17 July 2013

Gereja terlalu banyak di Jawa



Saya tergelitik membaca beberapa artikel di internet yang menyoal banyaknya bangunan gereja di Jawa. Salah satunya artikel Harja Saputra berjudul Benarkah Indonesia Sangat Intoleran kepada Kaum Minoritas di blognya yang pembacanya sangat banyak. 

Harja Saputra mengangkat data jumlah tempat ibadah agama-agama di Indonesia versi kementerian agama. Statistik itu  sering dipakai Menteri Agama Suryadharma Ali sebagai kartu as untuk merespons kritikan dari berbagai pihak tentang masalah human rights, khususnya seputar minoritas agama.

Rupanya Harja Saputra kurang paham masalah internal gereja-gereja di Indonesia, khususnya denominasi Protestan, Pentakosta, dan Karismatik yang makin booming di kota-kota besar. Di Surabaya, kalau gereja arus utama (manstream) seperti GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) sih dari zaman dulu tidak banyak bertambah. Mana ada GKJW baru? Mana ada GPIB baru? GKI baru di Surabaya?

Gereja Katolik pun dari dulu, di Surabaya, cuma bertambah di perumahan baru. Di pinggiran kota. Itu pun sangat sedikit. Cuma Gereja Roh Kudus (Puri Mas, Rungkut) dan Gereja Santo Yakobus (Citraland, Surabaya Barat).

Kemudian ada fasum dari TNI Angkatan Laut untuk membangun Gereja Katolik Santo Paulus di Jalan Raya Juanda yang bergandengan dengan Pura Jala Siddi pada 2005. Yang lainnya ya gereja-gereja lawas. Paling lawas ada tiga, yakni di Kepanjen, Polisi Istimewa, dan Residen Sudirman karena dibangun sebelum Indonesia merdeka.

Nah, kalau gereja-gereja karismatik kayak Bethany, Mawar Sharon, dan sejenisnya.. ini baru fenomenal. Bukan karena umat Nasrani bertambah, banyak penganut baru, tapi gereja-gereja yang pecah kayak amuba. Satu jadi dua, dua jadi empat, empat jadi 10, dan seterusnya. Fenomena ini tidak lepas dari merebaknya paham teologi sukses atau teologi kemakmuran dari Amerika Serikat ke seluruh dunia.

Gereja-gereja Protestan lawas kayak GKJW, GPIB, atau GKI pun tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia) yang sejatinya merupakan himpunan pengurus gereja-gereja lawas alias mainstream tadi. Jangan lupa, ketuanya PGI itu juga tokoh Protestan asal NTT bernama Pendeta Dr Andreas Yewangoe. Piagam Saling Mengakui dan Menerima yang dikeluarkan PGI pun tak mampu membendung lahirnya denominasi gereja baru.

Jadi, statistik kemenag yang dibeber Harja versi 2010 itu sudah pasti tidak valid lagi. Mengapa?

Gereja-gereja aliran karismatik tadi sudah membelah diri lagi. Karena konflik, beda pendapat, masalah hukum, dan sebagainya. Seorang pendeta di lingkungan karismatik atau pentakosta tidak mau jadi anak buah (pendeta muda, pendeta pembantu, asisten pendeta, apa pun namanya) untuk selamanya. Dia sejak awal bertekad jadi bos alias gembala. Maka, bila tiba saatnya, si anak buah itu akan membuka gereja baru.

"Seandainya semua orang Kristen yang bukan Katolik itu bergereja di GPIB (Gereja Protestan di Indonesia Barat), GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan), atau GKI (Gereja Kristen Indonesia), maka 15 atau 20-an gereja saja sudah cukup untuk menampung semua umat Kristen (bukan Katolik) di seluruh Kabupaten Sidoarjo. Sebaliknya, 100 gereja pun tidak akan cukup kalau jemaatnya ikut aliran baru," kata Om Yeremia, pemuka masyarakat NTT di Jawa Timur, yang jadi pengurus sebuah gereja Kristen Protestan arus utama (mainstream) di Sidoarjo.

