17 July 2013

Kegilaan dan kebodohan yang berulang



Rabu pagi, 17 Juli 2013, Najwa Shihab, wakil pemimpin redaksi Metro TV, membahas masalah jalan raya dan infrastruktur yang belum beres menjelang arus mudik. Banyak penelepon di Bedah Editorial itu yang mengeluhan jalan rusak. Sudah rusak lama tapi tak kunjung diperbaiki.

"Jalan di tempat tinggal kami sudah rusak bertahun-tahun. Kami mau mengadu ke siapa," kata Yohanes dari Manado. Yah, lumayanlah, dia mengadu ke Metro TV, sehingga keluhannya terdengar sampai ke seluruh Indonesia. Dan dibahas oleh Najwa Shihab.

Saya pun tergelitik ketika Najwa Shihab mengutip kata-kata begawan fisika Albert Einstein. Kutipannya kira-kira begini: 

"INSANITY is doing the same thing over and over again but expecting different results." 

Hehehe.... 

Saya pun tertawa pahit mendengar ucapan Einstein tentang INSANITY, kegilaan, yang justru dilakukan berulang-ulang kali, terus-menerus, di negara Pancasila ini, tapi berharap mendapat hasil yang berbeda. Hasil yang positif berupa jalan raya bagus, kendaraan umum yang nyaman, arus mudik yang lancar, tertib, menyenangkan.

Tepat sekali: kegilaan! Setiap kali menjelang arus mudik Lebaran, pemerintah kelihatan sibuk melakukan tambal sulam jalan raya di pantai utara Jawa dan ruas-ruas jalan yang lain. Hanya tambal sulam sekenanya. Maka, bisa ditebak berapa lama usia jalan atau infrastruktur semacam itu bisa bertahan. 

Digilas kendaraan-kendaraan berat, ribuan, bahkan jutaan kendaraan bermotor... jalan raya macam itu tak akan bertahan enam bulan. Lalu, berlubang dan rusak lagi. Lalu, ditambal sulam lagi. Kemudian rusak lagi. Kemudian ditambal lagi. Kemudian datang arus mudik lagi. Dan seterusnya.

Rupanya pemerintah kita belum punya orientasi jangka panjang. Bukan hanya manajemen infrastruktur yang tambal sulam, tapi membuat jalan raya yang benar-benar kuat sehingga mampu menahan beban jutaan kendaraan dalam waktu yang lama. Tapi apa mungkin pemerintah kita punya visi jauh ke depan mengingat orientasinya memang jangka pendek?

Projek jalan raya yang tambal sulam, menurut Najwa Shihab, sebetulnya sangat menguntungkan bagi para kontraktor atau pemborong untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya. Projek infrastruktur paling mudah dimainkan karena sangat sulit dikontrol. Tak banyak orang yang paham tebal tipis aspal, material pembuatan jalan, yang memang hanya diketahui para insinyur khusus. 

Saya jadi ingat ayat kitab suci tentang ORANG BODOH yang membangun rumah di atas pasir. Kutipan Injil Matius 7:26 itu dalam bahasa Jawa begini:

"Wong bodho kuwi ngadegake omahe ing lemah pasir. Bareng ana udan deres lan ana banjir, sarta angin gedhe nempuh, omah mau nuli ambruk lan rusak banget!"

Kata-kata Einstein dan petikan Injil ini memang sangat nyelekit: KEGILAAN dan KEBODOHAN. Kita semua, apalagi pemerintah yang pintar-pintar itu, sudah pahamlah kondisi infrastruktur di seluruh Indonesia. Tapi, ya, setiap tahun melakukan hal yang sama, sama, dan sama lagi, dan ingin mendapatkan hasil yang berbeda.

Kayak orang bodoh yang membangun rumah di atas pasir. Bolak-balik rumahnya ambruk disapu air dan banjir, tapi ya tetap saja melakukan perbuatan yang sama. 

1 comment:

  1. Sebenarnya lebih tepat bukan dibilang kegilaan, karena kata gila masih ada konotasi positifnya, misalnya "gila, cewek itu cakep sekali", atau "remaja sekarang tergila-gila musik rock and roll". Lebih tepat disebut "kesintingan", hihihihi.

    ReplyDelete