23 June 2013

Gambus Adonara Bikin Rindu Kampung Halaman

http://www.youtube.com/watch?v=OUzFCzWoY9s

Bapa Kanis Kia sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta, tepatnya di Karet Belakang alias Karbela, tak jauh dari Jalan Sudirman yang terkenal itu. Paman asal Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), ini punya kebiasaan memutar lagu daerah NTT. Tak peduli kampung Karbela itu di sana sini penuh dengan  orang Betawi.

Saya hanya ketawa, geleng-geleng kepala, melihat keunikan Bapa Kia. Hidup di Jakarta serasa di sebuah kampung sederhana di Kabupaten Flores Timur atau Kabupaten Lembata, NTT. Flores banget deh!

"Itu kan lagu lawas. Bapak saya belum lahir juga sudah ada. Kok masih suka?" saya bertanya.

"Denga kantar nepe taan peten ina ama rae lewo, peten Lewotanah," jawabnya.

Hebat memang! Tinggal di Jakarta hingga bercucu, kemampuan berbahasa Lamaholot paman ini (bahasa daerah di Flores Timur) tidak hilang. Artinya: Mendengar lagu daerah untuk mengingat ibu, bapa, sanak saudara di Flores, ingat kampung halaman.

Kemudian kami berdua menikmati GAMBUS ADONARA sembari minum kopi. Bapa Kia begitu menghati syair lagu gambus khas Flores Timur itu. Ada beberapa ungkapan lama yang sudah sulit dipahami generasi muda. 

"Itu pesan supaya kita selalu hati-hati di negeri orang. Jaga diri baik-baik," katanya.

Seperti musik gambus umumnya, GAMBUS ADONARA ini menggunakan instrumen gambus, alat musik petik seperti mandolin. Kalau di Jawa Timur gambus selalu dimainkan bersama, orkes gambus, di Flores, khususnya Adonara, gambus dimainkan tunggal. Karena itu, pemain gambus sangat terkenal di hingga pelosok desa. Di malam bulan purnama, orang-orang kampung duduk di halaman sembari menikmati musik gambus.

KELENG LALENG KELENG SITI BOTE LALENG KELENG

Ungkapan khas  Lamaholot, warga Flores Timur, tentang seorang ibu yang menggendong bayinya dengan penuh cinta. Kata-kata khas semacam inilah yang membuat orang NTT tak pernah lupa kampung halamannya meskipun sudah bertahun-tahun tinggal di tempat lain.

Bagaimanapun juga gambus itu tak lepas dari tradisi musik Timur Tengah. Ia masuk ke Indonesia seiring penyebaran agama Islam. Karena itu, GAMBUS ADONARA atau GAMBUS FLORES  pun berkembang subur di kampung-kampung Islam yang terletak di pinggir pantai. Sebut saja Lamahala, Lamakera, Lohayong, Terong, Baranusa, hingga Alor.

Tapi tidak berarti desa-desa yang mayoritas Katolik tidak mengenal musik gambus. Contohnya di Lembata ada pemain-pemain gambus atau DANA DANI yang lumayan bagus. Tapi biasanya kalah kualitas sama pemusik gambus yang muslim karena kurang latihan.

Mahasiswa-mahasiswi asal Lamahala, Flores Timur, di Jawa Timur kalau berkumpul biasanya mengisi waktu luang dengan main gambus. Satu atau beberapa orang memetik gambus, menyanyi, yang lain ikut menimpali dengan suara atau mengetuk botol. Saya terharu sekaligus tertawa sendiri melihat rekaman video para mahasiswa Lamahala di YouTube yang sedang berlatih gambus.

TETI HADUN TANA ILE BOLENG

Ah, siapa yang tidak ingat Ile Boleng alias Gunung Ile Boleng di kampung halaman?

7 comments:

  1. TETI HADUN TANA ILE BOLENG.... akh lagu nepi naan go kepae lewotana ama...

    ReplyDelete
  2. hehehe... muren ancis.... TITE ATA KOLI LOLON HENA...

    mo peten kantar nepi le take:

    GAMPANG HALA GAMPANG HALA... ATA ANA GAMPANG HALA
    WELIN WITI WELIN BALA... ATA ANA GAMPANG HALA

    hehehe.... kebarek Adonara gampang hala.
    kami pia bala take.

    Salam lewotanah.

    ReplyDelete
  3. Hahahaha... jd ingin bale nagi... so 10 taon ni te bale...

    ReplyDelete
  4. hehehe... muren.peten lewo peten ina ama, peten binek... peten wata kenaen...

    ReplyDelete
  5. Bung Hurek, Deo gratias, kita masih memiliki Kampung Halaman. Saya malah memiliki 2 kampung halaman : Denpasar-Bali, tempat beta dilahirkan, juga tempat pusara ayah dan bunda. Kampung halaman kedua adalah Quanzhou-Fujian, tempat asal usul kakek-nenek moyang menetap disana sejak tahun 1395 A.D. Sejarah itu tertulis bisa dilacak dikelenteng keluarga.
    Jika ditinjau lebih jauh, marga kami sudah ada sejak tahun 1049 B.C.
    Kekuatiran pemerintah Indonesia, jika WNI memiliki 2 kampung halaman, adalah soal loyalitasnya terhadap negara. Bagi saya pribadi, pasport mana yang kau miliki, negara itulah yang harus kau pertahankan dengan jiwa-raga-mu.
    Saya menetap dan beranak pianak di Eropa, memiliki pasport Eropa, memiliki kartu anggota militer Eropa, disumpah wajib mempertahankan negara dengan senjata dan jiwa. Jadi seandainya terjadi perang, maka saya sebagai warga negara wajib membela negara Eropa. Hal ini se-mata2 merupakan Kewajiban seorang Warga Negara. Kewajiban, Sumpah dan Janji memang harus letaknya diatas Tjinta. Bali pacar-ku pertama, Fujian pacar-ku kedua, Bojo-ku ibu- dan nenek-nya anak2 dan cucu2. Kadang2 terkenang dan rindu kepada pacar2 lama, apakah salahnya ? Lha wong lamunan datangnya mendadak diotak. Kalau disuruh pilih, ya tetap pilih bojo. Yah, mangkanya jangan suka bersumpah-serapah, seperti orang2 Indonesia, sitik-sitik, aku sumpah demi Allah, tetapi ngapusi wong lian ne.
    Wis ketangkep KPK, isik wani sumpah demi Allah, saya tidak korupsi, cuma terima gratifikasi.

    ReplyDelete