Tentu saja mustahil mengharap orang-orang karismatik kayak Gereja Bethany mau bergabung dengan gereja-gereja lawas. Masalahnya sangat prinsip, soal doktrin. Contoh kecil: aliran karismatik menolak pembaptisan kanak-kanak dengan cara disiram sedikit air di kepala seperti yang dilakukan Protestan atau Katolik. Bethany dan sejenisnya menuntut pembaptisan selam. Maka, laki-laki Katolik tidak bisa menikah dengan gadis Bethany karena baptisan Katolik dianggap tidak sah.

Masih 101 doktrin lagi yang kurang pantas diceritakan di sini.

Gereja-gereja lama seperti Protestan dan Katolik sangat menekankan GEREJA dalam dua arti: (1) Persekutuan jemaat atau ecclesiorum. (2) Bangunan atau tempat beribadat.

Karena itu, Katolik tidak akan menggelar misa di hotel atau restoran atau stadion (kecuali perayaan tahbisan atau kunjungan Uskup atau Paus, misalnya), tapi harus di gereja. Bangunan gereja pun ada syarat atau pakemnya. Posisi altar, tabernakel, sakristi, lonceng, dan sebagainya.

Nah, gereja-gereja baru versi New Born Christian ini berprinsip kebaktian atau ibadah bisa dilakukan di mana saja. Asal ada tempat, sound system, oke. Lebih nyaman lebih bagus. Sangat-sangat luwes denominasi yang berkembang pesat di Indonesia sejak 1980-an itu. Karena itu, setiap hari Minggu hampir semua aula, convention hall, atau ballroom hotel di Surabaya sudah di-booking untuk kebaktian gereja.

Gerejanya Pendeta Samuel Gunawan di Surabaya misalnya booking Grand City untuk kebaktian tujuh sesi, pagi sampai malam. Gramedia Expo juga dipakai gerejanya Pak Samuel lima atau enam kali. Bayangkan, kalau dia membuat gereja konvensional, Samuel mungkin harus membangun setidaknya 10 gereja baru. Nah, gereja-gereja macam ini sangat banyak, karena lagi ngetren, dan tidak masuk statistik kemenag. Hehehe...

Sebaliknya, Gereja Katolik tidak bisa bertumbuh secepat New Born Christian Chuches. Bahkan, bisa berkurang karena umatnya pindah ke kota-kota lain, pindah gereja (biasanya ke Lahir Baru), atau pindah agama (Islam, Buddha, Konfusius, dsb).

Ketika pulang ke kampung halaman di pelosok Flores Timur, NTT, jumlah gereja masih tetap 15 biji di kecamatan saya. Dalam 20 tahun hanya tambah SATU gereja, yakni di kampung kelahiran saya. Itu pun sebenarnya sejak saya SD dulu bangunan itu sudah ada dan berstatus KAPELA, semacam mushala di lingkungan Islam. Masjidnya pun masih tetap 9 buah di kecamatan saya.

Masjid di kampung saya juga tetap satu, namanya Masjid Nurul Jannah, dibangun bersama-sama masyarakat desa kami baik Katolik maupun Islam. Tidak perlu izin-izinan, minta tanda tangan restu warga, harus radius sekian kilometer dari rumah ibadat lain, dan sebagainya. Ketua panitia pembangunan masjid itu, saya masih ingat, Bapak Karolus Keluli, kepala desa saat itu yang beragama Katolik.

Memang agama di daerah saya itu hanya dua: Katolik dan Islam. Tidak ada Buddha, Hindu, Khonghucu, Protestan, Pentakosta, Baptis, Advent, Saksi Yehuwa, Pentakosta, Karismatik, Kristen Lahir Baru, Mormon, Scientology, dan sebagainya dan sebagainya.

Sayang, saat pulang kampung setelah bertahun-tahun nyantol di Jawa Timur, saya melihat jemaat gereja dan masjid di kampung saya makin sepi. Padahal, misa atau ibadat sabda tanpa imam (karena romonya harus keliling ke 15 desa atau gereja) hanya dilakukan SATU kali saja. Mengapa?

