13 July 2013

Ongko Digdojo Tokoh Buddha Surabaya



Selama sepuluh hari, 21-30 Juni, Ongko Digdojo sejak pagi standby di SSCC Supermall Pakuwon Indah, Surabaya, lokasi Festival Seni Budaya Buddhis 2013. Pria 62 tahun ini memang penanggung jawab utama Buddhist Festival yang dibuka Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf.

Oleh LAMBERTUS HUREK

BEGITU ada pengunjung yang bertanya, Ongko Digdojo pun tak segan-segan menawarkan diri sebagai pemandu. Dengan fasih, ayah tiga anak ini menjelaskan makna aneka aksesoris, patung, gambar, hingga tayangan audiovisual di arena pameran Buddhis terbesar di Indonesia itu.

Jumat (28/6/2013) siang, Ongko pun dengan sabar mendampingi Radar Surabaya mulai dari pintu masuk hingga pintu keluar pameran. Berikut petikan percapakan dengan Ongko Digdojo, pendiri Buddhist Education Center (BEC), Surabaya, penyelenggara pameran ini.

Sudah berapa kali Anda mengadakan pameran seperti ini?

Tahun ini yang ketiga kali di Surabaya. Kami mulai melaksanakan pameran atau festival setelah reformasi, khususnya setelah BEC eksis di masyarakat. BEC itu berdiri tahun 2003. Nah, festival pertama kami adakan di Tunjungan Plaza pada 25-30 Juni 2003. Melihat antusiasme masyarakat, khususnya umat Buddha, yang sangat baik, kami akhirnya memutuskan mengadakan festival secara rutin lima tahun sekali.

Bagaimana hasil evaluasi Anda selama pameran ini?

Sangat memuaskan. Festival pertama di TP sepuluh tahun lalu itudihadiri sekitar 30 ribu pengunjung selama enam hari. Tahun 2008 berhasil menyedot 40 ribu pengunjung, juga selama enam hari. Nah, karena jumlah pengunjung selalu meningkat, maka tahun ini pamerannya dibuat 10 hari agar masyarakat punya kesempatan untuk datang ke sini. Kami perkirakan tahun ini sekitar 100 ribu pengunjung.

Peserta pameran dari mana saja?

Nah, kami melibatkan berbagai komunitas Buddha di Indonesia dan luar negeri. Jadi, ajang ini sekaligus untuk mempertemukan berbagai aliran Buddhis untuk bersama-sama melakukan pencerahan, membangun kesadaran, kepada masyarakat. Bahwa semua kelompok boleh saja punya pandangan atau sikap yang berbeda, tapi kita punya tujuan yang sama. Dari luar negeri ada wakil dari India, Srilanka, Thailand, Myanmar, Hongkong, Jepang, Tiongkok.

Di sini kita bisa melihat bahwa Buddhisme di berbagai negara itu punya ciri khas budaya sesuai dengan budaya lokal. Buddhisme diIndonesia pun memiliki ciri khas yang sangat kuat. Dan ini disimbolkan oleh Cand Borobudur dengan stupa Sang Buddha yang khas. Stupa yang di Srilanka, Tiongkok, India, Nepal, Tibet, Myanmar... pun punya keunikan tersendiri. Jadi, ini seperti semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang sangat kita kenal di Indonesia.

Oh, ya, mengapa sejak pembukaan oleh Gus Ipul, wagub Jatim, Bhinneka Tunggal Ika ini selalu ditekankan?

Sebab, Bhinneka Tunggal Ika itu kan salah satu dari pilar kebangsaan kita, selain Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan negara kesatuan Republik Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir ini, khususnya di era reformasi, kita mengalami berbagai persoalan kebangsaan. Dan itu sangat memprihatinkan, karena dulu bangsa Indonesia ini dikenal sangat toleran, terbuka, cinta damai. Kok bisa terjadi kerusuhan, masalah SARA, dan sebagainya. Maka, prinsip Bhinneka Tunggal Ika perlu kita tekankan kembali dalam pameran budaya Buddhis ini. Kita ingin membantu memberikan kesejukan, toleransi, kedamaian kepada bangsa ini.

Kalau tidak salah, Bhinneka Tunggal Ika pun tidak lepas dari kontribusi pujangga Buddhis di Nusantara?

Ya, dan itu juga kami tampilkan di stan Buddhisme di Nusantara. Istilah Bhinneka Tunggal Ika itu dikutip dari Sutasoma Canto 138:5 karya pujangga Buddhis bernama Mpu Tantular. Nah, dari naskah karya Mpu Tantular ini kemudian kita kenal istilah Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, kemudian mahardhika atau merdeka. Para founding fathers kita kemudian mengambil ungkapan Bhinneka Tunggal Ika sebagai prinsip kebangsaan kita. Bahwa bangsa Indonesia ini meskipun berbeda-beda, tapi tetap satu juga.

Apa misi lain dari festival ini?

