dengan satu putaran. Khofifah pun tak bisa bicara banyak begitu melihat quick count di televisi sudah terang-benderang tak menguntungkan dirinya.

Soekarwo memang pantas menang karena punya segalanya. Sebagai inkumben, dia punya banyak kesempatan untuk sosialisasi plus kampanye. Pak Gubernur ini tak sekadar bicara atau obral janji tapi sudah kasih bukti nyata. Prestasi Jawa Timur terlalu banyak di tangan Soekarwo-Ipul.

Khofifah pun luar biasa. Dengan persiapan yang mepet, dana cekak, dukungan partai sempat bermasalah, bekas menteri pemberdayaan perempuan ini beroleh suara yang lumayan. Jauh di atas prediksi banyak lembaga survei.

Sayang, Bambang DH ternyata bukan kandidat jempolan sebagai diklaim selama ini. Perolehan suara calon dari PDI Perjuangan ini jauh di bawah standar. Lebih rendah ketimbang suara PDI Perjuangan di Jawa Timur. Dus, mesin politik partai sebetulnya tidak jalan.

Andai saja suara Bambang-Said di atas rata-rata, perolehan Soekarwo-Ipul tak akan sebanyak sekarang. Jika suara Eggi Sudjana pun cukup tinggi, maka tak akan ada pasangan yang mendapat suara 30%. Dan itu berarti akan ada pilgub putaran kedua Soekarwo vs Khofifah seperti lima tahun lalu.

Sayang, PDI Perjuangan rupanya tidak berniat menang pilgub. Sejak awal partai nasionalis ini terkesan aras-arasan memunculkan pasangan calon. Bambang-Said pun dimunculkan sangat mendadak, sementara si inkumben sudah berlari sangat jauh.

Andai saja Khofifah-Bambang bersatu, rasanya Soekarwo-Saifullah Yusuf tak akan semulus sekarang. Tapi rupanya PDI Perjuangan sadar bahwa Soekarwo sulit dikalahkan sehingga pilgub hanya dijadikan ajang konsolidasi menjelang pemilu legislatif.

Apa boleh buat, begitulah jadinya jika PDI Perjuangan kurang serius berlaga di ajang pilgub. Kurang bergairah mendudukkan kadernya sebagai gubernur Jawa Timur. Hanya menjadikan pilgub sebagai sasaran antara. Maka, kemenangan pun menjadi hak Soekarwo yang memang sangat serius mempersiapkan diri untuk melanjutkan pengabdiannya.

Jer basuki mawa beya!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

29 August 2013

Hilangnya lembaga pemantau pemilu

Pemilukada Jawa Timur memasuki hari pencoblosan 29 Mei 2013. Anehnya, sejak awal tahapan tak ada lembaga pemantau pemilu independen yang bekerja. Pilgub pun jalan terus gelundung semprong saja.

Rumah seorang kawan aktivis di Medaeng yang dulu jadi markas pemantau pemilu kini diubah jadi penginapan murah. Maklum, dekat Terminal Bungurasih. Markas JPPR juga di Medaeng sudah jadi kos-kosan. Kiprah Jaringan Pendidikan Pemilu untuk Rakyat pun tak terdengar lagi.

Pentolan JPPR yang saya kenal, dulu cangkrukan hampir setiap malam, sudah merintis karier baru di Jakarta. Tak ada kaderisasi atau upaya meneruskan upaya election watch dan pendidikan pemilih seperti dulu.

"Sekarang waktunya cari uang. Idealisme sudah selesai. Kita tidak bisa makan idealisme," kata teman bekas aktivis pemantau pemilu.

Ada lagi teman lama eks aktivis pemantau pemilu di Surabaya yang kini lebih suka hunting foto dan gendong anaknya. Bagaimana Anda melihat pilgub Jatim?

"Hehehe.... Aku no comment aja. Kita bahas kuliner yang enak lah," kata si pria yang saya pergoki asyik memotret pertunjukan barongsai itu.

Bagaimana dengan KIPP? Pun sudah lama tenggelam di samudera kesibukan mantan-mantan aktivis lawas itu. Kita tidak lagi mendengar kiprah pemantau-pemantau pemilu di Jatim.

Dari ratusan, bahkan ribuan berita pilgub di surat kabar, tak ada satu pun berita tentang kegiatan lembaga atau aktivis pemantau pemilu. Karena memang tidak ada kegiatannnya. Mau diberitakan apanya?

Ironis, ketika pelanggaran pemilu makin menjadi-jadi -- istilah MK-nya massal, masif, sistematis -- tak ada aktivis yang mau jadi sukrelawan untuk memantau pemilu. Maka kerja pemantauan pemilu malah diserahkan kepada ormas-ormas yang tidak independen.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

28 August 2013

Pasar Barter Katolik-Islam di Flores Timur

Di era internet dan mini market ini, sebagian orang Flores Timur dan Lembata di NTT masih melakoni perdagangan barter. Barang ditukar barang. Ikan ditukar telur, jagung, kelapa, singkong, ubi kayu, dan sebagainya.

Kenangan masa kecil saya di Flores Timur pun muncul kembali saat melihat liputan Ramadan di televisi dan surat kabar bulan Juli 2013 lalu. Yah, pasar barter ini memang ada di berbagai wilayah di bumi Lamaholot yang meliputi Solor, Adonara, Lembata, dan Flores Timur daratan.

Di daerah asal saya, Ile Ape, tradisi pasar barter ini bisa dijumpai di Lewotolok, Mawa, Lemau, Baopukang, atau Dulitukan. Frekuensi dan kemeriahannya memang sudah beda dengan era 1990an dan 1980an tapi nuansa kekeluargaannya sangat terasa.

Mengapa sistem barter marak di Flores Timur pedalaman? Karena sebagian besar orang desa tidak pegang uang tapi punya barang. Dompet memang kosong tapi orang kampung punya ayam, telur, jagung, ubi, singkong, hingga kambing atau babi.

Belum lama ini media nasional terbitan Jakarta meliput pasar barter di Watanpao, Adonara. Ina Tina yang Katolik menukar pisang dan uwe wohi alias ubi jalar dengan garam dapur dari Ina Siti asal kampung Islam.

Saudara-saudari kita yang muslim memang sangat membutuhkan pisang, ubi, kacang hijau untuk kolak berbuka puasa. Dan kebetulan sebagian besar muslim Lamaholot ini orang pantai yang tak biasa bekerja di kebun. Mereka nelayan dan pelaut-pelaut ulung.

Selain pasar Watanpao, di Pulau Adonara terdapat pasar barter di Waiwadan, Waiwerang, dan Baniona. Di Pulau Solor pasar barter bisa dijumpai di Pamakayo, Menanga, Lohayong, Kelike.

Pasar barter sekaligus menjadi ajang silaturahmi antarwarga berbagai desa di Flores Timur. Juga ajang komunikasi dan sambung rasa antara warga yang beragama Islam dan Katolik. Dalam bahasa daerah di kampung saya:

Ata kiwan nong ata watan kerung wekike teti wulen!

Ata kiwan berarti orang Katolik yang biasanya tinggal di dekat gunung. Ata watan berarti orang pantai yang merujuk pada umat Islam di Flores Timur. Harian Kompas edisi 2 Agustus 2013 menulis: "Rasa saling membutuhkan ini membuat hubungan antara umat kristiani dan muslim di Flores begitu akrab."

Betapa sulit membayangkan Ata Kiwan bisa hidup tanpa Ata Watan, dan sebaliknya. Mana mungkin manusia bisa hidup dengan hanya makan ikan dan garam tanpa jagung, beras, atau umbi-umbian. Sebaliknya, Ata Kiwan pun niscaya selalu membutuhkan ikan, garam, gula pasir, baju, kopi, dan kebutuhan lain yang dijajakan pedagang watanen (muslim).

Membayangkan suasana pasar barter di Lewotanah, yang biasa berlangsung seminggu sekali, saya teringat lagu daerah Gambus Adonara yang diputar keras-keras di pasar. Suasananya gembira, sedih, kadang menyayat hati.

Keleng laleng keleng....
Siti bote laleng keleng....


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

26 August 2013

Lagu liturgi khas Flores di Surabaya

Sudah bertahun-tahun saya tak mendengar nyanyian ini di gereja. Nyanyian liturgi Katolik yang mengingatkan kampung halaman di pelosok Lembata, kawasan Flores Timur, NTT. Mengingatkan mama yang sudah tiada yang mengajariku lagu ini ketika saya masih bocah.

Ekaristi sakramen mahakudus... Oh santapan rezeki umat Allah... Yang berziarah menuju surga...

Yah, nyanyian liturgi yang dulu sangat populer di kampung-kampung Flores itu kini saya nikmati lagi di Surabaya. Dibawakan paduan suara pelajar SMPK Santo Yosef, Joyoboyo, saat perayaan ekaristi di Gereja Katolik Yohanes Pemandi, Wonokromo, Surabaya. Misa dipimpin Romo Silas Wayan Eka SVD yang suaranya menggelegar itu.

Saya pun larut dalam lagu lama itu. Membayangkan masa silam ketika melihat orang-orang kampung berlatih kor di gereja desa berdinding bambu, berlantai pasir, beratap alang-alang. Karena orang desa tak punya buku Syukur Kepada Bapa alias SKB, maka Ama Polus, guru SD saya almarhum, menulis notasi dan teks di papan tulis. Pakai kapur tulis cap Sarjana.

"Kita mulai dengan membaca not dulu," Ama Polus mengajak umat Stasi Mawa, Lembata.

Do mi sol do... Si re do si la sol mi... Mi re mi fa.. La la sol sol fa mi....

Itulah lagu Ekaristi Sakramen Mahakudus yang sangat terkenal ketika saya masih SD. Lagu lain yang ngetop adalah Aku Rindu Akan Tuhan, Kucinta Hanya Dikau Tuhan, Hormat Sembah Syukur, Kepada Bapa yang Esa, Mengasih Maria, Siti yang Mulia...

Pindah ke Jawa Timur, kecenderungan musik liturgi di Keuskupan Malang dan Keuskupan Surabaya ternyata beda jauh dengan tiga keuskupan di Flores (Larantuka, Ende, Ruteng). Kor-kor di Jawa di kota besar sangat profesional dengan referensi klasik yang sangat kuat.

Organis-organis di Jawa umumnya hebat karena hasil sekolahan. Beda dengan kor kampung di pelosok Flores yang tanpa piano, organ, bahkan listrik. Tapi banyak pula kor Katolik di Jawa yang berantakan karena nekat memilih lagu-lagu yang terlalu sulit, sementara kemampuan penyanyi pas-pasan.

Kali pertama ikut misa di Jawa, saya kaget karena umat begitu lancar menyanyikan paket misa Lauda Sion atau Misa Raya di Madah Bakti. Kaget karena ordinarium ini tergolong sulit dan panjang. Beda dengan lagu-lagu pendek di Flores yang tingkat kesulitannya hampir tidak ada.

Lama-lama saya pun terbiasa dengan komposisi sulit di Jawa. Aktif di paduan suara dengan lagu-lagu Ave Verum Corpus, Exultate, Hallelujah Handel, hingga nyanyian inkulturasi. Saya pun lupa dengan lagu-lagu liturgi khas Flores yang suka dinyanyikan bapa mama ade kaka di kampung halaman itu.

Syukurlah, tiba-tiba saya kok ingin misa di Wonokromo, sebelah RSAL Ramelan. Dan... air mataku jatuh ketika mendengar anak-anak SMPK Santo Yosef, Joyoboyo, membawakan lagu Ekaristi Sakramen Mahakudus. Diiringi permainan organ yang indah, lagu untuk mengiringi komuni kudus ini jauh lebih bagus ketimbang di kampung saya dulu yang tak punya organ.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

25 August 2013

Alim Markus: Cintailah Produk-Produk Indonesia!



Menjelang Hari Kemerdekaan Ke-68 Republik Indonesia, Selasa (13/8/201), Dr HC Alim Markus (62 tahun) menerima bintang jasa Nararya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Jakarta. Pengusaha asal Surabaya ini dinilai konsisten menggalakkan produksi dalam negeri melalui puluhan perusahaan yang bernaung di bawah Maspion Group.