Sebagian besar anak-anak muda yang lulus SD (kayak saya ini), pindah ke kota untuk melanjutkan sekolahnya atau merantau ke Malaysia Timur. Oh, ya, angka kelahiran pun menurun tajam. Sekarang ini makin sulit menemukan warga kampung-kampung pelosok kelahiran di atas tahun 1970 yang punya lebih dari dua atau tiga. Ini juga berkat keberhasilan program keluarga berencana yang gencar dikampanyekan pemerintah Orde Baru. Padahal, dulu orang di kampung saya paling sedikit punya empat anak.

Nah, berbeda dengan suasana kebaktian atau misa di Surabaya yang selalu ramai, digelar minimal 4 kali di sebuah gereja. Saya sendiri selalu tidak kebagian tempat di Katedral Surabaya, duduk di luar, karena umatnya penuh sesak.

Salam damai!

12 comments:

  1. kalo sudah menyangkut keyakinan itu susah. teman2 kristen itu memang punya gaya menggereja yg berbeda dgn agama2 lain.

    ReplyDelete
  2. Ya karena gereja ala Amrik masuk ke pasar bebas agama, dan menimbulkan shock ke masyarakat Indonesia mayoritas yang ingin mempertahankan kemayoritasannya. Amrik lagi Amrik lagi yang disalahkan.

    ReplyDelete
  3. Wah, istilah bagus: pasar bebas agama. Pasar bebas ini cenderung ugal-ugalan dan menerjang ke mana2. Semua orang kaget, tidak siap, dan merasa janggal dengan agresivitas pedagang2 agama yg bermain di pasar bebas. Kamsia mr Fuad.

    ReplyDelete
  4. saya seorang muslim, setelah membaca tulisan artikel anda, tidak ada unsur provokatif melainkan menggambarkan perdamaian antar sesama manusia,,Indonesia beraneka suku bangsa & agama, Indonesia harus bersatu & damai

    ReplyDelete
  5. om hurek... di kampung saya di Tapanuli, sampai tahun 1950-an hanya ada 2 gereja: HKBP dan Katolik... tetapi kemudian HKBP bertelur menjadi banyak anak... ada "anak" yg lahir karena perbedaan etnis dan bahasa (GKPS, GKPA, GKPPD) dan ada "anak" yg lahir karena gerakan beberapa pendeta (GKPI, GKLI)... di luar itu jug ada HKI (Huria Kristen Indonesia), yg berpusat di Pematang Siantar dan masuk agak belakangan di kampung saya...

    tapi semua gereja yg disebut di atas punya rumpun yg sama: Lutheran... jadi gak ada masalah soal doktrin... begitu juga sudah sejak lama hubungan antara Protestan dan Katolik di kampung saya benar2 akur, gak ada ribut2 atau rebutan jemaat... di kampung saya setiap Natal dan Paskah selalu ada perayaan ekumenis, kadang2 dipimpin pastor Katolik, kadang2 pendeta HKBP...

    yg paling indah menurut saya adalah ketika Jubileum 150 tahun HKBP tahun 2011 kemarin... HKBP mengundang Uskup Agung Medan Mgr Anicetus Sinaga pada perayaan tingkat regio di Medan... kemudian saya baru tau ternyata beberapa anggota panitia perayaan jubileum HKBP 2011 kemarin adalah orang Katolik, salah satunya tulang Hinca Panjaitan, orang penting di Partai Demokrat dan PSSI, beliau jadi ketua seksi acara... kemudian seorang blogger Batak dari Bintan, Kepulauan Riau, pernah mengatakan bahwa ia seorang Katolik tapi ikut merasa memiliki HKBP karena menyandang nama "Kristen" dan "Batak", sehingga ia turut prihatin atas terjadinya konflik HKBP pada tahun 90an (akibat campur tangan rezim Orde Baru)... lalu Cosmas Batubara, seorang Batak Katolik dan mantan menteri, ikut menyumbangkan ide pembangunan "Sopo Marpingkir" sebagai kantor penghubung HKBP di Jakarta yg baru diresmikan bulan Januari kemarin...

    indah sekali, bukan???

