26 June 2013

Bensin Welin Gereka, Hode Balsem

Sabtu, tanggal puluh rua nong rua, wulan nemen, tun 2013, bensin welin gereka kae. Nolo ribu pat ratu lema, welin muring ribu nem, Rp 6.000. Welin nepi te SPBU. Teti lewo, Flores Timur, Lembata, pira? Go koi hala.

 Waktu go balik libur, bensin teti Lewoleba Rp 10.000 buli tou te laran herin. Berarti pedagang gute untung ribu lema ratu lema. Mungkin pi leron bensin teti lewo, Ile Ape, Lembata, Rp 15.000. Uhhh... welin kae ge!

 Bensin welin gereka nepi ti bekin ina, ama, kaka, ari... tambah susah. Aku-aku weke kae musti welin gereka. Hope tahan, kesabo, ikan, ale lolon... tambah susah. Pegawe nong gaji raen. Ina ama ola rae man... tabe aku? Nepe ti pakan BLSM, doit teratu puluh lema, Rp 150.000, bantuan langsung sementara.

 Go peten lewo, mungkin tite lewo tou hode BLSM.... Ra anggap tite gakin, keluarga miskin, doite take, ola man di nepa kahen. Nolo BLSM naranen BLT, bantuan langsung tunai, ribun teratu.... Hode doit nepe tang hope labur, wata wai... gohuka mihin.

 Pemerenta maring meri BBM welin gereka nepe ti doit subsidi rang tula infratsruktur. Laran belen, pelabuhan, lapangan terbang, listrik, oto bis... Mio persaya le take? Go persaya hala di. Nolo pemerenta di maring nepa: BBM welin gereka ti ata belen tula laran.

 Eh, pas go longet Lewotanah, go onek kurang-kurang. Laran belen Lewoleba tai Ile Ape data laga gohuk. Aspal edi sare mulai Lamahora sampe Waipukang. Laran ahaken pe medo-medo. Tite tete sepeda di jadi hala muri. Nolo tite biasa toi ata diken gere sepeda teti lewo. Pi go koi hala muri.

 Bensin welin gereka, tite musti tete sepeda muri. Gere ojek tai Lewoleba welin ayaka. Go gere ojek lali Bandara Wunopito kai Bungamuda pate ribun puluh lema. Kalo uran beleku-beleku, ojek alawen nepe leta ribun teratu. Padahal, laran di doa hala, kilon puluh rua nong telo.

 "Pi muringen tite huda ata diken jadi hala. Tite pate ki beng ra nawo tite," arik tou maring nepa.

 Ben tite maring meri aku. Doi take pe susa tudak!

24 June 2013

Penyanyi Wahyu OS Bisnis Pupuk

Tak ada tempat untuk artis senior, khususnya penyanyi, di panggung hiburan tanah air. Penyanyi yang usianya sudah di atas 28 tahun, kecuali yang benar-benar berkualitas kayak Anggun atau Agnes Monica, hampir pasti ketar-ketir karena harus pensiun dini. Beda dengan artis Barat kayak Mick Jagger atau Rod Stewart yang masih tur keliling dunia di usia 70-an.

Maka, tidak salah kalau banyak artis lawas yang mendaftar jadi calon anggota parlemen. Mereka tak lebih dari mantan artis. Atau, artis-artis yang sepi job. Emilia Contessa sudah lama pensiun. Edo, Tety Kadi, dan sebagainya. Betapa mengerikan dunia hiburan di Indonesia. Tapi, anehnya, makin banyak ibu-ibu yang mendorong anak-anaknya jadi artis dengan mengikuti KDI, X Factor, Indonesia Idol, dan entah apa lagi.

Wahyu Otong Sanjaya atau populernya Wahyu OS 30 tahun yang lalu mulai dikenal publik karena lagu ciptaannya, Senandung Doa, terpilih sebagai lagu terbaik Siaran ABRI RRI-TVRI 1983. Penghargaan yang sangat bergengsi di era satu televisi, TVRI. Senandung Doa kemudian jadi hits luar biasa saat dibawakan Nur Afni Octavia.

PELUKLAH DIRIKU AGAR TAK JAUH DENGANMU
LEBIH BAIK KAU TIDUR DI ATAS PANGKUANKU
SEBELUM TERLENA SENANDUNGKANLAH DOA
UKIRLAH NAMAKU DI RELUNG HATIMU

Ah, saya jadi teringat ibunda saya yang sudah tak ada. Beliau sering bersenandung lagu Senandung Doa ini ketika aku masih berada di kampung halaman, kampung kecil yang berhadapan dengan Laut Flores.

Wahyu OS kemudian bikin album bersama Dian Piesesha di JK Records, Jakarta, dan… meledak. Duet di lagu Ingin Memiliki disebut-sebut sebagai salah satu duet terbaik di Indonesia. Suara Wahyu yang tipis dan tinggi terasa romantis, membelai-belai. Apalagi, dia punya kemampuan menulis syair lagu yang sangat puitis.

Kemudian Wahyu OS produktif menjadi pencipta lagu, khususnya untuk penyanyi-penyanyi orbitan Judhi Kristianto di JK Records, perusahaan rekaman paling heboh pada 1980-an. Cerita selanjutnya, Wahyu OS menghilang dari dunia hiburan.

Ke mana saja Bung Wahyu?

“Saya bisnis ke mana-mana, ngurusin pupuk. Saya jadi petani,” kata Wahyu OS pekan lalu. “Saya sudah lupa caranya bikin lagu. Kalau bikin pupuk sih ayo..”

Laki-laki asal Jawa Barat ini bahkan mondar-mandir ke Brunei Darussalam untuk berbisnis. Dia bahkan sudah tak punya kontak dengan artis-artis populer seangkatannya. “Nah, tiba-tiba saya dikontak sama Nyo. Dia ajak saya rekaman lagi. Hehehe…. aku sudah pensiun kok diajak rekaman,” tutur pria yang suka bercanda ini.

Nyo ini tak lain putra Judhi Kristianto, yang kini menjadi produser dan bos JK Records. Ketika pertama kali rekaman di JK, tahun 1985, Nyo hanyalah seorang bocah kecil. Kini, di tahun 2013, Nyo menjadi seorang pemusik serba bisa lulusan Amerika Serikat.

“Saya kaget sekali melihat si Nyo ini. Jago banget main musik. Sekarang saya yang diajarin menyanyi,” ujar Wahyu.

