09 July 2013

Busana resmi gereja di Flores

Ibu-ibu dan nenek-nenek biasa mengenakan sarung dan kebaya.

Di kota-kota besar dan kecil di Jawa tidak aturan busana atau dress code ke gereja. Pakai pakaian macam apa saja boleh asal sopan. Pakai kaos oblong boleh. Kaos Persebaya atau Barcelona tak masalah.

Saya juga melihat cukup banyak jemaat yang tidak pakai sepatu. Sandal karet yang ringan dan murah banyak dipakai. Sepatu kets lebih banyak lagi.

Celana jins oke aja, bahkan cukup dominan. Para wanita pun kebanyakan pakai celana panjang baik jins maupun bukan. Umat Katolik di Jawa tampak casual, rileks, fresh, dan modis.

Karena itu, ketika mudik ke pelosok NTT, Lembata, saya terkejut bukan main. Saya ditegur karena pakai kaos batik oblong, celana jins, sepatu sandal. "Engkau mau ke gereja atau pesiar?" begitu kira-kira teguran beberapa orang.

Ah, baru kali ini saya ditegur blak-blakan. Suasana liburan pun jadi kurang enak. Sempat adu argumentasi, tapi saya ngotot berbusana seperti ke gereja katolik di Jawa. Bukankah Tuhan melihat hati kita?

Ternyata masalah busana misa ini juga ditegaskan lagi oleh bapak ketua stasi di mimbar. Dia mengingatkan bahwa busana ke gereja harus beda dengan ke pasar, pesta, piknik dsb.

Laki-laki harus pakai celana panjang kain, bukan jins. Sepatu kulit, bukan kets. Sandal atau sepatu sandal tak boleh. Baju harus kemeja pakai kerah. Bukan kaos oblong.

Wanita tidak boleh pakai celana panjang. "Kita harus sopan karena menghadap Tuhan. Bukan main-main atau rekreasi," kata ketua stasi.

Pantas saja suasana misa di kampung-kampung di Flores terasa sangat berbeda dengan di Surabaya atau Jakarta. Saya pun pangling dengan kebiasaan yang sudah lama saya tinggalkan itu.

Sayang, umat di kampung saya suka blak-blakan mengkritik orang yang pakai kaos oblong atau sandal ke gereja, tapi cenderung cuek terhadap orang-orang yang malas ke gereja. Tukang-tukang ojek sibuk cari uang, bergerombol di depan gereja. Sementara saya yang ikut misa malah dikritik karena busanaku dianggap kurang pantas.

Hikmah: tiap daerah punya dress code sendiri!

1 comment:

  1. om hurek, ini juga terjadi di kampungku di Tanah Batak, baik itu di gereja Protestan atau Katolik... masih ada anggapan bahwa wanita harus memakai kebaya atau gaun ke gereja, dan pria harus memakai jas (bahkan saya lihat di Gereja St Mikael Pangururan bapak2 ke gereja pakai jas dan ulos, seperti pesta perkawinan)... sedangkan di HKBP, baik itu di kampung ataupun di perkotaan seperti Jakarta, Bandung, Medan, masih ada anggapan bahwa wanita tidak boleh pakai celana ke gereja, harus pakai rok panjang... saya gak tau itu ajaran dari mana, padahal yg penting sopan dan tertutup... wanita pakai celana juga bisa terlihat sopan pakaiannya, gak ada yg salah...

    ReplyDelete