02 July 2013

Orang Tua Dititipkan di Panti Jompo

Sabtu pagi, 15 Juni 2013. Saya diajak Bu Shinta mengikuti tim paduan suara ibu-ibu binaannya (hampir semua Tionghoa) berkunjung ke Panti Surya, Jalan Jemur Handayani XII/19 Surabaya. Sebuah rumah penampungan para lansia milik Gereja Kristen Indonesia (GKI).

Bu Shinta memang sejak dulu sangat peduli dengan para lansia yang berada di panti jompo atau griya lansia di Kota Surabaya. Dia membawakan paket makanan, sabun, pasta gigi, mi, obat-obatan, dan angpao. Juga tukang pijat tunanetra untuk mengurut otot-otot para lansia.

"Kita perlu hibur oma-opa itu. Mereka itu kelihatan bahagia, tapi sebetulnya kesepian. Mereka seperti ditelantarkan anak-anak dan cucu-cucu meskipun biaya bulanan ditanggung anak cucu," kata ibu yang piawai menyanyi seriosa, khususnya lagu-lagu berbahasa Italia itu.

Bu Shinta punya paduan suara yang dilatih seorang jawara seriosa internasional. Kor ibu-ibu ini kemudian ditampilkan di hadapan para lansia. Satu per satu anggota kor juga menyanyi di depan penghuni panti werda. Mengajak joget bersama, tepuk tangan, membawakan puji-pujian rohani, melawak agar para oma-opa bisa tertawa.

Bu Herlina, pengurus Panti Surya, menyebutkan panti yang didirikan pada 1973 ini dihuni 78 lansia. Sebagian besar dari Surabaya. Tapi ada juga yang dari Jakarta, Solo, Semarang, Jogja, bahkan Maluku. Mengapa begitu jauh para lansia itu dititipkan di Surabaya Selatan?

"Yah, tergantung anak-anak mereka. Ada yang datang sendiri karena panti ini memang sudah dikenal di kalangan gereja-gereja Kristen Protestan. Kami pun melayani mereka sebaik mungkin seperti keluarga sendiri," kata Bu Herlina yang lahir di Sumenep, Madura, itu.

Lagu-lagu nostalgia pun terus berkumandang. Ada seorang opa menyanyikan NASI GORENG, lagu jenaka bersyair bahasa Belanda campur Jawa campur Indonsia. Suasana jadi meriah dan lucu. Oma Caroline dari Ambon maju menyanyikan lagu pujian khas anak Sekolah Minggu: Kerja Buat Tuhan Selalu Manise!

Suasana makin meriah ketika paduan suara membawakan REK AYO REK. Beberapa oma dan opa maju menyanyi dan joget bersama. Saya pun ikut joget dengan gerakan-gerakan konyol. Lumayan buat menghibur Oma Caroline yang sempat saya goda cukup lama. "Kamu bisa joget ya?" Hehehe....

Di balik suasana cair ini, sebetulnya saya nelangsa mendengar cerita beberapa oma opa. Sebagian besar merasa hampa di usia senja. Padahal, banyak penghuni panti ini dulunya pengusaha kaya, punya mobil banyak, rumah mewah, anak-anak sukses, dan sebagainya. Seorang pengusaha top zaman dulu stroke, hanya duduk di kursi roda.

Kok gak tinggal sama anak-anak saja? "Mereka tidak punya waktu untuk ngurus orang tua kayak kami ini. Ikut anak itu malah tambah stres. Bikin cepat mati saja," kata seorang opa.

"Anak-anak saya sibuk kerja di luar negeri. Di rumah saya dibiarkan sendiri saja. Makanya lebih enak tinggal di sini. Banyak teman," seorang oma menambahkan. "Jadi orang itu banyak nggak enaknya," kata yang lain lagi.

Begitulah. Para oma opa di panti jompo memang selalu curhat karena kesepian di ujung usia. Anak-anak tak punya waktu lagi melakukan "bakti sosial" untuk insan yang telah melahirkan dan telah membesarkannya. "Saya tida mau tinggal di Solo. Males," kata penghuni panti asal Solo.

Usai kunjungan ke panti jompo, saya masih mengingat wajah-wajah usiawan alias para lansia itu. Mereka memang hidup dengan teratur, punya jadwal tetap, banyak beribadah, baca Alkitab, dekat dengan Tuhan... tapi tidak dekat dengan keluarga inti.

Mungkin inilah siklus hidup manusia, dukacita, yang harus kita jalani sebagai makhluk ciptaan Tuhan. SAKIT... menjadi TUA... dan kembali ke pangkuan Sang Pencipta.

Saya pun teringat penggalan syair Gibran yang sudah klise itu: ANAKMU... BUKAN ANAKMU!