Maka, rekaman pun dimulai. Wahyu OS pangling dengan studio rekaman sekarang yang canggih, digital, bukan analog seperti era 1980-an. Nyo ingin Wahyu membawakan lagu-lagu lamanya dengan suasana baru. Aransemennya disesuaikan dengan gaya sekarang.

“Saya nyanyi Senandung Doa dengan vokal baru,” tuturnya.

Leonard Kristianto, yang berlatar belakang jazz, menilai Wahyu OS sebagai penyanyi pria yang punya karaker. Penggemarnya banyak. Ini terbukti dari banyaknya permintaan para penggemar Wahyu OS untuk memproduksi ulang lagu-lagu Wahyu OS.

“Tentu saja distribusi album Om Wahyu OS ini tidak bisa disamakan dengan artis-artis baru. Kita pakai jaringan khusus, selain kerja sama dengan Disck Tara,” kata Leonard.

Dua pekan lalu, saya diajak bertemu Leonard Kristianto di Hotel Santika, Pandegiling, Surabaya. Leonard alias Nyo ini memperdengarkan rekaman Wahyu OS yang baru digarapnya. Suara Wahyu OS di lagu Senandung Doa masih terasa sejuk dan romantis.

“Tapi nada dasarnya saya turunkan dari Bes ke As. Bagaimanana pun juga faktor U (usia) tidak bisa dipungkiri. Om Wahyu OS sih menurut saja,” ujar Nyo lantas tertawa kecil.

Apakah Wahyu OS tidak lagi berbisnis pupuk?

“Urusan pupuk sih jalan terus. Setelah masuk studio rekaman lagi, saya pikir-pikir, ternyata bikin lagu, rekaman, produksi album… hampir sama dengan buat pupuk. Hehehe….,” kata pria yang jago main gitar ini.

Gerson Poyk di Ladang Singkong



Harian Kompas edisi Minggu, 9 Juni 2013, memuat wawancara panjang Putu Fajar Arcana dengan GERSON POYK, sastrawan asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang namanya termuat di buku-buku pelajaran bahasa Indonesia.

Kakek ini lagi mejeng dengan sepeda butut di kebun singkong, Depok, Jawa Barat. Oh, inilah Opa Gerson di usia 82 tahun. Masih semangat menulis, jadi petani, punya semangat hidup, masih merawat humor segar.

Dulu, kami, para pelajar di NTT, biasa disuruh membaca cerita Gerson Poyk di surat kabar lokal, DIAN, terbitan Ende, Flores. Gerson Poyk salah satu penulis tetap di koran milik kongregasi pastor-pastor Societas Verbi Divini alias SVD itu. Gerson juga selalu menulis  novel atau cerpen dengan setting suasana NTT, sabana, petani, penggembala, guru desa, masyarakat yang masih cenderung primitif.

"Gerson Poyk itu salah satu sastrawan asal NTT yang patut dibanggakan. Sangat jarang ada orang NTT yang tercatat sebagai sastrawan di buku-buku. Kalian harus banyak membaca agar kelak bisa menulis bagus seperti Gerson Poyk," seorang bapak guru menjelaskan di depan kelas di Flores Timur, kampung halaman saya.

Maka, nama Gerson Poyk tak pernah hilang dari otak saya. Tapi terus terang baru kali ini saya melihat wajahnya di Kompas Minggu, 9 Juni 2013. Kakek yang tetap konsisten mengarang, bertani, bercanda, dengan humor-humornya yang pahit.

Baru kali ini saya dibuat tertawa, tapi sekaligus tersekat, membaca obrolan di Kompas Minggu. "Wuedan tenan!" kata orang Jawa Timur.

Kok ada manusia NTT yang  membuat jutaan pembaca Kompas Minggu tertawa ngakak sekaligus menangis. Tangis dan tawa, tragedi dan komedi diaduk jadi satu. Dan itu bukan fiksi. Itulah perjalanan hidup seorang wartawan, sastrawan, budayawan, sekaligus tokoh masyarakat NTT yang sangat terkenal di bumi Flobamora.

"Ibu sudah lama nggak ada ya?" Putu Fajar Arcana bertanya.

"Istri saya hilang kira-kira enam tahun silam," jawab Gerson Poyk enteng.

Istri Gerson menderita DEMENTIA SENILIS, kehilangan memori total. Dia meninggalkan rumah, tak bisa pulang karena tak ingat lagi di mana rumah, alamat, bahkan nama suami, anak-anak, cucu. "Kami sudah cari ke mana-mana tapi tidak ketemu. Entah dia di mana sudah," kata Gerson Poyk.

Gerson belum kehilangan humornya. Dia tunjukkan foto Antoneta Saba, istrinya, ketika masih muda. "Coba lihat foto itu, cantik kan!"

Hehehe.... Saya ketawa keras membuat pemilik warung kopi di Wonokromo, Surabaya, terheran-heran. Jangan-jangan saya dianggap wuedan sama si tukang kopi asal Madura itu. Perasaanku diaduk-aduk oleh sang pengarang idola yang karya-karyanya dulu sering saya baca di DIAN, surat kabar mingguan khas Flores, langganan bapak saya.

Opa Gerson Poyk kok begini ya?

Tidak semua pengarang, penulis, atau sastrawan hidup dengan tragedi-komedi seperti Gerson Poyk. Apalagi novelis-novelis laris yang sudah masuk bilangan kaum pesohor alias selebritas. Tapi paling tidak pengalaman hidup Gerson Poyk bisa jadi cermin untuk orang muda yang hendak masuk ke komunitas penulis atau sastrawan.

"Saya tetap sehat kecuali sedikit kanker saja," kata Gerson Poyk.

"Oh ya, ampun... sejak kapan?"

"Ah, kan biasa pengarang hidup akrab dengan kantong kering. Hahahaha...."

Hahahaha.... Saya pun kembali tertawa sendiri di warkop pinggir sungai itu. Juragan kopi masih heran melihat saya. "Ono opo kok pean ngguyu dhewek?"

Hahahaha.... Wuedan tenan, Cak!

Anie Carera Jadi Cawawali Madiun


Penyanyi wanita yang tidak lekas banting setir, atau cepat-cepat menikah dengan pengusaha kaya, biasanya kesulitan di usia senja. Job sepi, tren musik sudah jauh berbeda. Apalagi industri musik Indonesia yang belakangan makin dirasuki virus koplo dengan goyangan erotis.

