23 July 2013

Lawakan TV yang tidak lucu

Baru saja saya mampir ke sebuah kafe pinggir jalan di Surabaya. Pesan kopi pahit, katanya bisa untuk jamu. Lumayan ramai, pengunjung lagi asyik nonton OVJ di televisi. Cukup heboh. Sebentar-sebentar penonton tertawa karena merasa lucu melihat dagelan konyol ala slapstic itu.

Yang paling heboh tentu penonton di televisi. Sebab, mereka memang dibayar untuk tertawa, nyeletuk, biarpun lawakannya tidak lucu. Saya sendiri sudah lama gagal menemukan di mana kelucuan OVJ yang membuat begitu banyak orang tertawa ngakak. Ulah Nunung yang konyol khas Srimulat sudah lama tak mampu menggelitik saraf tawa saya.

Syukurlah, saya kebetulan membawa majalah TEMPO baru yang sampulnya bergambar wajah Tifatul Sembiring, menteri komunikasi dan informasi, terlilit kabel yang ruwet. Nah, ini dia yang lucu dan bikin saya geli. Ada-ada saja cara TEMPO menertawakan ulah pejabat republik ini yang kurang amanah. Saya pun tertawa sendiri... pelan-pelan.

Sudah lama memang saya tidak menemukan kelucuan di acara-acara lawak televisi. Acara standup comedy, yang katanya humor cerdas, pun membosankan. Makin lama makin tak jelas arahnya. Atau, cuma pengulangan banyolan lawas belaka. Yang tertawa, ya, orang-orang bayaran di studio itu.

Sebaliknya, tadi pagi, saya sering tertawa sendiri sewaktu mengikuti kuliah musik bersama Jessica Sudarta, pemain harpa, dan Slamet Abdul Sjukur, komponis dan guru musik klasik terkenal di Surabaya. Pak Slamet seperti biasa menyentil ulah politisi ketika membahas keunikan instrumen berdawai nan cantik bernama harp alias harpa itu. Halus sekali humor Pak Slamet tapi mengena yang membuat saya tertawa keras.

Peserta pertemuan musik Surabaya, sekitar 50 orang, hanya tersenyum. Tak berani tertawa bersuara. Jaim kali, jaga image! Tapi justru humor-humor pahit Pak Slamet, selain kebegawanannya di bidang musik klasik, yang membuat saya hampir tidak pernah absen mengikuti kuliah bersama di Wisma Musik Melodia, Ngagel Jaya, Surabaya, ini.

Saya memang merasa cocok dengan humor ala Slamet Abdul Sjukur baik dari segi konten maupun cara bertuturnya. Pak Slamet membahas masalah musik, dikaitkan politik, pengusaha, ulah guru-guru piano, kegandrungan orang-orang kaya di Jakarta, Surabaya, Bandung, Jogja, Semarang, yang doyan rekor MURI, yang tak jelas juntrungannya itu. Seakan-akan pemusik yang dapat MURI itu sudah sangat hebat.

Di hadapan peserta kuliah musik, yang sebagian di antaranya guru-guru piano klasik di Surabaya, Pak Slamet memuji Jessica Sudarta, harpis remaja asal Surabaya. Juga pemain-pemain harpa dan biolin (orang awam menyebut biola). Mengapa? Menurut Slamet, pemain harpa atau biola pasti dan harus tahu cara menyetem alat musiknya. Dia sangat peka ketika ada satu nada saja yang fals alias sumbang.

"Yang paling goblog itu pemain-pemain piano," kata Pak Slamet. "Mereka itu hanya bisa main tapi tidak bisa nyetem. Mereka justru membayar tukang setem untuk nyetem pianonya."

Saya pun tertawa ngakak. Pak Slamet sendiri saya lihat biasa-biasa saja. Humor kering macam inilah yang selalu membuat saya tertawa. Bahkan, kadang tertawa sendiri ketika mengingat-ingat kata-kata Pak Slamet yang baru saja mendapat penghargaan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai seniman musik klasik (kontemporer) berprestasi di Indonesia itu.

2 comments:

  1. Cina Jawa Amrik4:13 AM, July 23, 2013

    Itu berarti bung Lambertus sudah berevolusi ke humor cerdas tingkat tinggi, hehehe. Buka youtube, lihat standup comedy Amerika aja, bung. Memang untuk mengikuti perlu mengerti konteksnya, tetapi lawakan2 Bill Cosby misalnya konteksnya kebanyakan keluarga, hubungan laki-perempuan, anak2, dan pengalaman dia sendiri, jadi tidak sulit.

    Ada lagi pelawak asal Tiongkok, namanya "Joe Wong". Dia sebenarnya seorang ilmuwan tetapi hobbynya melawak. Humor2nya cerdas.

    ReplyDelete
  2. Indonesia pun sekarang ada (baru) komedi tunggal (standup comedy) misalnya Ernest Prakasa. Ada tuh di Youtube coba.

    ReplyDelete