18 July 2013

Soeharsojo Goenito pelukis eks Pulau Buru


Usianya mendekati kepala delapan, tepatnya 77 tahun. Namun, Gregorius Soeharsojo Goenito masih akrab dengan kanvas, cat, kertas, dan tinta. Bahkan, belakangan ini pria yang akrab disapa Harsojo ini juga rajin menulis puisi dan menyusun buku tentang pengalaman hidupnya selama berada di Pulau Buru, Maluku.

Ketika ditemui di rumahnya, kawasan Trosobo, Taman, Sidoarjo, Harsojo sedang sibuk membongkar dokumentasi sketsa-sketsa lamanya yang disimpan di beberapa map. Ada pula foto-foto berusia puluhan tahun yang sudah tidak jelas lagi gambarnya. Namun, pria kelahiran Madiun, 10 Februari 1936, ini masih ingat betul nama-nama kawan seperjuangannya di Pulau Buru.

"Sebagian besar sudah tidak ada lagi di dunia ini. Makanya, saya sangat bersyukur kepada Gusti Allah yang masih memberikan kesempatan kepada saya untuk menikmati hidup. Ini merupakan berkah yang luar biasa," katanya.

Berikut petikan percakapan LAMBERTUS HUREK dengan Soeharsojo Goenito di rumahnya pekan lalu.

Apa kegiatan Anda sekarang?

Sama seperti dulu. Membuat sketsa, melukis, bikin puisi, ya, kumpul dengan teman-teman. Sekarang saya hampir selalu di rumah karena tenaga saya sudah sangat kurang, namanya juga tiyang sepuh. Tapi saya merasa masih punya banyak energi untuk melanjutkan perjuangan ini.

Perjuangan apa?

Yah, macam-macamlah, perjuangan di bidang kesenian karena saya kan seniman. Saya ingin agar di era reformasi ini bangsa kita bisa belajar dari sejarah. Jangan sampai kita terjatuh dalam lubang yang sama. Sebagai orang yang sudah tua, saya sedih karena korupsi kok kayaknya makin menjadi-jadi di tanah air kita. Itu kan bertentangan dengan tujuan reformasi.

Para mahasiswa dulu pada tahun 1998 berunjuk rasa di mana-mana untuk menjatuhkan rezim Orde Baru karena dianggap KKN, korupsi, kolusi, nepotisme. Lha, kok sekarang KKN itu malah makin banyak. Ini artinya kita tidak belajar dari sejarah. Kesannya seperti meniru KKN yang dilakukan oleh Orde Baru.

Sekarang kan sudah banyak koruptor yang ditangkap KPK?

Tapi koruptornya malah tidak takut sama KPK. Setiap hari kita melihat televisi, membaca koran, kasus korupsi terjadi di mana-mana. Dan itu sangat memprihatinkan.

Oh, ya, kabarnya Anda sedang mempersiapkan buku?

Betul. Saya sudah menyiapkan bahan-bahan dan menyusun naskah sejak lima tahun lalu, tapi belum rampung. Masih banyak yang perlu diperbaiki lagi agar informasinya lebih menarik dan akurat. Soalnya, buku itu kalau sudah dicetak sulit direvisi. Makanya, lebih baik perlahan-lahan tapi hasilnya bagus.

Ide buku itu dari mana?

Justru dari orang Amerika Serikat, Janet Steele, profesor dari George Washington University. Suatu ketika Bu Janet itu mengunjungi saya di rumah ini. Dia terkejut ketika koleksi sketsa saya tentang Pulau Buru begitu banyak, hanya menumpuk di map. Prof Janet Steele mendorong saya untuk segera membukukan sketsa-sketsa itu agar bisa dinikmati oleh orang banyak. Kemudian ide dari Janet Steele ini juga direspons positif oleh teman-teman di Jogjakarta. Nah, sejak itulah saya mulai serius untuk menyusun sebuah buku kenangan dari Pulau Buru. Buku itu saya kasih judul Tiada  Jalan Bertabur Bunga.

Buku itu isinya semacam kumpulan skesta Anda semasa berada di Pulau Buru?

Yah, semacam itulah. Sketsa-sketsa itu saya beri catatan dan keterangan singkat. Sehingga pembaca bisa mengetahui latar belakang dan konteks sebuah peristiwa atau objek yang saya bikin di sketsa tersebut. Dan, jangan lupa, sketsa-sketsa itu asli dibuat di Pulau Buru, bukan baru dibuat setelah kami dipulangkan ke Jawa. Jadi, ini semacam catatan sejarah dalam bentuk gambar, bukan sekadar naskah atau tulisan. Kalau almarhum Pramoedya Ananta Tour membuat catatan pengalaman di Pulau Buru dalam bentuk novel dan esai, saya bikin dalam bentuk sketsa.

Biasanya sebagian besar orang sengaja melupakan pengalaman yang buruk. Mengapa Anda kok malah membeberkan pengalaman selama dibuang di Pulau Buru?