Siapa gerangan yang ingin menyaksikan goyangan biduanita tua?

Maka, tak heran banyak artis lawas yang mencoba peruntungan dengan main politik. Jadi caleg, ikut pemilukada, jadi pengurus partai, dan sebagainya. Wajar karena popularitas sudah punya. Tinggal membaca-baca sedikit aturan main politik, isu-isu mutakhir, si artis lawas pun berubah menjadi politikus.

Kabar terbaru dari Jawa Timur, penyanyi pop 1990-an Tri Nuryani, yang populer dengan nama ANIE CARERA, baru saja mendaftarkan diri sebagai calon wakil wali kota Madiun. Wanita kelahiran 1 Juni 1969 ini memang asli Madiun.

"Saya yakin bakal menang bersama pasangan saya, Pak Sutopo, calon wali kota," kata Anie Carera yang kini tampil rapi dengan busana muslimah. Pasangan Sutopo-Anie Carera diusung Hanura, PDP, dan PDS. "Saya punya komitmen untuk memberdayakan kaum wanita."

Belajar menyanyi di kampung halamannya, Tri Nuryani alias Anie Carera ini mulai dikenal masyarakat Jawa Timur setelah tampil di TVRI Surabaya. Gombloh (almarhum) melihat Anie punya bakat untuk masuk dapur rekaman. Saat itu Surabaya punya Nirwana Records, major label yang sangat terkenal, dan Gombloh sebagai salah satu komposernya.

Nah, pada 1988 Gombloh membuat album perdana Anie Carera berjudul Janji Itu Manis.

Anie sempat vakum dari dunia musik karena ingin fokus kuliah serta bekerja di BRI Surabaya. Tahun 1996, Anie Carera meluncurkan album Cintaku Tak Terbatas Waktu yang terjual lebih dari 1 juta keping di Indonesia dan Malaysia. Album inilah yang melejitkan nama Anie Carera sampai saat ini.

"Yang menggarap album itu adalah Bang Deddy Dores. Kebetulan musiknya Deddy Dores lagi disukai masyarakat," katanya.

Sejak tahun 2000, Anie Carera dan penyanyi-penyanyi seangkatannya menghilang dari industri musik yang tengah dikuasai band-band seperti Padi, Sheila on 7, Dewa 19, Gigi. Hampir tak ada lagi penyanyi solo yang menonjol. Warna musik pun berubah sama sekali. Maka, nama Annie Carera pun tenggelam.

"Job sih tetap ada tapi terbatas," katanya.

Nah, ketika orang sudah melupakan dirinya, berita artis masih didominasi Eyang Subur, Fathanah dengan wanita-wanita mainannya, kawin cerai artis, tiba-tiba Annie Carera muncul dengan kejutan. Mendaftarkan diri ke KPU Kota Madiun sebagai bakal calon wakil wali kota. Pemilihan wali kota Madiun baru akan digelar pada 29 Agustus 2013.

Akankah Annie Carera berhasil mencetak hits hingga lima juta kaset/CD, seperti dikutip Wikipedia? Waktulah yang akan menjawab.

Album Pertama Nike Ardilla yang Belum Rilis




Pernah dengan penyanyi bernama Nike Astrina? Pasti jarang yang dengar. Kalau Nike Ardilla? Nah, orang-orang lama hampir pasti pernah mendengar. Bahkan, pernah bersenandung lagu-lagunya seperti Bintang Kehidupan atau Seberkas Sinar. Artis Nike Ardilla tak pernah lepas dari Deddy Dores, komposer sekaligus penata musiknya.

Nike yang lahir di Bandung, 27 Desember 1975, meninggal dunia di kota asalnya pada 19 Maret 1995 pada umur 19 tahun. Saat itu mobil Honda Civic yang dikendarainya menghantam beton di Jalan RE Martadinata Bandung. Meski karier keartisannya sangat pendek, Nike punya penggemar yang sangat banyak. Bahkan, saat ini Nike Ardilla Fans Club (NAFC) masih eksis. Mereka sering berziarah ke makam artis idolanya itu.

Lantas, mengapa nama Nike Astrina belakangan ini sering muncul di internet?

"Saya berencana merilis album Nike yang tidak pernah dirilis sebelumnya. Proses produksi sudah dilakukan, tinggal menunggu timing yang tepat saja," kata Leonard Kristianto, produser sekaligus arranger JK Records, Jakarta.

Alkisah, pada 1980-an Denny Sabri (almarhum), pencari bakat artis baru, membawa gadis remaja bernama Nike Ratnadilla kepada Judhi Kristianto, ayah Leonard, yang saat itu produser dan pemilik JK Records. Maklum, saat itu JK Records sangat sukses memproduksi album artis-artis pop manis seperti Dian Piesesha, Meriam Bellina, Ria Angelina, Lydia Natalia, Chintami Atmanegara, Annie Ibon, dan sebagainya.

Judhi Kristianto pun tertarik untuk mengoribitkan Nike yang saat itu berusia 12 tahun. Nah, Nike kemudian diganti namanya oleh Judhi menjadi Nike Astrina. Sengaja dibuat mirip Nicky Astria yang ketika itu berjaya sebagai penyanyi rock wanita di tanah air.

"Jadi, kami di JK Records mengenal Nike sebagai Nike Astrina," tutur Leonard kepada saya di Hotel Santika, Pandegiling, Surabaya, belum lama ini.

Sempat ikut tur bersama artis-artis JK, Nike kemudian masuk studio rekaman. Gitaris band D'LLoyd, Bartje Van Houten, yang menangani aransemen musik Nike. Album Nike pun tuntas. "Tapi belum sempat diedarkan karena usianya terlalu muda. Lagi pula, Papa (Judhi Kristianto) masih menunggu momentum yang tepat. Sebab, gaya musik Nike Astrina berbeda dengan kebanyakan artis-artis JK," kata Leonard.

Tak tahan menunggu terlalu lama, Nike pindah ke label yang lain. Setelah membuat dua album dengan nama Nike Astrina, Nike kemudian mengganti namanya menjadi Nike AR (singkatan Astrina dan Ratnadilla). Tapi nama ini pun kurang hoki. Pada 1990-an dia merilis album pertama Seberkas Sinar dengan nama Nike Ardilla. Nama yang bertahan dan dikenal penggemar musik pop hingga kini.

