23 July 2013

Ketika Buddha pun main politik

Ashin Wirathu jadi cover TIME.
Selama ini saya menganggap agama Buddha sebagai agama yang paling toleran, cinta damai, asketis, tak tertarik politik. Dan itu terbukti saat saya mengunjungi banyak wihara + kelenteng di Jawa Timur. Bahkan sempat bermalam di kompleks wihara.

Semua orang bisa jadi Buddha tanpa harus beragama Buddha, kata Pak Ongko, bos Buddhist Education Center, Surabaya, yang baru saja mengadakan festival buddhis terbesar di Indonesia. Pak Ongko getol menyebarluaskan ajaran Buddha yang sangat universal.

Mewawancarai biksu Tantrayana dari Tibet, Rinpoche, kemudian meliput seminar beliau di Surabaya, kita pun merasa damai. Seakan menikmati keheningan dihamparan rumput hijau, air tenang, udara segar. Rinpoche sangat menekankan meditasi.

Isi pengajaran rinpoche, biksu, atau banthe di Surabaya sama sekali tak menyinggung politik atau sosial kemasyarakatan. Kontras dengan khotbah rohaniwan Islam, Katolik, atau Protestan atau Pentakosta dan sejenisnya yang mau tak mau menyinggung masalah aktual kebangsaan. Khotbahnya romo-romo aktivis di gereja biasanya lebih kental politiknya.

Tidak heran di Flores Timur ada pastor bernama Romo Frans Amanue diproses hukum karena dilaporkan bupati yang tersinggung. Pejabat-pejabat NTT, khususnya yang korup dan lupa rakyat, sejak dulu memang jadi bulan-bulanan romo di atas mimbar. Celakalah engkau, wahai pejabat...!

"Kami yang Buddhis ini gak ngurus jumlah umat. Buat apa umatnya banyak tapi perilakunya tidak baik," kata seorang tokoh Buddhis. Maka bapak ini tidak risau bila ada umat Buddha yang pindah agama, misalnya jadi Islam atau Kristen.

Sayang, cerita damai Buddhis ini terusik setelah saya membaca Kompas 23 Juli 2013 dan majalah TEMPO 22-28 Juli tentang radikalisme biksu Buddha di Myanmar. Ashin Wirathu, biksu itu, ternyata sangat politis dan radikal. Dia getol mengkampanyekan gerakan yang tidak bersahabat dengan warga minoritas. Bahkan dia menganggap umat non-Buddha sebagai masalah bagi Myanmar.

Begitulah jadinya ketika agama dipolitisasi. Ketika agamawan main politik, menjauh dari esensi agama yang mengajarkan cinta kasih kepada sesama. Biksu Wirathu rupanya lebih suka ceramah politik ketimbang mengajar meditasi.

Semoga semua makhluk berbahagia!

No comments:

Post a Comment