Dengan gaya dan aksennya yang khas, Alim Markus memang kerap nongol di televise menjadi bintang iklan dengan ucapan khas, "Cintailah produk-produk Indonesia!" Tak hanya sekadar bicara, ayah enam anak ini juga gencar mempromosikan produk Indonesia ke berbagai negara, khususnya Tiongkok.

Pada November 2013 mendatang, Alim Markus kembali berpartisipasi dalam Canton Fair, pameran dagang terbesar dan tertua di Kota Guangzhou, Tiongkok.Berikut petikan percakapan dengan Alim Markus:

Selamat, Pak! Tahun lalu Anda mendapat penghargaan dari Menko Kesra Agung Laksono, tahun ini Anda menerima bintang jasa Nararya dari Presiden SBY!

Terima kasih! Pemerintah sangat mengapresiasi upaya kami dalam menggalakkan produksi dalam negeri. Jadi, kita semua memang harus mencintai produk-produk Indonesia.

Apa pesan Presiden SBY ketika memberikan bintang jasa Nararya kepada Anda?

Bapak Presiden (SBY) meminta saya untuk meningkatkan produksi asli dalam negeri. Beliau memberi motivasi kepada saya untuk terus mengajak masyarakat untuk menggunakan produsi dalam negeri. Saya jawab sama Bapak Presiden, I will. Saya siap melakukan. Saya akan meningkatkan produksi Indonesia.

Bagaimana perasaan Anda menerima bintang jasa dari Presiden SBY?

Tentu saja saya merasa senang dan bangga karena sudah bisa memberikan sesuatu yang berharga kepada negara kita tercinta. Jangan tanyakan apa yang diberikan negara kepadamu, tapi tanyakan kepada dirimu apa yang Anda berikan kepada negaramu! Maka, sebagai pengusaha, saya berusaha memproduksi produk-produk yang bisa dipergunakan oleh masyarakat. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, tentunya saya akan meningkatkan produksi di Indonesia.

Lantas, apa rencana Anda dalam waktu dekat untuk menggenjot produksi dalam negeri?

Kami (Maspion Group) melakukan ekspansi di Jawa Tengah, tepatnya di daerah Kendal. Kabupaten Kendal ini memiliki iklim yang kondusif untuk industri dari sisi infrastruktur, kebijakan pemerintah daerah, dan infrastruktur. Dari sisi perburuhan juga sangat kondusif. Jumlah tenaga kerja di sana sangat berlimpah, sehingga kita tidak akan khawatir kesulitan mencari karyawan.

Pabrik apa yang Anda bangun di Jawa Tengah?

Kami akan memproduksi plastik, aluminium, alat-alat rumah tangga, dan alat elektronik. Pasokan bahan baku bisa dikirim dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, sehingga produksi bisa berjalan dengan baik. Paling cepat akhir tahun 2014 pabriknya selesai. Ini ekspansi atau perluasan dari pabrik-pabrik yang sudah ada di Jawa Timur.

Mengapa Anda terus melakukan ekspansi?

Ini sesuai dengan komitmen kami untuk menggalakkan produksi barang-barang di dalam negeri. Kita buktikan bahwa orang Indonesia pun mampu memproduksi berbagai jenis barang yang dibutuhkan masyarakat. Jadi, kita tidak perlu tergantung pada barang-barang dari luar negeri (impor). Kalau kita bisa bikin sendiri, mengapa harus mengimpor? Selain itu, yang sangat penting, pembukaan pabrik-pabrik baru berarti membuka lapangan kerja bagi banyak orang di sekitar lokasi pabrik. Banyak warga di sana bisa bekerja di situ.

Bagaimana dengan sikap sebagian orang yang menganggap produk-produk dalam negeri kurang berkualitas?

Itu sikap yang sangat keliru. Mungkin mereka belum tahu kalau produk-produk yang dibuat di dalam negeri punya kualitas yang tak kalah dengan luar negeri. Bahkan, produk dalam negeri banyak yang lebih bermutu. Kita bisa membandingkan mutu produk-produk luar negeri yang ada di pasar. Banyak sekali yang mutunya jelek, cepat rusak, dan sebagainya.

Saya sendiri dari berani menjamin kualitas produk-produk dalam negeri. Makanya, saya mau menjadi bintang iklan untuk mengajak masyarakat menggunakan produk-produk Indonesia. Kalau kualitasnya tidak bagus, buat apa saya muncul di televisi?

Kita sebenarnya bisa saja mengimpor produk-produk dari luar negeri dan tinggal dipasang label Maspion saja. Tapi cara seeprti itu kan tidak akan memberikan nilai tambah. Saya harus menekan gaya hidup yang import minded. Kita harus bangga dengan produk kita sendiri.

Bagaimana dengan promosi di luar negeri?

Upaya itu juga terus kita lakukan meskipun fokus utama kita mengajak bangsa Indonesia bangga menggunakan produk-produk Indonesia. Sambil jalan, kita juga mengikuti pameran atau ekspo dagang di luar negeri. Salah satunya, dalam waktu dekat (November 2013) akan ada Canton Fair di Guangzhou, Tiongkok. Dari dulu kita selalu ke sana untuk memperkenalkan produk-produk Indonesia di forum internasional. Sebab, Canton Fair ini diikuti 211 negara di dunia. Kita juga mengajak pengusaha-pengusaha dunia untuk datang investasi di negara kita. (*)

24 August 2013

Orang Flores yang lupa bahasanya

Kemarin saya cangkrukan di lapangan belakang Boen Bio, kelenteng Khonghucu, Kapasan, perkampungan lama Tionghoa di Surabaya. Cari informasi tentang Kinghoping alias sembahyang rebutan sembari menikmati nasi goreng yang khas. Nasi goreng buatan wanita Tionghoa asal Kupang, NTT, yang bersuamikan laki-laki Tionghoa asli Kapasan.

"Beta bikin nasi goreng khusus na. Lu cari di semua restoran sonde katamu," kata pedagang nasi goreng dalam bahasa Kupang. Logat Kupangnya tetap kental meski sudah bertahun-tahun jadi orang Surabaya.

Seperti biasa, kami pun bicara bahasa Melayu Kupang, bahasa persatuan orang NTT. Curhat soal tiket pesawat ke Kupang yang makin mahal hingga perkembangan Kupang yang makin maju. Tak lagi ndeso seperti sepuluh tahun lalu.

Tiba-tiba muncul seorang pria 50an tahun. "Bung, dia itu orang Flores Timur. Sama dengan Bung," kata ibu Kupang ini meminta kami berkenalan.

Wow, senang bukan main hatiku karena jarang-jarang bertemu orang Flores Timur. Saya pun mulai memancing beliau ini berbicara dalam bahasa Lamaholot, bahasa daerah Flores Timur dan Lembata.

"Ama, moe aku lewun?" Saya bertanya.

"Saya dari Larantuka."

"Larantuka Nagi le Tanjung Bunga le Adonara..."

"Saya dari Leworere. Itu lho yang di dekat Waibalun," dia menjawab.

Cukup. Setiap pertanyaan saya dalam bahasa daerah dijawab bahasa Indonesia campur Jawa. Jelas dia sangat paham bahasa Lamaholot tapi enggan menggunakannya. Mungkin lupa karena sudah terlalu lama tinggal di Jawa.

Bung ini tidak sendiri. Saya memang biasa mengetes kemampuan dan kemauan berbahasa daerah orang Flores Timur dan Lembata di perantauan. Hasilnya, sebagian besar orang malu (atau lupa) bahasa ibunya. Bahasa ibu dianggap kurang gengsi, bahasanya orang kampung yang belum maju.

Setelah bung itu pergi, pamit dalam bahasa daerah, saya mulai membahas kasus kecil ini dengan ibu Tionghoa Kupang penjual nasi goreng itu. Saya kasih tahu bahwa orang Flores tadi sudah lupa bahasa daerah.

"Beta ajak bung itu omong bahasa daerah, dong jawab pake bahasa Indonesia," kata saya.

"Beta sonde parcaya na kalo bung itu lupa. Sonde mungkin lupa maskipun kitong su lama di Jawa," ibu itu menjawab sambil tertawa.

Saya melanjutkan menikmati nasi goreng khas Kapasan Dalam. Saya menyimak pembicaraan sebagian besar konsumen yang mayoritas Tionghoa. Ada yang berbahasa Hokkian, Mandarin, Tionghoa Surabaya, hingga bahasa Madura. Tidak ada yang berbahasa Indonesia kecuali Bung Flores yang sudah pergi itu.

Wah, luar biasa orang Tionghoa di Surabaya itu. Bahasa leluhurnya hidup terus dan berkembang pesat meski Orde Baru berusaha mematikannya. Orang Tionghoa mampu melestarikan bahasa daerah leluhurnya plus bahasa nasional Putunghoa alias Mandarin meskipun lingkungannya Jawa, Madura, Kupang, Betawi dan sebagainya.

Sebaliknya, bahasa-bahasa daerah etnis bumiputra makin lama makin terdesak karena penutur aslinya malu berbahasa ibu. Rupanya Orde Baru kualat. Politik bahasanya yang merepresi Tionghoa malah kontraproduktif.

Bahasa-bahasa etnis Tionghoa hidup subur, sementara bahasa-bahasa pribumi makin mundur. Angkat topi untuk Tionghoa!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

22 August 2013

Pilgub Jatim dan Nasib Pengungsi Sampang

Soekarwo, Eggi, Bambang DH, Khofifah

Sampai sekarang sekitar 300 pengungsi asal Sampang, Madura, masih bertahan di rusunawa Jemundo, Sidoarjo. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum lama ini datang ke Surabaya antara lain membahas persoalan ini. Tapi belum jelas mereka dipulangkan ke kampung halaman di Madura.

Harapan presiden agar mereka bisa berlebar di kampungnya jelas tak kesampaian. Sudah ada upaya dialog tapi belum ada titik terang. Menteri Agama Suryadharma Ali malah meminta para pengungsi berpaham Syiah itu dicerahkan dulu agar bisa pulang.

Lantas, bagaimana sikap empat calon gubernur Jawa Timur terhadap masalah Syiah di Sampang ini? 

Semuanya kurang cerah alias abu-abu. Maklum, masalah Syiah ini sangat sensitif dan dianggap kontraproduktif dengan elektabilitas.

Para cagub, termasuk inkumben, tentu saja memilih suara khalayak ramai, ulama Madura, yang ingin komunitas itu taubat nasuha alias dicerahkan dulu. Terlalu dekat dengan pengungsi Syiah bisa membuat kandidat tidak disukai karena dianggap mendukung aliran sesat.

Isu ini pula yang kita dengar saat kampanye di Madura hari-hari ini. Para cagub mau tak mau mengikuti suara massa yang menolak masuknya aliran sesat di Madura. Sudah terang aliran sesat apa yang dimaksud.

Karena itu, tidak mungkin empat cagub ini merangkul 300 pengikut Tajul Muluk dengan risiko kehilangan jutaan suara. Padahal, konstitusi kita jelas menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk menganut agama/keyakinan tertentu. Pasal-pasal tentang hak asasi manusia pun sudah dimasukkan di dalam UUD 1945.

Tak hanya Syiah, dalam debat kandidat di televisi, cagub independen Eggi Sudjana pun saya perhatikan agak gamang menjawab pertanyaan Prof Ayu Sutarto tentang aliran kepercayaan. Guru besar Universitas Jember ini bertanya bagaimana sikap Eggi Sudjana terhadap 65 aliran kepercayaan yang ada di Jawa Timur.

"Kita kembali ke konstitusi," kata Eggi Sudjana. Namun, Eggi menambahkan, para penganut aliran kepercayaan itu perlu terus didakwahi agar.... 

Bel pun berbunyi.

Begitulah. Masalah agama, kepercayaan, sekte, denominasi, memang sangat sensitif di Indonesia, tak hanya di Jawa Timur. Ketika sudah berurusan dengan pemilihan kepala daerah, pemilihan umum legislatif, pemilihan presiden... elektabilitas, popularitas, maka seorang politisi atau kandidat kepala daerah pun memilih untuk memihak keinginan massa.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

21 August 2013

Nelayan Lamalera diserang paus


Berita kecil di Kompas 21 Agustus 2013 kembali mengagetkan orang Lembata NTT di perantauan. Delapan nelayan diamuk ikan paus yang terluka akibat tikaman mereka.