Apa boleh buat, album yang sudah diproduksi di JK Records dengan nama Nike Astrina, judulnya Hanya Kamu, tak pernah beredar di pasar. Belakangan muncul desakan dari fans Nike Ardilla agar album super perdana itu segera dirilis. Leonard tak langsung setuju. Sebab, dia melihat kondisi musik tanah air tidak lagi seperti era kaset dulu.

Di era digital dan internet ini pembajakan merajalela. Orang bisa dengan mudah mengunduh lagu-lagu di internet. Ini pula yang membuat sebagian besar perusahaan rekaman di Indonesia senen-kemis, bahkan bangkrut.

"Tapi fans Nike terus saja mendesak agar kami segera merilis album yang masternya di papa saya (Judhi Kristianto)," tutur Leonard yang biasa disapa Bang Nyo.

Pikir punya pikir, Leonard pun mengiayak. Syaratnya, para penggemar Nike yang tergabung dalam NAFC harus melakukan pre order minimal 3.000 CD. Bila perlu 6.000 CD. Mana ada produser yang mau rugi, bukan?

Leonard juga mensyaratkan satu orang hanya boleh mengorder satu CD. Nama-nama pemesan itu akan menjadi database bagi JK Records sekaligus NAFC. "Soalnya, sampai sekarang kita tidak punya database penggemar artis."

Apakah sudah tercapai kuota minimal itu?

"Masih dalam proses. Sudah mulai mendekati, tapi belum terpenuhi. Tapi saya yakin dalam beberapa minggu ke depan sudah bisa tercapai," kata Leonard. "Itu juga tergantung NAFC."

Nah, di saat NAFC masih sibuk mencari para calon pembeli CD Nike Astrina, Leonard dan manajemen JK Records menemui keluarga mendiang Nike di Bandung. Menyampaikan rencana merilis album Nike yang ngendon di dapur JK selama hampir 30 tahun.

"Keluarga Nike menyambut baik. Bahkan, mereka ingin agar hasil dari album itu bisa dipakai untuk membantu yayasan sosial yang dibentuk oleh almarhumah Nike di Bandung," kata pria yang menempuh pendidikan musik di Amerika Serikat ini.

Yah... kita tunggu saja!

Bikin album di masa sekarang sangat mudah, studio banyak, pemusik berjibun, tapi siapa yang bakal membeli? Produser mana yang mau rugi ratusan juta?

MORE INFORMATION:
http://www.facebook.com/JK4NikeArdilla

23 June 2013

Gambus Adonara Bikin Rindu Kampung Halaman

http://www.youtube.com/watch?v=OUzFCzWoY9s

Bapa Kanis Kia sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta, tepatnya di Karet Belakang alias Karbela, tak jauh dari Jalan Sudirman yang terkenal itu. Paman asal Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), ini punya kebiasaan memutar lagu daerah NTT. Tak peduli kampung Karbela itu di sana sini penuh dengan  orang Betawi.

Saya hanya ketawa, geleng-geleng kepala, melihat keunikan Bapa Kia. Hidup di Jakarta serasa di sebuah kampung sederhana di Kabupaten Flores Timur atau Kabupaten Lembata, NTT. Flores banget deh!

"Itu kan lagu lawas. Bapak saya belum lahir juga sudah ada. Kok masih suka?" saya bertanya.

"Denga kantar nepe taan peten ina ama rae lewo, peten Lewotanah," jawabnya.

Hebat memang! Tinggal di Jakarta hingga bercucu, kemampuan berbahasa Lamaholot paman ini (bahasa daerah di Flores Timur) tidak hilang. Artinya: Mendengar lagu daerah untuk mengingat ibu, bapa, sanak saudara di Flores, ingat kampung halaman.

Kemudian kami berdua menikmati GAMBUS ADONARA sembari minum kopi. Bapa Kia begitu menghati syair lagu gambus khas Flores Timur itu. Ada beberapa ungkapan lama yang sudah sulit dipahami generasi muda. 

"Itu pesan supaya kita selalu hati-hati di negeri orang. Jaga diri baik-baik," katanya.

Seperti musik gambus umumnya, GAMBUS ADONARA ini menggunakan instrumen gambus, alat musik petik seperti mandolin. Kalau di Jawa Timur gambus selalu dimainkan bersama, orkes gambus, di Flores, khususnya Adonara, gambus dimainkan tunggal. Karena itu, pemain gambus sangat terkenal di hingga pelosok desa. Di malam bulan purnama, orang-orang kampung duduk di halaman sembari menikmati musik gambus.

KELENG LALENG KELENG SITI BOTE LALENG KELENG

Ungkapan khas  Lamaholot, warga Flores Timur, tentang seorang ibu yang menggendong bayinya dengan penuh cinta. Kata-kata khas semacam inilah yang membuat orang NTT tak pernah lupa kampung halamannya meskipun sudah bertahun-tahun tinggal di tempat lain.

Bagaimanapun juga gambus itu tak lepas dari tradisi musik Timur Tengah. Ia masuk ke Indonesia seiring penyebaran agama Islam. Karena itu, GAMBUS ADONARA atau GAMBUS FLORES  pun berkembang subur di kampung-kampung Islam yang terletak di pinggir pantai. Sebut saja Lamahala, Lamakera, Lohayong, Terong, Baranusa, hingga Alor.

Tapi tidak berarti desa-desa yang mayoritas Katolik tidak mengenal musik gambus. Contohnya di Lembata ada pemain-pemain gambus atau DANA DANI yang lumayan bagus. Tapi biasanya kalah kualitas sama pemusik gambus yang muslim karena kurang latihan.

Mahasiswa-mahasiswi asal Lamahala, Flores Timur, di Jawa Timur kalau berkumpul biasanya mengisi waktu luang dengan main gambus. Satu atau beberapa orang memetik gambus, menyanyi, yang lain ikut menimpali dengan suara atau mengetuk botol. Saya terharu sekaligus tertawa sendiri melihat rekaman video para mahasiswa Lamahala di YouTube yang sedang berlatih gambus.

TETI HADUN TANA ILE BOLENG

Ah, siapa yang tidak ingat Ile Boleng alias Gunung Ile Boleng di kampung halaman?

