26 July 2013

Tionghoa Flores Timur Membaur Total

TIONGHOA LAMAHOLOT: Bupati Yance Sunur bersama istri (dr Margie Kandou) dan putrinya.

Sebagai putra asli Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, saya tak melewatkan begitu saja berita-berita yang saya anggap menarik dari NTT. Dalam sebuah liputan di internet, kemudian televisi, pekan lalu (14/7/2013), Kepala Dinas Kementerian Agama Kabupaten Lembata, Dorothia Nahak, membeberkan data penduduk berdasar agama. 

Seperti sering saya jelaskan sejak dulu, agama di Flores Timur (dulu Lembata ikut Kabupaten Flores Timur) sebetulnya hanya ada TIGA. Yakni Katolik yang mayoritas, Islam, dan agama asli atau bisa disebut agama leluhur orang Lamaholot yang menyembah LERA WULAN TANA EKAN (Sang Pencipta Alam Semesta). Agama leluhur ini makin tergusur, dan akan habis, setelah masuknya agama Islam dan Katolik.

Agama Kristen Protestan (Pentakosta, Baptis, Advent, Karismatik, dsb) dulu tidak ada di Flores Timur. Tapi masuknya pegawai negeri, anggota TNI/Polri, pedagang, dan sebagainya dari luar Flores ke Lembata ikut membawa agama Kristen Protestan. Saat ini pemeluk Kristen sudah mencapai 1.920. Begitu juga kedatangan orang Bali yang membawa agama Hindu. Di Lembata terdapat 73 jiwa yang beragama Hindu.

Yang paling menarik buat saya adalah agama Buddha. Data Kementerian Agama menyebut penganut Buddha di Lembata hanya TIGA orang. Saya menduga tiga orang ini warga keturunan Tionghoa yang baru datang dari luar NTT. 

Menarik, karena sejak zaman dulu banyak warga keturunan Tionghoa yang sudah membaur dan berakar di Lembata. Bahkan, saat ini bupati Lembata pun orang Tionghoa bernama Baba Yance Sunur. Anggota DPRD Lembata yang Tionghoa pun ada beberapa. Hubungan antara Tionghoa dengan Lamaholot (suku asli kayak saya ini) sangat cair. 

Orang Tionghoa di mana pun biasanya sangat kokoh memelihara tradisi dan budaya leluhurnya. Meja-meja altar, foto-foto leluhur, biasanya ada di rumah. Tradisi Taoisme, Konfusianiasme, kemudian dibalut Buddhisme tidak bisa dipisahkan dari warga Tionghoa. Sama dengan orang Katolik di Flores Timur yang tak bisa dipisahkan dari tradisi Lamaholot dengan rujukan pada LERA (matahari) WULAN (bulan) TANA (bumi) EKAN (lingkungan) pada era pra-Katolik dan pra-Islam itu. 

Lantas, mengapa tidak ada umat Buddha di Lembata, yang asumsinya pasti keturunan Tionghoa? Fakta ini menunjukkan bahwa orang Tionghoa di Lembata dan Flores Timur memang sudah melebur dengan bumiputra. Sama-sama menganut agama Katolik. Bahkan, saya lihat sering pula menghadiri ritual adat khas Lamaholot pesta kacang alias pesta panen di kampung lama. 

Orang Tionghoa di Flores pun bicara dalam bahasa daerah atau Melayu Larantuka, sejenis bahasa Indonesia versi lokal di Flores Timur dan Lembata. Bahkan, logat orang Tionghoa di Lembata dan Larantuka ini biasanya lebih tajam daripada orang-orang kampung. Pembauran Tionghoa-Lamaholot yang luar biasa karena terjadi kawin-mawin sejak beberapa generasi. 

Baba Yance, bupati sekarang pun, punya keturunan asli Lamaholot. Oh ya, semua laki-laki Tionghoa di Flores Timur disapa BABA dan wanitanya dipanggil NONA. Bahkan, wanita Tionghoa yang sudah tua pun tetap dipanggil NONA. Mungkin karena istilah NYONYA belum dikenal orang-orang di sana tempo doeloe yang penguasaan bahasa Melayu pasarnya memang masih terbatas.

