29 July 2013

Ahok dan Pembunuhan Akal Sehat

Di negeri ini terjadi pembunuhan akal sehat secara besar-besaran. Pak Dahlan Iskan, yang sekarang menteri  BUMN, menulis di bukunya yang berjudul MENEGAKKAN AKAL SEHAT, begini:

"Akal sehat yang tidak pernah digunakan lama-lama akan mati juga. Lalu, lama-lama sesuatu yang tidak masuk akal sehat dikira sudah sehat. Lama-lama lagi orang yang berakal sehat menjadi kelihatan aneh sendirian."

Rupanya inilah yang sedang terjadi di Jakarta. Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama, wakil gubernur DKI Jakarta, dinilai tidak waras oleh Abraham, anggota DPRD Jakarta. Abraham meminta Ahok memeriksa kesehatan jiwanya ke rumah sakit. 

Ahok menjawab santai, "Saya memang sedikit sakit jiwa." Menurut pejabat yang sering bicara lurus, tegas, blakblakan, ini, mengurus Jakarta yang sudah ruwet perlu pejabat yang sedikit gila. 

Persoalannya sederhana saja. Gubernur dan wakilnya sedang serius membenahi kemacetan di Jakarta. Para pedagang kaki lima selama puluhan tahun berjualan di jalan raya. Makin lama makin banyak PKL yang jualan meskipun jalan raya itu fungsinya bukan untuk berjualan. Sementara para PKL itu, begitu yang saya ikut di media, sudah disedikan tempat di Blok G Tanahabang.

Ahok yang masih antusias, penuh energi, rupanya ingin menegakkan akal sehat yang sudah mati puluhan tahun di Jakarta itu. Para PKL mau dikembalikan ke Blok G, yang selama ini tidak dipakai. Sementara jalan raya dikembalikan ke fungsinya buat lalu lintas kendaraan bermotor. Anak TK juga tahu bahwa jalan raya itu bukan tempat berdagang.

Sederhana sekali!

Tapi begitulah jadinya kalau akal sehat dibunuh secara massal selama bertahun-tahun. Pak Abraham, anggota parlemen yang mengklaim wakil rakyat, rupanya ikut larut dalam gelombang akal yang tidak sehat itu. Maka, ketika Ahok ingin menegakkan akal yang benar-benar sehat, dia menjadi kelihatan aneh sendiri. 

Ahok malah dianggap tidak waras oleh si Abraham. Sementara ratusan, bahkan ribuan pedagang, yang berjualan di jalan raya malah dianggap sehat. Benar juga celetukan Ahok itu: "Saya memang sedikit sakit jiwa!"

Sebelum jadi dirut PLN, kemudian menteri BUMN, Pak Dahlan Iskan sudah menulis banyak kasus pembunuhan akal sehat di Indonesia. Ada pembunuhan akal sehat di sepak bola, bandara, bahan bakar minyak, birokrasi, kereta api, partai politik, jalan tol, hingga pidato pejabat yang membosankan.  

27 July 2013

Not Angka dan Not Balok di Gereja



"Aku benci baca not angka!" Begitu tulisan seorang pianis remaja 12 tahun di Surabaya di blognya. 

Benci not angka? Bukankah not angka lebih mudah? Mungkin orang-orang awam, yang bukan pemusik, heran. Tapi memang para pemusik profesional, khususnya yang ikut kursus musik klasik sejak usia empat atau lima tahun, not angka itu sangat buruk. Tak cocok untuk menotasikan musik yang kompleks.

"Baca not angka itu gak asyik, malah bisa kacau permainan kita," kata remaja belasan tahun, Tionghoa Surabaya, yang sering curhat di Twitter itu. Dia merasa aneh mengapa di Indonesia ini orang masih menggunakan not angka untuk menulis lagu, bahkan musik.

Salah kaprah not angka ini memang sudah berlangsung selama puluhan, bahkan ratusan tahun, di Indonesia. Contoh paling jelas adalah buku-buku nyanyian liturgi atau gerejawi di Indonesia. Kebetulan saya sudah lama memelototi buku-buku nyanyian gerejawi dari berbagai denominasi gereja di Indonesia.

Di lingkungan Katolik, buku MADAH BAKTI atau PUJI SYUKUR yang dipakai di Jawa saat ini menggunakan not angka. Buku nyanyian JUBILATE, kemudian direvisi menjadi YUBILATE, yang dipakai di Flores sejak tahun 1950-an pun bernot angka. 

Buku SYUKUR KEPADA BAPA yang dipakai ketika saya masih SD dan SMP di Flores pun pakai not angka. Buku yang lebih tua lagi seperti KANTAR SERANI di Flores Timur pun not angka. Buku KIDUNG ADI untuk nyanyian liturgi umat Katolik di Jawa yang berbahasa Jawa pun pakai not angka.

Orang-orang di kampung saya, pelosok Flores Timur, malah tidak mengenal not balok. Tapi, kalau dikasih partitur not angka, mereka bisa langsung menyanyikan dengan baik. Maka, tidak heran sebagian besar orang Flores yang tinggal di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Papua, Malaysia Timur selalu menjadi anggota paduan suara, bahkan pelatih kor. Coba dikasih partitur not balok, saya jamin orang-orang Flores itu tak akan bisa membaca dengan lancar.

"Kalau pakai kunci C atau G beta masih bisa membaca karena masih sederhana. Tapi kalau sudah dua kres, dua mol, apalagi yang lebih dari tiga kres atau tiga mol... hancurlah beta," kata beta punya teman asal NTT.

Di lingkungan gereja-gereja bukan Katolik seperti Protestan, Pentakosta, Baptis, Advent, Karismatik, Bala Keselamatan... pun buku-buku nyanyiannya pakai not angka. Buku KIDUNG JEMAAT atau NYANYIAN KEMENANGAN IMAN atau buku kidungan berbahasa Jawa di GKJW pun pakai not angka. 

Di gereja-gereja aliran karismatik alias Gereja Haleluya malah tidak ada buku nyanyian resmi. Tidak ada notasi angka atau balok. Yang ada cuma tayangan syair di layar besar. Jemaat yang hadir cukup menirukan lagu yang dibawakan si pemimpin pujian. Toh, puji-pujian ala karismatik ini biasanya dinyanyikan berulang-ulang dalam waktu yang lama.

Satu-satunya gereja di Indonesia yang buku nyanyiannya pakai not balok adalah gereja-gereja komunitas Tionghoa. Misalnya, Gereja Kristen Abdiel dan Gereja Kristus Tuhan di Surabaya. Lagu-lagu di gereja Tionghoa itu ditulis dalam partitur yang lengkap. Partitur paduan suara, sopran, alto, tenor, bas ditulis dengan not balok.

"Pianis profesional akan lebih mudah memainkannya daripada pakai not angka," ujar seorang tokoh gereja Tionghoa di Surabaya, yang juga guru musik klasik terkenal, kepada saya. 

"Not angka itu hanya cocok untuk anak-anak," sang musisi ini menambahkan. 

Para pemusik klasik, khususnya anak-anak dan remaja, yang saya temui mengaku lebih gampang membaca not balok ketimbang not angka. Sebaliknya, orang awam, bahkan pemimpin paduan suara di gereja-gereja, yang tak pernah belajar musik klasik secara formal dan informal, malah sama sekali tidak bisa membaca not balok. Ini tergantung pembelajaran sejak usia dini.

Ada baiknya pembelajaran musik di sekolah-sekolah di tanah air lebih menekankan not balok. Bukan apa-apa. Di negara-negara lain not angka ini tidak dikenal, termasuk di gereja. 

Sejumlah mahasiswa Katolik atau TKI yang beragama Katolik di Taiwan sering curhat di internet hanya karena tidak mampu membaca not balok di buku nyanyian liturgi di Taiwan. 

"Di Gereja Katolik di Kota Taipei ini lagu-lagunya ditulis dengan not balok. Not angkanya enggak ada. Wong not angka aja aku enggak lancar baca, opo maneh not balok," kata seorang gadis, mantan dosen sebuah universitas swasta di Surabaya, yang sedang menempuh pendidikan doktoralnya di Taiwan.

Timnas Indonesia makin mengerikan



Pitiful opponents do not make for a contest. Indeed, you suspect the Chelsea players were more troubled by the mosquitoes than the Indonesian All Stars.

Begitu tulisan Martin Lipton, analis sepak bola Inggris, di tabloid THE MIRROR membahas pertandingan uji coba Chelsea melawan Indonesia All Stars. Indonesia dibantai 8-1 oleh klub asuhan Jose Mourinho itu.

Dengan gayanya yang khas, Martin Lipton mengatakan, pemain-pemain Chelsea yang cuma bermain-main itu lebih terganggu oleh nyamuk ketimbang pemain-pemain timnas kita yang berjuluk Indonesia All Stars itu. 

"Melihat Ryan Bertrand berlari sesuka hatinya di belakang bek kanan Indonesia, sementara Hazard leluasa memeragakan semua triknya, dan  pemain lainnya bermain dengan nyaman, itu membuat The Special One tidak banyak belajar pada laga tersebut," kata Lipton dalam analisisnya di The Mirror.

Begitulah. Kita baru saja menertawakan timnas Tahiti yang jadi bulan-bulanan lawan di Piala Konfederasi 2013, Brasil. Koran-koran di tanah air pun membuat tulisan yang lucu untuk menertawakan kemampuan pemain-pemain Tahiti yang sangat jauh di bawah tiga lawannya: Nigeria, Spanyol, dan Uruguai. 

Kita seakan lupa bahwa timnas Indonesia pun sebetulnya sama buruknya dengan Tahiti. Bahkan lebih buruk mengingat yang dihadapi tim Garuda ini bukan Chelsea atau Arsenal yang turun full team. Oscar, Matta, David Luiz, masih berlibur setelah tampil di Piala Konfederasi. Tapi timnas kita benar-benar kewalahan.

Sejak dulu saya memang pesimistis melihat permainan timnas Indonesia. Tak usahlah kita membahas lawan-lawan kelas superberat macam Chelsea, Liverpool, atau Arsenal. Melawan Malaysia saja pemain-pemain kita sulit berkembang. Kalah kelas. Saya tak pernah lupa gol-gol mudah Malaysia ke gawang Indonesia.

Lantas, mau dibawa ke mana timnas Indonesia ini?

Jacksen Tiago, pelatih timnas saat melawan Liverpool, meminta PSSI dan pihak-pihak terkait mulai memikirkan secara serius seperti apa kira-kira timnas lima tahun ke depan. Apa saja yang harus dilakukan untuk membentuk kesebelasan yang tangguh pada 2018-2019. Roda kompetisi macam apa yang harus diputar. Dan sebagainya.

Kalau tidak ada desain timnas, maka Indonesia tetap akan terpuruk seperti sekarang. Bukan tidak mungkin lima tahun lagi Indonesia jadi bulan-bulan Timor Leste, negara baru yang selama 25 tahun pernah menjadi provinsi ke-27 Republik Indonesia.    

26 July 2013

Tionghoa Flores Timur Membaur Total

TIONGHOA LAMAHOLOT: Bupati Yance Sunur bersama istri (dr Margie Kandou) dan putrinya.

Sebagai putra asli Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, saya tak melewatkan begitu saja berita-berita yang saya anggap menarik dari NTT. Dalam sebuah liputan di internet, kemudian televisi, pekan lalu (14/7/2013), Kepala Dinas Kementerian Agama Kabupaten Lembata, Dorothia Nahak, membeberkan data penduduk berdasar agama. 

Seperti sering saya jelaskan sejak dulu, agama di Flores Timur (dulu Lembata ikut Kabupaten Flores Timur) sebetulnya hanya ada TIGA. Yakni Katolik yang mayoritas, Islam, dan agama asli atau bisa disebut agama leluhur orang Lamaholot yang menyembah LERA WULAN TANA EKAN (Sang Pencipta Alam Semesta). Agama leluhur ini makin tergusur, dan akan habis, setelah masuknya agama Islam dan Katolik.