22 June 2013

Agama Tanpa Tempat Ibadah



Saya sering mengikuti pameran-pameran yang diadakan Buddha Tzu Chi Surabaya. Paling sering pameran makanan vegetarian dan produk hasil daur ulang. Dua hal ini memang sudah menjadi semacam identitas yayasan yang berpusat di Taiwan itu.

“Kita ingin ajak masyarakat untuk menyelamatkan bumi,” kata Bu Vivian Fan, ketua Yayasan Buddha Tzu Chi, Surabaya. Ibu asal Taiwan ini sudah fasih bahasa Indonesia. Dia juga sering jadi native speaker ketika kita belajar bahasa Zhongwen alias Mandarin.

Apa yang menarik dari Buddha Tzu Chi?

“Aliran Buddha Tzu Chi ini tidak egois. Ajarannya sangat kontekstual, sehingga tidak akan bersinggungan dengan agama lain,” kata Dahlan Iskan dalam salah satu tulisannya di buku Pelajaran dari Tiongkok.

Salah satu contoh: pengikut Tzu Chi tidak perlu membangun rumah ibadah atau vihara. Satu-satunya rumah ibadah berlokasi di Hualin, kota kecil di pantai timur Taiwan. Bangunan itu kecil saja, hanya 10 x 8 meter. Di situlah Shang Ren atau guru Buddha Tzu Chi tinggal. Setiap hari padepokan itu dikunjungi ratusan orang dari seluruh dunia.

“Buddha Tzu Chi menjadi menonjol bukan karena banyaknya rumah ibadah, melainkan aktivitas kemasyarakatannya,” begitu Dahlan Iskan menulis.

Karena tidak punya tempat ibadah, di Surabaya cuma kantor biasa di Mangga Dua, Jagir Wonokromo, ritual orang Buddha Tzu Chi lebih ditekankan pada kerja nyata, berbuat baik untuk orang lain, dan menyelamatkan bumi. Karena itu, pada hari Waisak 2557 lalu Buddha Tzu Chi Surabaya mengadakan bakti sosial pengobatan gratis selama dua hari, Sabtu dan Minggu.

Karena tidak perlu tempat ibadah, aktivis Tzu Chi tidak perlu capek-capek meminta izin mendirikan vihara atau demonstrasi karena tempat ibadahnya disegel atau ditutup. Hampir setiap minggu Bu Vivian dan kawan-kawan di Surabaya memang melakukan demonstrasi, tapi demonstrasi membuat aneka produk daur ulang dari barang bekas dan membuat makanan vegetarian yag bergizi.

Siapa saja boleh mencicipi makanan lezat yang katanya lebih sehat ketimbang makanan hewani itu. “Kita sama-sama belajar untuk berbuat baik bagi sesama manusia,” kata Bu Vivian yang selalu tersenyum.

Okelah, Bu Vivian!

Frater Clemens Pendiri Museum Zoologi di Malang


Di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Frater Maria Clemens Keban BHK dikenal sebagai gurunya guru-guru. Biarawan Katolik dari kongregasi Bunda Hati Kudus (BHK) ini memang sejak dulu mengajar di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Frateran Podor, Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur. Dus, dulu, hampir semua guru SD di daerah saya dicetak di sekolah berasrama itu.

Frater Clemens pun tak hanya mengajar di SPG, tapi juga hampir semua SMA di Kota Larantuka. Mengapa? Pria kelahiran Flores Timur 75 tahun silam ini seorang poliglot. Dia bisa casciscus dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Latin, Spanyol, dan entah bahasa apa lagi. Bagi sang frater, tidak ada bahasa yang sulit di dunia ini. Asalkan punya kemauan, mau belajar, tidak malu menirukan ucapan dari native speaker, pasti bisa.

Beliau spesialis mengajar bahasa Inggris dan bahasa Jerman. Cara mengajarnya sangat asyik. Anak-anak kampung di Flores yang tak pernah kenal bahasa Inggris, bahkan bahasa Indonesia pun masih sepotong-sepotong karena setiap hari berbicara dalam bahasa Lamaholot, dibuat kerasan mengikuti pelajarannya. Senyumnya yang ramah membuat Frater Clemens disukai para peserta didik.

Pria yang hobi mengumpulkan cangkang (kulit) siput dan kerang, juga senang reptil, ini juga piawai dalam manajemen persekolahan. Dia pun paling matang dalam membina frater-frater muda BHK di seluruh Indonesia. Maka, Frater Clemens kemudian ditarik ke Kota Malang.

Jadilah dia penguasa semua sekolah Frateran mulai dari tingkat TK/SD hingga SMA. Frater-frater BHK ini punya yayasan pendidikan bernama Yayasan Mardi Wiyata yang berpusat di Malang. Karena itu, sebagian besar sekolah yang berada di bawah yayasan ini menggunakan nama Frateran. Ya, Frateran BHK.

Frater Clemens pun boyongan dari NTT menuju Celaket 21 alias Jalan Jaksa Agung Suprapto Nomor 21, Malang, Jawa Timur. Di situlah pusat yayasan sekaligus bercokol beberapa sekolah frateran yang cukup terkenal seperti SMAK Frateran Malang dan SMPK Celaket 21. Di Surabaya, yang paling terkenal tentu saja SMAK Frateran  di Jalan Kepanjen Nomor 8, dekat Gereja Katolik tertua itu.

Di balik kiprahnya yang sangat intensif sebagai guru dan pengelola sekolah-sekolah Frateran, saya baru tahu kalau Frater Clemens ini juga seorang kolektor cangkang siput, kerang, dan reptilia. Kapan dia mencari cangkang kalau jadwal mengajarnya sangat padat? Belum lagi harus mengurus semua sekolahnya di Jawa Timur, bahkan seluruh Indonesia?

Yah, ternyata orang Solor ini blusukan di sela waktu luangnya ke pantai. Saat bertugas di luar negeri dia kumpulkan cangkang-cangkang yang dia anggap khas. Dia juga punya teknik yang sederhana tapi efektif untuk menangkap segala jenis ular dan binatang melata (reptilia).

“Saya belajar dari almarhum Frater Vianney BHK. Beliau guru saya yang juga konkolog, ahli di bidang siput dan kerang,” kata Frater Clemens suatu ketika.

