01 August 2013

Prof Andrew Weintraub Kaji Musik Koplo

Prof Andrew Weintraub PhD

Pada pertengahan Juli 2008, Prof Andrew Weintraub PhD datang ke Surabaya untuk melakukan penelitian tentang musik dangdut. Hasil penelitian guru besar musik di University of Pittsburgh, Amerika Serikat, itu kemudian diterbitkan menjadi buku Dangdut Stories.


Tak heran, pria yang lebih suka disapa Andrew ini pun dijuluki Profesor Dangdut. "Saya mungkin satu-satunya profesor dangdut yang ada di dunia ini," kata Andrew Weintraub. Sang profesor dangdut ini saya temui di lobi Hotel Majapahit, Surabaya, belum lama ini. Alunan gamelan mengiringi percakapan santai kami di hotel bersejarah di kawasan Tunjungan itu.


Dosen musik yang bersahabat akrab dengan Rhoma Irama, sang raja dangdut, ini tak sekadar profesor dangdut. Di Amerika, dia juga punya band khusus yang memainkan musik dangdut yang diberi nama Dangdut Cowboy. Grup ini paling banyak memainkan lagu-lagu Rhoma Irama seperti Terajana atau Kegagalan Cinta.


"Saya kombinasikan dengan irama country dan Latin. Jadi, bukan dangdut murni seperti di Indonesia. Tapi rasanya tetap dangdut," kata bule yang fasih berbahasa Indonesia ini.


Kali ini, selama Juli 2013, Andrew Weintraub secara khusus datang ke Surabaya untuk mendalami musik koplo, salah satu genre dangdut yang sangat ngetop sejak kejayaan Inul Daratista pada 2003. Meski koplo ini sering dikecam oleh Rhoma Irama dan musisi dangdut senior, bagi Andrew, koplo sudah diterima sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya Jawa Timur. Saat ini koplo justru lebih dominan di televisi nasional maupun lokal.


"Saya hormati pandangan Rhoma Irama dan PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia), tapi sebagai peneliti, saya melihat koplo ini sangat menarik," tutur Andrew Weintraub seraya tersenyum.


Sebelum ke Surabaya, pria yang juga mendalami gamelan Sunda ini sudah mengumpulkan berbagai referensi tentang koplo. Dia pun aktif berkomunikasi via surat elektronik dan telepon dengan musisi, pengamat, hingga produser musik koplo.


"Sekarang saya cuma bertemu dengan beberapa musisi dan tokoh dangdut koplo untuk wawancara langsung. Saya ingin tahu secara detail bagaimana perkembangan musik ini hingga menjadi seperti sekarang," kata profesor yang kerap mengundang musisi dangdut Indonesia untuk show di Amerika Serikat itu.


Maka, Andrew pun menemui musisi koplo di grup terkenal Jatim seperti Monata atau Serra. Dari hasil pengamatannya, menurut Andrew, istilah koplo itu mengacu pada gaya panggung, irama gendang, tempo cepat, dan musik bernuansa metal dengan distorsi gitar. Bibit-bibit koplo, dia menambahkan, sebetulnya sudah terlihat sejak 1990-an, namun baru meledak setelah kejatuhan Presiden Soeharto.


"Yang jelas, koplo itu sangat khas Jawa Timur," ucapnya.


Musik yang sering dibawakan penyanyi wanita berbusana seksi, dengan goyangan erotis, ini, menurut dia, semakin menasional dengan munculnya Inul Daratista dengan goyang ngebor. Kemudian muncul penyanyi-penyanyi lain dengan gaya goyang yang tak kalah heboh dan sensual. Rhoma Irama bersama PAMMI mencoba meredam musik koplo selama 10 tahun terakhir.


"Tapi saya pikir sulit dihentikan karena publik punya persepsi sendiri. Yang bisa dilakukan adalah meminta para penyanyi koplo untuk berpakaian sopan, tidak sensual. Begitu juga lirik lagu yang tidak terlalu nakal," katanya.


Kembali ke kampus University of Pittsburgh di Pennsylvania, Amerika Serikat, Andrew Weintraub kembali menggarap kajian akademis terbarunya tentang fenomena koplo di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Kita tunggu saja buku baru karya Andrew Weintraub, masih seputar musik dangdut. (hurek)

No comments:

Post a Comment