    nah, baru2 inilah pasca reformasi, gereja2 yg selalu om hurek sebut sebagai "aliran Haleluya" ikut mewabah di kampung halaman kami, walaupun masih belum ekstrim sekali perkembangannya seperti di Surabaya atau Jakarta... dan orang Batak banyak yg "antipati" dgn "aliran Haleluya" karena banyak di antara pengikut aliran ini yg menganggap adat Batak sebagai ajaran sesat dan tidak sesuai iman Kristen... ketika mereka menikah dan meninggal, tidak mau menggunakan adat Batak...

    karena orang Batak masih belum bisa meninggalkan adat Batak, maka umat gereja2 Lutheran dan Katolik masih sangat tinggi, karena jelas lebih toleran terhadap adat yg sebenarnya banyak kok yg selaras dalam iman Kristiani dan tidak perlu (lebih tepatnya: jangan) dihilangkan...

    geser agak jauh, dari kawan2 saya di GPIB yg kebanyakan berasal dari Sulawesi Utara, di provinsi yg wanitanya cantik-cantik dan putih-putih itu, sekarang ini makin banyak yg meninggalkan gereja tradisional seperti Katolik atau GMIM (Gereja Masehi Injili Minahasa, satu sinode dgn GPIB dan GMIT Timor) dan beralih ke aliran Haleluya... mungkin karena pengaruh adat di sana gak terlalu kuat jadi masyarakatnya turut termodernisasi secara ekstrim, hehehe...

    jadi bukan hanya di Jawa saja, makin banyaknya gereja juga terjadi di daerah lain... mungkin kampungnya om hurek di Lembata belum termasuk, hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak atas informasinya Bung Nababan yg komplet. Benar2 langka karena pembaca blog makin jarang komentar. Yang banyak itu spam. Ini yang bikin pusing kepala.
      Lembata atau Flores Timur itu punya tradisi dan adat yg kuat. Agamanya tidak fanatik, bahkan menganggap semua agama itu bagus, tapi punya identitas yg kuat. Kalau sejak lahir Islam ya Islam terus sampai mati. Lahir dari orangtua Katolik ya Katolik sampai mati. Kecuali wanita karena alasan pernikahan: ikut agamanya suami. Laki2 Lembata/Flotim yg pindah agama, apalagi ikut agamanya istri, jadi masalah besar di kampung. Makanya banyak laki2 Lembata yg takut pulang kampung karena begitulah..

      Delete
    2. Gereja Haleluya itu namanya saja yang gereja, bahasanya saja yang meminjam dari Alkitab dan Injil, tetapi teologinya ??

      Yesus itu hidupnya sengsara dan miskin, dan mengajarkan "sulit sekali bagi orang kaya untuk masuk kerajaan surga, bagaikan onta mau lolos lobang jarum", gereja-gereja ini malah mengajarkan kalau ikut Yesus, yakin hidup sukses (!), wkwkwkwkwk.

      Yesus bergaul dengan orang beragama lain yang pd jamannya dianggap sesat, seperti orang Samaria. Yesus juga tidak pernah bilang agama nenek moyangnya Yahudi itu sesat, malah sampai sebelum mati dia masih merayakan Hari Raya Roti Tak Beragi (Passover), yang sekarang kita rayakan sebagai Kamis Putih. Gereja-gereja ini malah mengajarkan: gereja Katolik, gereja HKPB dll yang menghormati adat setempat itu sesat. Maka para pendeta dan pemuka gereja haleluya itu layak disebut bangsat karena menyimpang dari inti ajaran Yesus.

      Yesus itu hidup sederhana, ke-manapun jalan kaki, naik keledai (bukan kuda), tinggal menumpang di rumah orang. Kalau pemuka gereja Haleluya rebutan tanah gereja, ke-mana2 naik Mercedes sebagai simbol sukses mereka.

      Sukses diukur dengan banyaknya umat yang direkrut, bukan dengan banyaknya orang lapar yang diberi makan, banyaknya orang di penjara yang dikunjungi, banyaknya orang sakit yang dirawat.