Dua nelayan luka terseret tali perahu. Para pemburu paus secara tradisional itu sempat terombang-ambing karena peledang atau perahu mereka terseret paus.

Kartunis Didie SW membuat gambar lucu di sisi berita itu. 

"Itulah ganjarannya kalau makan ikan paus!" ujar seorang dokter mencibir.

Dokter itu menambahkan, "Warisan leluhur kok makan yang susah-susah!"

Saya hanya bisa tersenyum getir. Begitulah memang risiko nelayan tradisional Lamalera memburu ikan paus (tepatnya mamalia) secara tradisional dengan tempuling alias sejenis tombak. Pakai peledang sederhana, mereka mengejar paus hingga puluhan kilometer.

Risikonya ya ketika si paus mengamuk karena terluka ditikam nelayan-nelayan itu. Sudah banyak yang meninggal atau terluka tapi tak pernah ada kata jera. Perburuan paus terus berlangsung dari generasi ke generasi karena dianggap sebagai sumber nafkah utama.

Hingga pertengahan Agustus 2013 nelayan Lamalera sudah menangkap 14 paus. Bulan Juli lalu enam paus berhasil ditikam dalam tiga hari berturut-turut. Makin lama populasi paus di Laut Sawu makin menurun sehingga tangkapan makin sedikit.

Paus itu dikerat-kerat dagingnya untuk dibarter dengan makanan seperti beras, jagung, kelapa, sayur, dan sebagainya. Itulah yang menghidup masyarakat Lembata bagian selatan, khususnya Lamalera, sejak zaman dulu.

Kok warisan leluhur makan paus yang susah-susah? 

Mau bilang apa, tradisi lama itu tidak mungkin bisa dihilangkan dalam waktu singkat. Sebab berburu paus sudah menjadi adat istiadat Lamalera, bahkan budaya lokal.

Karena itu, ketika pihak luar mempersoalkan perburuan ikan paus, nelayan dan tokoh Lamalera paling gencar melakukan perlawanan. Banyak argumentasi untuk menjustifikasi budaya memburu paus dengan taruhan nyawa para nelayan ini.

Lamalera merupakan kampung paling terkenal di Pulau Lembata, bahkan Flores Timur. Sekolah formal pertama dibangun misi di situ. Agama Katolik pertama kali masuk lewat Lamalera. Pastor pertama asli Lembata berasal dari Lamalera, yakni Pater Alex Beding SVD.

Doktor dan profesor pertama di Lembata juga asli Lamalera bernama Prof Dr Gorys Keraf, pakar bahasa Indonesia yang sangat terkenal dulu. Menteri pertama asal Lembata juga orang Lamalera bernama Dr Sonny Keraf. Pastor, suster, dan bruder juga paling banyak berasal dari Lamalera.

"Orang Lamalera itu pintar-pintar karena banyak makan paus," kata guru SD saya dulu.

Yah, Lamalera memang gudang intelektual dan misionaris. Dr Sonny Keraf, mantan menteri lingkungan hidup, saya yakin sudah memikirkan kelanjutan budaya memburu paus di Laut Sawu dari berbagai aspek. Mulai keselamatan, lingkungan hidup, pelestarian paus, pariwisata, budaya, adat istiadat, dan sebagainya.

Bukan apa-apa. Sampai sekarang orang luar, bahkan sesama orang NTT, masih sangat sulit mengerti mengapa nelayan Lamalera tetap nekat mengejar KOTEKLEMA meski dibayang-bayangi aroma kematian.

Seperti sentilan Kompas itu: "Warisan leluhur kok makan yang susah-susah!"

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

20 August 2013

Elman Saragih mundur dari Metro TV


Selama 10 tahun Elman Saragih, wartawan senior, tampil di Metro TV pukul 07.00 sampai 08.00 untuk membedah Editorial Media Indonesia. Tajuk rencana koran Media Indonesia yang sejak dulu sangat kritis pada kekuasaan. Semacam watch dog, anjing penjaga.

Gaya Bung Elman ini sangat khas dengan logat Medan + Batak yang segar. Selalu ada humor di balik kritik kerasnya pada penguasa. Menertawakan penguasa yang makin tidak amanah. Koruptor yang makin tak tahu malu.

Selasa pagi 20 Agustus 2013 Elman Saragih pamit dari televisi milik Surya Paloh itu. Dia merasa tak pantas lagi muncul di situ sebagai tukang bedah editorial karena telah menjadi calon anggota legislatif. "Secara moral saya harus mundur," katanya kepada Leonard Samosir, pembawa acara.

Rupanya Bung Elman mengikuti jejak Bung Sugeng yang lebih dulu pamit gara-gara sibuk mengurus Partai Nasdem. Besar kemungkinan Bung Elman dicalonkan Partai Nasdem yang memang punya kaitan dengan Metro TV.

Sebagai penggemar Bedah Editorial, rasanya sedih juga ditinggal Bung Elman. Pria yang puluhan tahun memilih jadi wartawan surat kabar, kemudian mengelola Metro TV, tampil dengan gaya khas Medan saat membedah tajuk rencana koran ibu kota itu. Acara menjadi segar karena gaya Bung Elman yang berlagak ndesit, lugu, tapi sangat menyentak.

Saya bayangkan pejabat-pejabat yang dikritik hanya bisa cengar-cengir. Gaya Bung Elman tidak frontal seperti Bung Sugeng tapi sama-sama kerasnya. Biasanya ada pengamat macam Ondo dan Sunoto ikut nimbrung via telepon sehingga bedah editorial menjadi sangat gayeng. Rame-rame mengkritik penguasa dengan cara bercanda.

Pernah saya lihat presenter senior tampil sebagai pembedah editorial MI. Orangnya cerdas, wawasan bagus, bahasa Inggris lncar jaya. Tapi dia tak punya gaya slengekan dan humor ala Bung Elman. Bung Tommy pun masih terlalu serius. Kurang gayeng.

Sepuluh tahun membedah editorial di Metro TV rupanya telah membuat Elman Saragih capek dan bosan. Mengkritik tiap pagi dengan kata-kata yang makin kasar tapi korupsi makin marak. Duit yang digarong koruptor makin banyak. Lantas apa gunanya bedah editorial?

"Paling tidak rakyat punya saluran untuk mengungkapkan unek-uneknya kepada penguasa. Ini semacam kanalisasi," kata Bung Elman.

Kini Elman Saragih berjuang untuk dipilih menjadi anggota DPR RI. Mudah-mudahan suaranya yang kritis di media tak meredup di gedung parlemen. Kalau tidak terpilih ya sebaiknya Bung Elman kembali menemani pemirsa minum kopi sembari membedah editorial di Metro TV.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

19 August 2013

Kris Biantoro dan kesetiaan pernikahan


Seniman Kris Biantoro baru saja meninggal dunia dalam usia 75 tahun. Semoga beliau berbahagia di sisi Tuhan!

Sudah banyak sisi kesenimanan mendiang Kris Biantoro yang dibahas media. Saya mengenang artis serbabisa ini sebagai seorang suami yang sangat mencintai istri Bu Maria dan anak-anaknya. Dia juga sangat menekankan kesetiaan suami-istri.

Maka Kris Bintoro sering berbicara di depan anak-anak muda Katolik tentang cinta kasih suami istri. "Apa yang sudah dipersatukan Allah jangan diceraikan oleh manusia!"

Kata-kata Alkitab ini dijalani Pak Kris hingga ajal menjemput. Kepada anak-anak muda beliau mengatakan, "Kalian boleh gonta-ganti pacar tiga kali seminggu. Tapi kalau sudah menerima sakramen pernikahan di depan pastor, maka petualangan kalian berakhir. Sebab, apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia!"

Kris Biantoro ini memang seorang Katolik Jawa asli Magelang yang sangat religius. Dia juga sering memberi motivasi kepada umat Katolik, khususnya kaum muda, untuk rajin berdoa rosario. Minta bantuan Bunda Maria. Bunda yang selalu menolong.

Kris bercerita dia sering jalan kaki ke Sendangsono, tempat ziarah Katolik yang memiliki Gua Maria pertama di kawasan Promasan, Kulonprogo, Jogjakarta. Di Gua Maria Sendangsono itu Kris berdoa sepuas-puasnya dan beroleh kedamaian. Hatinya merasa tenteram.

Kenapa kalian anak-anak muda tidak datang kepada Sang Bunda? Bunda kita selalu mendengar semua keluhan kita. Kata-kata Kris Biantoro ini masih saya ingat saat perayaan 100 tahun orang Jawa masuk agama Katolik pada 2004 lalu.

Sangat lama saya tak melihat kiprah Kris Bintoro di jagat hiburan karena memang bergulat dengan sakit ginjal. Tahu-tahu muncul berita Kris Biantoro tutup usia.

Resquescat in pace! Selamat jalan Om Kris!



Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

18 August 2013

Swandajani Populerkan Kain Sumba



Buah jatuh tak pernah jauh dari pohonnya. Sebagai putri pelukis senior Tedja Suminar, darah seni mengalir deras dalam diri Theresia Swandajani. Namun, wanita kelahiran Surabaya 50 tahun silam itu tidak menekuni sei rupa, melainkan seni tari serta aktif menelusuri seni kerajinan tradisional, khususnya tenun ikat khas Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selama satu bulan, 26 Juli sampai 29 Agustus 2013, Theresia Swandajani, yang akrab disapa Swan, memamerkan sekitar 50 helai kain tenun Sumba Timur di House of Sampoerna, Surabaya. Swan juga mendatangkan Tamu Rambu Margaretha (40), penenun asli Pulau Sumba, untuk memeragakan teknik membuat tenun ikat sejak dari kapas, pemintalan, pewarnaan, hingga ditenun menjadi kain yang bernilai tinggi.

Tak dinyana, pameran ini mendapat perhatian luas dari para wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. Berikut petikan percakapan LAMBERTUS HUREK dengan Theresia Swandajani di sela kesibukannya menjawab pertanyaan pengunjung pameran bertajuk Exotica of East Sumba itu.

Anda kan asli Surabaya, kok sangat fasih menjelaskan seluk-beluk kain Sumba?

Hehehe.... Jangan salah. Saya ini sudah sering blusukan ke Sumba Timur, masuk kampung keluar kampung, untuk melihat secara langsung teknik pembuatan tenun ikat di sana. Saya juga mendatangi rumah adat bangsawan setempat, semacam raja lokal, yang memiliki koleksi kain yang sangat indah. Kebetulan suami saya kan berasal dari Sumba, sehingga otomatis saya punya apresiasi yang mendalam terhadap seni budaya Sumba.

Kesan Anda ketika pertama kali blusukan ke Sumba?

Waduh, luar biasa! Saya dulu tidak pernah membayangkan kalau untuk menghasilkan sebuah kain itu perlu waktu yang panjang. Si penenun harus sabar, telaten, punya passion, kecintaan yang mendalam terhadap pekerjaannya. Tidak bisa tergesa-gesa karena pengerjaannya memang 100 persen hand made. Ibu-ibu di Sumba harus menyiapkan kapas sendiri, kemudian dibuat benang, diwarnai dengan bahan pewarna alami, bikin motif, dan ditenun. Hebatnya, tradisi ini sudah berlangsung selama ratusan tahun, dari generasi ke generasi.

Berapa lama membuat sehelai kain?


Sangat relatif. Tergantung besar kecilnya kain, persediaan bahan, kemudian kondisi si penenun. Para penenun ini kan umumnya bekerja serabutan, memasak, mengurus rumah tangga, dan sebagainya. Dia tidak fokus hanya menenun saja.

Makanya, paling cepat dua minggu atau satu bulan baru selesai satu kain. Bahkan, belum tentu dua bulan bisa selesai. Itu yang membuat kain-kain tenunan Sumba ini punya nilai yang sangat tinggi. Kalau ada yang bilang harganya kok mahal? Ini berarti dia belum tahu proses pembuatannya yang memang memerlukan waktu dan kesabaran luar biasa.

Motif apa yang paling Anda sukai?


Semuanya menarik dan saya suka. Sebab, kain tenunan Sumba itu selalu punya cerita di balik figur-figur yang kelihatannya sederhana. Dan itu mencerminkan sejarah dan kehidupan masyarakat setempat yang masih mempertahankan tradisi leluhurnya.

Bisa disebut salah satu contoh?


