05 June 2013

Henry Najoan Motor Surabaya Heritage


Di sela kesibukannya sebagai salah satu manajer di PT Wismilak Inti Makmur Tbk, Henry Najoan (50 tahun) terlibat aktif dalam pelestarian bangunan-bangunan cagar budaya di Kota Surabaya dan sekitarnya. Henry bahkan menjadi salah satu motor Sjarikat Poesaka Soerabaia.


Bisa diceritakan kapan Sjarikat Poesaka Soerabaia berdiri?

Deklarasinya dilakukan di Grha Wismilak, Kamis Pahing, 25 Nopember 2010. Deklarasi dilakukan bertepatan dengan penutupan pameran foto-foto Soerabaia Tempo Doeloe yang menggambarkan keadaan Kota Surabaya pada tahun 1890 hingga 1940. Waktu itu sejumlah komunitas pencinta sejarah dan cagar budaya sepakat untuk membentuk sebuah wadah atau konsorsium yang peduli pada pelestarian benda-benda cagar budaya di Kota Surabaya.

Mengapa disebut Sjarikat Poesaka Soerabaia?

Yah, biar terkesan ada nuansa tempo doeloe dengan penggunaan istilah dan ejaan lama. Organisasi ini bahasa Inggrisnya disebut Surabaya Heritage Society. Sebuah konsorsium untuk bersinergi, memfasilitasi, dan saling mendukung para penggiat dan pecinta Kota Surabaya.

Komunitas apa saja yang tergabung di situ?

Cukup banyak. Ada Freddy Istanto dari Surabaya Heritage), saya (Wismilak) Eddy Samson (Tim 11 Von Faber Cagar Budaya), Said Basymeleh (Pelestari Buku/Foto), Surabaya Food, KSPS, KIBAS, Surabaya Memory, Surabaya Tempo Dulu, DHD 45, Paskas/Kosri, Komunitas Tiada Ruang, Roodebrug Surabaya, Jejak Petjinan, dan masih banyak lagi.

Artinya, komunitas-komunitas pelestari heritage itu sebetulnya sudah cukup banyak di Surabaya.

Betul. Dan, selama ini masing-masing komunitas bergerak sendiri-sendiri sesuai dengan fokus dan kepentingannya. Tapi pada dasarnya semuanya didasari motivasi yang sama. Yakni, ingin melestarikan pusaka atau heritage yang ada di Surabaya. Sayang sekali kalau warisan budaya dan sejarah yang bernilai tinggi itu hilang atau dimusnahkan begitu saja.

Bagaimana perhatian pemerintah terhadap cagar budaya?

Sebetulnya sudah ada perhatian, tapi belum begitu maksimal. Karena itulah, Pemerintah Kota Surabaya perlu mitra dari masyarakat atau civil society. Nah, di sinilah pentingnya Sjarikat Poesaka Soerabaia dalam memberikan masukan atau usulan kepada pemkot. Sebagai pecinta sejarah, kami punya kewajiban untuk menyampaikan usulan kepada pihak berwenang seperti pemkot atau DPRD. Kita semua berkepentingan memelihara warisan budaya dan sejarah yang tiada ternilai harganya itu.

Apa saja yang pernah disampaikan Sjarikat Poesaka Soerabaia kepada pemkot?

Contoh sederhananya renovasi gedung Balai Pemuda yang terbakar beberapa waktu lalu. Nah, saat dibangun kembali, rupanya pelaksana proyek lupa atau tidak tahu kalau gedung itu punya ventilasi udara atau cungkup di atapnya. Kok bisa tidak ada. Kita menyampaikan hal itu kepada pihak-pihak terkait. Lha, kalau kita biarka saja, maka Balai Pemuda sebagai bangunan cagar budaya akan berbeda dengan aslinya. Padahal, undang-undang sudah jelas mengatur bahwa bangunan cagar budaya tidak boleh diubah bentuknya.

Ngomong-ngomong, sejak kapan Anda tertarik pada bangunan tempo doeloe?

Sebetulnya sejak kecil saya sudah senang dengan gedung-gedung lama. Waktu masih kecil di Semarang, Jawa Tengah, saya suka main-main di Lawang Sewu. Nuansa tempo doeloe itu sekaligus mengingatkan keluarga saya. Ibu saya itu asli Belanda, Jeanne Louise Dirksen. Beliau itu salah satu orang yang tertinggal ketika orang Belanda dipulangkan setelah kemerdekaan. Jadi, Londo yang ketinggalan kapal itu, ya, ibuku.

