22 June 2013

Agama Tanpa Tempat Ibadah



Saya sering mengikuti pameran-pameran yang diadakan Buddha Tzu Chi Surabaya. Paling sering pameran makanan vegetarian dan produk hasil daur ulang. Dua hal ini memang sudah menjadi semacam identitas yayasan yang berpusat di Taiwan itu.

“Kita ingin ajak masyarakat untuk menyelamatkan bumi,” kata Bu Vivian Fan, ketua Yayasan Buddha Tzu Chi, Surabaya. Ibu asal Taiwan ini sudah fasih bahasa Indonesia. Dia juga sering jadi native speaker ketika kita belajar bahasa Zhongwen alias Mandarin.

Apa yang menarik dari Buddha Tzu Chi?

“Aliran Buddha Tzu Chi ini tidak egois. Ajarannya sangat kontekstual, sehingga tidak akan bersinggungan dengan agama lain,” kata Dahlan Iskan dalam salah satu tulisannya di buku Pelajaran dari Tiongkok.

Salah satu contoh: pengikut Tzu Chi tidak perlu membangun rumah ibadah atau vihara. Satu-satunya rumah ibadah berlokasi di Hualin, kota kecil di pantai timur Taiwan. Bangunan itu kecil saja, hanya 10 x 8 meter. Di situlah Shang Ren atau guru Buddha Tzu Chi tinggal. Setiap hari padepokan itu dikunjungi ratusan orang dari seluruh dunia.

“Buddha Tzu Chi menjadi menonjol bukan karena banyaknya rumah ibadah, melainkan aktivitas kemasyarakatannya,” begitu Dahlan Iskan menulis.

Karena tidak punya tempat ibadah, di Surabaya cuma kantor biasa di Mangga Dua, Jagir Wonokromo, ritual orang Buddha Tzu Chi lebih ditekankan pada kerja nyata, berbuat baik untuk orang lain, dan menyelamatkan bumi. Karena itu, pada hari Waisak 2557 lalu Buddha Tzu Chi Surabaya mengadakan bakti sosial pengobatan gratis selama dua hari, Sabtu dan Minggu.

Karena tidak perlu tempat ibadah, aktivis Tzu Chi tidak perlu capek-capek meminta izin mendirikan vihara atau demonstrasi karena tempat ibadahnya disegel atau ditutup. Hampir setiap minggu Bu Vivian dan kawan-kawan di Surabaya memang melakukan demonstrasi, tapi demonstrasi membuat aneka produk daur ulang dari barang bekas dan membuat makanan vegetarian yag bergizi.

Siapa saja boleh mencicipi makanan lezat yang katanya lebih sehat ketimbang makanan hewani itu. “Kita sama-sama belajar untuk berbuat baik bagi sesama manusia,” kata Bu Vivian yang selalu tersenyum.

Okelah, Bu Vivian!

3 comments:

  1. Makanan vegetarian terlezat diseluruh dunia ada di Indonesia ! Di Jawa Timur disebut " Jangan " , dipulau Bali disebut " Jukut ". Ketika masih kanak2, teman bermain-ku semuanya anak2 pribumi dikampung, betapa aku ngiler melihat dan mencium bau masakan vegetarian yang dimasak atau diolah oleh ibu2 mereka.
    Mereka makan vegetarian karena keterpaksaan, karena kemiskinan, tidak mampu setiap hari membeli daging. Untungnya tahun 50-an dampak lingkungan ( ecologie ) diseluruh Indonesia masih intakt, tidak ada polusi dan pencemaran,
    sehingga kita bisa menambah santapan protein dengan cara menangkap ikan, yuyu, udang di-kali, mancing lindung dipematang sawah, sambil mengumpulkan siput air, yang di Bali disebut kakol. Disepanjang pantai penuh dengan kerang.
    Tentu saja mereka memelihara hewan ( sapi, kambing, babi, ayam dan itik ), namun bukan untuk disembelih dan dimakan sendiri, melainkan untuk dijual supaya memiliki uang cash. Zaman itu jarang sekali ada orang Indonesia yang gendut, kecuali kaum bangsawan. Perawakan mereka singset, sintal, kuat, ulet.
    Hanya kebetulan, melalui istri-ku, aku berkenalan dengan 3 keluarga konglomerat Indonesia ( mereka termasuk the top 10 orang2 terkaya di Indonesia ). Mereka bilang, kebanyakan anak2- dan cucu2-mereka sudah tidak mau makan daging, istilahnya mungkin vegan. Hidup ini sungguh aneh, yang miskin ingin makan beef-steak, babi panggang, yang kaya minta makan genjer.
    Saya pernah diundang makan malam oleh seorang teman bule yang kaya dan vegetarian, dirumahnya. Orang itu teman lama, yang saya tau, sewaktu masih kere paling suka makan daging. Waktu berangkat kerumahnya, saya agak ragu2,
    makanan apakah yang akan dihidangkan tanpa daging ? Pembukaan dihidangkan Sup-jepang berisi tahu dan rumput laut ( bulung bahasa Bali-nya ),
    berikutnya dihidangkan belasan macam keju asal Prancis, Yunani dan Turki, juga disajikan roti yang dibuat oleh petani setempat dengan tepung biologis, dan buah anggur. Makanannya enak sekali, padahal sebelumnya saya tidak suka makan keju. Lidah Bali koq disuruh makan keju. Ternyata keju yang mahal rasanya memang lain dengan keju murahan asal Belanda. Setelah pulang rumah, istri-saya bilang; kalau lu mau sok2-an jadi vegetarian, gaji-lu tidak cukup untuk makan. Di Eropa daging termasuk bahan makanan yang murah, jika dibandingkan dengan makanan vegan.

    ReplyDelete
  2. Vegetarian itu bagus juga tapi tidak semua orang kuat melakukannya. Saya pernah coba tapi tidak bisa terus..

    ReplyDelete
  3. Buddha Tzu Chi memang sering mempromosikan gaya hidup vegetarian di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. http://www.tzuchi.or.id/about-misi/pola-makan-vegetarian/72

    ReplyDelete