Nah, saya membawa kain dari kampung Rende yang ditenun tahun 1947. Itu menceritakan hubungan asmara Raja Nggonggi dan Tamu Rambu Juliana yang kandas di tengah jalan. Motifnya berupa burung elang rajawalis sebagai simbol status, kebesaran, kewibawaan, martabat sebagai bangsawan. Rambu Juliana akhirnya memilih tidak menikah dan menjadi penenun andal di Rende, salah satu pusat kerajaan di Sumba. Karena itu, kain ini tergolong antik dan punya nilai yang luar biasa bagi masyarakat Sumba Timur. Motif-motif lain juga bagus seperti motif tengkorak, manusia, pohon, ikan, rusa, kuda, udang, naga, singa, buaya.

Oh, ya, sudah berapa kali Anda mengadakan pameran seperti ini?


Di Surabaya baru satu kali ini. Sebelumnya saya pernah adakah tiga kali di Bali. Antusiasme masyarakat waktu itu sangat tinggi. Bahkan, banyak orang Surabaya dan Jawa Timur umumnya ikut menikmati kain-kain Sumba yang saya tampilkan di Bali. Makanya, saya berpikir mengapa tidak diadakan saja di Surabaya? Syukurlah, pihak House of Sampoerna sangat mendukung pelestarian seni budaya tradisional seperti seni kerajinan tenun ikat Sumba ini.

Apa tujuan Anda menggelar pameran di Surabaya?


Sederhana saja. Saya ingin agar masyarakat Surabaya bisa lebih mengenal budaya Sumba Timur, khususnya tenun ikat tradisionalnya. Bukan apa-apa. Selama ini justru orang Barat yang lebih mengenal seni budaya tradisional Nusantara. Mereka bahkan sudah banyak membuat buku-buku, foto, video, atau film tentang Sumba. Sementara kita sendiri, yang notabene orang Indonesia, malah kurang mengenal kebudayaan kita.

Mungkin itu pula yang mendorong Anda mendatangkan penenun asli Sumba, ke Surabaya?


Betul. Sebab, tidak semua orang punya kesempatan untuk jalan-jalan atau blusukan ke Sumba seperti saya. Makanya, saya meminta Tamu Rambu Margaretha untuk melakukan demo cara menenun kain tradisional Sumba Timur. Ini penting agar pengunjung bisa mempunyai gambaran tentang proses membuat tenun ikat secara manual. Mereka bisa melihat prosesnya, bahan-bahan pewarna alaminya, hingga kain yang sudah jadi.

Kabarnya orang-orang Sumba di Jawa Timur kaget melihat kain-kain tenun milik bangsawan dipamerkan di Surabaya?


Ya, orang-orang Sumba itu seperti tidak percaya karena surprise. Selama berada di perantauan orang Sumba itu rata-rata membawa kain tradisional sebagai pengingat kampung halamannya. Mereka ikut bangga karena harta karun kebudayaan mereka bisa diangkat ke tingkat nasional, bahkan dunia. (*)



CV Singkat

Nama : Theresia T Swandajani
Gelar : Tamu Rambu Humba Manandang
Lahir : Surabaya, 26 November 1963
Suami : Umbu Hapu 
Anak : Sabathania Rambu, Hanamunti Rambu, dan Bentara Rambu
Profesi : Seniman, guru tari
Pendidikan : Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta
Alamat : Jl Dharmawangsa II Surabaya

Sukarno presiden paling miskin

Menjelang hari kemerdekaan Indonesia, KPK menangkap Rudi Rubiandini yang menerima suap Rp 7 miliar. Petugas juga menemukan ratusan juta dan uang miliaran di rumah pakar ITB lulusan Jerman ini.

Rudi Rubiandini dengan santai mengatakan dirinya tidak korupsi, cuma dapat gratifikasi dari teman. Profesor doktor kalau sudah terpojok memang sering jadi goblog tiba-tiba.

Saya pun membaca tulisan Djoko Pitono di Radar Surabaya edisi Minggu 18 Agustus 2013. Penulis kawakan ini membut daftar orang-orang cerdas, doktor, profesor, hingga ketua partai konservatif yang dicokok gara-gara korupsi. Kelihatan dari luar alim, sederhana, mudik pakai sepur ekonomi kayak Rudi Rubiandini tapi nilai korupsi alias rasuahnya miliaran rupiah.

Luar biasa!

Kontras sekali dengan para intelektual pejuang kemerdekaan kita yang kondisinya mengenaskan. Presiden Sukarno mengatakan dalam biografinya, "Akulah satu-satunya presiden di dunia yang tidak punya rumah sendiri."

Bung Karno sang proklamator, kepala negara, itu pun tak punya tanah, tak punya tabungan. Karena tak punya uang di saku, seorang duta besar kemudian membelikan Bung Karno piyama.

Gaji Presiden Sukarno saat itu hanya USD 200 atau setara Rp 2 juta. Lebih rendah daripada upah minimum buruh di Jakarta saat ini. Gaji sebesar itu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Intelektual pejuang lain yang mengenaskan adalah Agus Salim. Diplomat kawakan yang gigih menentang Belanda ini hidup melarat meski berjasa memerdekakan Indonesia.

Saya membayangkan seandainya Bung Karno dan Agus Salim hidup di zaman sekarang sudah jelas mereka tercatat dalam barisan penerima BLSM. Ikut antre raskin alias beras miskin seperti puluhan juta orang miskin lain di tanah air.

Sayang, profesor dan intelektual masa reformasi ini tidak pernah membaca kisah perjuangan para intelektual masa lalu macam Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjarir, atau Agus Salim. Yang dibaca Rudi Rubiandini mungkin buku-buku tentang petunjuk bermain golf dan menikmati motor besar.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Desa yang makin bergegas

Betul sekali udar rasa Bre Redana di Kompas edisi Minggu ini, 18 Agustus 2013. Jutaan orang kota mudik ke kampung halamannya di desa dan gelo karena desanya sudah berubah banyak.

Televisi menawarkan kehidupan yang bergegas, serbacepat, dan kini pun diamalkan wong ndeso. Bre Redana menulis: "Proses alam menanti bersemainya bibit sampai memanen, yang berarti harus bersetia pada kesabaran bumi, sudah lama menjadi hal yang asing."

Ah, saya selalu ingat raskin, berat untuk rakyat miskin, yang jadi tumpuan harapan orang-orang desa di NTT dalam beberapa tahun terakhir. Raskin ini harganya Rp1000, sekarang 2000. Kualitasnya memang buruk, tapi menurut orang-orang di kampung saya di pelosok Flores Timur, jauh lebih baik daripada makan jagung, singkong, atau ubi jalar.

Sejelek-jeleknya beras miskin, yang banyak kotoran itu, jauh lebih bergengsi ketimbang jagung. Padahal bumi Lamaholot hanya bisa menumbuhkan jagung dan ubi-ubian, bukan padi. Tanaman padi membutuhkan irigasi dan itu tak ada di sana.

Tapi apa mau dikata, kesabaran orang desa untuk menunggu proses alam bercocok tanam, menyiapkan ladang, cari bibit, menanam, menyiangi rumput sudah jadi barang asing di kampung. Buat apa menanam jagung kalau sudah ada bantuan raskin dari pemerintah.

Maka saya pun kecewa berat ketika mudik ke pelosok NTT. Sungguh, tak ada nasi jagung yang bisa kita nikmati seperti ketika saya masih bocah dulu. Anak-anak muda di NTT sudah lama tidak makan jagung. Pun sudah lama tak bekerja di kebun.

Desa, sebagaimana kehidupan, tidak pernah statis. Itu yang rupanya dilupakan mantan orang-orang desa yang sekarang bekerja di kota-kota besar macam Jakarta, Surabaya, Kuala Lumpur, atau Kota Kinabalu. Budaya konsumerisme kota pun sudah lama dinikmati keluarga besar kita di desa.

Ketika saya minta dibuatkan kopi di Flores Timur, saya geli sendiri karena bubuk kopi yang diseduh ternyata cap Tugu Buaya produksi Gresik, Jawa Timur. Mana kopi asli yang khas yang dulu disangrai kemudian digiling di rumah-rumah penduduk? Nothing! Tak ada lagi.

"Capek kalau harus membeli biji kopi dan menggoreng sendiri. Lebih cepat membeli di toko," kata orang desa di kampung saya.

Yah, memang capek dan lama. Butuh proses, tenaga, kesabaran. Dan itulah yang makin hilang di kampung-kampung tempat jutaan orang kota mudik hari raya.

Sama seperti seniornya di kota, Bre Redana menulis, anak-anak kecil di desa sudah doyan naik sepeda motor ke mana-mana tanpa mengenal aturan. Di NTT anak-anak ini bahkan tidak perlu pakai helm, bawa SIM/STNK, bahkan tak perlu ada plat nomor.

"Di sini kitong bebas sa ke mana-mana. Polisi sonde tangkap kitong," kata tukang ojek yang mengantar beta ke Bandara Eltari, Kupang.

Kalau ibu kota provinsi saja peradaban berlalu lintasnya macam ini, apa lagi di kampung-kampung pelosok yang memang tidak ada polisinya.

Kita, orang desa yang sudah terlalu lama di kota, sering pangling dengan perubahan budaya di kampung halaman sendiri. Saya pun sempat kesasar ketika mencari rumah sendiri di kampung.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Bella Saphira bebas pindah agama



Konversi agama artis Bella Saphira dari Kristen ke Islam diliput besar-besaran di tanah air. Sejumlah tabloid bahkan membahas persoalan pribadi ini secara panjang lebar. Meski Bella tak banyak bicara soal keputusan penting itu, media tetap saja menyediakan beberapa lembar untuk memuat soal ini.

Bisa ditebak Bella pindah agama karena hendak menikah dengan Agus, mayor jenderal TNI. Hal yang sangat wajar dilakukan seorang wanita untuk menyesuaikan agama calon suaminya. Sebab di Indonesia memang tidak dikenal pernikahan beda agama.

Kalau mau menikah ya salah satunya harus mengalah. Tinggal kuat-kuatan saja ibarat tarik tambang tujuh belasan. Tak ada win win solution di Indonesia untuk urusan seperti ini. Jangankan pasangan Islam-Kristen, sama-sama kristiani pun kalau doktrin gerejanya beda, yang satu baptis selam, satunya baptis percikan saat bayi, pasti tak akan bisa menikah. Pihak Kristen evangelical itu selama ini menganggap baptisan Katolik tidak sah sehingga harus dipermandikan ulang. 

Weleh weleh weleh.....

Yang agak mengherankan, beberapa hari terakhir ini kita membaca di media bahwa keluarga Bella Saphira rupanya tidak merestui pernikahan Bella dan Agus. Tak jelas yang tidak direstui itu Bella jadi muslimah ataukah karena menikah dengan Mayjen Agus.

Jangan-jangan orang tua Bella sudah menyediakan calon suami untuk sang pemain sinetron itu. Jangan-jangan karena bukan sesama etnis. Atau mungkin akumulasi dari berbagai alasan yang memang sudah klasik.

Apa pun alasan dan pertimbangannya, menurut saya, pihak keluarga harus menghargai pilihan anaknya. Termasuk memilih agama yang berbeda dari orang tua. Mau pindah agama, mau nikah dengan jenderal, dengan pengusaha, artis, pegawai negeri, terserah pilihan sang anak.

Jangan lupa, Bella Saphira sudah berusia 40 tahun sehingga punya kematangan untuk menentukan pilihan hidupnya. Termasuk pindah agama atau menikah dengan laki-laki tertentu. Sudah bukan masanya lagi orang tua memaksakan keinginan kepada sang anak.

Tapi memang harus diakui komunalisme masih sangat kuat berlaku di Indonesia. Sehingga urusan pindah agama terlalu sering melibatkan orang-orang di luar individu yang bersangkutan. Pihak keluarga, tetangga, kerabat, teman, hingga media ikut meramaikannya. Berbeda dengan masyarakat Barat yang punya integritas individu sangat tinggi.

"Saya bebas memeluk agama apa saja yang saya kehendaki. Termasuk tidak memeluk agama apa pun," kata Clara, wanita asal Swiss, kepada saya. Dia pun jadi muslimah karena menikah dengan laki-laki Jawa Timur.