Agama Kristen Protestan (Pentakosta, Baptis, Advent, Karismatik, dsb) dulu tidak ada di Flores Timur. Tapi masuknya pegawai negeri, anggota TNI/Polri, pedagang, dan sebagainya dari luar Flores ke Lembata ikut membawa agama Kristen Protestan. Saat ini pemeluk Kristen sudah mencapai 1.920. Begitu juga kedatangan orang Bali yang membawa agama Hindu. Di Lembata terdapat 73 jiwa yang beragama Hindu.

Yang paling menarik buat saya adalah agama Buddha. Data Kementerian Agama menyebut penganut Buddha di Lembata hanya TIGA orang. Saya menduga tiga orang ini warga keturunan Tionghoa yang baru datang dari luar NTT. 

Menarik, karena sejak zaman dulu banyak warga keturunan Tionghoa yang sudah membaur dan berakar di Lembata. Bahkan, saat ini bupati Lembata pun orang Tionghoa bernama Baba Yance Sunur. Anggota DPRD Lembata yang Tionghoa pun ada beberapa. Hubungan antara Tionghoa dengan Lamaholot (suku asli kayak saya ini) sangat cair. 

Orang Tionghoa di mana pun biasanya sangat kokoh memelihara tradisi dan budaya leluhurnya. Meja-meja altar, foto-foto leluhur, biasanya ada di rumah. Tradisi Taoisme, Konfusianiasme, kemudian dibalut Buddhisme tidak bisa dipisahkan dari warga Tionghoa. Sama dengan orang Katolik di Flores Timur yang tak bisa dipisahkan dari tradisi Lamaholot dengan rujukan pada LERA (matahari) WULAN (bulan) TANA (bumi) EKAN (lingkungan) pada era pra-Katolik dan pra-Islam itu. 

Lantas, mengapa tidak ada umat Buddha di Lembata, yang asumsinya pasti keturunan Tionghoa? Fakta ini menunjukkan bahwa orang Tionghoa di Lembata dan Flores Timur memang sudah melebur dengan bumiputra. Sama-sama menganut agama Katolik. Bahkan, saya lihat sering pula menghadiri ritual adat khas Lamaholot pesta kacang alias pesta panen di kampung lama. 

Orang Tionghoa di Flores pun bicara dalam bahasa daerah atau Melayu Larantuka, sejenis bahasa Indonesia versi lokal di Flores Timur dan Lembata. Bahkan, logat orang Tionghoa di Lembata dan Larantuka ini biasanya lebih tajam daripada orang-orang kampung. Pembauran Tionghoa-Lamaholot yang luar biasa karena terjadi kawin-mawin sejak beberapa generasi. 

Baba Yance, bupati sekarang pun, punya keturunan asli Lamaholot. Oh ya, semua laki-laki Tionghoa di Flores Timur disapa BABA dan wanitanya dipanggil NONA. Bahkan, wanita Tionghoa yang sudah tua pun tetap dipanggil NONA. Mungkin karena istilah NYONYA belum dikenal orang-orang di sana tempo doeloe yang penguasaan bahasa Melayu pasarnya memang masih terbatas.

Itu sebabnya, sejak dulu tidak ada kelenteng atau vihara atau kuil atau pagoda, atau tempat sembahyang agama Tionghoa, di Lembata. Saya lihat orang-orang Tionghoa malah jauh lebih aktif di Gereja Katolik, jadi pengurus ini-itu, rajin berdoa, kalau di gereja berdoanya lebih lama ketimbang orang-orang pribumi Lamaholot seperti saya. Bahkan, sering lebih lama daripada pastor, bruder, frater, atau suster.

Yah, pantas saja kalau hari ini, 2013, orang Tionghoa yang beragama Buddha (termasuk Khonghucu) di Kabupaten Lembata hanya tiga orang. 

25 July 2013

Murpin Sembiring Rektor Universitas Widya Kartika Surabaya



Banyak orang yang terkejut ketika mendengar berita baha Murpin Josua Sembiring dilantik sebagai rektor Universitas Widya Kartika, Surabaya. Maklum, doktor ekonomi lulusan Pascasarjana Universitas Airlangga ini sebelumnya tak pernah berhubungan dengan kampus di kawasan Sutorejo, Surabaya, itu. Selama ini Murpin lebih banyak mengurus koperasi, LSM, Kopertis VII, atau mengisi sejumlah seminar.

"Pemilihan rektor Universitas Widya Kartika kali ini memang mengikutsertakan kandidat-kandidat dari luar. Kami diseleksi secara ketat, kemudian menjalani fit and proper test. Puji Tuhan, saya akhirnya diberi kepercayaan untuk mengelola sebuah universitas," kata pria yang akrab disapa Murphy Sembiring itu.

Begitu dilantik pada 1 Mei 2013, Murpin langsung bergerak untuk melakukan sosialisasi program kerjanya baik di kalangan internal maupun eksternal kampus. Termasuk mengunjungi kantor redaksi sejumlah media massa di Surabaya. Meski hanya punya tiga fakultas (teknik, bahasa, dan ekonomi), dengan sekitar 800 mahasiswa, menurut Murpin, mahasiswa Uwika sudah banyak mencetak prestasi akademik yang memuaskan.

"Kami baru saja terpilih sebagai salah satu pemenang dalam Anugerah Kampus Unggulan 2003 di Jawa Timur. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk lebih bergairah dalam memajukan universitas ini," kata suami Renny Rahayu ini.

Menurut Murpin, para dosen dan semua staf rektorat kampus milik yayasan yang diketuai Kresnayana Yahya ini juga bertekad menjadikan perguruan tinggi sebagai ajang penggemblengan para calon entrepreneur di berbagai bidang. Ini juga sesuai dengan idealisme Murpin yang dulu, ketika belum menjadi rektor, sering mengkritik perguruan tinggi di tanah air sebagai pencetak para penganggur intelektual itu.

Nah, di kampus Uwika, Murpin melihat iklim untuk membentuk jiwa kewirausahaan (entreprenership) sangat kondusif. Maklum, sekitar 60 persen mahasiswa Uwika adalah keturunan Tionghoa yang sudah terbiasa berkecimpung di dunia usaha. "Mahasiswa-mahasiswa keturunan Tionghoa itu dari sononya memang sudah dididik jadi entrepreneur. Mahasiswa-mahasiswa lain bias belajar dari mereka," katanya.

Murpin menambahkan, Uwika juga merupakan universitas pertama di Jawa Timur yang membuka jurusan bahasa Mandarin di Jawa Timur. Mereka juga sudah menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Tiongkok untuk program dual degree. Kerja sama itu sudah berjalan dengan baik dan akan terus dikembangkan.

"Bahasa Inggris dan Mandarin saat ini sudah menjadi tuntutan globalisasi. Makanya, saya ingin semua lulusan Uwika dari fakultas mana pun punya sertifikat TOEFL dan HSK (Mandarin). Syukurlah, alumni kami tidak kesulitan memasuki pasar kerja," katanya. (rek)





Prihatin Kedaulatan Pangan yang Hilang
 

Setiap tahun selama bulan puasa hingga Lebaran kita selalu mengalami kelangkaan pangan. Harga bahan-bahan pokok hingga bumbu masak seperti cabai, bawang merah, dan bawang putih melonjak tajam. Masalah ini selalu dibahas tapi belum ada solusi yang memuaskan.

Ditemui di  ruang kerjanya, Jumat (19/7/2013) siang, Dr Murpin Josua Sembiring, rektor Universitas Widya Kartika, yang juga Ketua DPW Asosiasi Koperasi Ritel Indonesia (Akrindo) Jawa Timur ini mengaku prihatin dengan manajemen stok pangan nasional. Dia pun sangat menekankan pentingnya kedaulatan di bidang pangan.

Bagaimana Anda melihat kelangkaan pangan saat bulan puasa seperti sekarang?

Itu sih lagu lama yang selalu berulang dari tahun ke tahun. Kita punya pemerintah, menteri-menteri terkait, tapi masalah lama ini masih terus terjadi. Menurut saya, persoalan pangan ini sangat memprihatinkan mengingat Indonesia ini negara agraris. Negara kita yang sebenarnya punya lahan pertanian, perkebunan, dan peternakan yang sangat luas. Masak kalah sama Singapura yang tidak punya lahan pertanian sama sekali.

Lantas, persoalannya di mana?

Manajemen stok kita sangat lemah. Bulan puasa, kemudian disusul Idul Fitri itu peristiwa rutin dari tahun ke tahun. Siapa pun tahu bahwa permintaan bahan pangan pada bulan puasa dan Lebaran meningkat sangat tajam. Kalau kita punya manajemen stok yang bagus, maka pemerintah sudah bisa melakukan langkah antisipasi sejak beberapa bulan sebelumnya. Harus dipastikan bahwa stok bahan-bahan kebutuhan pokok aman. Kalau manajemen stoknya lemah, ya, kita dipermainkan para spekulan di pasar bebas.

Mengapa pemerintah tidak mengantisipasi kelangkaan pangan yang memicu kenaikan harga?

Di situlah permainan para spekulan alias pengusaha-pengusaha tertentu yang main mata dengan oknum penguasa. Pemerintah, dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus bertindak tegas. Presiden harus turun tangan karena persoalan pangan ini sudah menyangkut soal kedaulatan bangsa.

Maksudnya?

Begini. Undang-Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012 itu secara jelas menyatakan bahwa asas utamanya adalah kedaulatan. Kita harus berdaulat di bidang pangan. Selama ini kalau ada persoalan stok, kemudian kenaikan harga, pemerintah biasanya mengatakan, tenang, jangan khawatir, stok kita aman. Berapa pun yang diminta pasar akan kita pasok. Tapi, jangan lupa, pemerintah masih selalu menggunakan mekanisme impor untuk mengatasi kekurangan stok di dalam negara. Kita jadi terbiasa dengan budaya mengimpor, lupa dengan kedaulatan pangan yang ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 itu.

Bayangkan, Indonesia yang katanya negara agraris harus mengimpor cabai, bawang merah, bawang putih, beras, buah-buahan, garam, dan sebagainya. Anehnya lagi, ketika petani garam di Madura sedang panen garam, kita malah mengimpor garam dalam jumlah besar. Lalu, di mana kedaulatan kita di bidang pangan?

Bagaimana dengan peran Bulog?

Sejak reformasi ini peran Bulog tidak lagi dominan seperti saat Orde Baru. Dulu ada tujuh atau sembilan bahan pokok yang wajib dikawal oleh Bulog. Tapi belakangan tinggal beras saja yang disangga oleh Bulog. Bahan-bahan pangan kita diserahkan begitu saja ke pasar bebas. Sementara kita tidak punya aturan yang ketat seperti di Malaysia untuk menjerat para spekulan yang memanfaatkan momentum bulan puasa dan Lebaran untuk memainkan harga di pasar.

Saya baru saja berdiskusi dengan seorang ekonom dari Malaysia tentang masalah ini. Di Malaysia, tidak ada gejolak harga dan persoalan stok selama bulan puasa dan hari raya. Begitu terjadi kenaikan harga yang tidak masuk akal, si pengusaha langsung diusut, dicari akar penyebabnya. Para spekulan yang hanya cari untung akan dipenjara dan didenda ribuan ringgit. Nah, di Indonesia kita belum punya mekanisme seperti itu.

Bagaimana dengan harga daging sapi yang melejit itu?

Nah, persoalan daging ini agak khusus di Jawa Timur dan Indonesia umumnya. Di lapangan stok sapi sebetulnya mencukupi, tapi tidak bias jadi daging.

Mengapa?