Itu sebabnya, sejak dulu tidak ada kelenteng atau vihara atau kuil atau pagoda, atau tempat sembahyang agama Tionghoa, di Lembata. Saya lihat orang-orang Tionghoa malah jauh lebih aktif di Gereja Katolik, jadi pengurus ini-itu, rajin berdoa, kalau di gereja berdoanya lebih lama ketimbang orang-orang pribumi Lamaholot seperti saya. Bahkan, sering lebih lama daripada pastor, bruder, frater, atau suster.

Yah, pantas saja kalau hari ini, 2013, orang Tionghoa yang beragama Buddha (termasuk Khonghucu) di Kabupaten Lembata hanya tiga orang. 

3 comments:

  1. asimilasi tionghoa di flores berhasil mungkin karena faktor agama katolik. ini bisa dilihat dari banyaknya orang tionghoa di daerah2 lain yg juga memilih agama katolik ketika pemerintah orde baru mewajibkan rakyat indonesia menganut salah satu dari 5 agama. thanks atas sharingnya.

    ReplyDelete
  2. Didekat rumah saya di RRT, 4 Kilometer, ada sebuah perkampungan Hoa-kiao. Hoa-kiao-Indonesia yang tinggal disana 100 % berasal dari NTT ( Sumba, Rote, dan Sabu ).
    Saya sering bertandang kesana, ngobrol dan ngopi. Waktu pertama kali bertemu, mereka menyebut istri-ku dengan sebutan NONA. Sampai istri-ku mukanya menjadi merah, sebab sudah tuwek masih dipanggil NONA. Warna kulit mereka hitam legam,
    rambut mereka kriting, yang bercorak cina pada mereka hanyalah nama2 mereka. She-nya Ding ( 丁 ), Liauw atau Chen.
    Mereka bercerita, bahwa mulai nenek buyut- sampai ibu-mereka, semuanya adalah pribumi pulau Sabu atau Rote, hanya Thay-kong mereka yang asli Cina. Anehnya mereka semuanya punya nama cina, A-liong, A-kui dll.
    Saya bertanya kepada salah satu yang sudah tua asal pulau Sabu. Koh; kenapa lu pulang ke Tiongkok, padahal dipandang dari sudut tampang, semua presiden Indonesia kalah aslinya daripada lu orang ? Jawabnya : ( tentu saja kami ngobrol dengan bahasa Indonesia tulen, tanpa campuran Inggris ) Habis mau apa lagi, papa punya toko kecil, gara2 PP No.10/1959, harus tutup. Mau pindah ke Kupang atau Waingapu tidak ada uang. Kita sekeluarga dan para famili, termasuk nenek, mama, tante, yang semuanya orang Sabu asli, juga ikut.
    Koh, waktu itu lu umur berapa, sudah bisa bahasa cina ?
    Saya waktu itu umur 17, dipulau Rote sekolah Indonesia, belajar ngomong cina, sejak datang ke Tiongkok, tetapi saya tidak bisa baca dan tulis. Dari Kupang naik kapal barang, semuanya tidur diatas geladak beralas terpal. Pertama kali mendarat, saya buang sisa rokok, yang saya bawa dari Indonesia, ketepi dermaga. Orang2 pribumi Tiongkok berrebut memungut sisa rokok itu. Saya langsung marah kepada papa; Pa, lu ajak kita
    kemana ini ? Lu lihat masakah putungan rokok-gua, masih diisap oleh mereka.
    Bung Hurek, kalau cerita2 mereka saya tulis semuanya, tiga hari tiga malam tak akan habis.
    Saya bilang kepada mereka; Koh, tahun itu gua, berlima dengan saudara, juga mau Hue-guo, semua peti kayu jati, berukuran
    1 M-kubik, berisi pakaian dan topi warna biru ala Mao Zhu-xi, sudah siap, tinggal menunggu surat jalan dari Tionghoa Hweekoan. Apa daya surat jalan tidak keluar. Kita malah sedih.
    Yah, nasib dan suratan ada ditangan Tuhan. ( Bersambung )

