18 July 2013

Perlukah Izin untuk copy paste?

Beberapa waktu lalu ada seorang Eropa yang tinggal di Bali mengirim email kepada saya. Mister John itu meminta izin menggunakan partitur paduan suara Indonesia Pusaka untuk community choir yang dibinanya. Dia sangat tertarik dengan lagu lama karya Ismail Marzuki itu.

Kok minta izin ke saya? Bukankah arranger atau penyusun tata suaranya adalah Nortier Simanungkalit (almarhum)? 

Yah, kebetulan saya menulis ulang aransemen SATB (sopran, alto, tenor, bas), kemudian diposting di blog ini. Saya tentu saja tidak keberatan. Justru senang karena lagu bagus itu bisa dinyanyikan oleh paduan suara komunitas ekspatriat yang dibina Mr John.

Diam-diam saya heran sekaligus takjub dengan etika orang Barat, dalam hal ini Mr John. Sebab, partitur itu bisa diklik dengan mudah, kemudian langsung di-print, diperbanyak. Bisa dipakai untuk latihan paduan suara. Tapi rupanya John bukan tipe "orang kita" yang tidak mengenal apa yang disebut copyright, hak cipta, hak atas kekayaan intelektual, dan sebagainya.

Dia minta permisi dulu... sebelum copypaste. Benar-benar terbalik dengan praktik orang kita. Banyak sekali tulisan di blog ini, khususnya tentang gereja atau kristiani, yang di-copypaste begitu saja, kemudian diterbitkan di majalah atau tabloid. Gilanya lagi, si pembajak tulisan alias tukang copypaste itu mencantumkan namanya sendiri sebagai penulis. 

Gilanya lagi, media-media rohani yang paling sering mencuri naskah di internet. Mana ada pencuri yang minta permisi pada pemilik blog? Syukurlah, majalah KANA di Keuskupan Malang meminta izin dulu sebelum memuat ulang (republikasi) salah satu artikel saya tentang umat Katolik di Pulau Madura. Salut!

Saya juga salut kepada majalah TEMPO yang sangat terkenal dan berkualitas itu. Belum lama ini saya terkejut ditelepon tiba-tiba oleh seorang redaktur majalah TEMPO. Ada apa gerangan? 

Aha, ternyata dia minta izin menggunakan foto Michael Bambang Hartono di blog saya. Kebetulan saya sempat memotret sang bos Djarum ini ketika berlangsung jambore nasional taijiquan di Surabaya. Orang-orang superkaya macam Pak Bambang ini memang tidak gampang ditemui sehingga majalah sekelas TEMPO pun tak punya foto dokumentasi. 

Di internet pun hampir tak ada foto-foto orang terkaya di Indonesia, kecuali Liem Sioe Liong yang sudah meninggal. Maka, sekeping foto yang saya jepret pakai kamera poket itu pun menjadi penting saking langkanya. Saya senang karena nama saya dicantumkan TEMPO di kredit foto tersebut.  

Lantas, apakah meng-copypaste naskah, gambar, suara, video, atau apa pun di internet perlu izin? Silakan dijawab sendiri.  

2 comments:

  1. Dengan menghormati orang lain berarti menghormati diri sendiri. Kode Etik tetap masih diperlukan.

    Bulan Juli ini tulisannya produktif.

    ReplyDelete
  2. Betul Pak Efendi. Kode etik ini yang makin longgar bahkan tak ada lagi di era internet. Bahkan banyak yang menganggap internet itu public domain sehingga siapa pun bebas copy paste. Yah, kebetulan lagi iseng saja corat-coret biar blog ini tidak terlalu sepi. Terima kasih.

    ReplyDelete