Peternak-peternak kita tidak mau melepas karena ternaknya itu dijadikan investasi. Dia mau lepas kalau memang sudah betul-betul membutuhkan uang tunai. Makanya, saya ingin agar pemerintah daerah punya semacam BUMD yang menangani peternakan sapi hingga budidaya cabai atau bawang. Sehingga, ketika terjadi kelangkaan stok seperti sekarang, pemerintah daerah punya senjata untuk masuk ke pasar. Di era otonomi daerah ini mestinya pemerintah daerah pun mulai serius memikirkan manajemen stok pangan. Ini juga sekaligus untuk menggairahkan produksi pertanian di daerah. Kalau kita sedikit-sedikit bergantung pada pangan ekspor, ya, habislah kita. (*)

CV Singkat Murpin

Nama : Murpin Josua Sembiring
Sapaan : Murphy
Lahir : Binjai, Sumatera Utara, 4 Februari 1962
Istri : Reni Rahayu
Anak : Geovani Carolina Sembiring, Gita Malinda Sembiring, Gareth Pindota Sembiring
Hobi : Tenis dan catur
Jabatan : Rektor Universitas Widya Kartika, Surabaya

PENDIDIKAN

SD Pancurbatu, Medan
SMP Kabanjahe, Sumatera Utara
SMAN Bandung
FE Universitas Cenderawasih, Papua
Pascasarjana Universitas Airlangga
Doktoral Universitas Airlangga

AKTIVITAS ORGANISASI

- Direktur LSM Prospana Surabaya
- Koordinator Dosen Kopertis VII
- Staf Koalisi Jatim Sehat
- Majelis GKI Manyar Surabaya
- Ketua DPW Asosiasi Koperasi Ritel Indonesia (Akrindo) Jatim.
- Pengurus Dewan Koperasi Indonesia Kota Surabaya.
- Komite Tetap Manajemen dan Kewirausahaan Kadin Kota Surabaya

Moto : Together Everyone Achieve More


Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 21 Juli 2013 

Barcelona dan Real Madrid makin loyo

Kredit foto: kompas.com

Melihat siaran langsung pertandingan Bayern Munchen vs Barcelona di televisi, Kamis 25 Juli 2013, saya sedih. Sebagai penggemar Barca, saya kecewa melihat permainan tim yang baru ditinggal pelatih Tito Villanova itu. Permainan cepat dari kaki ke kaki, tiki-taka, pergerakan cepat, kepiawaian membuka ruang... hampir tidak ada.

Messi pun tak bisa berbuat banyak. Betul, ini cuma uji coba. Betul, banyak pemain utama Barca tidak ikut bermain. Betul, pelatih baru, Tata, tidak berada di pinggir lapangan. Tapi ini Barca, Bung! Kesebelasan yang enam tahun terakhir sulit ditaklukkan di dunia, termasuk Barcelona B. 

Kerja sama antarlini, kepiawaian lini tengah, tak terlihat pada pertandingan itu. Barca jadi bulan-bulanan Bayern Munchen. Kita masih ingat Barca belum lama ini dipecundangi dua kali di Liga Champion dengan agregat tujuh gol tanpa balas. Itulah tanda-tanda awal hilangnya keajaiban tika-taka yang pernah memukau jutaan penggemar bola di seluruh dunia.

Lantas, bagaimana peluang Barcelona di La Liga alias Liga Spanyol?

Apa pun kelemahan Barca musim ini, rasanya Barca masih the best di Spanyol. Satu-satunya pesaing abadinya tetap Real Madrid. Klub-klub La Liga yang lain, yang memang sudah lemah, semakin lemah setelah ditinggal pemain-pemain bintang ke Inggris atau Italia. 

Tapi Real Madrid pun sebetulnya tidak lebih baik daripada Barcelona. Bahkan, saya melihat Madrid justru makin jelek setelah dipegang Jose Mourinho selama tiga tahun. Sering salah passing, penguasaan bola sedikit, sistem serangan balik, kerja sama sangat buruk. 

Pelatih baru, Carlo Ancelotti, pun rasanya tak akan banyak membantu. Ketika melatih Chelsea pun permainan The Blues tidak begitu bagus. Bahkan, Ancelotti sampai dipecat karena kualitas Chelsea terus menurun. Sering kalah melawan klub-klub papan tengah dan bawah.

Yah, Barcelona hampir pasti akan jadi juara lagi di Spanyol. Tapi menurunnya kualitas Real Madrid dan Barcelona akan membuat La Liga tidak lagi menarik ditonton. Justru Bayern Munchen yang saat ini menjadi klub yang uber alles. 

Foto EKSKLUSIF di banyak media?

Sumber: mirror.co.uk

Editor berita di televisi sering kurang cermat menyunting naskah, khususnya berita-berita larut malam. Biasanya muncul kata-kata yang kurang pas. Contohnya berita larut malam tvOne tentang bayi Kerajaan Inggris yang disambut meriah rakyat Inggris.

Saat jeda siaran langsung pertandingan Bayern Munchen vs Barcelona di Kompas TV, Kamis 25 Juli 2013, dini hari, saya pun beralih ke tvOne. Si penyiar cantik membaca berita kira-kira demikian bunyinya:

Sejumlah media berhasil mendapat foto eksklusif sang bayi kerajaan....

Lalu, diperlihatkan gambar belasan surat kabar, tabloid, di London yang memuat foto the royal baby di halaman depannya. Hehehe.... Saya pun tertawa sendiri mendengar kekurangcermatan sang penyunting naskah berita di stasiun televisi yang doyan menyiarkan iklan politik ARB itu.

Apanya yang eksklusif? 

Begitu banyak media yang memuat foto yang sama. Sebuah foto atau berita dikatakan eksklusif kalau hanya satu media saja yang dapat. Kalau dimuat ramai-ramai di banyak media, ya, jelas tidak eksklusif. 

Sudah jelas bahwa foto itu hasil jepretan fotografer kerajaan, kemudian dibagikan kepada para wartawan. Bisa jadi hasil jumpa pers. Bisa jadi foto bayi kerajaan itu dikirim ke berbagai media. 

Dalam persaingan yang makin ketat ini, media-media semakin sulit mendapatkan berita atau foto atau video yang eksklusif. Simak saja berita-berita di koran, majalah, televisi, atau internet. Hampir tidak ada lagi liputan yang bisa dikategorikan EKSKLUSIF. Begitu sebuah situs berita menayangkan sebuah berita menarik, maka situs-situs yang lain pun akan mengekor dengan membuat berita serupa.

Celakanya lagi, mental wartawan untuk mendapat liputan-liputan eksklusif, termasuk reporter televisi, makin tipis di era internet ini. Jangan heran gambar atau video yang muncul di televisi A juga muncul di televisi B, C, D, dan seterusnya. Begitulah semangat gotong-royong reporter di lapangan yang memang senang membagi-bagi gambar dan informasi kepada temannya. 

Salam eksklusif!   

Pengusaha Tionghoa Apresiasi Gubernur Soekarwo

Alim Markus, sesepuh pengusaha Tionghoa, buka puasa bersama Gubernur Soekarwo, Wagub Saifullah Yusuf, dan Ketua Kadin Jatim La Nyalla Mattalitti.

Di mata pengusaha Tionghoa, duet Soekarwo-Saifullah Yusuf sudah membuktikan diri sebagai pemimpin Jawa Timur yang berhasil. Karena itu, pasangan inkumben yang berjuluk KarSa ini sangat layak untuk melanjutkan kepemimpinan untuk lima tahun mendatang.

"Kita melihat Pak Karwo dan Gus Ipul ini sebagai pemimpin yang baik. Makanya, kalau ditanya siapa yang kita inginkan, ya, tentu saja kita akan memilih pemimpin yang baik," kata Liem Ouyen, koordinator Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya, kepada saya.

Dalam bakti sosial Ramadan di markas Kodim Surabaya Utara ini, Liem Ouyen didampingi Ridwan Harjono, ketua Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghoa Jawa Timur, dan belasan pengusaha Surabaya. Paguyuban ini menghimpun sekitar 70 komunitas Tionghoa di Kota Surabaya. Setiap bulan puasa, Liem dan kawan-kawan aktif mengadakan bakti sosial berupa pembagian bingkisan bahan pokok kepada warga tak mampu.

Sebagai pengusaha, menurut Liem Ouyen, pihaknya melihat Gubernur Soekarwo dan Wakil Gubernur Gus Ipul sukses mengembangkan perekonomian di Jawa Timur. Ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi Jatim yang mencapai 7,27 persen atau lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional. Jawa Timur bahkan menjadi barometer ekonomi nasional.

"Dari angka pertumbuhan ekonomi itu saja sudah jelas bahwa Pak Karwo dan Gus Ipul itu merupakan pemimpin yang sukses. Nah, momentum pertumbuhan yang tinggi itu harus dilanjutkan karena tantangan kita ke depan makin berat," kata pengusaha yang bermarkas di Jalan Kembang Jepun, Surabaya, ini.

Gubernur Soekarwo dan Wakil Gubernur Saifullah Yusuf, menurut Liem Ouyen, juga aktif berkomunikasi dan merangkul berbagai komunitas yang ada di Jawa Timur. Keduanya pun selalu menyempatkan diri hadir dalam acara-acara yang diadakan komunitas Tionghoa di Surabaya dan kota-kota lain di Jawa Timur. 
"Meskipun kesibukan Pak Gubernur dan Pak Wagub itu sangat tinggi, keduanya berusaha untuk hadir. Pak Karwo juga selalu mendorong pengusaha Jawa Timur untuk mengajak investor dari luar negeri, khususnya Tiongok, untuk investasi di Jawa Timur," ujarnya.

Liem Ouyen menjelaskan, komunitas Tionghoa di Jawa Timur umumnya bergabung dalam berbagai komunitas yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan dan pendidikan. Tidak ikut terlibat dalam politik praktis. Namun, Liem optimistis masyarakat Tionghoa bisa menilai kinerja Gubernur Soekarwo dan Wagub Gus Ipul dalam lima tahun ini. 

"Intinya, kita ingin pemimpin yang baik," Liem menegaskan. 

24 July 2013

Annie Ibon artis JK yang tajir

 Di sebuah warung kopi Kalibokor, Surabaya, pemilik warung suka memutar Radio Media FM. Radio spesialis lagu-lagu nostalgia di Surabaya. Pada jam-jam makan siang Media FM selalu memperdengarkan lagu-lagu pop manis 1980-an dan 1990-an. Dian Piesesha, Tommy J Pisa, Ria Angelina, Lydia Natalia, Wahyu OS, Deddy Dores, Nur Afni, Ratih Purwasih, Betharia Sonata, Nia Daniaty, Angel Pffaf, dan sejenisnya.

Hawa panas Surabaya siang jadi sejuk mendengar lagu-lagu manis dengan syair memelas.

Benci benci benci tapi rindu! Rindu rindu rindu tapi benci jua! Antara benci dan rindu di sini… membuat mataku menangis! Yang… hujan turun lagi.

Sabtu pekan lalu, saya diingatkan suara penyanyi lawas yang manis manja ini. Oh, ANNI IBON, penyanyi orbitan Judhi Kristianto dari JK Records, Jakarta.

Pejamkan mata dan lihatlah, ada aku menunggu di sana! Lihatlah jemari tanganku, namamu pun terukir di sana! Sayang bilanglah sayang! Begitu yang ku pinta darimu!

Aduhai romantisnya, Mbak Annie! Bisa dijamin preman kawakan pun akan luluh hatinya mendengar lagu-lagu Annie Ibon ini. Orang yang sangar jadi jinak. Potongan Rambo, hati Rinto!

Di masa kecil saya di NTT sana, nama Annie Ibon ini sangat terkenal seperti Dian Piesesha, Ria Angelina, atau Obbie Messkah. Anak-anak muda belajar main gitar ya pakai lagu-lagunya Annie, Dian, Obbie, Pance, dan sejenisnya karena akornya mudah dan sedikit. Hehehe….

