15 July 2013

Sendainya mudik lewat laut

Membaca tulisan Muhidin Dahlan tentang ironi negara maritim, Jawa Pos 24/7/2013, saya langsung bayangkan arus mudik lebaran. Pasti sangat ramai di jalan raya karena melibatkan puluhan juta manusia. Ritual tahunan yang selalu bikin pusing pemerintah.

Makin pusing lagi karena banyak pemudik pakai sepeda motor. Padahal jaraknya jauh dengan muatan banyak. Solusinya apa? Sudah banyak usulan tapi belum efektif. Mengapa tidak coba jalur laut saja?

Sebagai manusia laut, rumah saya hanya 100 meter dari Laut Flores, dari dulu saya menginginkan ada mudik laut di Jawa. Dari Jakarta, penumpang bisa turun di Semarang, Surabaya, dan Banyuwangi. Kapal laut bisa mengangkut ribuan penumpang dengan mudah tanpa terjebak kemacetan panjang. Tidak perlu ribut soal kerusakan jalan raya di pantai utara Jawa, jalan berlubang dsb.

Pemerintah punya banyak kapal pelni yang besar-besar. TNI AL punya banyak kapal besar yang bisa dimanfaatkan. Kapal-kapal swasta pun tak kurang banyaknya.

Seandainya moda laut ini dimanfaatkan untuk arus mudik + arus balik, kehebohan tahunan setiap jelang lebaran bisa diatasi. Toh masalah utama dari dulu sama saja: lonjakan penumpang dari Jakarta.

Tapi itulah ironi Indonesia. Negara maritim raksasa yang sudah beratus tahun melupakan segara. Lupa bahwa laut merupakan penghubung antarpulau dan kota. Kita terjebak pada kultur darat pascakejayaan Sriwijaya dan Majapahit. Kultur maritim hanya sekadar catatan sejarah. Jadi dongeng kanak-kanak: nenek moyangku orang pelaut....

NUSANTARA TANPA TRADISI MARITIM. Begitulah simpulan para seniman yang belum lama ini berpameran di Jogja. Saya pastikan sebagian besar seniman asli Jawa itu belum pernah naik kapal laut.

Lima juta warga Surabaya, kota pelabuhan yang jadi pangkalan TNI AL, sebagian besar justru tidak suka laut. Tidak pernah mampir ke Tanjungperak. Tempat wisata pantainya pun dibiarkan merana.

Alih-alih disuruh mudik pakai kapal laut.

No comments:

Post a Comment