19 July 2013

Bahasa Jawa dilarang di kampus Widya Kartika


Rektor Universitas Widya Kartika, Surabaya, Dr Murphy Josua Sembiring belum lama ini mengeluarkan larangan bagi para dosennya menggunakan bahasa Jawa saat memberikan kuliah. Maklum, banyak mahasiswa di kampusnya yang berasal dari luar Jawa yang tidak paham bahasa Jawa. Bahkan, mahasiswanya keturunan Tionghoa, yang dominan di kampus itu, pun banyak yang kurang paham bahasa Jawa.

“Penggunaan bahasa Jawa itu menimbulkan perasaan tidak nyaman. Paling tidak, mahasiswa luar Jawa jadi susah mengerti penjelasan yang diberikan,” kata Murphy.

Murphy sendiri berasal dari Sumatera Utara, tepatnya Karo. Dia jelas cukup paham bahasa Jawa karena sudah lama menjadi warga Surabaya. Dulu, dia aktif melakukan advokasi bagi kalangan pekerja seks di Kota Surabaya. Namun, dia juga tinggal cukup lama di Jayapura, Papua.

"Jadi, saya bisa memahami kesulitan para mahasiswa Papua yang kuliah di Surabaya dan kota-kota lain di Jawa. Dosen-dosen di Jawa ini terlalu banyak menggunakan ungkapan bahasa Jawa," katanya.

Rupanya, Murphy Sembiring terlalu berlebihan. Seperti yang pernah saya alami selama bertahun-tahun, dosen-dosen di Jawa Timur sebetulnya memberikan kuliah dalam bahasa Indonesia standar. Bukan bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang disoroti Pak Rektor Uwika itu sebetulnya hanya beberapa ungkapan sederhana saja, guyonan, sekadar bumbu penyedap.

Bahasa Jawa tidak pernah dipakai untuk ragam formal, apalagi perkuliahan yang sangat akademis. Bahasa Jawa Suroboyoan apalagi. Justru ungkapan-ungkapan Jawa yang sederhana itu membawa suasana lebih intim dan gayeng. Orang Papua, Flores, Batak, Kalimantan, Sulawesi... pasti cepat menguasai kata-kata sederhana bahasa Jawa informal itu dalam waktu sangat singkat.

Berbeda dengan bahasa Jawa Pojok Kampung, sebutan bahasa Jawa Suroboyoan, bahasa Jawa standar tergolong sulit karena ada ragam ngoko, kromo madya, kromo inggil. Bahasa Jawa standar ini hanya dipakai di Jawa Tengah, Jogjakarta, dan beberapa daerah di Jawa Timur bagian barat alias Mataraman seperti Bojonegoro, Madiun, Ponorogo, Trenggalek, dan seterusnya.

Orang Surabaya, termasuk dosen-dosen Widya Kartika, setahu saya tidak fasih berbahasa Jawa Mataraman ini. Jangan heran, majalah berbahasa Jawa seperti Panjebar Semangat dan Joyo Boyo tak banyak dibaca orang Surabaya karena bahasa Jawanya dianggap asing dan sulit.

Saya kasih contoh petikan kitab suci Perjanjian Baru dalam bahasa Jawa:

"Ibu, sampun ndawuhi kula nindakaken menapa-menapa, jalaran samenika dereng dumugi wekdalipun."

Ayo, dosen-dosen Uwika yang terhormat, yang sebagian besar beragama Kristen/Katolik, apa artinya kalimat itu? Siapa yang mengucapkan? Di mana?

7 comments:

  1. Cina Jawa Amrik3:11 AM, July 20, 2013

    Saya Katolik dari Surabaya, keturunan Cina, jadi bahasa Jawa saya pun tidak bagus. Tetapi saya bisa menebak arti petikan kitab suci tersebut, yaitu dari pesta perkawinan di Kana, ketika Yesus diminta oleh Bunda Maria untuk menolong pesta kawin yang kehabisan anggur. Walaupun Yesus keberatan (seperti di petikan tsb), akhirnya Yesus pun mulai berkarya dengan dorongan Bunda.

    ReplyDelete
  2. 100 untuk Cak Amrik, tepat sekali. Wong Suroboyo yang sudah bertahun-tahun tinggal di Amrik ternyata bukan saja tahu bahasa Jawa tapi sangat paham konteks peristiwa kitab suci. Pantesan Amrik makin jadi kiblat gereja2 evangelis yg makin heboh di kota2 besar Indonesia saat ini. Jemaat gereja2 macam ini umumnya sangat hafal Alkitab khususnya tentang 10% hehehe....