Membawakan lagu-lagu ciptaan Obbie Messakh, Maxie Mamiri, Judhi Kristianto, penyanyi kelahiran Bandung 6 September 1969 ini banyak mencetak hits. Komunitas penggemar artis JK Records alias Jekamania pasti punya koleksi kaset Annie Ibon yang berjibun.

Saya kemudian mencari informasi di internet di mana Annie Ibon sekarang. Seperti diduga, hasilnya tidak ada. Yang banyak justru kaset-kaset lawasnya dan sejumlah lagunya di YouTube. Syukurlah, JK Records akhir-akhir ini banyak menayangkan lagu-lagu artis lamanya di YouTube. Dan itu membuat kita ‘mudah memanggil kembali’ Annie Ibon untuk menyanyi.

Syukurlah, di internet pula, kita bisa melacak Annie Ibon lewat putranya bernama Dustin Sofyan. Putra sulung Annie ini ternyata seorang pembalap jempolan yang pernah ikut Formula BMW Pacific tahun 2009 dan masuk klasemen lima besar. Dustin lahir di Jakarta, 29 Juli 1994 itu.

“Saya ingin meraih hasil terbaik di setiap seri balapan,” katanya.

Dari cerita si Dustin inilah, saya akhirnya tahu bahwa penyanyi Annie Ibon itu ternyata istri FENZA SOFYAN, pengusaha properti papan atas di Jakarta, yang memang sangat hobi balapan. Fenza punya properti di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, salah satu kawasan elite di ibu kota. Juga properti di beberapa kota besar lain.

Fenza Sofyan sangat antusias mendorong anaknya menjadi pembalap F1. Membawa nama Indonesia di ajang balapan paling bergengsi di dunia itu. Rupanya, Dustin kurang mewarisi bakat seni suara dari sang mama.

Untuk mewujudkan obsesi balapnya, Dustin sampai mengontrak coach dari Eropa. “Ya, sebaiknya bule yang tidak bisa diajak kompromi kalau memberikan program. Kalau orang kita, ntar mudah ditawar,” kata Fenza, sang ayah.

Rupanya, setelah menikah dengan Fenza Sofyan pada 16 Oktober 1993, Annie Ibon berhenti total dari dunia musik. Juga berhenti sebagai karyawan bank untuk fokus mengurus rumah tangga.

Apa lagi yang dicari seorang istri kalau punya suami pengusaha kaya-raya seperti itu? Hidupnya menjadi ayem tentrem, berkelimpahan materi. Tidak banyak anak-anak Indonesia yang sejak balita sudah diberi mainan mobil mahal dan dicetak jadi pembalap Formula 1.

Annie Ibon beruntung jadi istri pengusaha kaya. Di Indonesia ini begitu banyak penyanyi atau artis yang kerepotan di usia 30-an karena industri musik tidak bersahabat. Kalau sudah sepi job, mau dapat uang dari mana? Celakanya lagi, sang suami pun artis yang sama-sama sudah tidak laku. Jujur, banyak pasangan artis yang bercerai gara-gara persoalan ekonomi keluarga yang goyah.

Jadi, bisa dimengerti kalau menjelang pemilihan umum banyak sekali artis (sepi job) yang mengadu nasib sebagai calon anggota parlemen alias caleg. Ada pula artis lawas yang jadi dukun atau paranormal. Ada yang jadi tukang khotbah atau penginjil. Bahkan, di Kompasiana ini pernah ada cerita seorang artis lawas, penyanyi, yang jadi penghuni rumah sakit.

Wuedan tenan!

Maka, berbahagialah Annie Ibon! Berbahagialah Nia Ramadhani!

Jeremy Tety penyiar unik dari NTT


Dulu, sebelum tahun 2000, televisi merupakan barang langka, dan mewah, di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada era TVRI sebagai satu-satunya stasiun televisi, ada kabupaten yang jumlah televisinya tak sampai LIMA biji. Semuanya milik pengusaha Tionghoa.

Maka, orang dari kampung halaman saya rame-rame datang ke Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata, untuk menonton Dunia Dalam Berita. Terima kasih kepada baba-baba Tionghoa yang berbaik hati menjadikan teras depan rumahnya sebagai ajang nonton bareng televisi hitam putih.

Langkanya televisi ini bukan semata karena tak punya, terlalu miskin, tapi lantaran tidak ada BTS. Satu-satunya BTS di Botung, Kecamatan Adonara Timur, yang dihalangi banyak bukit dan gunung. Maka, beberapa televisi yang dikirim para perantau Malaysia ke kampung halaman pun hanya disimpan saja di kantor desa. Dipasang antena super tinggi pun tak ada sinyal.

Maka, ketika TVRI tempo doeloe muncul orang NTT sebagai penyiar atau pembaca berita, wah, senangnya bukan main. Kok bisa ya orang kita jadi penyiar TVRI. Bukan main si bapak itu! Demikian orang-orang kampung di pelosok Flores Timur bergumam senang.

Bukan apa-apa, saat itu ada HASAN AZHARI ORAMAHI, asal Kabupaten Alor, NTT, tampil di Dunia Dalam Berita TVRI. Suaranya pun lumayan enak, cukup oke. Hasan Azhari Oramahi ini lumayan mengangkat kebanggaan orang-orang NTT. Wow, kita pun ternyata tidak kalah sama orang Jawa!

Cukup lama tak terlihat penyiar atau presenter asal NTT di televisi. Kemudian munculah HELMI JOHANNES di RCTI. Si Helmi ini putra mendiang Prof Johannes, tokoh asal Pulau Rote, yang namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit di Kupang. Lagi-lagi orang NTT senang. Orang kulit gelap bisa jadi penyiar di televisi nasional yang terkenal pula.

Pada akhir 1990-an, khususnya setelah reformasi, makin banyak orang NTT yang bekerja sebagai wartawan TVRI dan berbagai televisi swasta. Bahkan, tetangga satu kampung saya pun jadi reporter SCTV yang dulu sangat terkenal dengan Liputan Enam. Tapi rata-rata mereka bekerja di belakang layar.

Yang paling terkenal tentulah Don Bosco Selamun, asal Flores Barat, yang pernah menjadi pemimpin redaksi SCTV, kemudian Metro TV, dan beberapa televisi lagi. Posisi yang boleh dibilang luar biasa mengingat saat ini masih jauh lebih banyak kampung di NTT yang belum bisa menangkap sinyal televisi.

Nah, yang mengejutkan dan bikin heboh adalah JEREMY TETI. Bujang lawas ini kelahiran Atambua, Kabupaten Belu, NTT, yang berbatasan dengan Timor Leste. Perjuangannya menjadi penyiar televisi ke Jakarta juga tak lepas dari beberapa senior macam Hasan Azhari Oramahi di TVRI.

Bermodal nekat, wong kampung ini benar-benar berjuang dari bawah. Kehabisan uang, tidur di terminal, tahan lapar, dijalani presenter yang belakangan kondang di YouTube itu. Gaya bicaranya yang khas, huruf R ditekan panjang, ada iramanya... membuat Jeremy Teti jadi unik, nyeleneh, tapi malah disukai banyak orang.

Dulu, saya pikir si Jeremy Teti ini sengaja dipasang tengah malam karena kalah bersaing dengan presenter-presenter SCTV lainnya. Eh, ternyata si Jeremy malah jadi kondang justru karena membawakan berita ketika sebagian besar orang sudah tidur.

Kalau di televisi, presenter berita atau penyiar asal NTT masih bisa dihitung jari dua tangan, di media cetak jauh lebih banyak. Dan tersebar merata di media besar, sedang, hingga kecil. 

Yang paling top tentulah RIKARD BAGUN, pemimpin redaksi harian KOMPAS yang berasal dari Flores Barat alias Manggarai. Sebelumnya, CYPRIANUS AUR, pemimpin redaksi SUARA PEMBARUAN, Jakarta, pun orang NTT.

23 July 2013

Ketika Buddha pun main politik

Ashin Wirathu jadi cover TIME.
Selama ini saya menganggap agama Buddha sebagai agama yang paling toleran, cinta damai, asketis, tak tertarik politik. Dan itu terbukti saat saya mengunjungi banyak wihara + kelenteng di Jawa Timur. Bahkan sempat bermalam di kompleks wihara.

Semua orang bisa jadi Buddha tanpa harus beragama Buddha, kata Pak Ongko, bos Buddhist Education Center, Surabaya, yang baru saja mengadakan festival buddhis terbesar di Indonesia. Pak Ongko getol menyebarluaskan ajaran Buddha yang sangat universal.

Mewawancarai biksu Tantrayana dari Tibet, Rinpoche, kemudian meliput seminar beliau di Surabaya, kita pun merasa damai. Seakan menikmati keheningan dihamparan rumput hijau, air tenang, udara segar. Rinpoche sangat menekankan meditasi.

Isi pengajaran rinpoche, biksu, atau banthe di Surabaya sama sekali tak menyinggung politik atau sosial kemasyarakatan. Kontras dengan khotbah rohaniwan Islam, Katolik, atau Protestan atau Pentakosta dan sejenisnya yang mau tak mau menyinggung masalah aktual kebangsaan. Khotbahnya romo-romo aktivis di gereja biasanya lebih kental politiknya.

Tidak heran di Flores Timur ada pastor bernama Romo Frans Amanue diproses hukum karena dilaporkan bupati yang tersinggung. Pejabat-pejabat NTT, khususnya yang korup dan lupa rakyat, sejak dulu memang jadi bulan-bulanan romo di atas mimbar. Celakalah engkau, wahai pejabat...!

"Kami yang Buddhis ini gak ngurus jumlah umat. Buat apa umatnya banyak tapi perilakunya tidak baik," kata seorang tokoh Buddhis. Maka bapak ini tidak risau bila ada umat Buddha yang pindah agama, misalnya jadi Islam atau Kristen.

Sayang, cerita damai Buddhis ini terusik setelah saya membaca Kompas 23 Juli 2013 dan majalah TEMPO 22-28 Juli tentang radikalisme biksu Buddha di Myanmar. Ashin Wirathu, biksu itu, ternyata sangat politis dan radikal. Dia getol mengkampanyekan gerakan yang tidak bersahabat dengan warga minoritas. Bahkan dia menganggap umat non-Buddha sebagai masalah bagi Myanmar.

Begitulah jadinya ketika agama dipolitisasi. Ketika agamawan main politik, menjauh dari esensi agama yang mengajarkan cinta kasih kepada sesama. Biksu Wirathu rupanya lebih suka ceramah politik ketimbang mengajar meditasi.

Semoga semua makhluk berbahagia!

Lawakan TV yang tidak lucu

Baru saja saya mampir ke sebuah kafe pinggir jalan di Surabaya. Pesan kopi pahit, katanya bisa untuk jamu. Lumayan ramai, pengunjung lagi asyik nonton OVJ di televisi. Cukup heboh. Sebentar-sebentar penonton tertawa karena merasa lucu melihat dagelan konyol ala slapstic itu.

Yang paling heboh tentu penonton di televisi. Sebab, mereka memang dibayar untuk tertawa, nyeletuk, biarpun lawakannya tidak lucu. Saya sendiri sudah lama gagal menemukan di mana kelucuan OVJ yang membuat begitu banyak orang tertawa ngakak. Ulah Nunung yang konyol khas Srimulat sudah lama tak mampu menggelitik saraf tawa saya.

Syukurlah, saya kebetulan membawa majalah TEMPO baru yang sampulnya bergambar wajah Tifatul Sembiring, menteri komunikasi dan informasi, terlilit kabel yang ruwet. Nah, ini dia yang lucu dan bikin saya geli. Ada-ada saja cara TEMPO menertawakan ulah pejabat republik ini yang kurang amanah. Saya pun tertawa sendiri... pelan-pelan.

