03 July 2013

Tionghoa Peduli Wayang Kulit

Belum lama ini saya menghadiri  hajatan yang digelar Kelenteng Tjong Hok Kiong, Sidoarjo, Jawa Timur. Perayaan ulang tahun atau sejit Makco Thian Siang Sing Bo. Makco dikenal sebagai Dewi Bahari, pelindung para pelaut Tionghoa, yang sangat dihormati orang Tionghoa di seluruh dunia.

Hajatan Makco ini dikemas dalam pesta rakyat. Berbagai pertunjukan bisa dinikmati masyarakat di sekitar kelenteng, Jalan Hang Tuah 32 Sidoarjo. Sorenya wayang potehi, malamnya wayang kulit.

Tim barongsai dari Pasuruan tampil atraktif di aula kelenteng yang sehari-sehari lebih dikenal sebagai GOR Basket Tridharma Sidoarjo. Band Mandarin, meski penyanyinya rata-rata laoren alias lansia, sangat kompak. Nada-nada tinggi, teknik vokal ala Tiongkok, menghasilkan suara-suara yang beda dengan penyanyi biasa.

Masyarakat Tionghoa maupun pribumi tampak berbaur menikmati atraksi-atraksi hiburan itu. Sangat cair. Tak ada batas ras, etnis, agama, dan sebagainya di aula yang luas itu. Mereka bertahan hingga menjelang pukul 00.00 karena ada undian berhadiah sepeda motor. Siapa tahu sang dewa rezeki tiba-tiba datang.

“Aku menang! Aku menang!” kata seorang perempuan 40-an tahun asal Surabaya setelah tahu nomor di undangannya ternyata cocok saat diumumkan pembawa acara.

“Mimpi apa semalam, Mbak?” pancing saya.

“Wah, gak mimpi apa-apa. Saya dapat undangan, ya, datang… eh tahu-tahunya menang,” katanya gembira. Lumayan, dapat motor Honda keluaran terbaru.

“Gak didol wae, Mbak?”

“Oh… gak! Lapo didol… dipake dhewek opoo!” katanya lantas tersenyum.

Ditemani Ki Subur, dalang wayang potehi (khas Tionghoa), saya nongkrong di halaman kelenteng. Menyaksikan pergelaran wayang kulit semalam suntuk. Kali ini dalangnya Ki Waluyo Jati dari Mojokerto. Biasanya sih Ki Sugilar yang juga dari Mojokerto.

Baik Ki waluyo Jati maupun Ki Sugilar sama-sama menekuni wayang kulit jawa timuran. Yakni, wayang kulit dengan langgam Jawa Timur, beda dengan wayang jawa tengahan yang punya dalang kondang macam Ki Anom Suroto dan Ki Manthep Sudarsono.

Malam itu, begitu banyak kelenteng di Jawa yang punya hajatan Makco. Selain Sidoarjo, pesta rakyat juga digelar di Kelenteng Gresik, Mojokerto, Kediri, Tulungagung, Mojokerto, dan banyak lagi. Acara pokok adalah doa bersama warga Tionghoa (umat kelenteng) pada pukul 00.00. Nah, acara hiburan wayang kulit tak pernah ketinggalan.

“Pengurus kelenteng selalu nanggap wayang kulit kalau punya hajatan. Sebab, mereka ini saya lihat sangat peduli kelangsungan kesenian tradisional,” kata Ki Subur, dalang potehi yang asli Jawa.

Ki Subur sendiri mendapat job main di halaman kelenteng selama 27 hari. Setelah itu, biasanya ada umat yang nanggap lagi, minta permainan wayang potehi diperpanjang.

“Wah, sampean ini panen rezeki dari Makco?” pancing saya.

“Alhamdulillah. Dari dulu saya selalu ditanggap untuk hajatan Makco seperti ini. Wong saya ini tinggal di dekat kelenteng,” kata Subur yang pintar bahasa Tionghoa dialek Hokkian itu.

Sembari menyimak permainan Ki Dalang Waluyo, plus para sinden yang rata-rata STW, saya terus diskusi dengan Ki Subur yang jatah mainnya petang hari. Luar biasa apresiasi orang Tionghoa, khususnya pengurus kelenteng, pada kesenian wayang kulit. Khususnya lagi wayang kulit Jawa Timur yang sudah lama senen-kemis.

Dalang-dalang jawa timuran sudah 20 tahun terakhir ini sepi tanggapan. Ironisnya, di Jawa Timur sendiri wayang kulit yang lebih egaliter, pakai bahasa rakyat, kalah populer dengan versi Jawa Tengah. Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan pemkab/pemkot sebetulnya sudah sering mengadakan festival wayang jawa timuran. Menjaga agar seni adiluhung ini jangan sampai musnah di tanahnya sendiri.

Tapi, kalau para dalang ini tidak dapat job main, bagaimana kesenian itu bisa hidup? Dapat duit dari mana dalang-dalang itu? Ada kenalan saya, dalang jawa timuran, sehari-hari jualan bakso di Prigen. Ada yang jadi petani atau kerja di pabrik. Bagaimana kesenian tradisional berikut seniman-senimannya bisa maju?

Ki Subur dengan wayang potehi Tionghoa justru lebih beruntung karena job-nya selalu padat. Dia bahkan kewalahan karena sering mendapat job di beberapa tempat pada saat bersamaan. “Saya memilih main di Sidoarjo karena sudah tradisi. Lagian, hitung-hitungan ekonominya pun lebih bagus,” katanya.

Saya pun semakin mengapresiasi orang Tionghoa, pengurus kelenteng-kelenteng di Jawa. Kalau hajatan seperti sejit Makco, wayang kulit jawa timuran tidak pernah ketinggalan. Masyarakat sekitar kelenteng, khususnya orang-orang lama, pun bisa menikmati klangenen lawas yang makin hari makin redup pesonanya itu.

Kamsia Laopan!

No comments:

Post a Comment