    Salam sukses untuk Cak Amrik. Mugi2 Gusti Allah maringana rahmat lan katentreman marang sampeyan, amiiiiiin.

    ReplyDelete
  3. Cina Jawa Amrik4:24 AM, July 23, 2013

    Matur nuwun atas doanya. Amin. Saya tahu ayat itu bukan karena tinggal di Amrik, tetapi karena guru agama Katolik yang pandai bercerita di SD St Aloysius, namanya Agustinus Subijanto (sekarang pensiun setelah jadi guru SMP St Clara).

    Amerika memang pusatnya jemaat2 envangelical (injili). Saya sendiri pernah ikut persekutuan dengan golongan ini, tetapi tidak cocok karena saya tidak setuju dengan pemahaman alkitab secara harafiah, dan saya tidak suka dengan cara perekrutan yang agresif dan menjelek-jelekkan agama lain (terutama aliran Katolik dan mainstream lainnya). Tetapi tidak semua evangelical itu menganut paham teologi sukses. Tidak semua menyuruh jemaat menyumbang 10% ke gereja / pendeta.

    Omong2 saya di pesawat duduk di sebelah pastor baru pulang dari Spanyol belajar Alkitab sampai tingkat Magister. Namanya Iswadi Prajidno, orangnya asal Blitar, mungkin sekarang lagi tugas di Paroki St Yakobus. Coba diwawancarai akan jadi seru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suwun Cak Amrik. Kapan2 saya temui Romo Iswadi di Citraland ngomong2 pengalaman sinau di Spanyol. Sekalian takon balbalan di sana karena kebetulan saya suka Barcelona. Selamat kerja.

      Delete
  4. Shalom ma akum,
    wah obrolan yang asik neh, jujur saja pertama kali saya liat blog kaka sewaktu ada liputan kristen syria, salut karena biasanya (tidak semua) anak NTT banyak pake kalung salib besar tapi banyak mabuk, berantem dan jarang sosialisasi dengan lingkungan sekitar tapi Anda berbeda kaka, Anda bisa menulis bagus, omong2 soal bahasa Jawa dilarang di sebuah kampus yang berada di Surabaya, wah suru pulang aja tuh rektor ke sumatera kaka, saya yang punya darah Batak jadi tersinggung karena saya pernah kecil di Surabaya dan basa Jawa itu penting klo rektor itu cerdas harusnya dia boleh memperkenalkan basa Batak juga untuk menambah wawasan bukan melarang lalu soal kristen evangelical juga tidak soal melulu 10 persen wlpn ada beberapa hal yang saya kurang setuju tapi seharusnya orang katolik, lutheran juga bisa belajar bahwa gereja harus bertumbuh dan isi alkitab itu bukan monopoli pastor atau pendeta saja tapi awam harus bisa mengerti dan menjadi saksi bagi Kristus intinya aliran di kristen ini kurang komunikasi saja kaka, oh ya saya tugas di Bali sekarang klo kaka mo pulang ke NTT mungkin kita bisa bersua, ini alamat email saya:sunny.jangkang@gmail.com, terus berkarya dan Gbus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih bung Sunny yang sudah baca dan mengapresiasi beta pun tulisan sederhana. Orang NTT itu ya sama dengan orang Batak, Jawa, Sunda, Papua, dsb.. macam2lah karakternya. Ada yang senang mendhem, mabuk, ada yg senang baca Alkitab, baku pukul.. Gak bisa dipukul ratalah.

      Tapi NTT yg kering itu memang punya budaya lontar karena tanaman siwalan atau lontar yg tumbuh liar itu sangat dekat dengan keseharian penduduk. Siwalan menghasilkan nira yg bisa dibuat gula, manisan, tuak, arak, sopi. Celakanya kalau orang kecanduan tuak, mabuk melulu, tidak bisa kerja dan belajar.

      Masalah gereja2 Haleluya alias evangelical ini cukup kompleks dan sangat menggoncang Indonesia sejak pertengahan 1980an karena bersinggungan dengan internal (gereja2 lama) dan khususnya eksternal (Islam) khususnya di Jawa.

      Beda dengan HKBP, GKJW, gereja Toraja, atau Katolik yg babat alas dari nol, gereja2 karismatik Haleluya ini jemaatnya mengambil dari jemaat gereja2 lama. Jadi, umat kristiani di Indonesia itu berkembang sesuai deret hitung, sementara bangunan gerejanya melejit ala deret ukur. Diskusinya bisa sangat panjang.

