06 June 2013

Kota Malang Dipimpin Tionghoa

Kalau DKI Jakarta punya Ahok, Kota Malang punya Eng An. Tokoh muslim Tionghoa ini ditetapkan KPU Kota Malang sebagai wali kota Malang periode 2013-2018. Mungkin Anton merupakan kepala daerah pertama dari etnis Tionghoa di Jawa Timur.

Hasil pemilukada di Kota Malang ini cukup mengejutkan mengingat selama ini calon dari PDI Perjuangan selalu menang. Juga mengejutkan karena Anton alias Eng An ini berlatar belakang etnis Tionghoa. Tapi perpecahan di PDIP, dua elite banteng moncong putih memaksakan istri masing-masing maju pilkada, membuat pemilih rame-rame memilih Anton-Sutiaji.

Sejak 2007 dia dipercaya sebagai ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Malang Raya, yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu.

"Pak Anton itu orang yang low profile, mau kerja keras. Makanya, kita percaya beliau bisa menggerakkan PITI di Malang Raya," kata Edwin Suryalaksana, ketua PITI Jawa Timur, saat melantik Anton sebagai ketua PITI Malang Raya.

Seperti di beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur, PITI di Malang Raya sempat stagnan. Tak banyak kegiatan atau konsolidasi. Karena itu, setelah memimpin PITI, Anton langsung bergerak untuk menghidupkan organisasi. Dia juga mempererat kerja sama dengan NU, Muhammadiyah, ormas Islam lain, juga komunitas Tionghoa nonmuslim untuk melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil.

"Mengurus PITI itu murni pengabdian. Organisasi itu tidak punya kaitan dengan politik, tapi sosial keagamaan. PITI itu wadahnya umat Islam, khususnya mualaf Tionghoa," katanya suatu ketika.

Rupanya, aktivitas Anton di PITI dan ranting Nahdlatul Ulama di Malang menjadi modal sosial yang berharga baginya. Maka, dia pun diusung sebagai calon wali kota Malang menghadapi beberapa nama populer. Toh, ketentuan Tuhan pula yang bicara. Anton alias Eng An terpilih sebagai wali kota Malang... versi quick count LSI.

Anton sendiri mengaku lahir dari keluarga yang majemuk, bhinneka tunggal ika. Mereka 9 bersaudara, agama mereka pun majemuk. Ada yang Islam, Khonghucu, Kristen Protestan, dan Katolik. "Papa dulu Khonghucu dan Mama beragama Islam. Jadi, keluarga kami bhinneka tunggal ika," kata suami Dewi Farida ini.

Karena sangat heterogen, menurut Anton, mereka biasa merayakan hari raya Idul Fitri atau tahun baru Imlek bersama-sama. "Kalau Lebaran ngumpulnya ya di rumah saya. Tapi kalau Natal di tempat kakak saya. Semuanya ngumpul bareng dan makan-makan saja," kata anak terakhir dari sembilan bersaudara ini.

2 comments:

  1. Saya suka dengan pemimpin yang seperti ini.....supaya Indonesia terasa sebagai milik kita semua....

    ReplyDelete
  2. Situasi kepercayaan keluarganya saudara Anton Eng-an sama seperti dikeluargaku, Gado-gado. Orang tua penganut Tridharma, sebagian saudara penganut Katolik, sebagian termasuk aku tidak memeluk Agama, walaupun aku semasa remaja bersentuhan dengan Agama Hindu, Budha, Kristen dan Katolik.
    Jika seandainya aku tidak pulang ke Tiongkok, melainkan tetap tinggal di Jawa, aku pasti akan menjadi Mualaf dan naik Haji.
    Bukan munafik lho , sebab aku memang belum punya Agama !
    Lain halnya dengan si Ahok yang sudah ber-kali2 gonta ganti Partai. Ahok penganut idiologi Machiavellismus, semuanya dia halalkan, asal tujuannya mencapai kekuasaan politik terlaksana.
    Justru seorang politikus harus setia terhadap partai yang pernah berjasa membesarkan dirinya.
    Alasan-ku memilih beragama Islam di Jawa sangat jelas ;
    Sebagai Cina-Islam, aku menjadi half-minority.
    Sebagai Cina-Kristen, aku menjadi double-minority.
    Sebagai Cina kelahiran Bali, aku menjadi mayority di Tiongkok.
    Mengapa Tionghoa kaya dari Indonesia gandrung memiliki rumah di Singapura ? Karena disana mereka merasa menjadi mayority.
    Perasaan lahir-batin menjadi bagian dari kommunitas mayoritas tidak bisa diungkapkan dengan kata2. Pokoke lego !
    Seperti perasaan Bung Hurek pulang kampung di Ili-Ape, Flores.
    Soal nasionalisme ? Aku sebagai warga negara selalu bayar pajak dengan patuh dan progresif yang tertinggi, yaitu 50%.
    Aku dulu juga jadi tentara ( wajib militer ), belum pernah berurusan dengan pengadilan, seumur hidup baru ditilang oleh polisi lalu-lintas sebanyak dua kali, karena kecepeten kena radar.
    Kehidupan manusia memang aneh, aku yang menetap di Eropa
    kembali ke Tiongkok, sedangkan ratusan ribu orang China ingin atau sudah minggat dari Tiongkok. C'est la vie.
    Semoga Anton Eng-an seumur hidup tidak korupsi atau menyalah-gunakan kekuasaannya. Ojo ngisin-ngisini Teng-lang !
    Gua rasa Eng-an sama tegas kayak Ahok, tetapi jauh lebih sopan dan santun. Gaya preman tidak laku di Malang.

    ReplyDelete