Sudah lama memang saya tidak menemukan kelucuan di acara-acara lawak televisi. Acara standup comedy, yang katanya humor cerdas, pun membosankan. Makin lama makin tak jelas arahnya. Atau, cuma pengulangan banyolan lawas belaka. Yang tertawa, ya, orang-orang bayaran di studio itu.

Sebaliknya, tadi pagi, saya sering tertawa sendiri sewaktu mengikuti kuliah musik bersama Jessica Sudarta, pemain harpa, dan Slamet Abdul Sjukur, komponis dan guru musik klasik terkenal di Surabaya. Pak Slamet seperti biasa menyentil ulah politisi ketika membahas keunikan instrumen berdawai nan cantik bernama harp alias harpa itu. Halus sekali humor Pak Slamet tapi mengena yang membuat saya tertawa keras.

Peserta pertemuan musik Surabaya, sekitar 50 orang, hanya tersenyum. Tak berani tertawa bersuara. Jaim kali, jaga image! Tapi justru humor-humor pahit Pak Slamet, selain kebegawanannya di bidang musik klasik, yang membuat saya hampir tidak pernah absen mengikuti kuliah bersama di Wisma Musik Melodia, Ngagel Jaya, Surabaya, ini.

Saya memang merasa cocok dengan humor ala Slamet Abdul Sjukur baik dari segi konten maupun cara bertuturnya. Pak Slamet membahas masalah musik, dikaitkan politik, pengusaha, ulah guru-guru piano, kegandrungan orang-orang kaya di Jakarta, Surabaya, Bandung, Jogja, Semarang, yang doyan rekor MURI, yang tak jelas juntrungannya itu. Seakan-akan pemusik yang dapat MURI itu sudah sangat hebat.

Di hadapan peserta kuliah musik, yang sebagian di antaranya guru-guru piano klasik di Surabaya, Pak Slamet memuji Jessica Sudarta, harpis remaja asal Surabaya. Juga pemain-pemain harpa dan biolin (orang awam menyebut biola). Mengapa? Menurut Slamet, pemain harpa atau biola pasti dan harus tahu cara menyetem alat musiknya. Dia sangat peka ketika ada satu nada saja yang fals alias sumbang.

"Yang paling goblog itu pemain-pemain piano," kata Pak Slamet. "Mereka itu hanya bisa main tapi tidak bisa nyetem. Mereka justru membayar tukang setem untuk nyetem pianonya."

Saya pun tertawa ngakak. Pak Slamet sendiri saya lihat biasa-biasa saja. Humor kering macam inilah yang selalu membuat saya tertawa. Bahkan, kadang tertawa sendiri ketika mengingat-ingat kata-kata Pak Slamet yang baru saja mendapat penghargaan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai seniman musik klasik (kontemporer) berprestasi di Indonesia itu.

22 July 2013

Belajar Membaca Alkitab Bahasa Jawa

Saya jarang, bahkan hampir tidak pernah melihat orang Katolik di Surabaya dan Sidoarjo yang punya kitab suci berbahasa Jawa. Kecuali tentu saja jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) yang memang punya akar Jawa yang sangat kuat.

Di Gereja Katolik di Jawa Timur, saya lihat yang konsisten merawat bahasa Jawa dalam liturgi, termasuk kitab suci bahasa Jawa, hanya gereja-gereja di kota kecil atau pedesaan macam di kawasan Puhsarang, Kediri. Di sana ada gereja tua yang sangat unik yang jadi jujugan umat Keuskupan Surabaya karena ada Gua Maria Lourdes yang megah itu.

Setiap hari umat Katolik di Puhsarang mengikuti misa dalam bahasa Jawa. Juga membaca kitab suci bahasa Jawa. Kita yang berada di Surabaya biasanya sebulan sekali ramai-ramai ke Puhsarang mengikuti Misa Malam Jumat Legi. Pakai bahasa Jawa, karawitan, semua serba bahasa Jawa yang sangat asyik. Saya yang asli Flores Timur pun terkagum-kagum dengan inkulturasi Katolik dengan tradisi Jawa yang sangat luar biasa.

Di luar Jawa, bahkan di Flores atau NTT, malah tidak pernah ada misa dalam bahasa daerah. Anehnya lagi, pastor-pastor pun saya lihat enggan berkhotbah dalam bahasa daerah saat memimpin misa di desa-desa. Padahal, romo itu asli Lamaholot yang pasti bisa berbahasa daerah yang disebut bahasa Lamaholot itu. Ironis, karena dulu pastor-pastor misionaris asal Belanda, Jerman, Polandia, dan sebagainya malah berkhotbah dalam bahasa Lamaholot.

Nah, karena sering mengikuti misa berbahasa Jawa di Puhsarang, kemudian di Sendangsono, Kulonprogo, Jogjakarta, saya pun mulai mencari Alkitab bahasa Jawa. Ternyata tidak ada di Surabaya. Syukurlah, suatu ketika saya menemukan Alkitab bahasa Jawa justru di lapak buku-buku bekas di Jalan Semarang, Surabaya.

Matur nuwun, Gusti! Rupanya selalu ada jalan dari Gusti Allah kalau kita punya keinginan yang sangat kuat. Tiba-tiba saja Lia, penjaga toko buku bekas langganan saya, menawarkan kitab suci bahasa Jawa itu. "Mas, kayaknya kamu cocok deh sama buku itu," kata gadis asal Madura yang berjilbab itu. Lia memang sangat hafal karakter pelanggannya, buku macam apa yang dicari.

Ternyata kitab suci terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) ini melebihi harapan saya. Sebab, ini KITAB SUCI MAWI BASA JAWA PADINTENAN atau Alkitab dalam bahasa Jawa sehari-hari. Oh, saya baru sadar bahwa kitab suci terjemahan resmi LAI dalam bahasa Jawa itu ada dua versi. Versi bahasa Jawa sehari-hari ini kira-kira sama dengan Alkitab Kabar Baik, yang memang lebih sederhana kata-katanya ketimbang versi Terjemahan Baru bahasa Indonesia, 1974 yang digunakan di hampir semua gereja di Indonesia saat ini.

Semangat membaca kitab suci saya yang sempat padam pun muncul lagi setelah memiliki Alkitab Jawa yang harganya cuma Rp 20.000 itu. (Aslinya Rp 15.000, yang lima ribu sekadar tips buat Lia!) Ibarat anak-anak atau katekumen yang baru mengenal kitab sucinya orang Kristen. Saya bolak-balik mulai PURWANING DUMADI (Kejadian), PANGENTASAN (Keluaran), KAIMAMAN (Imamat), hingga WAHYU.

Suasana yang saya tangkap sangat berbeda dibandingkan saat membaca Alkitab bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Cerita-cerita, petuah, percakapan... serasa dekat sekali dengan kondisi masyarakat di tanah Jawa. Seakan-akan Gusti Yesus itu orang Jawa yang bicara dalam bahasa dan budaya Jawa.

Ambil contoh petikan Injil Lukas 10:38-42 yang dibahas di semua Gereja Katolik di seluruh dunia, Minggu 21 Juli 2013, tentang Yesus mengunjungi Marta dan Maria.

Gusti Yesus ngandika: "Marta, Marta! Kowe kuwi repot mikirake barang sepirang-pirang. Mangka sing prelu kuwi mung siji! Dene Maryam iki wis milih prekara sing becik dhewe, sing ora bakal kapundhut saka dheweke!"

Gusti Yesus memang bicara dalam bahasa ngaka (ngoko). Sebaliknya, Marta yang bersungut-sungut karena bekerja di dapur sendiri, tidak dibantu Maria, mengadu kepada Yesus begini:

"Guru, cobi Panjenengan penggalih! Sedherek kula menika mboten preduli kula nyambut damel piyambakan. Mbok inggiha Panjenengan dhawuhi supados ngrencangi kula!"

Meskipun disebut bahasa Jawa sehari-hari, bagi orang yang tinggal di Surabaya, kata-kata krama inggil (Jawa halus) tidak akan mudah dipahami. Kecuali orang-orang yang terbiasa ber-BOSO ketika berbicara dengan orang tua dan orang-orang yang terpandang.

Namun, bagusnya, orang-orang yang terbiasa membaca Alkitab standar bahasa Indonesia, macam saya, sebetulnya sudah tahu apa yang dikatakan Marta itu. Jadi, kita tidak perlu lagi bertanya kepada orang-orang Jawa lawas arti kata-kata krama inggil itu. Cukup merujuk ke Alkitab bahasa Indonesia beres!

Membaca Alkitab Jawa kita pun semakin memahami unggah-ungguh atau sopan-santun dalam tradisi Jawa. Bahwa berbicara dengan orang tua, orang yang dihormati, harus pakai krama inggil. Sebaliknya, Gubernur Pilatus, Raja Herodes, atau Nabi Musa, misalnya, berbicara dalam bahasa ngaka.

Sebagai warga Surabaya/Sidoarjo, saya kadang geli sendiri karena orang kedua selalu disebut KOWE, kata yang tak pernah dipakai di Surabaya. Begitu juga struktur bahasa Jawa yang disebut bahasa sehari-hari itu pun ternyata berbeda dengan bahasa Jawa yang dipakai di Surabaya.

Dari sini saya semakin paham pernyataan Pak Aming, peneliti di Balai Bahasa Surabaya, bahwa bahasa Suroboyoan itu tidak bisa disebut bahasa Jawa meskipun substansinya sama-sama bahasa Jawa.

"Makanya, program Java Day di Surabaya dari dulu tidak pernah berhasil. Wong anak-anak Surabaya itu memang tidak pernah berbahasa Jawa, tapi berbahasa Suroboyoan," kata Pak Aming.

Java Day adalah hari wajib berbahasa Jawa setiap Jumat di sekolah-sekolah yang ditetapkan Dinas Pendidikan Jawa Timur. Kebijakan ini bukan hanya tidak jalan, tapi malah menjadi bahan guyonan di Surabaya.

Sebagai penutup ada nasihat dari kitab WULANG BEBASAN alias Amsal 11:29 yang layak kita simak:

Wong bodho kuwi dadi bature wong pinter!

Ah, saya sudah ratusan kali saya membaca ayat ini dalam bahasa Indonesia. Tapi rasanya tidak setegas dan setajam dalam versi Jawa Padintenan ini. Saya jadi makin paham mengapa puluhan juta orang Indonesia ramai-ramai merantau untuk menjadi BATUR (pembantu rumah tangga) di Taiwan, Hongkong, Malaysia, Singapura, Arab Saudi, dan negara-negara lain.

Lima Tahun Dian Spectrum Choir Surabaya


Pada 2008  ibu-ibu anggota Paguyuban Marga Huang Jawa Timur membentuk paduan suara sederhana. Tak dinyana, paduan suara yang dipimpin Shinta Wibisono ini terus berkembang dan aktif mengadakan kegiatan sosial di berbagai kawasan di Surabaya dan Malang.

Kamis (18/7/2013), sekitar 50 anggota ladies choir ini mengadakan perayaan syukur ulang tahun kelima di rumah Shinta Wibisono, Jalan Trunojoyo, Surabaya.

"Kalau dulu namanya Paduan Suara Marga Huang, sekarang menjadi Dian Spectrum Choir. Sebab, choir ini juga terbuka untuk ibu-ibu di luar marga Huang, termasuk yang bukan Tionghoa. Kita ingin membangun kebersamaan dan pelayanan melalui paduan suara ini," kata Shinta Wibisono.

Dipimpin Romo Adrian Tanuredjo OP, mantan Pastor Paroki Redemptor Mundi, Surabaya, yang tengah menempuh pendidikan lanjutan di Roma, perayaan ulang tahun Dian Spectrum Choir berlangsung sederhana namun meriah. Ibu-ibu pengusaha ini memamerkan suara merdunya dengan membawakan belasan komposisi yang cukup sulit.