      Salam damai.

      Delete
    2. shalom aleichem,

      thank's for posting, pertama maafkan saya tidak bermaksud menyamaratakan tipe orang NTT seperti itu, saya setuju klo tidak bisa di gebyah uyah gtu aja tapi secara prosentase faktanya banyak digambarkan seperti itu, koyo to: wong Batak itu banyak kerja di sektor bus jadi kenek, sopir sampai pemilik bus sendiri, pengacara, copet klo orang - orang dari timur banyak diasosiasikan jadi preman, penjaga diskotek, tukang pukul bahkan yang paling miris adalah orang papua diasosiakan orang ketinggalan jaman dan tidak punya moral, lah yo miris to kaka segragasi sosial di Indonesia ini, apalagi sampai keluar dari mulut rektor.

      klo masalah gereja bertumbuh secara deret ukur menurut saya dialog adalah kuncinya, karena gereja karismatik di Amerika dan Indonesia punya konteks yang berbeda, gereja - gereja di Eropa, Amerika, Australia beda geraknya dengan di Amerika latin, filipina, korsel dan apalagi di timur tengah klo boleh diambil dua kasus supaya sederhana, gereja di Eropa dan Amerika pecah dari katolik roma karena sejarah politik, perkembangan filsafat dan juga ada kesalahan oknum gereja tapi bagi gereja dimana kristen adalah minoritas seperti di Indonesia dan timur tengah beda.

      di sini tradisi masih dipegang kuat, tapi sebagian dari mereka gebyah uyah saja sehingga konflik timbul sewaktu saya kecil di Surabaya aliran gereja yang saya tau cuman katolik dan GPIB imanuel deket blauran klo ga salah sama satu lagi aliran pentakosta yang pake band tapi pasca orba turun banyak macamnya, sampai binggung saya terkadang.

      menariknya aliran ini mengatas namakan Roh Kudus dan yang paling sering diserang adalah orang katolik saya juga ga tau kenapa kaka, apa mungkin masih ada dosa warisan pasca reformasi gereja yang belum selesai sehingga seakan - akan generasi yang akan datang yang kena getah perpecahan ini, sampai saya baca Alkitab lagi dan saya tidak menemukan sebenarya apa landasan perpecahan di kalangan kristen ini, karena inti dari perjanjian baru adalah percaya Yesus dan juga yang tak kalah penting adalah: mengamalkan 10 perintah Allah, puasa, bersedekah, dll, nah sewaktu saya pigi gereja karismatik tetep saja kredo pembukanya adalah dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, lalu apa yang berbeda, yang berbeda adalah beban psikologis manusia abad 21 menurut orang2 karismatik sudah tidak bisa diatasi oleh ritus2 seperti di katolik dan GPIB, GKI dianggap kuno terlalu panjang, ngelus dodo ak dadine kaka apalagi ada aliran yang mengugat LAI nga boleh pake nama Allah dengan sejumlah argumen, tdk mau merayakan Natal wah2 saya yang besar di dua budaya yang punya Oma Arab dan Indonesia sampai binggung menyelami pemikiran aliran2 ini, kristen sudah kehilangan buah roh dan semangat sahabat dari Amsal 17:17, tapi saya percaya bahwa gerakan Oukumenis dalam kepelbagaian denominasi gereja yang sdh berlangsung di Jakarta pada bulan Mei akan membawa efek bukan sebagai penyatuan aliran tapi memahami bahwa Yesus itu tidak terbagi dulu, sekarang dan selamanya, seperti rasul petrus, paulus dan apolos tidak ada yang lebih tinggi, ada yang membangun ada yang menanam karena ketika gereja dilarang, dibakar si pembakar tidak peduli apa alirannya, saya percaya gereja harus dialog dan mencetak orang2 seperti romo carolus atau romo cilacap, Pdt. Frits Manuputy, Pdt Budi (dari Papua) orang yang sederhana, tekun dan juga perlu untuk direnungkan pesan Paus Benediktus pada Natal tahun 2012 bahwa tanah subur itu ada, jangan hilang harap untuk dialog. kaka klo ada artikel ttg Papua menarik juga itu dibahas ttg komunitasnya yang saya tau jarang tulisan anak papua. terus berkarya, jaga kesehatan and Gbu

      Delete