      Ikut Yesus itu bukan karena mau jadi kaya, tetapi karena mau meninggalkan gaya hidup yang egois, yang mementingkan diri sendiri; mati terhadap nafsu dan keinginan duniawi. Hidup di dalam Yesus artinya berjuang, berjihad untuk mewujudkan Kerajaan Surga di dunia, di mana kehendak Tuhan yang terjadi bukan kehendak manusia: menolong orang miskin, janda dan yatim piatu, agar mereka bisa makan, punya papan, pendidikan, dan perawatan kesehatan. Bukan hanya teriak-teriak haleluya dalam kebangkitan rohani. Yesus mengajarkan kpd orang muda yang kaya: juallah semua hartamu, dan ikutlah aku. Pendeta gereja Haleluya mengajarkan: ikutlah aku, agar kamu kaya dan bisa menyumbangkan 10% hartamu kepadaku. Wkwkwkwkwkwk, salah kaprah, bro ...

      Delete
  6. sama om hurek di Tapanuli pun begitu, tradisi masih sangat kuat dan agama pun kebanyakan masih turun ke turun dari bapak ke anak ke cucu dan seterusnya... perpindahan agama pun bisa jadi bahan gunjingan di tempat kami... tapi selain perpindahan agama, perpindahan ke "aliran Haleluya" sering juga jadi sumber masalah karena setelah masuk aliran ini mereka seakan-akan jadi "anti" terhadap adat Batak, bahkan menganggap kain ulos yg indah itu sebagai berhala...

    memang, sebelum Kristen masuk, sebelum menenun ulos sang penenun biasa merapalkan mantra-mantra, dan sebelum memberi ulos pihak pemberi juga merapalkan mantra, tapi itu dulu, sekarang sudah gak lagi... oh iya, ketika Santo Paus Yohanes Paulus II datang ke Sumatera Utara pun dia diselempangkan ulos oleh warga Batak...

    tapi agak beda dgn orang Batak di perantauan (yg isunya jumlahnya sudah lebih banyak daripada orang Batak di Tapanuli sendiri), mereka lebih dinamis, walaupun tetap saja HKBP dan Katolik masih dominan, dan masih ada juga gunjingan terhadap mereka2 yg pindah ke aliran Haleluya karena terkesan anti-adat dan mulai menjauhi acara2 arisan keluarga dgn alasan "pelayanan"...

    oh iya om hurek, Piagam Saling Mengakui dan Menerima yg om hurek sebutkan itu hanya berlaku bagi anggota PGI... padahal persekutuan gereja di Indonesia ini bukan cuma PGI... ada juga PGLII (Injili) dan PGPI (Pentakosta), nah 2 persekutuan inilah yg anggota2nya seperti om hurek sebutkan, mudah berpecah bagaikan amoeba... dan uniknya ada anggota2 dgn akronim sama, hehehehe... khusus PGPI, maaf, respek saya terhadap lembaga ini benar2 minus karena sang ketua terang2an memberi dukungan kepada salah seorang capres pada pemilu kemarin...

    dan satu lagi, di Pulau Jawa ini, aliran Haleluya sudah menguasai persekutuan2 mahasiswa Kristen di berbagai kampus... saya pribadi, yg dibesarkan dgn tradisi liturgi yg agung itu, memilih tidak bergabung di persekutuan kampus... saya memilih aktif di komisi pemuda gereja, karena sudah terjamin, artinya tentu ada pembinaan dari pendeta gereja dan ajarannya tidak akan melenceng jauh... sedangkan di persekutuan doa kampus saya sekarang, beberapa kali saya lihat brosur mereka mengundang pendeta2 gereja Haleluya yg mengajarkan teologi kemakmuran... dosen pembinanya pun dari gereja Haleluya... ini bikin saya gak sreg... malah saya ingatkan secara pribadi ke seorang kawan Katolik yg ikut persekutuan itu (di kampus kami baru ada persekutuan Kristen itu, belum ada untuk Katolik), "hati2 dgn kotbah pendeta di situ karena takutnya melenceng, aku yg Protestan saja banyak gak sepahamnya apalagi kamu yg Katolik", tapi niat dia cuma mau nyari teman sesama Kristiani makanya dia betah... kalo saya sih cukup 3x hadir di situ, habis itu gak lagi...