Mereka pun tak canggung menari saat membawakan lagu rohani berbahasa Jawa, Monggo-Monggo Sami Nderek Gusti, yang diaransemen Yohan Tarigan. Shinta tampil percaya diri membawakan lagu klasik Ave Maria karya Franz Schubert dalam bahasa Jerman.

"Guru dan pelatih kami, ya, Mas Ganda ini. Dia sangat telaten mengajari ibu-ibu bagaimana menyanyi dengan baik dan benar," kata Shinta menunjuk Ganda Charisma yang juga dirigen Dian Spectrum Choir.

Berbeda dengan paduan suara umumnya, Shinta menjelaskan, Dian Spectrum Choir lebih fokus pada pelayanan rohani dan sosial. Karena itu, mereka memiliki agenda rutin mengadakan bakti sosial ke rumah jompo, panti asuhan, hingga khitanan massal. Bulan lalu misalnya mereka mengadakan kunjungan ke Panti Surya, rumah lansia di Jalan Jemur Handayani.

Saat itu mereka mengajak para oma-opa penghuni panti wreda itu untuk bernyanyi bersama. "Jadi, Dian Spectrum Choir ini pelayanan sambil konser di depan para lansia. Kami juga membawa bingkisan dan menghibur penghuni panti. Bakti sosial seperti ini lebih mengena daripada kita bikin konser di hotel," kata Shinta.

Kepada Shinta dan kawan-kawan, Romo Adrian, yang juga pembina Dian Spectrum Choir, berpesan agar paduan suara ini bisa terus eksis dan memperluas pelayanan kepada warga kurang mampu. "Masih banyak warga kurang mampu yang sangat membutuhkan perhatian kita," ujar pastor yang sedang berlibur di Surabaya itu. (*)

21 July 2013

Makco Surabaya mudik ke Meizhou



Sekitar 20 jemaat mengiringi kepulangan Makco Tian Shang Sheng Mu ke kampung halamannya di Pulau Meizhou, Provinsi Fujian, Tiongkok, Minggu (21/7/2013) pagi. Selama tiga hari dua rupang (patung) Makco, yang dikenal sebagai dewi laut, ditakhtakan di tempat kelahirannya.

"Ini merupakan peristiwa bersejarah karena seingat saya baru kali ini terjadi di Surabaya. Kelenteng-kelenteng di kota lain juga pernah mengadakan, tapi sangat jarang," kata Waluyo Untung Sugiharto, ketua Yayasan Sukhaloka, pengelola Kelenteng Hok An Kiong, Surabaya.

Rupang Makco yang dibawa ke Pulau Meizhou itu, menurut Waluyo, paling tua di Kota Surabaya. Ini karena kelenteng di Jalan Cokelat 2, kawasan Slompretan, itu memang merupakan kelenteng tertua di Kota Surabaya. Satu rupang Makco lainnya milik Kelenteng Hong San Ko Tee, Jalan Cokroaminoto 12 Surabaya. 

Sehari sebelumnya, rupang Makco milik Kelenteng Cokro, dipindahkan ke Kelenteng Slompretan. Sebelum diberangkatkan ke Bandara Juanda, sekitar pukul 05.30, puluhan jemaat dari dua kelenteng itu melakukan doa bersama di depan altar Makco. Mereka memohon kepada Tian (Tuhan) agar perjalanan membawa dua rupang Makco ke kampung asalnya ini berjalan lancar dan kembali ke Surabaya dengan selamat. 

Menurut Waluyo, perjalanan rombongan pengiring Makco ke Pulau Meizhou ini bukan rekreasi atau jalan-jalan biasa, melainkan ziarah rohani sekaligus napak tilas sejarah. Warga Tionghoa, khususnya jemaat kedua kelenteng ini, ingin melihat secara langsung kampung halaman Makco yang juga leluhur mereka. 

"Semua orang itu selalu ingin menelusuri jejak sejarah leluhurnya. Seperti kita yang hidup sekarang, nanti 50 tahun atau 100 tahun lagi anak cucu kita juga akan melacak jejak sejarah kita," tutur Waluyo seraya tersenyum.

Berangkat dengan pesawat Cathay Pacific dari Bandara Juanda pukul 08.00, rombongan langsung menuju ke Putian, kota yang paling dekat dengan Pulau Meizhou. Dua rupang yang ditepatkan di kotak kaca itu kemudian diarak ke Meizhou dengan kapal laut. 

"Nah, sampai di lokasi, kami mengikuti ritual bersama pengunjung lain dari berbagai negara. Tidak ada acara ngelencer karena tujuan kami ke Meizhou ini semata-mata untuk ziarah rohani," ucap Waluyo.

Berbeda dengan tur biasa, Waluyo menjelaskan, pihaknya harus lebih dulu mengadakan koordinasi dengan tuan rumah hingga maskapai penerbangan. Sebab, ada sejumlah syarat tertentu ketika membawa rupang Makco keluar dari kelenteng, dinaikkan ke pesawat, kapal laut, hingga ditempatkan di kampung halamannya di Meizhou. 

"Kita berharap mendapat berkah baik untuk umat kelenteng maupun warga Surabaya secara keseluruhan. Itu saja yang akan kita minta selama berada di Tiongkok," katanya. (rek)

20 July 2013

Selvy Wang Blusukan Pecinan JTV



Nama aslinya Selvy Tri Puspitasari, tapi gadis 26 tahun ini sekarang lebih dikenal di layar televisi sebagai Selvy Wang. Dialah reporter sekaligus presenter acara Blusukan Pecinan di JTV, televisi lokal milik Jawa Pos Group di Surabaya.

Gara-gara mendapat job di Blusukan Pecinan, Selvy mengaku harus belajar berbagai tradisi dan budaya Tionghoa. "Papa saya memang Tionghoa, tapi jujur saya gak tahu budaya Tionghoa. Baru sekarang ini saya mulai belajar budaya dan bahasa Tionghoa," kata alumnus UPN Veteran Surabaya ini.

Hampir setahun sudah Selvy Wang menjadi presenter Blusukan Pecinan. Program pelengkap Pojok Kampung JTV yang mengetengahkan pernak-pernik komunitas Tionghoa di Surabaya dan Jawa Timur umumnya. Karena itu, gaya bicaranya dibuat ala Tionghoa Kapasan yang bahasanya gado-gado: bahasa Jawa, Hokkian, Mandarin, Melayu Tionghoa, sedikit Inggris. Mirip rujak cingur saja.

Selvy bersama juru kamera sekaligus jurnalis senior JTV, Cak Gigik, pun sering bepergian ke luar kota untuk syuting, wawancara, cari bahan Blusukan Pecinan. Gadis yang hobi nonton film ini pun memanfaatkan waktu luangnya untuk menikmati masakan khas Kediri, Mojokerto, Tuban, hingga Madura. 

“Dari sini saya makin sadar bahwa budaya Tionghoa, budayanya papa saya, itu punya makna yang dalam. Misalnya, makanan khas mi atau misua yang panjang sebagai simbol umur panjang dan rezeki yang juga panjang," kata Selvy yang sebelumnya bekerja di Arek TV, juga televisi lokal Surabaya itu.

Selvy mengaku sangat gugup ketika pertama kali menjadi presenter dan harus membuat laporan on the spot. Semua mata pun tertuju kepadanya. Sementara dia harus bicara sambil tersenyum menatap ke arah kamera. Tapi kegugupan itu pun sirna seiring jam terbangnya yang makin banyak. 

Kesulitan lain adalah soal bahasa. Ini terjadi ketika dia harus mewawancarai sumber yang bicara dalam bahasa Mandarin atau Hokkian. "Saya kan gak bisa bahasa Mandarin," ujar Selvy sambil tertawa kecil. 

Menjadi reporter plus presenter televisi sebetulnya bukan cita-citanya sejak kecil. Namun, saat duduk di SMAN 1 Puri, Mojokerto, Selvy menonton drama Korea yang bercerita tentang dunia jurnalistik. Dia pun tertarik melihat kegigihan reporter televisi memburu, mempersiapkan, dan menayangkan berita untuk dinikmati pemirsa. Dia kemudian menyampaikan keinginannya menjadi reporter kepada mamanya yang asli Jawa.

"Mama saya gak percaya karena sejak kecil saya ini orangnya pemalu. Tapi saya bertekad untuk membuktikan kalau saya bisa” katanya.

Sempat bekerja selama 11 bulan di sebuah bank, Selvy meminta berhenti karena merasa jenuh. Bekerja di tempat yang sama dalam waktu yang lama membuatnya tidak betah. “Saya suka berpindah-pindah karena bisa bertemu banyak orang. Jadi reporter yang cocok,” ujarnya.

Menurut Selvy, menjadi reporter televisi juga membuat dirinya mengetahui informasi lebih dulu dibanding orang lain.

19 July 2013

Beda Murid, Siswa, Pelajar, Mahasiswa

Para mahasiswa Indonesia di Taiwan punya organisasi yang disebut Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Taiwan. Anggotanya mahasiswa strata satu hingga strata tiga. Di Tiongkok, hampir di semua kota besar ada Persatuan Pelajar Indonesia Tiongkok. Banyak sekali kegiatan para mahasiswa Indonesia di Taiwan dan Tiongkok itu.

Suatu ketika saya bertanya (lebih tepat ngetes) kepada mantan ketua PPI Taiwan, yang kini guru bahasa Mandarin di Surabaya. Apa perbedaan PELAJAR dan MAHASISWA?

"Sama saja. Sama-sama STUDENT," kata Xiansheng itu enteng.

Ada betulnya memang. Tapi dulu, ketika masih tinggal di Flores, NTT, kata PELAJAR dan MAHASISWA ini dibedakan. Menurut orang NTT, PELAJAR itu murid-murid yang belajar di SMP, SMA, atau SMK alias sekolah menengah. Sebutan lain adalah SISWA (plus SISWI).

Adapun mereka yang belajar di perguruan tinggi (universitas, akademi, sekolah tinggi, dan sebagainya) disebut MAHASISWA (kalau laki-laki). Yang wanita disebut MAHASISWI. Tapi kata MAHASISWA dianggap bisa mewakili wanita maupun laki-laki. Wanita jurnalis pun biasa disebut WARTAWAN, tak harus WARTAWATI.

Masih di kampung halaman saya, Flores Timur, anak-anak dan remaja yang belajar di SD atau TK disebut MURID. Tidak lazim ada ungkapan seperti ini: Payong siswa SDK Lohayong. Biasanya: Payong murid SDK Lohayong.

Karena itu, di Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, terdapat ikatan atau persatuan pelajar/mahasiswa dari 22 kabupaten se-NTT. Misalnya Angkatan Muda Mahasiswa dan Pelajar Lembata. Atau, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Manggarai. Kalau hanya memakai istilah ikatan mahasiswa, maka pelajar-pelajar SMA/SMK yang jumlahnya cukup banyak tidak bisa masuk organisasi itu.

Frans Kopong asal Adonara Timur yang kuliah di Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, misalnya, disebut MAHASISWA UNDANA bukan PELAJAR atau SISWA Undana. Juga bukan MURID Undana. Pasti diketawain rame-rame orang NTT karena kata MURID itu hanya cocok untuk anak-anak.

Istilah MURID SMP masih bisa diterima karena usianya masih belasan tahun. Tapi MURID UNIVERSITAS? Hehehe....

Setelah membaca banyak tulisan, dan bergaul dengan begitu banyak orang dengan latar belakang berbeda-beda, akhirnya saya paham bahwa istilah MURID, SISWA, PELAJAR, MAHASISWA... tidak harus sama dengan yang saya pahami ketika di NTT. Tapi saya masih saja geli mendengar seorang mahasiswa S-3 di Taiwan selalu menyebut dirinya sebagai PELAJAR INDONESIA YANG SEDANG MENGAMBIL S-3 DI UNIVERSITAS ANU. Dan itu sudah menjadi istilah umum yang sangat biasa.