Frater Vianney, biarawan dan guru asal Belanda, juga punya koleksi kulit siput dan kerang segudang. Ditambah koleksi Frater Clemens, jumlah koleksi menjadi ribuan banyaknya. Ketimbang disimpan di gudang, Clemens kemudian mengusulkan kepada kongregasi BHK untuk membuka sebuah museum zoologi di Malang. Museum ini sekaligus sebagai laboratorium atau tempat belajar para pelajar dan mahasiswa di seluruh Indonesia. Tidak hanya siswa-siswi sekolah-sekolah Frateran saja.

Begitulah. Pada 2004 museum zoologi pertama di Jawa Timur pun dibuka secara resmi di Jalan Karangwidoro 7, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kompleks yang sejuk dan penuh bunga ini memang punya ratusan koleksi yang unik. “Ada sekitar 80 famili hewan mollusca yang ada di Indonesia dan beberapa negara lain,” katanya.

Setiap tahun Museum Zoologi Frater Vianney ini dikunjungi ribuan pelajar dari tingkat TK hingga perguruan tinggi. Frater Clemens pun biasanya memandu sendiri para pengunjung. Bahkan, dia mengajak anak-anak itu bermain-main dengan ular… yang tidak berbisa tentu saja.

“Museum ini terbuka untuk siapa saja,” katanya.

06 June 2013

Reynold Panggabean - Camelia Malik - Tarantula

 Apa yang Anda tahu tentang Camelia Malik? Saat ini pemirsa acara gosip di televisi tahunya penyanyi dangdut lawas ini tengah bermasalah dengan suaminya, Harry Capri. Mengikuti proses perceraian di pengadilan agama setelah berumah tangga selama 25 tahun.

Tapi, bagi penikmat musik di tanah air, nama Camelia Malik tak bisa dipisahkan dari musik dangdut. Mia, sapaan akrab Camelia Malik, merupakan salah satu tokoh pembaru musik dangdut pada pertengahan 1970-an. Bersama komposer Reynold Panggabean dari The Mercy’s Band, yang waktu itu suaminya, Camelia Malik mendirikan grup musik Tarantula.

Grup Tarantula saat itu menawarkan dangdut rasa pop. Dangdut dengan racikan irama Latin yang dahsyat. “Awalnya hanya sekadar eksperimen untuk menggabungkan instrumen pop, rock, dangdut. Kita ingin ada warna lain di dangdut,” kata Camelia Malik, mantan istri almarhum Fuad Hassan, drummer God Bless.

Reynold Panggabean memang komposer dan arranger yang sangat kreatif. Lewat tangan dinginnya, Tarantula berhasil mencetak hit pertama berjudul Colak-Colek pada 1977. Mia dan Reynold membuat dangdut dan orkes melayu yang tadinya dianggap kampungan perlahan-lahan naik kelas.

“Kita buat Colak-Colek karena sebelumnya ada Cubit-cubitan dari Elvy Sukaesih yang sukses. Memang kita selalu cari sisi komersialnya supaya laku,” kata saudari rocker Achmad Albar satu ibu lain ayah itu.

Reynold-Camelia pun terjebak dalam arus industri rekaman yang selalu ingin mencetak laba. Maka, setelah Colak-Colek, dibuatlah lagu dengan judul yang mirip seperti Raba-Raba, Ceplas-Ceplos, Asyik-Asyik, Kecup-Kecup, Kasak-Kusuk, Sayang-Sayang, Kedap-Kedip, Manis-Manis. Orkes Tarantula bermain-main kata ulang dengan syair yang genit dan menggoda.

Camelia Malik dan Reynold Panggabean dianggap menandai era baru dangdut pop yang mengawinkan salsa, rock, disco. “Irama khas dangdut yang berbasis India dan Timur Tengah tetap dipertahankan. Tarantula juga menambah alat musik sitar dari India,” kata Prof Andrew Weintraub PhD, peneliti dangdut dari University of Pittsburgh, Amerika Serikat.

Karakter vokal Camelia Malik pun cenderung polos, tanpa cengkok, yang sangat pop. Berbeda dengan Elvy Sukaesih atau Ellya Khadam, dua biduanita orkes melayu saat itu, yang sangat bercengkok khas dangdut. Camelia Malik juga memperkenalkan goyang jaipongan saat bernyanyi.

“Nari jaipongan itu ada aturannya, enggak bebas kayak joget dangdut biasa,” katanya.

Sayang, eksperimen Camelia Malik dan Reynold Panggabean ini tak bisa bertahan lama. Ini juga akibat semakin kuatnya pengaruh Rhoma Irama, yang dijuluki si Raja Dangdut, di blantika musik hiburan tanah air.

Orkes Tarantula pun kian melemah seiring retaknya biduk rumah tangga pasangan musisi ini. Duet maut ini pun bubar. Camelia Malik jadi janda. Dan tak lama kemudian putri Djamaluddin Malik, sineas kondang itu, oleh Rhoma Irama dijodohkan dengan Harry Capri. Saat itu Bung Capri ini sedang sukses sebagai produser film.

Eh, setelah berjalan 25 tahun, Camelia Malik kembali diterpa badai rumah tangga. Saya lihat wajah Camelia Malik di televisi lesu, kelelahan, tak lagi ceria seperti ketika masih berjaya dengan jaipongan dan pop dangdut bersama Tarantula. Kita pun seakan lupa bahwa Camelia Malik pernah menjadi salah satu figur penting di dunia musik melayu-dangdut Indonesia.

Wahai, Camelia Malik, tabahkan hatimu. Aku ingin melihat dirimu bergoyang ceria. Berbagi kegembiraan kepada rakyat negara antah berantah ini yang terus dirundung kepedihan gara-gara ulah elite politik dan penguasa yang tidak amanah.

MEMANG ANEH DUNIA JAMAN SEKARANG
BANYAK ORANG-ORANG BILANG
TAK ADA UANG TAK SAYANG

Kulit Gelap Dianggap Jelek



Saat ini Nina Bhattacharya, warga negara Amerika Serikat keturunan India, menjadi peserta Fulbright English Teaching Assistant di Indonesia. Nina kebagian tugas mengajar bahasa Inggris di SMAN Krian, Sidoarjo, Jawa Timur. Lulusan University of Michigan ini sempat terkaget-kaget dengan pandangan sebagian besar orang Indonesia yang cenderung mengidolakan manusia kulit putih atau terang.

Nona Nina pun galau. Dia kemudian menulis pengalamannya dalam sebuah artikel menarik:

Indonesians idealize whiteness. It permeates every aspect of an Indonesian woman’s life, from clothing to beauty regimens. Before hopping onto their scooters, many of my female students pull on thick, winter gloves to fend off the sun’s rays.