Nah, ketika pindah ke Surabaya tahun 1987, saya juga suka menikmati keindahan bangunan cagar budaya. Saya sering jalan-jalan ke Balai Pemuda, Kantor Pos Kebonrojo, Jembatan Merah, Kembang Jepun, Kapasan, dan tempat-tempat lain yang masih kental dengan nuansa tempo doeloe. Saya juga masih suka makan es krim di Zangrandi. Suasana Belandanya masih dapet.

Wah, klop sekali karena sekarang Anda berkantor di dalam sebuah gedung cagar budaya di tengah Kota Surabaya.

Itu juga yang membuat saya lebih semangat dalam bekerja. Saya masih terus mengagumi arsitektur bangunan ini. Saya suka berkeliling melihat-lihat gedung. Bahkan, saya biasa datang ke kantor satu atau dua jam lebih awal agar masih ada waktu untuk keliling-keliling. Selain bernostalgia, kita bisa menghirup udara dari ventilasi jendela yang besar. Sebab, bangunan kolonial itu sangat memperhatikan ventilasi karena disesuaikan dengan iklim tropis, khususnya udara di Surabaya.

Bisa Anda ceritakan secara singkat sejarah Grha Wismilak yang menjadi salah satu bangunan cagar budaya di Surabaya ini?

Gedung ini ikut menjadi saksi sejarah peristiwa 10 November 1945, karena menjadi lokasi penyerahan senjata arek-arek Suroboyo akibat ultimatum Jenderal Mansergh. Sebelumnya, bangunan ini adalah Toko Jan, cabang dari Toko Piet  (kemudian menjadi Toko Metro) di Jalan Tunjungan. Beberapa waktu sebelum Jepang masuk ke Surabaya pada 1942, Toko Jan ditutup. Barang-barang yang masih ada diloak oleh orang Belanda di sekitar Coen Boulevard atau Jalan dr Soetomo sekarang. (lambertus hurek)

Henry Najoan bersama para tokoh Surabaya Heritage Society.


Berburu Data ke Belanda

Berkantor di sebuah bangunan tua di Jalan dr Soetomo 27, Surabaya, yang kini dikenal sebagai Grha Wismilak, membuat Henry Najoan semakin mencintai berbagai hal yang berbau tempo doeloe. Suami dari Ninik Joyo Ahmadi ini pun sibuk melengkapi data sejarah bangunan antik di dekat eks kantor Konjen Amerika Serikat itu.

Gedung yang dulunya berada di pjok Darmo Boulevaard dan Coen Boulevaard itu rampung direvitalisasi pada 1996. Tak hanya mencari data di Surabaya, Henry juga menghubungi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal, Land, en Volkenkunde) atau lembaga penelitian di Negeri Belanda. "Tak sampai satu bulan, tim yang dipimpin Nico van Horn, ahli arsip dari KITLV, langsung datang ke Surabaya untuk melacaknya,” tuturnya.

Akhirnya, tim tersebut menemukan data yang valid. Bahwa gedung tersebut mulanya dimiliki Paul Alexander Johannes Wilhelm Brandenburg Van der Gronden. Ia adalah makelar gula firma GL Sirks & Co.

Tak hanya itu. Tak dinyana, Henry  menemukan kartu pos edisi 1924 dari penjual barang-barang kuno via internet. Di sana tergambar gedung yang juga menjadi saksi sejarah penyerahan senjata Belanda ke Jepang pada masa kemerdekaan. itu “Kartu pos ini belum saya publikasikan dan hanya saya yang punya. Kelak harus dinikmati warga Surabaya agar makin mencintai gedung ini,” katanya bangga.

Di dalam foto post card tersebut, kita bisa melihat secara detail beberapa hal, termasuk pemandangan di sekitar Grha Wismilak. Ada lampu gas yang bisa hidup dengan tarikan bambu. Ada gas station kecil tepat di lokasi yang sekarang jadi pos polisi. Lalu, ada dokar lewat di seberang jalan serta halte mini yang lewat di depan gedung.

“Lewat kartu pos itu saja kita bisa menunjukkan sejarah kita dulu. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga heritage agar anak cucu kita juga masih bisa melihat apa yang kita lihat sekarang. Seperti mata rantai sejarah yang tak akan putus,” ucapnya. (*)


BIODATA SINGKAT

Nama : Henry Najoan
Lahir : Surabaya, 27 Oktober 1962
Istri : Ninik Joyo Ahmadi
Anak : Fabiola Audrey Najoan, Hans William Najoan, dan Raymond Najoan
Jabatan : Chief Personal & Legal Officer PT Wismilak Inti Makmur Tbk
Hobi : Jalan-jalan, kuliner, koleksi foto gedung tua
Alamat : Jalan dr Soetomo 27, Surabaya
Pendidikan : Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang
Organisasi : Sjarikat Poesaka Soerabaia

No comments:

Post a Comment