Beberapa tahun belakangan ini rupanya pemerintah Indonesia, yang didukung pemerintah kabupaten/kota/provinsi, secara sistematis mengganti istilah MURID, SISWA, PELAJAR dengan dua kata: PESERTA DIDIK. Karena itu, istilah PSB (penerimaan siswa baru)  untuk SMP/SMA atau PMB (penerimaan murid baru) untuk jenjang SD tidak ada lagi di Jawa Timur. Istilah resmi yang berlaku sekarang adalah PPDB: penerimaan peserta didik baru.

Istilah PESERTA DIDIK yang mengacu ke Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional itu jelas boros, tidak efisien. Mengapa tidak menggunakan istilah MURID saja yang lebih pendek dan familier?

Yang jelas, saya lebih mengapresiasi teman-teman kita di Tiongkok dan Taiwan yang konsisten menggunakan istilah PELAJAR sejak tahun 1950-an sampai sekarang. Kata PELAJAR ini, kata bekas ketua ikatan alumni Taiwan itu, merangkul semua orang yang belajar mulai jenjang TK, SD, SMP, SMA, universitas, hingga doktoral.

"Semua orang yang belajar itu disebut PELAJAR. Dan kita harus terus belajar sampai mati," kata Xiansheng itu.

Bahasa Jawa dilarang di kampus Widya Kartika


Rektor Universitas Widya Kartika, Surabaya, Dr Murphy Josua Sembiring belum lama ini mengeluarkan larangan bagi para dosennya menggunakan bahasa Jawa saat memberikan kuliah. Maklum, banyak mahasiswa di kampusnya yang berasal dari luar Jawa yang tidak paham bahasa Jawa. Bahkan, mahasiswanya keturunan Tionghoa, yang dominan di kampus itu, pun banyak yang kurang paham bahasa Jawa.

“Penggunaan bahasa Jawa itu menimbulkan perasaan tidak nyaman. Paling tidak, mahasiswa luar Jawa jadi susah mengerti penjelasan yang diberikan,” kata Murphy.

Murphy sendiri berasal dari Sumatera Utara, tepatnya Karo. Dia jelas cukup paham bahasa Jawa karena sudah lama menjadi warga Surabaya. Dulu, dia aktif melakukan advokasi bagi kalangan pekerja seks di Kota Surabaya. Namun, dia juga tinggal cukup lama di Jayapura, Papua.

"Jadi, saya bisa memahami kesulitan para mahasiswa Papua yang kuliah di Surabaya dan kota-kota lain di Jawa. Dosen-dosen di Jawa ini terlalu banyak menggunakan ungkapan bahasa Jawa," katanya.

Rupanya, Murphy Sembiring terlalu berlebihan. Seperti yang pernah saya alami selama bertahun-tahun, dosen-dosen di Jawa Timur sebetulnya memberikan kuliah dalam bahasa Indonesia standar. Bukan bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang disoroti Pak Rektor Uwika itu sebetulnya hanya beberapa ungkapan sederhana saja, guyonan, sekadar bumbu penyedap.

Bahasa Jawa tidak pernah dipakai untuk ragam formal, apalagi perkuliahan yang sangat akademis. Bahasa Jawa Suroboyoan apalagi. Justru ungkapan-ungkapan Jawa yang sederhana itu membawa suasana lebih intim dan gayeng. Orang Papua, Flores, Batak, Kalimantan, Sulawesi... pasti cepat menguasai kata-kata sederhana bahasa Jawa informal itu dalam waktu sangat singkat.

Berbeda dengan bahasa Jawa Pojok Kampung, sebutan bahasa Jawa Suroboyoan, bahasa Jawa standar tergolong sulit karena ada ragam ngoko, kromo madya, kromo inggil. Bahasa Jawa standar ini hanya dipakai di Jawa Tengah, Jogjakarta, dan beberapa daerah di Jawa Timur bagian barat alias Mataraman seperti Bojonegoro, Madiun, Ponorogo, Trenggalek, dan seterusnya.

Orang Surabaya, termasuk dosen-dosen Widya Kartika, setahu saya tidak fasih berbahasa Jawa Mataraman ini. Jangan heran, majalah berbahasa Jawa seperti Panjebar Semangat dan Joyo Boyo tak banyak dibaca orang Surabaya karena bahasa Jawanya dianggap asing dan sulit.

Saya kasih contoh petikan kitab suci Perjanjian Baru dalam bahasa Jawa:

"Ibu, sampun ndawuhi kula nindakaken menapa-menapa, jalaran samenika dereng dumugi wekdalipun."

Ayo, dosen-dosen Uwika yang terhormat, yang sebagian besar beragama Kristen/Katolik, apa artinya kalimat itu? Siapa yang mengucapkan? Di mana?

18 July 2013

Soeharsojo Goenito pelukis eks Pulau Buru


Usianya mendekati kepala delapan, tepatnya 77 tahun. Namun, Gregorius Soeharsojo Goenito masih akrab dengan kanvas, cat, kertas, dan tinta. Bahkan, belakangan ini pria yang akrab disapa Harsojo ini juga rajin menulis puisi dan menyusun buku tentang pengalaman hidupnya selama berada di Pulau Buru, Maluku.

Ketika ditemui di rumahnya, kawasan Trosobo, Taman, Sidoarjo, Harsojo sedang sibuk membongkar dokumentasi sketsa-sketsa lamanya yang disimpan di beberapa map. Ada pula foto-foto berusia puluhan tahun yang sudah tidak jelas lagi gambarnya. Namun, pria kelahiran Madiun, 10 Februari 1936, ini masih ingat betul nama-nama kawan seperjuangannya di Pulau Buru.

"Sebagian besar sudah tidak ada lagi di dunia ini. Makanya, saya sangat bersyukur kepada Gusti Allah yang masih memberikan kesempatan kepada saya untuk menikmati hidup. Ini merupakan berkah yang luar biasa," katanya.

Berikut petikan percakapan LAMBERTUS HUREK dengan Soeharsojo Goenito di rumahnya pekan lalu.

Apa kegiatan Anda sekarang?

Sama seperti dulu. Membuat sketsa, melukis, bikin puisi, ya, kumpul dengan teman-teman. Sekarang saya hampir selalu di rumah karena tenaga saya sudah sangat kurang, namanya juga tiyang sepuh. Tapi saya merasa masih punya banyak energi untuk melanjutkan perjuangan ini.

Perjuangan apa?

Yah, macam-macamlah, perjuangan di bidang kesenian karena saya kan seniman. Saya ingin agar di era reformasi ini bangsa kita bisa belajar dari sejarah. Jangan sampai kita terjatuh dalam lubang yang sama. Sebagai orang yang sudah tua, saya sedih karena korupsi kok kayaknya makin menjadi-jadi di tanah air kita. Itu kan bertentangan dengan tujuan reformasi.

Para mahasiswa dulu pada tahun 1998 berunjuk rasa di mana-mana untuk menjatuhkan rezim Orde Baru karena dianggap KKN, korupsi, kolusi, nepotisme. Lha, kok sekarang KKN itu malah makin banyak. Ini artinya kita tidak belajar dari sejarah. Kesannya seperti meniru KKN yang dilakukan oleh Orde Baru.

Sekarang kan sudah banyak koruptor yang ditangkap KPK?

Tapi koruptornya malah tidak takut sama KPK. Setiap hari kita melihat televisi, membaca koran, kasus korupsi terjadi di mana-mana. Dan itu sangat memprihatinkan.

Oh, ya, kabarnya Anda sedang mempersiapkan buku?

Betul. Saya sudah menyiapkan bahan-bahan dan menyusun naskah sejak lima tahun lalu, tapi belum rampung. Masih banyak yang perlu diperbaiki lagi agar informasinya lebih menarik dan akurat. Soalnya, buku itu kalau sudah dicetak sulit direvisi. Makanya, lebih baik perlahan-lahan tapi hasilnya bagus.

Ide buku itu dari mana?

Justru dari orang Amerika Serikat, Janet Steele, profesor dari George Washington University. Suatu ketika Bu Janet itu mengunjungi saya di rumah ini. Dia terkejut ketika koleksi sketsa saya tentang Pulau Buru begitu banyak, hanya menumpuk di map. Prof Janet Steele mendorong saya untuk segera membukukan sketsa-sketsa itu agar bisa dinikmati oleh orang banyak. Kemudian ide dari Janet Steele ini juga direspons positif oleh teman-teman di Jogjakarta. Nah, sejak itulah saya mulai serius untuk menyusun sebuah buku kenangan dari Pulau Buru. Buku itu saya kasih judul Tiada  Jalan Bertabur Bunga.

Buku itu isinya semacam kumpulan skesta Anda semasa berada di Pulau Buru?

Yah, semacam itulah. Sketsa-sketsa itu saya beri catatan dan keterangan singkat. Sehingga pembaca bisa mengetahui latar belakang dan konteks sebuah peristiwa atau objek yang saya bikin di sketsa tersebut. Dan, jangan lupa, sketsa-sketsa itu asli dibuat di Pulau Buru, bukan baru dibuat setelah kami dipulangkan ke Jawa. Jadi, ini semacam catatan sejarah dalam bentuk gambar, bukan sekadar naskah atau tulisan. Kalau almarhum Pramoedya Ananta Tour membuat catatan pengalaman di Pulau Buru dalam bentuk novel dan esai, saya bikin dalam bentuk sketsa.

Biasanya sebagian besar orang sengaja melupakan pengalaman yang buruk. Mengapa Anda kok malah membeberkan pengalaman selama dibuang di Pulau Buru?

Ini persoalan sejarah bangsa kita. Bung Karno mengatakan Jas Merah: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah! Apa yang sudah terjadi pada masa lalu, seperti saya dan teman-teman alami di Pulau Buru, hendaknya menjadi pelajaran bagi generasi muda, anak cucu kita. Supaya mereka tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh generasi terdahulu.

Apakah Anda punya semacam dendam sejarah karena berada di pihak korban?

Sama sekali tidak ada dendam. Buat apa? Saya dari dulu sangat rileks, biasa-biasa saja. Kalau dendam, sakit hati, saya bisa stres berat. Dan, mungkin saya sudah lama tidak ada di dunia ini. Saya justru bersyukur kepada Tuhan karena diberi usia yang panjang, sementara sebagian besar teman saya sudah tidak ada lagi.

Saya bersyukur diberi kesempatan untuk hidup di era reformasi, sementara banyak teman saya yang sudah meninggal dunia pada tahun 1980-an dan 1990-an. Mereka tidak sempat menikmati udara reformasi. Mereka tidak bisa menyaksikan rezim Orde Baru yang dulu sangat berkuasa dan ditakuti itu ternyata bisa ambruk juga. Makanya, sebagai orang tua yang pernah menjadi korban Orde Baru, saya hanya bisa mengingatkan agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama yang dilakukan di masa lalu.

Ngomong-ngomong, apakah Anda masih punya keinginan untuk pameran?

Jelas dong. Saya malah ingin mengadakan pameran tunggal. Sebab, banyak sekali karya saya tentang Pulau Buru yang belum diketahui masyarakat.

Oh ya, apa resep umur panjang dan tetap sehat di usia senja?

Selalu optimis, berpikir positif. Kalau punya masalah, silakan berkarya, melukis, membuat puisi, bernyanyi, olahraga. Jangan suka memanjakan tubuh. Sebaiknya kita lebih sering jalan kaki atau naik sepeda pancal daripada naik motor atau mobil. Olahraga juga bisa dilakukan dengan menyapu halaman, berkebun, atau menyiram bunga. Makanya, saya ini kelihatan seperti lebih muda 20 tahun. Hehehehe..... (*)



Satu Barak dengan Pramoedya

Selama sepuluh tahun (1969-1979) Soeharsojo Goenito menjalani masa pembuangan di Pulau Buru. Meski 'hanya' satu dasawarsa di sana, kenangannya akan Buru tak pernah hilang dari ingatannya. Dia masih ingat nama-nama rekannya yang tinggal di barak berukuran 10 x 25 meter.