Orang tua kamu enggak marah? "Memangnya saya anak kecil? Di Eropa agama itu benar-benar urusan privat. Beda sekali dengan di Indonesia," katanya.

Kembali ke Bella Saphira. Di satu sisi kita berharap pihak orang tua sang artis bermarga Simanjuntak itu bisa menghormati pilihan anak, di sisi lain pihak sebelah pun tidak perlu bersorak-sorai karena si Bella murtad dari agama lamanya. Biasa sajalah. Proporsional dan tidak berlebihan.

Ketika duduk di bangku SMP di Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, NTT, saya pernah menanyakan kasus semacam Bella Saphira ini kepada guru agama Katolik. Saya bertanya mengapa anak-anak balita dipermandikan oleh ayah ibunya. Bukankah kanak-kanak itu belum mampu berpikir dan memilih agama sendiri?

Pak Petrus, guru agama Katolik, itu mengatakan orang tua yang beragama Katolik memang berkewajiban untuk mempermandikan anaknya, mendidik dan mengajarkan agama Katolik kepada anaknya. Pendidikan agama yang paling utama, menurut guru saya dulu itu, adalah keteladanan orang tua. Orang tua yang rajin misa, doa angelus tiga kali sehari, selalu doa sebelum dan sesudah makan, rutin sembahyang pagi dan sembahyang malam, rajin membaca kitab suci. Senang menyanyikan lagu-lagu rohani atau liturgi di rumah.

Bahwa setelah dewasa si anak memilih untuk pindah agama, karena merasa agama lain lebih cocok, tak ada seorang pun yang bisa melarang. Termasuk orang tuanya. Contoh paling populer adalah Yudas Iskariot. Kurang dekat apa si Yudas sama Yesus Kristus?

Meskipun pindah agama, kata pak guru, dia tetaplah mendapat hak untuk dicintai sama seperti sebelum pindah agama. Pihak orang tua Bella pun tak perlu malu atau merasa gagal mendidik anaknya hanya karena sang putri jadi mualaf. 

Horas!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

17 August 2013

Pelukis kaya setelah meninggal

Menjelang Idulfitri selalu ada acara pemberian santunan kepada seniman-seniman Jawa Timur oleh gubernur. Paling banyak seniman rupa alias pelukis. Dan, biasanya, selalu ada gunjingan di sana-sini karena pembagian tali asih itu dianggap tidak merata.

Mengapa si A dapat si B tidak? Kok kubu itu-itu saja yang dapat? Maklum, seniman itu punya kubu-kubuan kayak politisi. Ironis juga karena nilai tali asih atau THR itu tak seberapa besar. Di bawah upah minimum provinsi atau kabupaten.
Mengapa pelukis-pelukis layak disantuni? Rupanya pemerintah tahu betul sebagian besar pelukis kurang sejahtera. Lukisan-lukisannya banyak tapi jarang laku atau tidak laku. Lah, kalau tak ada karya yang terjual, si pelukis dapat uang dari mana?

Ada memang pelukis yang karyanya dihargai puluhan juta, ratusan juta, bahkan miliaran rupiah. Tapi biasanya yang begini ini tidak banyak. Faktanya, sebagian besar pelukis di Jawa Timur yang senen kemis bergulat dengan persoalan ekonomi.

Bahkan ada pelukis senior yang hobinya meminta uang rokok atau bensin dari temannya yang bukan pelukis. Broer, minta 20 untuk pulang ke Sidoarjo! Broer, minta ditraktir makan siang dulu! Broer.... Ada-ada saja permintaan seniman nyentrik ini.

Anehnya, ketika diskusi membahas nasib seniman lukis, si pelukis senior ini paling keras membantah pendapat bahwa pelukis itu ekonominya pas-pasan. "Siapa bilang pelukis miskin? Pelukis itu kaya. Sangat kaya. Dia punya karya yang harganya tak ternilai," katanya.

Anggap saja satu lukisan harganya Rp 5 juta, maka 10 lukisan nilainya Rp 50 juta. Seratus lukisan sudah setengah miliar. Jadi, memang betul pelukis bukan golongan ekonomi lemah atau keuarga miskin. Apalagi membuat lukisan biasanya tak butuh waktu lama. Srat sret srot... jadilah karya seni rupa.

Sayang, nilai aset ratusan juta itu belum mewujud menjadi uang tunai. Masih sebatas asumsi atau taksiran di atas kertas belaka. Dan, biasanya, lukisan-lukisan itu dihargai mahal, tak cuma lima juta, justru setelah sang pelukis meninggal dunia. Karya-karyanya jadi buruan kolektor.

Maka, sang pelukis pun menjadi kaya raya setelah meninggal dunia. Berbahagialah pelukis-pelukis yang sudah mencicipi kekayaan sebelum meninggal dunia.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

HP mengubah budaya komunikasi

Sejak ponsel marak di mana-mana, pola komunikasi sebagian pemakai HP berubah. Ada semacam revolusi besar yang terjadi di masyarakat. Kita makin asyik bicara dengan yang jauh dan abai pada orang di samping kita.

Siang tadi saya cangkrukan di sebuah warkop di tengah Kota Surabaya. Lima gadis yang rupanya satu geng asyik bicara dengan ponsel masing-masing. Tentang asmara, small talk, hahaha hehehe....

Setelah percakapan telepon berhenti, si gadis memencet nomor baru. Bicara lagi. Teman-temannya pun melakukan hal yang sama. Bicara dengan cowok yang jauh di seberang sana.

Saya asyik membaca koran Jawa Pos sembari menikmati pemandangan yang sudah jamak di masyarakat itu. Lima gadis yang duduk satu meja, berdekatan, itu tidak terlihat omong-omong di antara mereka. Lebih suka sibuk dengan ponselnya sendiri-sendiri.

Saya bayangkan gadis itu bertemu dengan si cowok. Akankah mereka omong-omong, diskusi, tukar pikiran? Saya ragu. Budaya seluler sudah mengubah pola interaksi dan komunikasi antarmanusia modern.

Maka, saya bayangkan si gadis itu, meski nyaris bersentuhan badan dengan teman cowok, akan pencet nomor hape untuk bicara dengan orang jauh. Sang arjuna pun akan melakukan ritual yang sama. Kedekatan fisik tak lagi mendorong komunikasi.

Komponis Slamet Abdul Sjukur beberapa kali membahas fenomena virus ponsel ini dalam pertemuan musik Surabaya di Wisma Melodia. Pak Slamet yang jarang marah ini naik pitam ketika beberapa HP berdering saat konser harpa yang menarik.

Si pemilik ponsel bukannya mematikan HP tapi malah melayani percakapan seluler. Suasana konser pun rusak. Ironis, karena peserta pertemuan dan konser musik sudah membayar tiket acara. Sudah berkorban mengikuti konser harpa yang langka. Tapi, sayang, sebagian orang masih sulit mematikan HP untuk satu dua jam saja.

"Masyarakat kita sekarang ini makin sulit membedakan mana urusan penting dan mana obrolan basa-basi di telepon genggam," kata Slamet Abdul Sjukur.

Dulu, ketika ponsel belum ada, kita selalu mendapat teman baru di perjalanan. Di ruang tunggu bandara kita omong-omong dengan sesama calon penumpang jurusan yang sama. Kini, setelah badan kita dicekoki HP, laptop, tablet, kita tak akan lagi mengenal orang baru.

Mengapa? Karena semua orang asyik dengan gadget sendiri-sendiri. Sibuk bicara dengan orang jauh. Dia merasa tak perlu berkenalan dengan orang yang duduk di sebelahnya.

Begitu gawatnya wabah ponsel ini, saya lihat di gereja-gereja selalu ada baliho besar atau poster larangan menghidupkan HP selama misa atau kebaktian. Anehnya, meski sering dilarang, ada saja jemaat yang nekat bermain-main HP selama misa atau khotbah sang pastor.

"Tidak dapatkah kamu berjaga-jaga satu jam saja?" Ucapan Yesus Kristus ini layak direnungkan oleh manusia modern yang semakin keranjingan piranti komunikasi modern.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

15 August 2013

Rudi Rubiandini korupsi dan pengkhianatan intelektual

Nama Rudi Rubiandini tak asing di Jawa Timur, khususnya Surabaya dan Sidoarjo. Sejak lumpur panas Lapindo menyembur di Porong, Rudi paling sering jadi narasumber wartawan. Waktu itu Rudi dianggap pakar yang hebat karena bisa menganalisis sebab musabab semburan sejak 29 Mei 2006.

Ketika tim ahli versi Lapindo menyebut lumpur itu akibat gempa bumi di Jogja, Rudi Rubindini punya analisis sebaliknya. Maka dia menjadi salah satu akademisi yang berani dan langka. Akademisi yang kebal suap, tak mempan dibayar, tak tergoda uang.

Hari ini koran-koran memuat di halaman satu berita tentang Rudi Rubiandini. Bukan sebagai pengamat perminyakan atau semburan lupur atau kecelakaan pertambangan melainkan kasus korupsi. Rudi mengenakakan baju tahanan KPK karena tertangkap basah menerima suap senilai USD 7000.

Menurut KPK, masih banyak uang semir yang diterima Rudi untuk melicinkan izin di bidang perminyakan. Maklum, sebagai kepala SKK Migas, Rudi punya kewenangan luar biasa untuk memberikan lisensi kepada perusahaan trading minyak.

Waduh, hancur sudah bangunan kredibilitas yang dibangun dosen ITB selama ini. Pengkhianatan intelektual telah terjadi. Rudi benar-benar brengsek karena gagal mengemban amanat penderitaan rakyat.

Rakyat disuruh menderita karena harga minyak dinaikkan, sementara bos-bos lembaga perminyakan pesta pora. Suap yang ketahuan sekarang IDR 7 miliar plus motor gede. Belum uang receh ratusan juta yang ditemukan KPK di rumahnya.

Kasus Rudi Rubiandono bukan kali pertama. Sebelumnya profesor-profesor yang mengurus KPU jilid satu juga dicokok dan dipenjara karena korupsi. Bahkan Mulyana Kusumah yang dulu rajin keliling Indonesia mengajak mahasiswa untuk memerangi orde baru yang korup pun dicokok KPK karena korupsi.

Rupanya idealisme intelektual tak sulit dipertahankan ketika berada di lingkungan yang punya budaya korupsi, suap, semir, gratifikasi. Partai konservatif penjual surga pun malah punya budaya korupsi luar biasa. Ketua umum PKS Lutfhi saat ini dikerangkeng gara-gara korupsi pula.

Tapi jangan khawatir. Setelah menyelesaikan hukuman di penjara, Rudi Rubiandini dkk masih kaya raya karenamasih punya timbunan ribuan dolar. Maka mereka layak berbahagia.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Kulit gelap no problem



Obrolan santai di sebuah kafe di Surabaya itu biasa saja. Mengalir, enteng-entengan. Beberapa orang wanita merapatkan lengan, membandingkan warna kulit. Mana yang bening, gelap, gelap banget.

"Gak usah khawatir, ada whitening kok. Usahakan jangan terkena sinar ultraviolet," kata seorang wanita yang kulitnya bening.

Si kulit gelap tampaknya kurang konfiden dan merasa tidak cakep. Maklum, orang-orang kota di Jawa ini sangat mengidolakan artis atau bintang film kulit bening. Makanya artis blasteran bule paling laris di Indonesia sejak puluhan tahun silam.

Pemain film yang berkulit gelap biasanya jadi pembantu atau figuran semacam kuli atau tukang pukul. Penyanyi-penyanyi pun yang diutamakan berkulit bening. Suara bagus tapi kulit gelap tak dapat tempat di industri musik. "Gak iso didol," kata seorang produser di Jakarta.

Mendengar ocehan orang-orang di kafe Surabaya itu, saya teringat orang-orang di Indonesia timur, khususnya tempat asal saya NTT, khususnya Flores dan Lembata. Mayoritas orang NTT itu berkulit gelap rambut tak lurus.

Apakah orang-orang berkulit gelap ini risau hanya karena warna kulitnya kontras dengan ideal orang Indonesia di Jawa? Sama sekali tidak. Biasa-biasa saja. Dan memang tak pernah dibahas serius maupun santai.

Ketika pulang mudik ke NTT beberapa waktu lalu, saya melihat anak-anak muda masih senang menjemur badan di bawah sinar matahari setelah mandi di laut. Kebiasaan yang juga selalu saya lakukan semasa kecil hampir setiap hari di Lembata. Maklum, rumah saya hanya sekitar seratus meter dari pantai Laut Flores.