Kami ingin memperkenalkan Buddhisme sekaligus mengedukasi masyarakat. Makanya, begitu masuk pintu gerbang, pengunjung bisa menyaksikan Pilar Asoka, miniatur Candi Borobudur, ilustrasi tentang kenyataan kehidupan, siklus terbentuknya (genesis) dan hancurnya alam semesta menurut Buddhis, roda sebab akibat, riwayat hidup Buddha, rupang Buddha berbaring, 10 ribu Buddha di dalam teratai raksasa, relic Buddha, selebritis Buddhis, Tripitaka dan Dharma, arkeologi Buddhis di Jawa Timur, sejarah Buddhisme di Indonesia. Ada juga komunitas Sangha di Indonesia dan komunitas Buddhis internasional.

Ngomong-ngomong, berapa biaya penyelenggaraaan festival besar seperti?

Waduh, pasti cukup banyaklah. Tapi, karena ditanggung bersama secara gotong-royong, ya, akhirnya bisa terlaksana. (*)


Loper Koran yang Jadi Pengusaha


TAK banyak yang tahu kalau Ongko Digdojo merintis usaha hingga meraih sukses dari tangga terbawah. Lahir dari keluarga Tionghoa yang sederhana, orang tua Ongko bahkan tak mampu membiayai pendidikannya. Ongko pun tak bisa bersekolah hingga SMA, apalagi kuliah di perguruan tinggi.

"Saya ini hanya tamatan SMP. Bagaimana bisa sekolah kalau tidak punya biaya," kata pria bernama asli Ong Te Yong ini.

Dulu, semasa remaja, Ongko mengenang, untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum dia harus bekerja keras menjadi loper koran. Saat subuh mancal sepeda di Tugu Pahlawan, Surabaya, untuk mengantarkan tumpukan surat kabar ke rumah-rumah pelanggan. Usai mengantar koran, siang hari dia menjadi sopir angkot lin A. Kemudian menjadi sopir Colt T100 jurusan Surabaya-Malang. Hasil kerja kerasnya ini juga dipakai untuk memenuhi kebutuhan dan membiayai kehidupan adiknya.

Meskipun hidup dalam kesulitan secara ekonomi, Ongko semasa muda suka membantu teman yang hidup menderita. “Saya ini orangnya nggak tegaan mendengar teman yang mengeluh. Saya coba bantu meski hanya lima rupiah. Nilainya sih tidak seberapa, tapi sangat berarti untuk mengisi kebutuhan perut. Hingga sekarang pun saya selalu berusaha membantu teman-teman yang membutuhkan."

Kesederhanaan, kepolosan, dan kejujuran Ongko ternyata menarik simpati A Lik yang di kemudian hari menjadi istri Ongko. Setelah menikah, Ongko berubah pikiran menjadi pengusaha kecil. Dia berkongsi dengan adik ipar mendirikan Toko Hasil di kawasan Jalan Raden Saleh. Seiring perjalanan waktu, toko yang semula kontrakan, kini telah memiliki sembilan cabang di seluruh Indonesia.

Apa resep kesuksesannya?

”Dalam bekerja, kita harus tekun, ikhlas, semangat. Dan, yang terpenting, harus memegang teguh kepercayaan dan kejujuran," katanya.

Setelah usahanya kian mapan, kini Ongko Digdojo mewariskan tokonya kepada tiga anaknya. Dia pun aktif dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan keagamaan dengan mendirikan Buddhist Education Center di Surabaya.

Berbagai kegiatan sosial dilakukan lembaga yang berpusat di Jalan HR Muhammad 179, Surabaya. Di antaranya, bedah rumah, pelayanan kesehatan gratis tiga bulan sekali ke desa terpencil, hingga pameran dan seminar tentang Buddhisme.

Ajaran Buddhisme memang telah mendarah daging di hati sanubari Ongko. Baginya, hidup ini bagaikan bunga teratai yang dapat hidup di air kotor dan tak ikut tercemar. Hidup bermasyarakat, menurut dia, ibarat teratai yang fleksibel dalam berbagai situasi.

"Filosofi teratai ini membuat kita bisa hidup dalam bermasyarakat secara damai, sejahtera, tidak saling bermusuhan meskipun berbeda suku, agama, ras, dan sebagainya," katanya. (rek)


CV SINGKAT

Nama : Ongko Digdojo
Nama Tionghoa : Ong Te Yong
Lahir : Malang, Jawa Timur, 1951
Istri : A Lik
Anak : 3 orang
Pekerjaan : Pengusaha, aktivis sosial keagamaan (Budhis)
Pendidikan : SMP Taman Harapan, Malang
Alamat : Jalan HR Muhammad 179 Surabaya

Organisasi :
Buddhist Education Center
Keluarga Buddhayana Indonesia
Yayasan Tionghoa
Keluarga Besar Nusantara
Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti) Surabaya

No comments:

Post a Comment