"Satu barak berisi 14 tahanan. Salah satu teman saya satu barak adalah almarhum Pramoedya Ananta Tour," tutur Harsojo.

Pramoedya, novelis besar yang menulis tertralogi Pulau Buru itu, digambarkan Harsojo sebagai seniman yang sangat tegas pada pendirian dan punya disiplin tinggi. Dia menjadi inspirasi bagi seniman lain agar terus berkarya meskipun dalam kondisi yang sangat terbatas. Itu pula yang mendorong Harsojo rajin membuat sketsa selama berada di pulau pembuangan itu.

Nah, goresan sketsa-sketsa yang dibuat di Pulau Buru itu kemudian dilukis ulang ketika ayah empat anak ini sudah kembali ke Jawa. Lukisan-lukisan Harsojo didominasi warna biru laut dan hijau. "Itu warna alam di sana yang masih saya ingat sampai sekarang," katanya.

Bukan hanya penulis, penyair, atau pelukis, menurut Harsojo, menurut Harsojo, sejumlah seniman musik dan teater pun rajin berkarya selama berada di Pulau Buru. Mereka mengajak teman-temannya bernyanyi bersama atau berlatih sandiwara untuk dipentaskan di sebuah aula yang cukup bagus. "Waktu itu kesenian memang cukup hidup di sana. Berkesenian itu membuat kami bisa mngisi hari-hari kami dengan gembira dan optimis," katanya.

Gencarnya tekanan dari dunia internasional dan aktivis hak asasi manusia, proyek Instalasi Rehabilitasi alias Inrehab di Pulau Buru ini pun akhirnya ditutup. Dan, pada 12 November 1979 rombongan terakhir tapol meninggalkan Pulau Buru, termasuk di dalamnya Pramoedya Ananta Tour.

"Sayang, Pram sudah lebih dulu meninggalkan kita sebelum mendapat Hadiah Nobel kesusastraan. Pram itu sastrawan terbesar kita yang diakui dunia, tapi dibuang ke Buru," katanya. (rek)



CV SINGKAT

Nama : Gregorius Soeharsojo Goenito
Lahir : Madiun, 10 Februari 1936
Alamat : Trosobo, Taman Sidoarjo

Pendidikan :

- Sekolah Rakyat Taman Siswa, Madiun
- Sekolah Rakyat Taman Dewasa, Madiun
- Sekolah Rakyat Taman Madya, Madiun
- Akademi Administrasi Perusahaan Veteran, Surabaya


Perjalanan Karier :
- Bergabung di Sanggar Tunas Muda, Madiun, dibawah bimbingan pelukis Sediyono, Soenindya dan Kartono, 1952.
- Bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), 1963-1965.
- Diasingkan bersama para seniman Lekra lainnya ke Pulau Buru, Maluku, 1969.
- Kembali ke Jawa, menetap di Surabaya, 1978.
- Pameran Bersama Bunga Rampai Pelukis Lekra di Galeri Surabaya, 2005.
- Pameran Tunggal Memoar Pulau Buru di Universitas Airlangga, Surabaya, 2010.
- Menyusun buku Tiada Jalan Bertabur Bunga, 2013.

 

Perlukah Izin untuk copy paste?

Beberapa waktu lalu ada seorang Eropa yang tinggal di Bali mengirim email kepada saya. Mister John itu meminta izin menggunakan partitur paduan suara Indonesia Pusaka untuk community choir yang dibinanya. Dia sangat tertarik dengan lagu lama karya Ismail Marzuki itu.

Kok minta izin ke saya? Bukankah arranger atau penyusun tata suaranya adalah Nortier Simanungkalit (almarhum)? 

Yah, kebetulan saya menulis ulang aransemen SATB (sopran, alto, tenor, bas), kemudian diposting di blog ini. Saya tentu saja tidak keberatan. Justru senang karena lagu bagus itu bisa dinyanyikan oleh paduan suara komunitas ekspatriat yang dibina Mr John.

Diam-diam saya heran sekaligus takjub dengan etika orang Barat, dalam hal ini Mr John. Sebab, partitur itu bisa diklik dengan mudah, kemudian langsung di-print, diperbanyak. Bisa dipakai untuk latihan paduan suara. Tapi rupanya John bukan tipe "orang kita" yang tidak mengenal apa yang disebut copyright, hak cipta, hak atas kekayaan intelektual, dan sebagainya.

Dia minta permisi dulu... sebelum copypaste. Benar-benar terbalik dengan praktik orang kita. Banyak sekali tulisan di blog ini, khususnya tentang gereja atau kristiani, yang di-copypaste begitu saja, kemudian diterbitkan di majalah atau tabloid. Gilanya lagi, si pembajak tulisan alias tukang copypaste itu mencantumkan namanya sendiri sebagai penulis. 

Gilanya lagi, media-media rohani yang paling sering mencuri naskah di internet. Mana ada pencuri yang minta permisi pada pemilik blog? Syukurlah, majalah KANA di Keuskupan Malang meminta izin dulu sebelum memuat ulang (republikasi) salah satu artikel saya tentang umat Katolik di Pulau Madura. Salut!

Saya juga salut kepada majalah TEMPO yang sangat terkenal dan berkualitas itu. Belum lama ini saya terkejut ditelepon tiba-tiba oleh seorang redaktur majalah TEMPO. Ada apa gerangan? 

Aha, ternyata dia minta izin menggunakan foto Michael Bambang Hartono di blog saya. Kebetulan saya sempat memotret sang bos Djarum ini ketika berlangsung jambore nasional taijiquan di Surabaya. Orang-orang superkaya macam Pak Bambang ini memang tidak gampang ditemui sehingga majalah sekelas TEMPO pun tak punya foto dokumentasi. 

Di internet pun hampir tak ada foto-foto orang terkaya di Indonesia, kecuali Liem Sioe Liong yang sudah meninggal. Maka, sekeping foto yang saya jepret pakai kamera poket itu pun menjadi penting saking langkanya. Saya senang karena nama saya dicantumkan TEMPO di kredit foto tersebut.  

Lantas, apakah meng-copypaste naskah, gambar, suara, video, atau apa pun di internet perlu izin? Silakan dijawab sendiri.  

Lagu Ina Maria Diapresiasi Paduan Suara Jakarta

Saya sempat berpikir bahwa blog sudah ketinggalan zaman. Tak banyak lagi penggemar blog di era media sosial yang dipermudah smartphone ini. Maka, saya sempat absen cukup lama dari blog ini.

Ternyata saya keliru. Belakangan ini saya sering mendapat e-mail dari orang-orang jauh, bahkan di luar negeri, setelah membaca catatan pendek di blog ini. Oh, ternyata blog masih ada gunanya. Masih punya manfaat di era internet.

Josaphat Sadsunu, aktivis gereja dan pembina paduan suara di Jakarta, belum lama ini berkunjung ke Larantuka, Flores Timur, NTT. Ibu kota Kabupaten Flores Timur itu memang terkenal punya tradisi Semana Santa, prosesi peringatan wafat Yesus Kristus setiap Jumat Agung, yang diikuti ribuan peziarah dari dalam dan luar negeri.

Boleh dikata, Gereja Katolik di Indonesia yang paling tua berada di Kota Larantuka. Tahun 2010 lalu masyarakat Flores Timur merayakan 100 tahun masuknya agama Katolik ke wilayah Flores Timur, khususnya Larantuka. Karena itu, layaklah bila umat Katolik dari berbagai wilayah di Indonesia mulai sering berwisata rohani ke Larantuka. Masih banyak kapela dan situs-situs Katolik yang masih terjaga di Kota Reinha Rosari itu.

Nah, Josaphat Sadsunu menulis begini:

"Sudah lama saya mendengar lagu Ina Maria dari You Tube dan sangat menikmatinya. Dua pekan lalu saya berada di Larantuka dan dalam ibadah penutup saya meminta para peserta menyanyikan lagu Ina Maria itu. Bulu kuduk saya berdiri, merinding, mendengarkan keindahan syahdu lagu itu.

Sejak mendengar lagu, baik dari Youtube (sejak 3 tahun lalu) dan di Larantuka itu, saya berusaha mencari teks partitur lagu tersebut dan baru 2 hari lalu mendapatkannya dari seorang mantan frater di kantor kami.

Dalam teks aransemen Robert ST  itu ditulis syair dan lagu oleh NN. Saya heran  mosok lagu sangat indah tidak ada pengarangnya, tepatnya tidak ada yang tahu pengarangnya.

Lalu saya search di google dan menemukan blog Anda yang menceritakan ikhwal nyanyian Ina Maria itu. Saya meminta izin apakah lagu Ina Maria sebagaimana terdapat dalam file lampiran (saya copy dari blog Anda) boleh saya share di facebook saya.

Tujuannya: 

1. Menolong orang yang ingin mendapatkan teks partitur lagunya, 

2. Tentu saja memperkenalkan pengarang lagu sebagaimana terdapat dalam teks yang Anda pasang di blog Anda.

Saya menunggu jawaban/balasan Anda. Salam hormat saya untuk Bapak Thomas Kwaelaga di Sandosi, Adonara

Tuhan memberkati,
Sadsunu

Wah, saya tidak menyangka mendapat apresiasi dari Sadsunu. Saya pun tidak menyangka kalau orang luar Flores Timur bisa menikmati lagu INA MARIA (Bunda Maria) dalam bahasa Flores Timur alias Lamaholot. Lagu rohani karya Thomas Kwaelaga itu memang sangat khas Lamaholot, berbahasa Lamaholot, menggunakan nada-nada sederhana, sedih, meratap, khas masyarakat Lamaholot yang sedang berdukacita.

Karena tak ada partitur di Jawa Timur, suatu ketika saya iseng-iseng membuat notasi berdasarkan nyanyian adik saya ketika berlibur di Surabaya. Wow, ternyata ada lagu baru dari Flores Timur yang tidak diketahui kami, putra-putri Lamaholot di perantauan. Saya kemudian memuatnya di internet (blog) agar bisa jadi pengobat rindu orang-orang Lamaholot di luar Nusa Tenggara Timur.

Ehm... rupanya lagu sederhana yang diciptakan Pak Thomas, guru sederhana di Desa Sandosi, Adonara Timur, Flores Timur, itu punya kekuatan luar biasa yang mampu menembus batas geografi. Sama dengan lagu-lagu liturgi Flores Timur yang terkenal di seluruh Indonesia setelah dipoles menjadi Misa Dolo-Dolo.

Saya tentu sangat senang kalau orang Jakarta macam Sadsunu, aktivis paduan suara Gereja Katolik, terharu dengan Ina Maria, dan ingin menyebarluaskannya ke mana-mana. Sadsunu bahkan sudah punya versi terjemahan bahasa Indonesianya.

Sadsunu kembali menulis email untuk saya:

"Bersama ini saya kirimkan ketikan ulang dengan teks bahasa Indonesia (terjemahan bebas) agar penyanyi yang tidak mampu berbahasa Lamaholot bisa mengerti maksud kalimat-kalimat pujian bahasa Lamaholot tersebut. Oleh karena itu mohon bantuan Anda untuk memberikan kritik dan saran. Semoga berkenan di hati."

Membaca apresiasi Sadsunu tentang lagu Ina Maria dan informasi tentang pencipta lagu Ina Maria, yang saya bahas beberapa tahun lalu di blog ini, saya pun sadar bahwa sepotong informasi, sekecil apa pun, ternyata sangat penting bagi orang tertentu. Catatan ringan tentang Ina Maria yang saya buat iseng-iseng, kemudian diposting di blog, ternyata punya manfaat. Setidaknya buat Sadsunu dan paduan suaranya.