Habis jemur, cebur ke laut, menantang gelombang, jemur lagi, cebur lagi, sampai bosan. Tentu saja kulit tubuh yang sudah gelap itu menjadi semakin gelap dan hitam. Rambut pun menjadi kekuningan karena terkena air laut bergaram tinggi.

Toh tidak ada yang menertawakan badan gelap karena memang semua orang berbadan gelap. Biasanya orang NTT mulai sensitif dengan urusan warna kulit ketika hijrah ke Jawa untuk sekolah atau bekerja. Awalnya cuek tapi lama-lama akhirnya sadar bahwa ternyata kulit gelap itu jadi masalah besar bagi sebagian besar orang kota.

Ketika jalan-jalan ke Kuta dan Sanur, Bali, saya melihat begitu banyak orang Barat kulit putih sengaja menjemur tubuh mereka di atas pasir. Sangat dinikmati. Rupanya bule-bule itu ingin kulitnya gelap seperti orang NTT.

"Di Eropa saya jadi pusat perhatian jemaat. Mereka selalu mengagumi warna kulit saya yang gelap," tutur seorang pastor asal Flores yang bertugas di Eropa.

Wow, rupanya rumput tetangga memang selalu lebih hijau. Yang Indonesia ingin memutihkan kulit, sementara yang bule malah ingin menggelapkan kulit.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Bintang Jasa untuk Alim Markus



Pengusa Alim Markus mendapat bintang jasa dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Selasa 13 Agustus 2013. Bos Maspion Group itu dinilai berjasa mendorong penggunaan produksi dalam negeri.
Selamat untuk Pak Alim Markus!

Meskipun terlambat, bintang jasa untuk Alim Markus layak diapresiasi. Bos asal Surabaya ini memang paling gencar mempromosikan produk-produk Indonesia. Tak hanya produk-produk perusahaan Maspion sendiri.
Cintailah produk-produk Indonesia! Begitu seruan Alim Markus setiap saat di televisi. Logatnya yang cadel khas Tionghoa Hokkian sering membuat orang geli karena beliau kesulitan melafalkan fonem R. Cintailah PLODUK-PLODUK IN-DO-NE-SI-A.

Alim Markus tak mengatakan, cintailah produk-produk Maspion. Baginya, kita orang Indonesia pun mampu membuat produk-produk berkualitas untuk pasar dunia. Bukan hanya sekadar pasar dalam negeri.
Dalam sebuah wawancara di Hotel Sheraton Surabaya belum lama ini, Alim Markus mengatakan bahwa sejak dulu dia selalu mempromosikan produk Indonesia ketika berada di luar negeri. Di Tiongkok dia meyakinkan pengusaha dan warga setempat bahwa produk made in Indonesia punya kualitas yang membanggakan.

"Sebentar lagi saya mau ikut pameran dagang di Guangzhou. Saya perkenalkan produk-produk Indonesia," katanya.

Begitulah. Dalam kesempatan apa pun Alim Markus tak jemu-jemu kampanye produk-produk Indonesia. Ketika sebagian orang Indonesia tergila-gila dengan produk impor, beliau malah menganjurkan penggunaan barang buatan tanah air kita.

Alim Markus pun tak segan-segan tampil sebagai bintang iklan produk Maspion from Indonesia. Mengapa tidak pakai artis cantik seperti Agnes Monica sebagai model? Apa karena ingin berhemat?

Alim Markus ternyata punya filosofi sendiri. Dengan terjun langsung sebagai bintang iklan, dia ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa produk buatan puluhan pabrik Maspion Group itu memang berkualitas. Dan dia memberikan jaminan pribadi.

Maka, pantaslah Alim Markus mendapat bintang jasa dari kepala negara menjelang 17 Agustus 2013. Sekali lagi selamat untuk Bapak Alim Markus.

Cintailah produk-produk Indonesia!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

14 August 2013

Susah menipu orang desa

Dulu sebelum 2000 kota dan desa berbeda jauh dalam banyak hal. Kini, setelah televisi dan ponsel masuk desa, akses informasi orang kota dan desa hampir sama. Bedanya sinyal di desa lemah dan terbatas.

Orang-orang di pelosok Flores biasa naik bukit hanya untuk menemukan sinyal Telkomsel. Kebetulan di NTT hanya satu operator itu yang punya jaringan. Karena itu, kalau anda ke NTT jangan lupa membeli kartu perdana Simpati atau As.

Akses televisi di kampung saya, pelosok Lembata, saat ini sangat luar biasa. Bahkan lebih banyak saluran, lebih terang, lebih asyik ketimbang di Surabaya. Bukan apa-apa. Sejak sepuluh tahun lalu Matrix masuk desa-desa menyediakan parabola di rumah penduduk.

Nah, akses informasi inilah yang membuat orang NTT yang bekerja di kota-kota besar macam Surabaya, Jakarta, atau Kuala Lumpur dan Kota Kinabalu di Malaysia tidak bisa lagi seenaknya kasih oleh-oleh untuk keluarga atau kenalan di kampung. Memberi HP sederhana yang hanya bisa SMS atau menelepon sudah tidak bisa. Malah jadi bahan tertawaan mereka.

"HP apaan ini? Itu kan model lama. Teman-teman di sini tidak ada yang pakai HP kayak gitu," kata remaja di Lembata menirukan gaya bahasa pemain sinetron.

Maka HP pemberian orang NTT itu pun diberikan kepada orang tua. Anak-anak muda di pelosok NTT saya lihat makin kecanduan smartphone untuk games, foto-foto, SMS dan sebagainya. Ponsel model lama meski baru dibeli biasanya ditolak secara halus maupun kasar.

Ponsel made in China yang kelihatan canggih, menarik, kayak smartphone kelas menengah atas macam BB pun sering jadi bahan tertawaan orang desa. "Kasih oleh-oleh uang saja daripada HP China," kata orang desa.

Karena itu, kita yang bekerja di Surabaya atau Jakarta sering diledek orang desa di NTT kalau masih menggunakan ponsel lawas atau yang buatan China. Masa orang Jakarta kok pakai HP murahan? Hehehe....

Virus konsumerisme memang makin merasuk ke pelosok-pelosok negeri kita. Akses informasi yang luas, iklan masif di televisi, membuat cara berpikir dan gaya hidup makin modern. Itulah bedanya dengan zaman Orde Baru ketika pemerintah melarang iklan di televisi.

Saya masih ingat waktu itu setiap minggu warga desa ramai-ramai membaca koran masuk desa, yakni Suara Karya dan Dian terbitan Ende, Flores. Budaya membaca yang disemaikan Orde Baru kini berganti menjadi budaya televisi dan smartphone.

Acara TVRI ala Dari ke Desa malah sudah tidak diminati warga desa, khususnya generasi muda. Dan makin sedikit anak muda desa yang mau bertahan di kampung menjadi petani atau nelayan.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

13 August 2013

Pilgub Jatim: Karsa Paling Siap, Eggi-Sihat Cuma Penggembira

Puasa dan Lebaran 2013 di Jawa Timur sangat kental nuansa politiknya. Maklum, waktunya bersamaan dengan tahapan pemilihan gubernur. Pencoblosannya sendiri dijadwalkan pada 29 Agustus 2013.

Masih dalam suasana Idulfitri, ketupat dan opor masih panas, para kandidat sudah tancap gas. Penyampaian visi misi di DPRD Jatim. Kemudian disusul kampanye selama dua minggu di empat zone yang ada.

Dari tiga pasang cagub-cawagub, sudah jelas Soekarwo-Saifullah Yusuf paling siap. Sebagai inkumben, Karsa sudah dikenal calon pemilih yang mencapai 30 juta. Logistik nyaris tak ada masalah. Iklan di media massa sangat gencar sejak lama.

Gubernur Soekarwo dan wakilnya Gus Ipul pun sangat kompak luar dalam. Ketika 94% pasangan kepala daerah di Indonesia pecah, Karsa malah semakin lengket. Bandingkan Fauzi Bowo di Jakarta yang pecah kongsi dengan Prijanto. Wagub DKI Prijanto bahkan mengundurkan diri.

Di Jawa Barat Gubernur Ahmad Heryawan juga pecah dengan wakilnya Dede Yusuf. Keduanya bahkan bertarung dalam pilgub beberapa waktu lalu. Di NTT gubernur dan wagubnya juga pecah, kemudian saling tarung. Di Jawa Timur justru harmonis.

Keharmonisan ini membuat Jatim memborong berbagai penghargaan tingkat nasional. Pertumbuhan ekonomi paling tinggi di Indonesia. Investasi pun luar biasa. Di bawah kepemimpinan Soekarwo-Gus Ipul banyak persoalan di Jatim bisa diatasi dengan baik.

Karena itu, Karsa kali ini jauh lebih mudah berkampanye ketimbang lima tahun lalu. Ketika calon lain baru berencana, obral janji. Karsa sudah kasih bukti. Tinggal memantapkan saja.

Bambang DH-Said Abdullah yang diusung PDI Perjuangan terlambat start. Hingga enam bulan lalu belum kelihatan siapa yang akan dijagokan PDIP. Bambang sendiri terkejut dijadikan calon gubernur Jatim karena selama ini mantan wali kota Surabaya itu hanya disebut-sebut bakal menjadi cawagub.

Cara kerja PDIP dalam pemilukada memang cenderung mendadak dan mengejutkan. Mirip DKI Jakarta yang mengusung Jokowi di menit-menit terakhir. Bedanya, Jokowi sudah ngetop sejak jadi wali kota Solo, punya karakter wong cilik, punya magnet luar biasa.

Bagaimana dengan Bambang DH? Jelas tidak sekuat Jokowi atau Ganjar Pranowo di Jawa Tengah. Sebelum diusung partainya, Bambang DH adalah wakil wali kota Surabaya.

Rupanya Karsa tahu kelemahan Bambang DH. Apa itu? Pentolan banteng gemuk ini cenderung kurang bisa bekerja sama dengan pasangannya. Beberapa kali Bambang menyatakan keinginannya mundur sebagai wawali Surabaya. Ia kurang harmonis dengan Wali Kota Tri Rismaharini.

Sebelumnya Bambang DH juga kurang mesra dengan wakilnya Arif Afandi. Arif kemudian menantang Bambang DH dalam pemilukada tapi gagal. Sebelumnya lagi Bambang DH juga kurang mesra dengan Cak Narto (alm), wali kota yang kemudian digantikan Bambang di tengah jalan karena sakit berat di Australia.

Khofifah-Herman? Pasangan nomor 4 ini lebih terlambat lagi. Begitu banyak ranjau khususnya dukungan partai yang mendua hingga sengketa ke DKPP. Proses panjang ini jelas membuat Berkah tidak bisa sosialisasi alias soft campaign.

Logistik jelas sangat kurang. Kiai-kiai NU mayoritas berada di belakang calon nomor 1 alias Karsa meskipun Berkah diusung PKB yang basis massanya nahdliyin. Khofifah hanya mengandalkan jaringan Muslimat dan Fatayat.

Tapi Khofifah punya pengalaman bertarung dengan Karsa pada 2008. Khofifah bahkan menang dua kali dalam quick count pilgub Jatim saat itu. Hingga akhirnya mantan menteri era Gus Dur ini kalah dalam pilgub putaran ketiga di Madura.

Bagaimana dengan Eggi Sudjana-M Sihat dari jalur independen? Hehehe.... Paket nomor 2 ini anggap saja sebagai penggembira pesta demokrasi di Jatim. Basis massanya gak jelas, rekam jejak Eggi biasa dan kontroversial, pun tak ada akar kultural di Jatim.

Eggi ini orang Sunda yang ujug-ujug mencalonkan diri dan ternyata memenuhi syarat. Kok gak pasang baliho?

"Duitnya dari mana? Saya tidak punya uang," kata Eggi saat saya hubungi via ponsel.

Eggi-Sihat benar-benar nothing to lose alias paling siap kalah. Kita tunggu saja pertempuran sesungguhnya dua pekan mendatang. Yang jelas, siapa pun gubernurnya, jer basuki mawa beya!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

12 August 2013

Sudah berapa kali Anda ke Bromo?