“The female teachers delicately powder their faces with foundation two shades lighter. When I go to the drugstore, it is a challenge to find lotion that doesn’t proclaim its whitening properties. There are even whitening products for women’s vaginas. You can’t watch TV without seeing a minimum of five advertisements proclaiming this brand of whitening cream will help you keep your boyfriend. (But, really. It will.)”

Sebagai orang USA tapi bukan kulit putih, Nina mengaku dibuat repot dengan pertanyaan-pertanyaan klise. Kok kulit Anda tidak putih? Mata kamu tidak biru? Teman-teman Nina yang kulit putih tak banyak diberondong pertanyaan seperti ini.

“I’m hitam manis,” katanya tersenyum.

Nina memang harus membuktikan bahwa dia benar-benar Amerika karena fisiknya sama dengan bintang film India. “Saya lahir dan tinggal di Amerika. Keluarga saya memang imigran asal India.”

Miss Nina ini mengaku benar-benar sedih ketika mendengar sejumlah siswinya di Krian merasa tidak cantik karena kulitnya rada gelap alias sawo matang. Pandangan bahwa kulit yang putih, terang, identik dengan cantik, sementara kulit gelap sebagai jelek tidak bisa diterima.

Nina menulis lagi:

My heart breaks when my female students tell me that they are not pretty because of their skin color. ‘Hitam manis, Miss. Too dark,’ they say to me with a smile, over my protests. I think of my college friend. These girls are only fifteen, sixteen, and already internalizing that they are not worth it.”

Bagi Nina, konsep kecantikan ala Barat, yang dianut industri produk kecantikan di Indonesia saat ini, dan diterima luas oleh masyarakat, sangat menyedihkan. Itu tak lain akibat kolonialisme di dunia ketiga yang berlangsung selama ratusan tahun.

Kota Malang Dipimpin Tionghoa

Kalau DKI Jakarta punya Ahok, Kota Malang punya Eng An. Tokoh muslim Tionghoa ini ditetapkan KPU Kota Malang sebagai wali kota Malang periode 2013-2018. Mungkin Anton merupakan kepala daerah pertama dari etnis Tionghoa di Jawa Timur.

Hasil pemilukada di Kota Malang ini cukup mengejutkan mengingat selama ini calon dari PDI Perjuangan selalu menang. Juga mengejutkan karena Anton alias Eng An ini berlatar belakang etnis Tionghoa. Tapi perpecahan di PDIP, dua elite banteng moncong putih memaksakan istri masing-masing maju pilkada, membuat pemilih rame-rame memilih Anton-Sutiaji.

Sejak 2007 dia dipercaya sebagai ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Malang Raya, yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu.

"Pak Anton itu orang yang low profile, mau kerja keras. Makanya, kita percaya beliau bisa menggerakkan PITI di Malang Raya," kata Edwin Suryalaksana, ketua PITI Jawa Timur, saat melantik Anton sebagai ketua PITI Malang Raya.

Seperti di beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur, PITI di Malang Raya sempat stagnan. Tak banyak kegiatan atau konsolidasi. Karena itu, setelah memimpin PITI, Anton langsung bergerak untuk menghidupkan organisasi. Dia juga mempererat kerja sama dengan NU, Muhammadiyah, ormas Islam lain, juga komunitas Tionghoa nonmuslim untuk melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil.

"Mengurus PITI itu murni pengabdian. Organisasi itu tidak punya kaitan dengan politik, tapi sosial keagamaan. PITI itu wadahnya umat Islam, khususnya mualaf Tionghoa," katanya suatu ketika.

Rupanya, aktivitas Anton di PITI dan ranting Nahdlatul Ulama di Malang menjadi modal sosial yang berharga baginya. Maka, dia pun diusung sebagai calon wali kota Malang menghadapi beberapa nama populer. Toh, ketentuan Tuhan pula yang bicara. Anton alias Eng An terpilih sebagai wali kota Malang... versi quick count LSI.

Anton sendiri mengaku lahir dari keluarga yang majemuk, bhinneka tunggal ika. Mereka 9 bersaudara, agama mereka pun majemuk. Ada yang Islam, Khonghucu, Kristen Protestan, dan Katolik. "Papa dulu Khonghucu dan Mama beragama Islam. Jadi, keluarga kami bhinneka tunggal ika," kata suami Dewi Farida ini.

Karena sangat heterogen, menurut Anton, mereka biasa merayakan hari raya Idul Fitri atau tahun baru Imlek bersama-sama. "Kalau Lebaran ngumpulnya ya di rumah saya. Tapi kalau Natal di tempat kakak saya. Semuanya ngumpul bareng dan makan-makan saja," kata anak terakhir dari sembilan bersaudara ini.

05 June 2013

Henry Najoan Motor Surabaya Heritage


Di sela kesibukannya sebagai salah satu manajer di PT Wismilak Inti Makmur Tbk, Henry Najoan (50 tahun) terlibat aktif dalam pelestarian bangunan-bangunan cagar budaya di Kota Surabaya dan sekitarnya. Henry bahkan menjadi salah satu motor Sjarikat Poesaka Soerabaia.


Bisa diceritakan kapan Sjarikat Poesaka Soerabaia berdiri?

Deklarasinya dilakukan di Grha Wismilak, Kamis Pahing, 25 Nopember 2010. Deklarasi dilakukan bertepatan dengan penutupan pameran foto-foto Soerabaia Tempo Doeloe yang menggambarkan keadaan Kota Surabaya pada tahun 1890 hingga 1940. Waktu itu sejumlah komunitas pencinta sejarah dan cagar budaya sepakat untuk membentuk sebuah wadah atau konsorsium yang peduli pada pelestarian benda-benda cagar budaya di Kota Surabaya.

Mengapa disebut Sjarikat Poesaka Soerabaia?

Yah, biar terkesan ada nuansa tempo doeloe dengan penggunaan istilah dan ejaan lama. Organisasi ini bahasa Inggrisnya disebut Surabaya Heritage Society. Sebuah konsorsium untuk bersinergi, memfasilitasi, dan saling mendukung para penggiat dan pecinta Kota Surabaya.

Komunitas apa saja yang tergabung di situ?