Ini persoalan sejarah bangsa kita. Bung Karno mengatakan Jas Merah: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah! Apa yang sudah terjadi pada masa lalu, seperti saya dan teman-teman alami di Pulau Buru, hendaknya menjadi pelajaran bagi generasi muda, anak cucu kita. Supaya mereka tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh generasi terdahulu.

Apakah Anda punya semacam dendam sejarah karena berada di pihak korban?

Sama sekali tidak ada dendam. Buat apa? Saya dari dulu sangat rileks, biasa-biasa saja. Kalau dendam, sakit hati, saya bisa stres berat. Dan, mungkin saya sudah lama tidak ada di dunia ini. Saya justru bersyukur kepada Tuhan karena diberi usia yang panjang, sementara sebagian besar teman saya sudah tidak ada lagi.

Saya bersyukur diberi kesempatan untuk hidup di era reformasi, sementara banyak teman saya yang sudah meninggal dunia pada tahun 1980-an dan 1990-an. Mereka tidak sempat menikmati udara reformasi. Mereka tidak bisa menyaksikan rezim Orde Baru yang dulu sangat berkuasa dan ditakuti itu ternyata bisa ambruk juga. Makanya, sebagai orang tua yang pernah menjadi korban Orde Baru, saya hanya bisa mengingatkan agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama yang dilakukan di masa lalu.

Ngomong-ngomong, apakah Anda masih punya keinginan untuk pameran?

Jelas dong. Saya malah ingin mengadakan pameran tunggal. Sebab, banyak sekali karya saya tentang Pulau Buru yang belum diketahui masyarakat.

Oh ya, apa resep umur panjang dan tetap sehat di usia senja?

Selalu optimis, berpikir positif. Kalau punya masalah, silakan berkarya, melukis, membuat puisi, bernyanyi, olahraga. Jangan suka memanjakan tubuh. Sebaiknya kita lebih sering jalan kaki atau naik sepeda pancal daripada naik motor atau mobil. Olahraga juga bisa dilakukan dengan menyapu halaman, berkebun, atau menyiram bunga. Makanya, saya ini kelihatan seperti lebih muda 20 tahun. Hehehehe..... (*)



Satu Barak dengan Pramoedya

Selama sepuluh tahun (1969-1979) Soeharsojo Goenito menjalani masa pembuangan di Pulau Buru. Meski 'hanya' satu dasawarsa di sana, kenangannya akan Buru tak pernah hilang dari ingatannya. Dia masih ingat nama-nama rekannya yang tinggal di barak berukuran 10 x 25 meter.

"Satu barak berisi 14 tahanan. Salah satu teman saya satu barak adalah almarhum Pramoedya Ananta Tour," tutur Harsojo.

Pramoedya, novelis besar yang menulis tertralogi Pulau Buru itu, digambarkan Harsojo sebagai seniman yang sangat tegas pada pendirian dan punya disiplin tinggi. Dia menjadi inspirasi bagi seniman lain agar terus berkarya meskipun dalam kondisi yang sangat terbatas. Itu pula yang mendorong Harsojo rajin membuat sketsa selama berada di pulau pembuangan itu.

Nah, goresan sketsa-sketsa yang dibuat di Pulau Buru itu kemudian dilukis ulang ketika ayah empat anak ini sudah kembali ke Jawa. Lukisan-lukisan Harsojo didominasi warna biru laut dan hijau. "Itu warna alam di sana yang masih saya ingat sampai sekarang," katanya.

Bukan hanya penulis, penyair, atau pelukis, menurut Harsojo, menurut Harsojo, sejumlah seniman musik dan teater pun rajin berkarya selama berada di Pulau Buru. Mereka mengajak teman-temannya bernyanyi bersama atau berlatih sandiwara untuk dipentaskan di sebuah aula yang cukup bagus. "Waktu itu kesenian memang cukup hidup di sana. Berkesenian itu membuat kami bisa mngisi hari-hari kami dengan gembira dan optimis," katanya.

Gencarnya tekanan dari dunia internasional dan aktivis hak asasi manusia, proyek Instalasi Rehabilitasi alias Inrehab di Pulau Buru ini pun akhirnya ditutup. Dan, pada 12 November 1979 rombongan terakhir tapol meninggalkan Pulau Buru, termasuk di dalamnya Pramoedya Ananta Tour.

"Sayang, Pram sudah lebih dulu meninggalkan kita sebelum mendapat Hadiah Nobel kesusastraan. Pram itu sastrawan terbesar kita yang diakui dunia, tapi dibuang ke Buru," katanya. (rek)



CV SINGKAT

Nama : Gregorius Soeharsojo Goenito
Lahir : Madiun, 10 Februari 1936
Alamat : Trosobo, Taman Sidoarjo

Pendidikan :

- Sekolah Rakyat Taman Siswa, Madiun
- Sekolah Rakyat Taman Dewasa, Madiun
- Sekolah Rakyat Taman Madya, Madiun
- Akademi Administrasi Perusahaan Veteran, Surabaya


Perjalanan Karier :
- Bergabung di Sanggar Tunas Muda, Madiun, dibawah bimbingan pelukis Sediyono, Soenindya dan Kartono, 1952.
- Bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), 1963-1965.
- Diasingkan bersama para seniman Lekra lainnya ke Pulau Buru, Maluku, 1969.
- Kembali ke Jawa, menetap di Surabaya, 1978.
- Pameran Bersama Bunga Rampai Pelukis Lekra di Galeri Surabaya, 2005.
- Pameran Tunggal Memoar Pulau Buru di Universitas Airlangga, Surabaya, 2010.
- Menyusun buku Tiada Jalan Bertabur Bunga, 2013.