Pertanyaan ini disampaikan Mr Lim asal Malaysia. Saya pun tersipu malu. Baru satu kali. Sudah lama sekali ketika saya masih mahasiswa.

Pak Lim bersama lima temannya, semuanya Tionghoa Malaysia, baru saja menikmati pemandangan eksotik di Gunung Bromo. Begitu antusias dia bercerita tentang keindahan alam pegunungan di Jawa Timur yang indah luar biasa. Di Malaysia tak ada katanya.

"Saya sudah tujuh kali ke Bromo. Tahun depan saya balik lagi ke sana," kata pelancong asal Malaysia itu.

Biasanya Lim mengajak teman-teman Tionghoa lain yang belum pernah ke Jawa Timur untuk bersama-sama menikmati Bromo. Dia juga jalan-jalan ke Gunung Ijen melihat penambang belerang. Tapi Bromo paling berkesan dan membuatnya ketagihan.

Kalau dipikir-pikir, orang asing jauh lebih mengenal alam kita, objek wisata kita, ketimbang warga Jawa Timur sendiri. Lim punya koleksi foto-foto indah dan seabrek informasi tentang Bromo. Sementara saya sendiri tak banyak tahu soal Bromo. Mati kutu kalau diajak diskusi tentang gunung-gunung di Jawa Timur.

Di kampung halaman saya di pelosok Flores Timur, tepatnya Lembata, pun ada gunung berapi. Namanya Ile Ape atau Gunung Api. Jujur saja seumur hidup saya belum pernah mendaki ke puncak gunung di kampung saya itu.

Saya hanya tahu kepulan asap dari puncaknya. Bagaimana vegetasi, jalur pendakian, ketinggian dan sebagainya saya buta total. Maka ketika ditanya orang Barat, saya pun meminta bantuan Paman Google.

Betapa kagetnya saya ternyata banyak orang Eropa yang bolak-balik mendaki Ile Ape. Mereka bikin catatan dan foto-foto bagus kemudian ditayangkan di internet. Rombongan dari Swiss tampak sumringah menikmati puncak gunung yang sempat meletus tahun lalu itu.

Begitulah. Kadang-kadang orang asing justru lebih mengenal alam sekitar kita ketimbang penduduk tempatan.

Sudah berapa kali Anda ke Bromo?

"Belum pernah. Untuk apa ke sana, hanya menyiksa badan saja," kata Cak Mul, warga Sidoarjo. Hehehehe .... Ternyata saya tidak sendiri.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Radio Media FM Surabaya Spesialis Pop Nostalgia

Pagi ini, 12 Agustus 2013, saya ngopi di sebuah depot tak jauh dari Bandara Juanda Surabaya, kawasan Sedati, Sidoarjo. Seperti biasa, pemilik kafe itu memutar lagu-lagu lawas nonstop. Sejak buka sampai tutup musiknya pop Indonesia nostalgia mulai era Kopral Jono, 70an, 80an, 90an, hingga pertengahan 2000an.

Saat mengetik naskah ini terdengar Payung Fantasi ciptaan Ismail Maruki dalam irama jazz. Lagu lama tapi asyik sekali karena dimainkan dalam aransemen jazz yang swing habis. "Payung fantasi arah ke mana dituju... Hei hei tunggu dulu!" Kalau tak salah yang nyanyi Elfa Singers.

"Lagu-lagu nostalgia itu enak-enak, nancap di hati," kata bapak pemilik depot yang memang doyan musik sejak muda itu. Lagu sekarang juga bagus-bagus, aransemen lebih kaya, mutu rekaman jauh lebih oke, tapi kurang nancap. Ngetop sejenak kemudian dilupakan orang.

Beda dengan lagunya Bob Tutupoly yang terdengar saat ini. "Jangan pernah berkata benci padaku... " Begitu syair lagu si nyong Ambon yang besar di Surabaya itu.

Si tuan warung tak perlu memutar lagu-lagu sendiri. Cukup nancap di FM 90.1 Radio Media FM Surabaya. Stasiun radio yang bermarkas di Jalan Jawa 31 Surabaya itu memang sangat populer di kalangan orang-orang lawas, 30 tahun ke atas. Mereka sudah punya banyak file musik masa lalu sehingga sulit diajak untuk menggandrungi lagu-lagu pop baru.

Makin tua usia makin banyak koleksi file masa lalunya. Sisi inilah yang dengan jeli dimasuki Pak Bambang Samiaji, pengusaha Tionghoa Surabaya, ketua komunitas Anxi Jawa Timur, untuk membuat radio khusus lagu-lagu nostalgia. Virus tembang kenangan ditularkan Bob Tutupoly di Indosiar beberapa tahun lalu, disusul Zona 80 dan Zona Memori di Metro TV.

"Semua orang itu suka musik pop. Dan radio sangat efektif untuk memberi hiburan kepada masyarakat. Cuma para pendengar ini punya selera yang berbeda-beda tergantung usia dan komunitasnya," kata Bambang Samiaji suatu ketika.

Orang Surabaya asli dan lawas pasti tahu Pak Bambang Samiaji yang selalu energetik itu. Tahun 1970an, ketika radio swasta di Surabaya hanya 10, Bambang Samiaji sudah jadi bos Radio Susana Jaya yang bermarkas di Simolawang Baru V/2 Surabaya. Radio ini kemudian berganti nama menjadi Suzana FM dan pernah sangat terkenal pada 1980an hingga menjelang 2000.

Sampai sekarang Suzana masih eksis dan punya banyak anak. Salah satunya ya Media FM. Ada lagi yang namanya EBS, Strato, Merdeka FM. Yah, Bambang Samiaji memang salah satu raja radio swasta di Jawa Timur.

Kembali ke Media FM radio nostalgia. Meski tidak saya putar setiap hari, saya melihat penggemarnya sangat banyak dan tersebar di banyak kota di Jawa Timur. Ini karena jangkauannya memang luas. Beda dengan Strato FM yang terbatas di komunitas Tionghoa penggemar pop mandarin. Bahkan tak sedikit orang muda di bawah 30 tahun yang requiest lagu.

"Requiest sering kali terlalu banyak sehingga kami terpaksa melakukan pembatasan. Kasihan pendengar lain tidak dapat kesempatan," kata Bung Didit, salah satu penyiar Media FM.

Suatu ketika saya berkunjung ke studio Strato FM menemui Lidya Laoshi, guru bahasa Mandarin yang siaran di Strato. Oh, ternyata studio Strato bersebelahan dengan Media. Belasan ibu-ibu muda tampak antusias menemui sang penyiar lagu-lagu lawas pujaan mereka.

Antusiasme pendengar Media FM itu tidak terasa di Strato FM. Lidya Laoshi yang lulusan Taiwan itu hanya sendirian cuap-cuap di ruang kaca yang luasnya hanya sekitar 4 x 4 meter.

Salam nostalgia!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

11 August 2013

Rinto Harahap legenda pop melankolis

Rinto Harahap bersama keluarga (foto Kapan Lagi).

 Hampir semua orang Indonesia tahu komposer, produser, pemusik yang namanya RINTO HARAHAP. Tapi tak banyak yang tahu perjalanan hidupnya dari Sibolga, Medan, Jogja, Jakarta, kemudian kecantol sama pramugari Bouraq Airlines asal Solo bernama Lily Kuslolita yang akhirnya menjadi istrinya.

Cerita-cerita human interest ini diracik oleh Harry Moenzir, wartawan senior dan teman Rinto, dalam buku Gelas-Gelas Kaca. Boleh dikata inilah biografi Rinto Harahap, penemu genre pop melankolis di Indonesia yang berjaya sejak akhir 1970an dan baru meredup menjelang 2000. Jejak Rinto kemudian diikuti Pance Pondaag, Obbie Messakh, Wahyu OS, Maxie Mamirie, Deddy Dores, dan seabrek musisi lain.

Berbeda dengan kebanyakan anak Medan, Rinto Harahap yang lahir di Sibolga 10 Maret 1949 ini pendiam, perasa, halus, lembut, tk banyak ulah. Dia juga paling takut cewek meski bandnya The Mercys sangat digandrungi gadis-gadis cantik. Ketika si Reynold pemain drum kerjanya cuma pacaran melulu, Rinto malah suka menyendiri. Tak berani mendekati cewek-cewek.

Hingga suatu ketika Rinto dikenalkan Albert anggota Mercys dengan Lily, pramugari Bouraq yang sedang bertugas di Balikpapan. Kekakuan pun muncul karena Lily sangat cuek. Cenderung kurang respek pada band populer itu.

Tapi Rinto pantang menyerah. Dia terus memburu wanita cantik itu ke Tanjungpriok, Jakarta, agar bersedia dipacari. Hanya tujuh bulan pacaran, mereka kemudian menikah. Semua keperluan pernikahan diurus dan dibiayai sendiri oleh Bang Rinto. Lily pun meninggalkan Bouraq dan mundur total sebagai ibu rumah tangga.

Pernikahan Rinto praktis membuat The Mercys vakum. Apalagi sudah ada konflik hebat dengan Charles Hutagalung, vokalis sekaligus motor grup ini. Reynold yang jenius itu pun lebih suka pacaran, kata buku ini, ketimbang berlatih bersama grupnya. Toh Reynold merasa bisa bermain bagus tanpa perlu banyak latihan.

Rinto Harahap tak ingin jauh-jauh pergi meninggalkan istri jelitanya yang baru dinikahi itu. Maka Rinto akhirnya fokus menjadi komposer, song writer, yang mengangkat artis-artis baru di belantika musik pop Indonesia. Dia harus melepaskan diri dari warna Mercys sekaligus membuat warna sendiri: warna Rinto Harahap.

Dia bertekad, "Saya harus menulis lagu sebanyak-banyaknya yang bisa diterima masyarakat." Dan Rinto sudah punya segepok puisi, curahan hati, yang tinggal dikasih melodi menjadi lagu. Dia juga peka menangkap karakter vokal calon-calon artis yang akan diorbitkannya.

Nah, agar berbeda dari Mercys, Rinto membentuk band spesialis rekaman yang diberi nama Lolypop Group beranggotakan Philips (bas), Ataw (gitar), Oyam (drum), Adi Mantra (keyboard). Rinto Harahap sebagai bos, penulis lagu, arranger, music director.

"Band Lolypop dirancang untuk mengiringi artis-artis rekaman karena tidak mungkin diiringi The Mercys," katanya. Maka Mercys pun mati suri untuk tidak dikatakan mati total.

Pada 7 Februari 1976 Rinto meresmikan sebuah major label atau perusahaan rekaman baru bernama PT Lolypop Records. Saat itu dia baru punya satu penyanyi, yakni Eddy Silitonga. Eddy yang bersuara tinggi lantang ini berhasil mengibarkan bendera Lolypop + Rinto dengan lagu Biarlah Sendiri.

Yah, Rinto mulai mencoba bertualang sendiri di industri musik setelah Mercys tak lagi seiring jalan. Tapi rupanya Rinto punya hoki hebat di bidang ini. Artis kedua Diana Nasution dengan suara serak basah, tinggi, pun sukses.

Kemudian Rita Butarbutar yang suaranya tinggi melengking. "Suaranya bagaikan cetusan hati. Bulat dan mencekam. Satu dalam seribu," Rinto memuji penyanyi yang sama-sama berdarah Batak itu.

Rinto makin semangat menemukan artis baru. Tahun 1977 dia berasil mengorbitkan Christine Panjaitan. "Matanya yang seperti kucing sakit mengundang simpati. Pembawaannya yang tenang membuat lagu-laguku lebih berkarakter. Suaranya yang bergetar bisa membuat lirik-lirikku menikam ulu hati," ujar Rinto tentang Christine Panjaitan.

Pada era 1980an itu Rinto Harahap ibarat raja midas di industri musik pop. Lagu-lagunya diputar hingga ke pelosok Tapanuli, Flores, Papua, di kota besar, kota kecil, hingga desa tanpa listrik di NTT. Toh Rinto mengaku tak mau mengubar lagu.

"Satu-satunya alasan untuk menulis lagu adalah perasaan. Jika aku tersentuh maka dengan mudah lirik-lirik tertulis rapi dan musik mengalir bagai air tercurah. Jika hatiku peka mencair maka dua tiga lagu bisa kuperoleh dalam sehari," kata ayah tiga anak itu.