    ReplyDelete
  3. ( Sambungan )
    Ini cerita mama-saya setelah 30 tahun berlalu, kira2 tahun 1990-an, setelah saya sudah jadi bapak.
    Bung Hurek, ini sebabnya saya, lima bersaudara, tidak jadi Hue-guo tahun 1959 - 1960.
    Surat jalan tidak keluar dari THHK - Denpasar. Mama-saya pergi menghadap kekepala THHK, sambil marah2, sebab sebagian besar anak2 tetangga sudah berangkat ke-Tiongkok, hanya kami yang tertinggal. Melihat mama-saya marah2, kepala THHK langsung mengajaknya kesebuah ruangan tertutup.
    Dengan suara yang perlahan kepala THHK menerangkan kepada mama-saya :
    Mendiang suami-mu adalah teman-ku yang paling baik dan terakrab. THHK ini bisa berdiri berkat jasa mertua-mu dan mendiang suami-mu. Aku kepalanya dan mendiang suami-mu bendaharanya. Bagaimana aku bisa membiarkan anak2 dari temanku yang terakrab pulang ke-Tiongkok. Bagaimana aku harus mempertanggung-jawabkannya dihadapan suami-mu dialam baka ?
    Ketika aku melihat ada permohonan surat jalan dari kamu, untuk 5 orang anak2-mu, surat itu langsung aku sobek. Sebab itu surat jalan anak2-mu tidak aku keluarkan.
    Mama-ku bertanya; mengapa kamu begitu lancang merobek surat-ku ?
    Jawab-nya : di Tiongkok sekarang sedang susah, tidak ada barang yang bisa dimakan, apakah kamu tega melihat anak2-mu kelaparan ?

    Tahun 2005 abang-ku tertua meninggal dunia, dan akan dimakamkan didekat Rogojampi. Waktu itu ada dua orang Haji yang datang melayat ( mai-song ). Saya diperkenalkan kepada mereka, Haji Pur dan Haji Tik. Kita asyik ngobrol, Haji Pur bertanya, anda sekarang tinggal dimana ? Saya dulu tinggal di Eropa dan sekarang di-Tiongkok. Langsung Pak Haji Pur ngomel2.
    Brengsek kalian para Cina-totok, engkoh-ku yang Cino-Baba kalian suruh pulang ke-Tiongkok, sedangkan kalian Cina-totok tetap tinggal di Indonesia. Aku tanya; Siapakah engkoh lu ? Jawabnya; Engkoh saya namanya Gwan.
    Jancuk, si-Gwan khan teman sekelas-ku disekolah Tionghoa, tahun 1955-1957. Jadi lu orang berdua adalah adik2-nya Gwan yang dulu sering gua ketemu, kalau gua ngeloyong kerumah kalian. Ternyata kedua Haji itu adalah teman lawas, anak2-nya tetangga abang-saya.
    Karena teman2 lawas, tidak usah tata-krama-an, walaupun keduanya Haji, kata2 jancuk keluar secara otomatis. Wong Jawa Timur, lebih banyak jancuknya, lebih akrab rasanya.
    Tolong lu kasih gua, alamat dan nomor-telefon dari engkoh-lu di-Tiongkok, setelah pemakaman selesai, gua pasti cari engkoh-kalian di Tiongkok. Tahun itu juga saya mengunjungi Gwan di Fujian. Dia menetap di-perkampungan Hoa-kiao yang hampir semua penduduknya berasal dari Indonesia, sebagian besar dari Jawa Timur, Banyuwangi. Dia bilang kota ini kita, orang2 Indonesia, yang ikut membangun. Dulunya hanya semak belukar. Jadi kalau saya jalan2 dengan dia dikota kecil itu, ketemu teman2-nya dijalan, ya ngomong Jawa. Bahkan saya ketemu juga bekas teman2 sekolah kita dulu. Coba lu cerita Gwan, bagaimana waktu lu pertama kali datang ke Tiongkok. Jawabnya ; lu lihat badan adik2-gua di Banyuwangi, semuanya tinggi besar, sedangkan badan gua pendek, kakehan mikul
    lemah karo taek. Wis ojo ngomong tentang jaman lawas.
    Kowe nyesel Gwan ? Saiki wis nggak ! Lu lihat sendiri bagaimana majunya Tiongkok-kita sekarang. Lu ingin makan apa saja ada. Kita sekarang tidak kekurangan apa2. Bahkan kalau gua diundang oleh adik-gua pulang ke-Indonesia, gua lihat kota kecamatan-kita dulu itu, 50 tahun tidak ada kemajuan, tetap seperti waktu kita kanak2. Hidup-gua di Tiongkok tentrem, rumah-gua dua, uang pension-gua ditambah uang pension-istri tidak habis dimakan. Lu mau apalagi ? Lu lihat adik2-gua, kedua Haji itu, seharian hanya bingung cari uang, memang mereka kaya-raya, tetapi gua tidak ingin ijol dengan kehidupan mereka.

    ReplyDelete