06 June 2013

Kulit Gelap Dianggap Jelek



Saat ini Nina Bhattacharya, warga negara Amerika Serikat keturunan India, menjadi peserta Fulbright English Teaching Assistant di Indonesia. Nina kebagian tugas mengajar bahasa Inggris di SMAN Krian, Sidoarjo, Jawa Timur. Lulusan University of Michigan ini sempat terkaget-kaget dengan pandangan sebagian besar orang Indonesia yang cenderung mengidolakan manusia kulit putih atau terang.

Nona Nina pun galau. Dia kemudian menulis pengalamannya dalam sebuah artikel menarik:

Indonesians idealize whiteness. It permeates every aspect of an Indonesian woman’s life, from clothing to beauty regimens. Before hopping onto their scooters, many of my female students pull on thick, winter gloves to fend off the sun’s rays.

“The female teachers delicately powder their faces with foundation two shades lighter. When I go to the drugstore, it is a challenge to find lotion that doesn’t proclaim its whitening properties. There are even whitening products for women’s vaginas. You can’t watch TV without seeing a minimum of five advertisements proclaiming this brand of whitening cream will help you keep your boyfriend. (But, really. It will.)”

Sebagai orang USA tapi bukan kulit putih, Nina mengaku dibuat repot dengan pertanyaan-pertanyaan klise. Kok kulit Anda tidak putih? Mata kamu tidak biru? Teman-teman Nina yang kulit putih tak banyak diberondong pertanyaan seperti ini.

“I’m hitam manis,” katanya tersenyum.

Nina memang harus membuktikan bahwa dia benar-benar Amerika karena fisiknya sama dengan bintang film India. “Saya lahir dan tinggal di Amerika. Keluarga saya memang imigran asal India.”

Miss Nina ini mengaku benar-benar sedih ketika mendengar sejumlah siswinya di Krian merasa tidak cantik karena kulitnya rada gelap alias sawo matang. Pandangan bahwa kulit yang putih, terang, identik dengan cantik, sementara kulit gelap sebagai jelek tidak bisa diterima.

Nina menulis lagi:

My heart breaks when my female students tell me that they are not pretty because of their skin color. ‘Hitam manis, Miss. Too dark,’ they say to me with a smile, over my protests. I think of my college friend. These girls are only fifteen, sixteen, and already internalizing that they are not worth it.”

Bagi Nina, konsep kecantikan ala Barat, yang dianut industri produk kecantikan di Indonesia saat ini, dan diterima luas oleh masyarakat, sangat menyedihkan. Itu tak lain akibat kolonialisme di dunia ketiga yang berlangsung selama ratusan tahun.

7 comments:

  1. Budaya India lagi jauh lebih parah daripada Indonesia kalau soal gelap terangnya kulit. Iklan-iklan cari jodoh di India secara blak-blakan minta calon istri yang berkulit terang (fair skinned), dan iklan yang menawarkan anak putri juga terang-terangan menonjolkan warna kulit yang putih. Kalau di Indonesia masih bisa hitam tapi manis. Kalau di India, hitam alamat Prakash (Prawan kashep).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Prakash Padukone hehehe.... tapi secara umum nasib wong ireng itu memang gak enak. Ada ungkapan "pengusaha hitam": pengusaha jahat yg suka gelapkan pajak dsb. Ilmu hitam: ilmu jahat untuk mencelakakan orang. Golongan hitam: kelompok atau kaum yang jelek tujuannya.

      Delete
    2. Ada perkecualiannya Bung. Coklat misalnya, dark chocolate itu semakin gelap berarti semakin tinggi persentase cokelat murni dan semakin mahal harganya. Begitu juga tehgitel (Teh Legi Kentel), semakin kental tehnya, semakin berasa. Kopi yang lebih hitam (dark roast) juga lebih baik bagi kesehatan. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21809439

      Black Hole itu dalam fisika suatu daerah antariksa yang sangat kuat daya tarik gravitasinya, bahkan cahaya yang lewat pun gak akan lolos dari daya sedotnya.

      Begitu pula selera saya dalam perempuan, semakin berkulit gelap bagi saya daya sedot, eh maaf, daya tariknya semakin luar biasa.

      Delete
  2. Adik2 wanita Indonesia yang hitam manis, janganlah berkecil hati, karena warna kulit kalian sawo matang. Wanita Eropa justru iri dengan warna kulit kalian, sehingga mereka rela berjemur dibawah terik matahari atau berpanggang didalam solarium. Hasilnya toh bukan menjadi sawo-matang, tetapi jadi warna kepiting rebus. Simaklah pepatah ini : Nachts sind alle Katzen grau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di film dan sinetron Indonesia wong ireng iku spesialis pemeran antagonis, penjahat, tukang pukul, preman, wong goblog, kriminal, dsb. Gak ada majikan di film/sinetron kita yg berkulit gelap, apalagi rambut keriting. Aku sih rapopo meskipun DNA indonesia timur yg spesialis pemeran sing gak enak itu hehehe.... Matur nuwun Mr Tenglang di Tiongkok.

      Delete
  3. miss nina apa kabar ya sekarang, kebetulan sekali kok foto yang dipakai diatas adalah kelas saya dulu wkwk

    ReplyDelete
  4. I feel sad after i read this article bcs it is true that almost Indonesian people do believe that people who have white skin tone in Indonesia is more beautiful than who have darker skin tone. This perspective of beauty standard in Indonesia are so embarrassing for me. Why? Bcs the fact is, mostly Indonesian natural skin tone isn’t white but “sawo matang”. So simply i could conclude that Indonesian society doesn’t feel grateful with what god give to them. God give us such a beautiful skin color we should be proud of it.

    “God created our skin tones with beautiful variety, but all off our souls are the same color”
    -Dave Willis-

    ReplyDelete