2 comments:

  1. When I Am Old

    When I am old and not my original self,
    Please be understanding and be patient with me.

    When I spill the soup on my own clothes, And forget how to tie my shoelaces,
    Please think about how I had taught you, step by step, to tie your shoelaces.

    When you are tired of the words which I am repeating,
    Please listen patiently and don’t interrupt me. When you were young, I had to repeat the same story again and again until you fell asleep.

    When I need you to shower me,
    Please don’t blame me. Do you remember how I had to coax you to take your shower?

    When I am helpless with new technology and things,
    Please don’t make fun of me. Think about how I patiently answered every ‘Why’ you had.

    When both my legs are too tired to walk,
    Please stretch out your strong hand to support me. Just as I stretched out my hand to you, when you were learning to walk.

    When the topic of our conversation slip my mind,
    Please give me a little time to recall. Actually, whatever the topic of our conversation is of no importance. I will be contented, as long as you are listening to me by my side.

    When my time has come,
    please don’t be sad. Understand me, support me, Just as how I treated you, when you were starting to learn about living.
    I had guided you on your life journey back then, Now please stays with me until my journey ends.

    Shower me with your love and patience, I will smile with gratitude; The smile of unconditional love for you.
    By tokmutita

    ReplyDelete
  2. Kenangan setahun ( 1978 ) jadi dokter panti jompo milik pemerintah. Disana penghuni, pegawai, dokter, tidak perlu bingung urusan biaya atau keuangan, semuanya ditanggung beres oleh negara. Panti jomponya baru, megah, dua tingkat, dikelilingi taman bunga luas terawat asri yang menyambung kehutan cemara. Para penghuni tidak semuanya reyot ( maaf tua bangka ), usia mereka antara 65 sampai 90, sepantaran usia saya kini. Tingkat satu untuk kaum pria, sedangkan tingkat dua untuk penghuni wanita. Sekarang saya berpikir kembali; Mengapa harus dipisah ? Apakah orang tua tidak memiliki HAM untuk sir-sir-an ?
    Apakah orang tua tidak ingin bercumbu, berpelukan, berkasih sayang ?
    Apakah orang tua hanyalah seonggok tulang-daging yang tak lama lagi akan bertemu dengan Petrus ?
    Tiap hari pukul 8 - 11 dan pukul 15 - 18 , saya visite, membesuch para penghuni, menanyakan keadaan mereka. menginjeksi bagi yang membutuhkan.
    Seorang penghuni pria, Mr. X, usia 65 tahun, sehat, badan kekar, suka senyum, ramah, selalu duduk di veranda ngerokok, kepala dicukur gundul, pensiunan petani, duda. Saya sangat suka sama encek itu, karena keramahannya. Kita berdua sering duduk ngobrol sambil ngudut rokok. Eh, kenapa lu kok tinggal di panti jompo ini ? Aku diusir oleh putra- dan menantu-ku, setelah aku wariskan kepada mereka, seluruh kekayaan-ku, berupa rumah besar, kandang berikut 27 ekor sapi perah, gudang berikut traktor dan alat2 pertanian, tanah ladang 30 hektar dan hutan.
    Penghuni wanita Mrs. Y, usia 80 tahun, seorang guru, selalu necis, tutur kata sangat sopan. Kenapa lu tinggal disini ? Saya ini tidak menikah, jadi saya mengajak seorang guru wanita yang usianya 10 tahun lebih muda, juga jomblo, untuk tinggal ber-sama2 dirumah milik saya. Kami teman akrab, cocok satu sama lain. Suatu hari teman-saya itu berkata; Kamu 10 tahun lebih tua daripada aku, jadi kemungkinannya, kamu lebih dulu mati daripada aku. Bagaimana jika kamu menghibahkan rumah-mu kepada aku, supaya seandainya kamu mati, aku tidak diusir oleh ahli waris-mu. Saya pikir ucapannya logis. Saya hibahkan seluruh kekayaan saya kepadanya. Sialnya teman-saya itu mati duluan, dan saya tahun lalu diusir dari rumah sendiri oleh ahli waris teman-saya itu.
    Oh, masih banyak cerita2 sedih dirumah jompo itu.
    Hikmahnya, jangan kesusu mewariskan kekayaan kepada anak atau seseorang !!
    Tak heran jika banyak orang bule kaya yang mewariskan kekayaannya kepada Asu-asu-nya. Bagi kaum senior, duda dan janda, pacaranlah jika masih ada niatan, jangan perduli gosip dari para tetangga atau anak-cucu sendiri. Persetanan dengan doppel-moral yang berdasarkan kemunafikan, kecemburuan.

    ReplyDelete