20 July 2013

Selvy Wang Blusukan Pecinan JTV



Nama aslinya Selvy Tri Puspitasari, tapi gadis 26 tahun ini sekarang lebih dikenal di layar televisi sebagai Selvy Wang. Dialah reporter sekaligus presenter acara Blusukan Pecinan di JTV, televisi lokal milik Jawa Pos Group di Surabaya.

Gara-gara mendapat job di Blusukan Pecinan, Selvy mengaku harus belajar berbagai tradisi dan budaya Tionghoa. "Papa saya memang Tionghoa, tapi jujur saya gak tahu budaya Tionghoa. Baru sekarang ini saya mulai belajar budaya dan bahasa Tionghoa," kata alumnus UPN Veteran Surabaya ini.

Hampir setahun sudah Selvy Wang menjadi presenter Blusukan Pecinan. Program pelengkap Pojok Kampung JTV yang mengetengahkan pernak-pernik komunitas Tionghoa di Surabaya dan Jawa Timur umumnya. Karena itu, gaya bicaranya dibuat ala Tionghoa Kapasan yang bahasanya gado-gado: bahasa Jawa, Hokkian, Mandarin, Melayu Tionghoa, sedikit Inggris. Mirip rujak cingur saja.

Selvy bersama juru kamera sekaligus jurnalis senior JTV, Cak Gigik, pun sering bepergian ke luar kota untuk syuting, wawancara, cari bahan Blusukan Pecinan. Gadis yang hobi nonton film ini pun memanfaatkan waktu luangnya untuk menikmati masakan khas Kediri, Mojokerto, Tuban, hingga Madura. 

“Dari sini saya makin sadar bahwa budaya Tionghoa, budayanya papa saya, itu punya makna yang dalam. Misalnya, makanan khas mi atau misua yang panjang sebagai simbol umur panjang dan rezeki yang juga panjang," kata Selvy yang sebelumnya bekerja di Arek TV, juga televisi lokal Surabaya itu.

Selvy mengaku sangat gugup ketika pertama kali menjadi presenter dan harus membuat laporan on the spot. Semua mata pun tertuju kepadanya. Sementara dia harus bicara sambil tersenyum menatap ke arah kamera. Tapi kegugupan itu pun sirna seiring jam terbangnya yang makin banyak. 

Kesulitan lain adalah soal bahasa. Ini terjadi ketika dia harus mewawancarai sumber yang bicara dalam bahasa Mandarin atau Hokkian. "Saya kan gak bisa bahasa Mandarin," ujar Selvy sambil tertawa kecil. 

Menjadi reporter plus presenter televisi sebetulnya bukan cita-citanya sejak kecil. Namun, saat duduk di SMAN 1 Puri, Mojokerto, Selvy menonton drama Korea yang bercerita tentang dunia jurnalistik. Dia pun tertarik melihat kegigihan reporter televisi memburu, mempersiapkan, dan menayangkan berita untuk dinikmati pemirsa. Dia kemudian menyampaikan keinginannya menjadi reporter kepada mamanya yang asli Jawa.

"Mama saya gak percaya karena sejak kecil saya ini orangnya pemalu. Tapi saya bertekad untuk membuktikan kalau saya bisa” katanya.

Sempat bekerja selama 11 bulan di sebuah bank, Selvy meminta berhenti karena merasa jenuh. Bekerja di tempat yang sama dalam waktu yang lama membuatnya tidak betah. “Saya suka berpindah-pindah karena bisa bertemu banyak orang. Jadi reporter yang cocok,” ujarnya.

Menurut Selvy, menjadi reporter televisi juga membuat dirinya mengetahui informasi lebih dulu dibanding orang lain.

5 comments:

  1. Kacang Cino, gulo Jowo = renyah dan manis seperti ampyang, hahahaha. Dalam ilmu evolusi, percampuran darah itu berarti diversifikasi genetika, yang menghasilkan keturunan yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Bravo!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur nuwun Cak Ampyang. Dalam beberapa tahun terakhir orang2 Tionghoa blastaran (alias peranakan) kayak jeng Silvy ini mulai memunculkan ketioanghoaannya yang sudah lama dipendhem dalam2 selama sekian tahun karena alasan politik, sosial budaya, agama dan sebagainya. Kalau dulu mereka menutupi identitas Tionghoanya, sekarang d era keterbukaan, reformasi, mereka kelihatan konfiden dan tidak ragu bicara apa adanya.

      orang2 kayak Silvy ini saya lihat paling antusias mengadakan tracking pecinan untuk belajar seluk beluk budaya Tionghoa yg memang tidak diajarkan orangtuanya di rumah. Saya tanya antropolog Unair, Prof Josef Glinka, fenomena seperti ini sangat lazim dalam antropologi budaya. Biasanya, kata Romo Glinka, generasi ketiga cenderung kembali ke akar budaya leluhurnya. Mau belajar mengapresiasi, bahkan melakoni tradisi lama.

      Ini juga saya lihat di Flores. Beberapa tradisi lama pra-Katolik dihidupkan kembali setelah beberapa generasi, jadi perayaan budaya dan wisata. Matur nuwun Cak Ampyang.

      Delete
  2. salut sama mbak silvy yang ikut menyebarluaskan harmoni budaya lewat JTV. saya beberapa kali nonton blusukan pecinan yg ringan tapi menarik kayak pabrik misua di margomulyo itu. kamsia ya.

    ReplyDelete
  3. terima kasih juga buat pak hurek yg slalu kasih info-info... kamsia...

    ReplyDelete
  4. pak hurek,kalu boleh tahu backsound blusukan pecinan jtv judulnya apa ya?kamsia..

    ReplyDelete