10 July 2013

Revolusi wayang kulit di Jawa



Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur belum lama ini nanggap wayang kulit di halaman kantornya, Jalan Raya Tenggilis 1 Surabaya. Dalangnya Ki Anom Suroto dari Solo. Ternyata penonton membeludak.

Apa boleh buat, saya tak dapat tempat duduk di terop meski membawa surat undangan. Terpaksalah beta duduk lesehan bersama 20-an penoton lain di belakang kelir (layar).

Gayeng banget suasananya. Apalagi dagelan Cak Momon, Cak Tawar, Ning Susi cukup lucu meskipun ada beberapa banyolan lawas. Wayang kulit memang pertunjukan rakyat yang gayeng di tanah Jawa.

"Cak, koen lungguo!" penonton berteriak ketika ada orang yang berdiri sehingga menutup kelir. Hehehe... ketawa rame-rame.

Minggu lalu saya juga nonton wayang kulit dengan dalang Ki Enthus yang 'wuedan' itu. Tapi duduknya di dalam terop. Dari dulu memang duduk atau melihat dari punggungnya ki dalang. Baru kali ini saya melihat wayang lewat kelir alias tanpa melihat wajah dalang. Tanpa melihat pemain-pemain musik gamelan, sinden, pelawak, maupun penonton-penonton VIP.

Rupanya, menonton lesehan di belakang layar ini ternyata menjadi berkah tersendiri. Saya baru sadar bahwa keindahan gerak-gerik wayang kulit justru kita dapatkan di belakang layar. Bayangan wayang saat berperang, saling hantam, saling adu jurus sakti... justru terlihat sangat hidup di layar.

Dengan lampu yang temaran, karena memang tidak disediakan penerangan di balik layar, suasananya lebih asyik. Beda dengan menonton wayang kulit dari arah punggungnya Pak Dalang. Kita memang melihat wajah sinden-sinden yang ayu, tapi malam itu sindennya tua-tua, pelawak-pelawak, tapi sulit menikmati gerak-gerik wayang.

Menonton di balik layar ternyata benar-benar fokus. Pandangan mata kita hanya ke layar segi empat di bagian tengah yang ada wayangnya. Seni sabetan sang dalang dalam cerita Semar Mbangun Kayangan ini akan kelihatan di sini. Kita jadi tahu mana dalang yang hebat, mana yang sedang, mana yang maksa, justru di balik kelir.

"Sabetan Ki Manthep Soedarsono yang paling saya suka," kata seorang bapak asal Sidoarjo yang khusus datang ke Tenggilis untuk menonton wayang kulit dengan dalang Ki Anom Suroto.

"Ki Anom ini dalang paling populer di Indonesia saat ini bersama Ki Manthep. Saya usahakan menonton karena jarang sekali Ki Manthep dan Ki Anom main di Surabaya atau Sidoarjo."

Blessing in disguise. Tidak dapat tempat di terop, hanya bisa lesehan di belakang layar, ternyata membuat saya menemukan kenikmatan dalam menyaksikan pergelaran wayang kulit. Bahwa nonton wayang itu sebaiknya dari belakang layar, bukan duduk di terop sambil nyamilan, melihat begitu banyak karakter wayang yang ditancapkan di gedebog pisang.

Kata budayawan-budayawan Jawa, tempo doeloe memang wayang kulit itu ditonton dari belakang layar. Yang dilihat itu bayang-bayang para wayang yang digerakkan oleh ki dalang. Wajah sang dalang, sinden, pemain musik tak perlu dilihat. Fokus mata penonton hanya ke arah kelir atau layar putih.

Kemudian terjadi semacam revolusi budaya di tanah air. Maka, posisi penonton pun berubah. Saat ini hampir tidak ada lagi orang yang menonton wayang kulit di layar, kecuali terpaksa karena tidak mendapat tempat. Tak akan ada panitia yang menyediakan kursi di belakang layar, yang temaram.

Wayang kulit saat ini pun terlalu banyak disusupi aneka hiburan. Dagelan alias lawak, campursari, bahkan akhir pekan lalu Ki Soenarjo menghadirkan dangdut di halaman DPRD Jawa Timur. Duo Virgin malah menyanyikan lagu Kereta Malam. Porsi sabetan dan esensi wayang kulit malah menjadi berkurang drastis.

Selera orang berbeda-beda. Tapi, setelah menikmati pertunjukan wayang kulit di halaman KPU Jatim itu, ke depan saya akan berusaha menonton dari belakang kelir. Membayangkan keindahan seni wayang kulit ketika masih dimainkan dengan penerangan berupa blencong alias lampu minyak tanah, belum memakai lampu listrik yang terlalu terang itu.

No comments:

Post a Comment