 

4 comments:

  1. Dilema membahas kejadian G-30-S. Disatu sisi merasa iba atas nasib para Tapol yang ditahan kepulau Buru tanpa peradilan, dilain sisi boleh dibilang mereka itu tergolong Tapol yang privileged. Tapol pulau Buru masih mempunyai kemungkinan untuk hidup, sedangkan teman2 sekelas saya dibumi Blambangan, banyak yang disembelih langsung ditempat. Siapakah diantara mereka yang lebih naas nasibnya ? Siapa yang bisa menjawab ?
    Beranikah kita di era reformasi sekarang ini, menceritakan kebenaran yang terjadi, tanpa kuatir rumah kita diserang oleh gerombolan berseragam putih2, dengan dalih PKI ? Lha wong Jokowi yang ketika itu berusia 5 tahun, sekarang juga dituduh PKI, padahal Beliau adalah Presiden Republik Indonesia, Panglima Tertinggi ABRI.
    Manusia kalau bergerombol merasa kuat dan kebal, tidak perlu takut kepada apapun. Hanya orang waras yang takut kepada hati nuraninya sendiri.
    Bung Hurek, sebagai wartawan senior, apakah sudah pernah membahas tentang " Lubang Buaya di desa Cemetuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi ?
    Versi authentiknya saya tahu betul, sebab abang saya adalah salah satu saksi mata.
    Di Cluring ada Monumen Pacasila Jaya, karya Soeharto, tetapi ceritanya sudah tentu versi penguasa. Yang betul hanyalah jumlah korban dari pihak agama sebanyak 62 orang. Selebihnya semua dibuat sesuai dongeng.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Engkong Jerman, ayo ceritakan apa yang anda tahu. Semua perlu dibuka. Di YouTube ada kok penggalian kuburan massal dari jaman itu, yang selama Orde Baru rakyatnya tidak berani untuk marani pun.

      Dulu ayah saya dalam berbisnis harus merekrut jenderal dan kapolda untuk menjadi komisaris. Kalau tidak mau ngurus apa2 susah bin gak mungkin. Kelas ayah saya masih purnawirawan, tidak berani bekerjasama dengan yang masih active duty. Salah satu jenderal purnawirawan itu punya istri lebih dari satu (dan gara2 itu dia terpental dari orbit Suharto). Dia Pangdam Brawijaya pas peristiwa naas nasional itu terjadi. Nah, kala itu pembersihan dr kaum kiri terjadi di kampus-kampus, termasuk juga Unair. Salah satunya yang kena bersih-bersih ialah seorang dosen di FKG. Dosen ini punya istri yg terkenal cantik. Untuk menyelamatkan suami, demikian sahibul hikayatnya, dia menghadap sang jenderal. Pd akhirnya, sang dosen selamat jiwanya, akan tetapi si isteri lalu dipek dadi bojo nom sang jenderal.

      Saya pernah menghadap sang jenderal, minta nasehat utk pilih kampus waktu meneruskan S2. Orangnya sangat halus tutur katanya dan beliau sangat intelektual. Tak akan kita menyangka ada sisi yang lain.

      Delete
  2. Ada tulisan skripsi ika di https://www.google.com/amp/s/ikaning.wordpress.com/2008/01/27/sejarah-pki-di-banyuwangi-dan-pembantaian-cemethuk-18-oktober-1965/amp/

    Cerita tentang pembantaian 65 juga sering kita dengar di mana2 tapi hampir semua versi lisan. Di daerah sedati dekat bandara juanda juga ada cerita sejenis. Saya juga sering datang ke tempat itu karena persis depan rumahnya teman saya. Tapi kita sulit merangkai jadi cerita yg utuh, terverifikasi, karena tidak ada narasumber pelaku atau saksi mata. Biasanya cuma jarene wong tuwek... katanya orang tua... dulu.. di sini ada lubang besar tempat kuburan massal dst dst.

    ReplyDelete
  3. Di banyuwangi itu versinya dari dulu adalah PKI yg pelaku pembunuhan. Dibikin monumen untuk mengenang tragedi itu.

    Ika menulis:

    ''Monumen Pancasila Untuk Mengenang Tragedi Pembantaian 18 Oktober 1965 Di Dusun CemethukDusun Cemethuk, Desa Cluring, Kecamatan Cluring Banyuwangi adalah saksi berdarah peristiwa pembantaian 62 orang-orang Anshor oleh anggota PKI. Di bekas 3 sumur tempat penguburan massal para korban pembantaian ini, telah dibangun sebuah Monumen Pancasila untuk mengenang peristiwa yang cukup penting dalam sejarah Banyuwangi.'

    ReplyDelete