Mencipta lagu, Rinto menjelaskan, bukan kerja pikiran tapi lebih cenderung kerja batin. Lagu Benci tapi Rindu misalnya, menurut ayah penyanyi Cindy Claudia ini, sarat analisis dan pertimbangan nurani.

Kau datang dan pergi sesuka hatimu
Oh kejamnya dikau
Teganya dikau padaku


Tahun 1979 Rinto mengangkat nama Hetty Koes Endang ke tangga sukses dengan hit Dingin.

Kau janjikan berbulan madu ke ujung dunia. 
Kau janjikan sepatuku dari kulit rusa. 
Tapi janji tinggal janji bulan madu hanya mimpi.

Di tahun yang sama Rinto bertemu Iis Sugianto, remaja Jakarta yang suka bosanova dan kurang sreg dengan lagu melankolis ala Rinto. Rinto mengajak bicara, memberi wawasan tentang dunia rekaman di Indonesia. Kita harus membedakan selera pribadi dan menyanyi untuk masyarakat. "Dua hal itu sangat berseberangan," kata Rinto.

Iis Sugianto pun akhirnya melahap lagu-lagu ciptaan Rinto yang terbukti booming di Indonesia. Nasibmu dan Nasibku, Jangan Sakiti Hatinya, Mimpi, Seindah Rembulan.

Suatu malam, Juli 1986, Rinto menggores syair cinta dan menemukan melodi lewat gitarnya. Dia terbayang Broery Marantika alias Broery Pesolima. "Janganlah kau berkata benci. Walau hatimu tak sudi. Biarkanlah anganku ikut bayang-bayangmu ke mana saja...."

Ajaib. Esok hari Broery muncul di rumah Rinto bersama Dimas Wahab. "Broer, aku punya lagu baru. Mau dengar?" kata Rinto. Beberapa saat kemudian masyarakat pun gandrung lagu Aku Jatuh Cinta.

Energi kreatif Rinto tak jua pupus meski karya-karyanya lahir setiap saat. Makin banyak artis yang dia orbitkan, lagu-lagunya pun sering diminta para pengusaha rekaman untuk mengerek artis baru maupu lama. Rinto Harahap membuai bangsa Indonesia dengan musik pop nan lembut, mendayu, berperasaan.

Total 518 lagu sudah ditulis Rinto dan dipublikasikan di tanah air.

Musik pop manis ala Rinto akhirnya dihadang oleh Menteri Penerangan Harmoko pada 1985. Lagu-lagu macam ini dianggap cengeng, tidak memberi semangat untuk pembangunan. Ucapan Harmoko ini ibarat vonis mati karena lagu-lagu ala Rinto, Pance, Obbie Messakh tak akan ditayangkan lagi di TVRI. Satu-satunya stasiun televisi di Indonesia saat itu.

Rinto Harahap naik pitam. Merasa terhina lagu-lagunya dibilang cengeng. "Apanya yang cengeng? Lagu-laguku tidak cengeng. Jika Harmoko mengatakan laguku terlalu sendu aku bisa menerima. Tapi cengeng! Alangkah rendah pilihan kata-katanya," Rinto marah benar.

Dia pun protes ke petinggi Kementerian Penerangan saat itu, yakni Alex Leo Zulkarnaen, Subrata, dan Eddy Sud. Yang terakhir ini pelawak dan koordinator artis untuk Aneka Ria Safari TVRI. Tidak tampil di TVRI berarti tidak bisa promosi, dan si artis dan produser akan habis.

"Tidak masuk Safari juga tidak mati. Saya ingin tahu dasar pemikiran Harmoko," kata Rinto nada tinggi. Istilah cengeng ini membuatnya menderita.

Rinto Harahap memang tak habis sama sekali gara-gara kebijakan Menpen Harmoko. Sebagai seniman dia tetap berkarya. Namun, seiring pembredelan lagu-lagu cengeng, musik pop Indonesia mulai berubah warna. Karakter khas Rinto makin tergusur oleh lagu-lagu yang disebut pop kreatif.

Selesailah era pop manis yang dikomandani Rinto Harahap.

Rinto kemudian asyik mengurus Asosiasi Rekaman Indonesia alias Asiri, Yayasan Karya Cipta, memerangi pembajakan, aktif mengurus hak-hak pencipta lagu dan penata musik. Dia juga terseret arus politik reformasi dengan aktif di Partai Patriot yang diketuai teman karibnya Japto Soerjosoemarno.

Dia sempat menulis lagu mars untuk Partai Patriot itu. Pada 19 April 2004 di musim kampanye pemilihan umum Rinto terserang stroke. Tak bisa bicara, organ tubuh tak bisa digerakkan, tak bisa lagi menciptakan lagu-lagu manis.

Kesehatannya naik turun meski sempat mendapat mukjizat kesembuhan (sementara) ketika didoakan Pendeta Benny Hinn dari Amerika Serikat.

"Beginilah yang namanya manusia ketika usia mulai menggerogoti raga. Segenap ketangguhan akan berakhir pada suatu titik. Kita berjalan dari ada untuk pulang menuju ketiadaan," kata Rinto Harahap dalam buku biografinya itu.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

10 August 2013

Flores Timur di media nasional


Sebagai putra Lamaholot alias Flores Timur di Jawa, saya melihat ada perkembangan menggembirakan dalam pemberitaan media akhir-akhir ini. Begitu banyak liputan menarik di media-media nasional tentang Flores Timur. Tidak lagi melulu soal rawan pangan alias kelaparan atau wabah rabies.

Majalah Tempo edisi Lebaran, 11 Agustus 2013, ini membahas sastra pesantren dan sastra seminari. Kebiasaan para siswa Seminari Hokeng di Flores Timur yang banyak membaca, belajar bahasa Latin dan bahasa-bahasa asing, berdiam diri, refleksi, menulis puisi dibahas secara mendalam.

Memang, setiap hari Sabtu para seminaris dilarang berbicara. Silencio magnum, hening total. Dalam keheningan itulah mereka merenungkan sabda Tuhan, keindahan alam, menemukan Tuhan, dan menciptakan puisi. Begitu banyak syair yang tercipta dalam keheningan.

Pater Leo Kleden SVD, filsuf dan dosen Seminari Tinggi Ledalero, yang juga alumnus Seminari San Dominggo Hokeng menulis:

Pada mulanya adalah Sunyi
Dan Sunyi itu melahirkan Kata
Dan Kata menciptakan alam semesta
Dan alam semesta menyanyikan madah


Liputan tentang seminari yang didirikan pada 15 Agustus 1950 ini benar-benar menyingkap sisi lain Flores Timur. Bahwa lingkungan pendidikan calon imam di NTT punya potensi untuk mencetak imam, teolog, filsuf, hingga penyair. Para seminaris digembleng untuk hidup dan berkarya dalam sunyi.

Liputan lain yang tak kalah menarik adalah jejak peradaban cendana di Pulau Solor, Flores Timu yang dimuat Kompas. Menarik tapi menyedihkan karena hutan cendana yang mengundang masuknya penjajah itu kini tinggal cerita lalu.

Sebelum ini Flores Timur, tepatnya Larantuka, diliput panjang oleh Jawa Pos saat pekan suci Paskah awal April 2013.Tradisi perarakan setiap Jumat Agung yang disebut Semana Santa dibahas secara mendalam oleh Jawa Pos dan ratusan koran yang bernaung di Jawa Pos Group.

Jawa Pos juga mengupas tuntas keberadaan raja Larantuka yang bertugas merawat tradisi Semana Santa itu. Hebatnya, tradisi Katolik kuno itu di negara asalnya, Portugal, sudah tidak ada lagi.

Berbagai liputan ini setidaknya membuka mata orang Indonesia untuk lebih mengenal Flores. Selama ini belum banyak orang Jawa yang tahu di mana Flores berada.

"Flores itu di Maluku ya? Atau Papua? Flores itu dekat NTT ya? Flores itu di Timor Leste ya?"

Begitu antara lain pertanyaan-pertanyaan konyol yang masih sering saya dengar di Jawa. Termasuk dari kalangan intelektual alias orang-orang berpendidikan tinggi.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Prof Thohir Luth tokoh Muhammadyah dari Flores Timur


 Saya beberapa kali kontak dengan Prof Dr Thohir Luth MA via ponsel. Saya coba pakai bahasa Lamaholot, bahasa daerah kami di Flores Timur, NTT. Wah, Pak Thohir pun terkejut mendengar saya bicara dalam bahasa daerah.

Maka percakapan singkat itu pun bukan lagi wawancara tapi ngobrol kekeluargaan antara sesama orang Flores Timur di Jawa Timur. Saat ini Prof Thohir Luth, guru besar Universitas Brawijaya Malang, menjabat ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Ulama besar dengan umat puluhan juta yang tersebar di 38 kabupaten/kota.

Mengurus sekian banyak amal usaha Muhammadyah seperti sekolah, universitas, rumah sakit, panti asuhan dan sebagainya. Tak heran putra asli Lamaholot yang lahir di Lohayong, Kabupaten Flores Timur, ini sibuk bukan main.

"Mo ata belen ka urus ribu ratu pe," kata saya dalam bahasa daerah khas Flores Timur.

Saat itu Prof Thohir Luth berada di Kalimantan. Pakar hukum Islam ini pun menjawab SMS dalam bahasa daerah:

"Syukur tite bisa herun nawate, tutu koda onet. Kalau ama ke Malang kontak-kotak goe biar tite bisa herun nawate balik."

Artinya, syukur kita bisa bertemu, saling berbincang dan cerita. Kalau anda ke Malang, kontak saya supaya kita bisa bertemu lagi.

Saya gembira betul karena sudah lama tidak mendengar Lamaholot logat Solor Timur, khususnya Lohayong. Selama di Jawa Timur saya hanya dengar Lamaholot versi Ileboleng Adonara dan Ileape Lembata. Logat Lohayong Pak Thohir ini mirip Lamakera atau Lamahala yang sama-sama kampung Islam.

Tampilnya Thohir Luth sebagai profesor doktor, ulama, ketua Muhammadiyah, memang layak dibanggakan orang NTT, khususnya Flores Timur. Bukan apa-apa. Selama ini Solor hanya dianggap sebagai pulau tandus, kering, sulit maju karena topografinya berbukit-bukit. Tak ada tanah datar untuk sekadar membuat lapangan bola sederhana.

Medannya begitu berat sehingga untuk membuat jalan raya saja susah. Tapi kok bisa muncul tokoh sekaliber Prof Thohir Luth? Itulah berkat Tuhan. Dan kegigihan orang Solor dalam menuntut ilmu hingga jenjang tertinggi.

Desa Lohayong, kampung halaman Prof Thohir Luth, sejak dulu terkenal sebagai salah satu dari lima kerajaan Islam di Flores Timur yang disebut Watan Lema. Watan artinya pantai, lema = lima. Lima pantai. Kelima kerajaan Islam itu adalah Lohayong, Lamakera, Lamahala, Terong, Labala.

Di wilayah lima kerajaan di pinggir pantai inilah warga etnis Lamaholot pertama kali memeluk agama Islam yang disebarkan dari tanah Jawa pada tahun 1420-an. Islam justru masuk lebih dulu sebelum kedatangan misionaris Katolik dari Portugis. Rakyat Lohayong bahkan berhasil mengusir Portugis yang meninggalkan jejak berupa Benteng Hendrikus yang terkenal itu.

Karena itu, sebagai warga asli kerajaan Islam, tentu saja sejak kecil Thohir Luth sudah mendapat penggemblengan dalam ilmu agama Islam. Bakat dan kemampuannya yang cermerlang membuatnya berhasil mendapat gelar doktor kemudian profesor.

Meski begitu, Pak Profesor tetap menunjukkan diri sebagai sosok yang rendah hati dan bersahaja. Beliau tak lupa asal usulnya sebagai putra daerah Flores Timur yang saat ini dipercaya sebagai ketua umum PW Muhammadiyah Jawa Timur.

"Jabatan itu amanah," Prof Thohir Luth menegaskan. "Go pia urus ribu ratu wi...." (Saya lagi mengurus ribuan umat.)

Selamat bertugas Ama Thohir!

Soga naran Lewotanah! Urus ribu ratu mang sare-sare! Ake lupang lewotanah Lohayong watan lolon!