15 July 2013

Sulitnya menulis 2000 karakter

Saya terbiasa menulis panjang sehingga sulit ikut twitter. Mau menulis apa kalau dibatasi 140 karakter. Lagi pula, sebagai pecinta bahasa Indonesia, saya harus konsisten menggunakan bahasa standar. Haram bagi saya menyingkat kata: dst, yg, dll, bgm, wkt, btw, otw, krn, tks, dsb.

Berdasarkan pengalaman, sebuah tulisan baru BUNYI minimal 4000 karakter (tanpa spasi). Menulis 3000 karakter masih lumayan kalau sekadar berita piramida terbalik. Bahkan stright news 2000 karakter sudah cukup untuk berita pendek di surat kabar.

Tapi menulis kolom atau catatan dengan 2000 karakter? Ini yang masih saya biasakan di era mobile blogging ini. Tulisan singkat, padat, tapi layak untuk disebut kolom sederhana. Tulisan-tulisan pendek macam itu akan terus menjadi tren di era smartphone yang sibuk ini.

Menulis 2000 karakter, bagi orang yang biasa menulis panjang dan bebas, seperti siksaan berat. Kita dipaksa untuk memampatkan pikiran sedemikian rupa, hemat huruf, hemat kata. Harus benar-benar to the point.

Dan itu sering tidak mudah. Ketika main idea belum dibahas tuntas, kita terkejut karena sudah 1500 atau 1600 karakter. Tinggal tersisa beberapa kata lagi jatah karakter habis. Otak kita dipaksa untuk segera menuntaskan permainan kata yang sebetulnya masih berkeliaran ke mana-mana itu.

Terlepas dari kelemahan itu, menulis pendek 2000 karakter sangat membantu menghidupkan blog-blog pribadi yang makin merana dalam tiga tahun terakhir ini. Kita bisa terus mengisi lama blog dengan posting-an pendek ketimbang membiarkan laman kita macet.

Yang pasti, menulis 2000 karakter jauh lebih asyik ketimbang menulis 140 karakter di twitter dengan berjibun singkatan.

2 comments:

  1. Bapak Lambertus Hurek Yth.,

    Mengapa ada 4 tulisan yang sama?

    ReplyDelete
  2. Itulah salah satu kelemahan ngeblog pakai HP via email alias menulis 2000 karakter. Apalagi di luar kota, pegunungan, yang sinyalnya tidak stabil. Kadang naskahnya tidak termuat, kadang kembar 3 atau 4 atau 5. Jangan khawatir, setelah balik ke kota naskah yang berlebihan itu pasti dihapus. Yang repot kalau naskahnya hilang karena tak ada arsipnya.

    Terima kasih atas perhatian pak Eefendi.

    ReplyDelete