    ReplyDelete
  7. Jadinya setelah membaca tulisan ini, melihat bahwa ironi yang terjadi dikalangan saudara kita sendiri umat nasrani (katolik dan protestan, umumnya protestan) seperti rebutan jemaat yang menjadi rahasia umum . Gereja baru hadir dengan segala fasilitas, gereja lama sepi ditinggalkan. Sedangkan teman2 kita muslim tidak ada masalah dengan masjidnya. keluar kota ya solat disana, pergi jauh ya solat di masjid manapun mereka singgah,. Denominasi seperti tidak ada batasan, tidak ada rem, sesukanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu krn Islam yang di Indonesia hanya Sunni (Aswaja) saja. Kalau di Timur Tengah ada yang Syiah; itupun kmdn ada yang Ismaili, Druze, dll. Ahmadiyah pun mengaku dia itu Islam. Di Indonesia, mereka tumbuh sedikit, langsung ditekan, dikejar-kejar sampai mati atau lari.

      Delete
    2. Di Indonesia juga ada Syiah dan Ahmadiyah tapi penganutnya sangat sangat sedikit. Malah umat Syiah di Sampang Madura saat ini ditampung di pengungsian di Sidoarjo karena warga muslim setempat menganggap mereka menyimpang dari ajaran Islam yg benar. Para pengungsi Syiah ini bisa pulang kalau sudah taubat nasuha... kembali ke ajaran yg benar. Ini yg membuat masalah Syiah Sampang belum ada solusinya sampai sekarang.

      Orang2 Syiah asal Sampang dan Iran yang ditampung di rumah susun itu juga tidak ikut salat bersama umat Islam lain di Masjid Al Imam kompleks Puspa Agro. Mereka sembahyang sendiri bersama komunitasnya. Mengapa? Saya sungkan bertanya. Gak enak. Mungkin aja kayak jemaat Protestan yg tidak akan mau ikut misa di gereja katolik.. dan sebaliknya.

      Kalau mazhab atau aliran agama di suatu daerah tidak banyak, rasanya lebih kondusif (ini istilahnya aparat). Kalau mazhab atau denominasi banyak maka terjadi persaingan, saling kritik, rebutan jemaat dsb.. Tapi di internal jemaat yg mazhabnya sama pun pasti ada konflik kepentingan dsb. Selama manusia masih hidup ya pasti ada dualektika. Wong suami istri dalam rumah tangga aja sering berkelahi.. opo maneh antarsekte atau agama yg jelas2 beda paham.

      Delete
    3. Bung Lambertus yang budiman, di Amerika Serikat pun pada awalnya sekte-sekte dan denominasi Kristen yang lain pun tidak disukai dan dianiaya oleh aliran Protestan yang sudah mapan (yaitu Calvinist yang dibawa oleh para Puritan). Maka itu ketika umat Katolik pertama kali datang, mereka mendirikan koloni sendiri yang kemudian menjadi negara bagian Maryland. Ketika imigran dari Italia dan Irlandia datang, mereka tidak disukai oleh kalangan White Anglo Saxon Protestant (WASP) yang lebih kaya, karena mereka dianggap dekil dan tidak berpendidikan. Tetapi seiring waktu, bahkan John Kennedy menjadi presiden, dan sekarang Joe Biden menjadi wapres. Ketika Mormon baru berdiri, Nabi John Smith dan para pengikutnya dikejar-kejar sampai mereka harus long march dengan karavan dari Pantai Timur ke Utah, mendirikan koloni sendiri. Dalam perjalanan banyak yang mati, termasuk John Smith sendiri. Sampai tahun 1970an, kondisi keagamaan di USA pada umumnya sangat kental nuansa Protestan dan "injili"nya. Setelah revolusi sosial 1960-70an, masyarakat Amerika menjadi sangat sekuler (walaupun dalam UUD dari awal sudah tegas pemisahan negara dan agama). Di Indonesia, belum bisa, apalagi dengan bangkitnya roh Islam yang cenderung Salafi / Wahabbi.

      Delete