21 July 2013

Makco Surabaya mudik ke Meizhou



Sekitar 20 jemaat mengiringi kepulangan Makco Tian Shang Sheng Mu ke kampung halamannya di Pulau Meizhou, Provinsi Fujian, Tiongkok, Minggu (21/7/2013) pagi. Selama tiga hari dua rupang (patung) Makco, yang dikenal sebagai dewi laut, ditakhtakan di tempat kelahirannya.

"Ini merupakan peristiwa bersejarah karena seingat saya baru kali ini terjadi di Surabaya. Kelenteng-kelenteng di kota lain juga pernah mengadakan, tapi sangat jarang," kata Waluyo Untung Sugiharto, ketua Yayasan Sukhaloka, pengelola Kelenteng Hok An Kiong, Surabaya.

Rupang Makco yang dibawa ke Pulau Meizhou itu, menurut Waluyo, paling tua di Kota Surabaya. Ini karena kelenteng di Jalan Cokelat 2, kawasan Slompretan, itu memang merupakan kelenteng tertua di Kota Surabaya. Satu rupang Makco lainnya milik Kelenteng Hong San Ko Tee, Jalan Cokroaminoto 12 Surabaya. 

Sehari sebelumnya, rupang Makco milik Kelenteng Cokro, dipindahkan ke Kelenteng Slompretan. Sebelum diberangkatkan ke Bandara Juanda, sekitar pukul 05.30, puluhan jemaat dari dua kelenteng itu melakukan doa bersama di depan altar Makco. Mereka memohon kepada Tian (Tuhan) agar perjalanan membawa dua rupang Makco ke kampung asalnya ini berjalan lancar dan kembali ke Surabaya dengan selamat. 

Menurut Waluyo, perjalanan rombongan pengiring Makco ke Pulau Meizhou ini bukan rekreasi atau jalan-jalan biasa, melainkan ziarah rohani sekaligus napak tilas sejarah. Warga Tionghoa, khususnya jemaat kedua kelenteng ini, ingin melihat secara langsung kampung halaman Makco yang juga leluhur mereka. 

"Semua orang itu selalu ingin menelusuri jejak sejarah leluhurnya. Seperti kita yang hidup sekarang, nanti 50 tahun atau 100 tahun lagi anak cucu kita juga akan melacak jejak sejarah kita," tutur Waluyo seraya tersenyum.

Berangkat dengan pesawat Cathay Pacific dari Bandara Juanda pukul 08.00, rombongan langsung menuju ke Putian, kota yang paling dekat dengan Pulau Meizhou. Dua rupang yang ditepatkan di kotak kaca itu kemudian diarak ke Meizhou dengan kapal laut. 

"Nah, sampai di lokasi, kami mengikuti ritual bersama pengunjung lain dari berbagai negara. Tidak ada acara ngelencer karena tujuan kami ke Meizhou ini semata-mata untuk ziarah rohani," ucap Waluyo.

Berbeda dengan tur biasa, Waluyo menjelaskan, pihaknya harus lebih dulu mengadakan koordinasi dengan tuan rumah hingga maskapai penerbangan. Sebab, ada sejumlah syarat tertentu ketika membawa rupang Makco keluar dari kelenteng, dinaikkan ke pesawat, kapal laut, hingga ditempatkan di kampung halamannya di Meizhou. 

"Kita berharap mendapat berkah baik untuk umat kelenteng maupun warga Surabaya secara keseluruhan. Itu saja yang akan kita minta selama berada di Tiongkok," katanya. (rek)

1 comment:

  1. Kapan ya om Hurek mau menulis mengenai Putian.

    ReplyDelete