Cukup banyak. Ada Freddy Istanto dari Surabaya Heritage), saya (Wismilak) Eddy Samson (Tim 11 Von Faber Cagar Budaya), Said Basymeleh (Pelestari Buku/Foto), Surabaya Food, KSPS, KIBAS, Surabaya Memory, Surabaya Tempo Dulu, DHD 45, Paskas/Kosri, Komunitas Tiada Ruang, Roodebrug Surabaya, Jejak Petjinan, dan masih banyak lagi.

Artinya, komunitas-komunitas pelestari heritage itu sebetulnya sudah cukup banyak di Surabaya.

Betul. Dan, selama ini masing-masing komunitas bergerak sendiri-sendiri sesuai dengan fokus dan kepentingannya. Tapi pada dasarnya semuanya didasari motivasi yang sama. Yakni, ingin melestarikan pusaka atau heritage yang ada di Surabaya. Sayang sekali kalau warisan budaya dan sejarah yang bernilai tinggi itu hilang atau dimusnahkan begitu saja.

Bagaimana perhatian pemerintah terhadap cagar budaya?

Sebetulnya sudah ada perhatian, tapi belum begitu maksimal. Karena itulah, Pemerintah Kota Surabaya perlu mitra dari masyarakat atau civil society. Nah, di sinilah pentingnya Sjarikat Poesaka Soerabaia dalam memberikan masukan atau usulan kepada pemkot. Sebagai pecinta sejarah, kami punya kewajiban untuk menyampaikan usulan kepada pihak berwenang seperti pemkot atau DPRD. Kita semua berkepentingan memelihara warisan budaya dan sejarah yang tiada ternilai harganya itu.

Apa saja yang pernah disampaikan Sjarikat Poesaka Soerabaia kepada pemkot?

Contoh sederhananya renovasi gedung Balai Pemuda yang terbakar beberapa waktu lalu. Nah, saat dibangun kembali, rupanya pelaksana proyek lupa atau tidak tahu kalau gedung itu punya ventilasi udara atau cungkup di atapnya. Kok bisa tidak ada. Kita menyampaikan hal itu kepada pihak-pihak terkait. Lha, kalau kita biarka saja, maka Balai Pemuda sebagai bangunan cagar budaya akan berbeda dengan aslinya. Padahal, undang-undang sudah jelas mengatur bahwa bangunan cagar budaya tidak boleh diubah bentuknya.

Ngomong-ngomong, sejak kapan Anda tertarik pada bangunan tempo doeloe?

Sebetulnya sejak kecil saya sudah senang dengan gedung-gedung lama. Waktu masih kecil di Semarang, Jawa Tengah, saya suka main-main di Lawang Sewu. Nuansa tempo doeloe itu sekaligus mengingatkan keluarga saya. Ibu saya itu asli Belanda, Jeanne Louise Dirksen. Beliau itu salah satu orang yang tertinggal ketika orang Belanda dipulangkan setelah kemerdekaan. Jadi, Londo yang ketinggalan kapal itu, ya, ibuku.

Nah, ketika pindah ke Surabaya tahun 1987, saya juga suka menikmati keindahan bangunan cagar budaya. Saya sering jalan-jalan ke Balai Pemuda, Kantor Pos Kebonrojo, Jembatan Merah, Kembang Jepun, Kapasan, dan tempat-tempat lain yang masih kental dengan nuansa tempo doeloe. Saya juga masih suka makan es krim di Zangrandi. Suasana Belandanya masih dapet.

Wah, klop sekali karena sekarang Anda berkantor di dalam sebuah gedung cagar budaya di tengah Kota Surabaya.

Itu juga yang membuat saya lebih semangat dalam bekerja. Saya masih terus mengagumi arsitektur bangunan ini. Saya suka berkeliling melihat-lihat gedung. Bahkan, saya biasa datang ke kantor satu atau dua jam lebih awal agar masih ada waktu untuk keliling-keliling. Selain bernostalgia, kita bisa menghirup udara dari ventilasi jendela yang besar. Sebab, bangunan kolonial itu sangat memperhatikan ventilasi karena disesuaikan dengan iklim tropis, khususnya udara di Surabaya.

Bisa Anda ceritakan secara singkat sejarah Grha Wismilak yang menjadi salah satu bangunan cagar budaya di Surabaya ini?

Gedung ini ikut menjadi saksi sejarah peristiwa 10 November 1945, karena menjadi lokasi penyerahan senjata arek-arek Suroboyo akibat ultimatum Jenderal Mansergh. Sebelumnya, bangunan ini adalah Toko Jan, cabang dari Toko Piet  (kemudian menjadi Toko Metro) di Jalan Tunjungan. Beberapa waktu sebelum Jepang masuk ke Surabaya pada 1942, Toko Jan ditutup. Barang-barang yang masih ada diloak oleh orang Belanda di sekitar Coen Boulevard atau Jalan dr Soetomo sekarang. (lambertus hurek)

Henry Najoan bersama para tokoh Surabaya Heritage Society.


Berburu Data ke Belanda

Berkantor di sebuah bangunan tua di Jalan dr Soetomo 27, Surabaya, yang kini dikenal sebagai Grha Wismilak, membuat Henry Najoan semakin mencintai berbagai hal yang berbau tempo doeloe. Suami dari Ninik Joyo Ahmadi ini pun sibuk melengkapi data sejarah bangunan antik di dekat eks kantor Konjen Amerika Serikat itu.

Gedung yang dulunya berada di pjok Darmo Boulevaard dan Coen Boulevaard itu rampung direvitalisasi pada 1996. Tak hanya mencari data di Surabaya, Henry juga menghubungi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal, Land, en Volkenkunde) atau lembaga penelitian di Negeri Belanda. "Tak sampai satu bulan, tim yang dipimpin Nico van Horn, ahli arsip dari KITLV, langsung datang ke Surabaya untuk melacaknya,” tuturnya.

Akhirnya, tim tersebut menemukan data yang valid. Bahwa gedung tersebut mulanya dimiliki Paul Alexander Johannes Wilhelm Brandenburg Van der Gronden. Ia adalah makelar gula firma GL Sirks & Co.

Tak hanya itu. Tak dinyana, Henry  menemukan kartu pos edisi 1924 dari penjual barang-barang kuno via internet. Di sana tergambar gedung yang juga menjadi saksi sejarah penyerahan senjata Belanda ke Jepang pada masa kemerdekaan. itu “Kartu pos ini belum saya publikasikan dan hanya saya yang punya. Kelak harus dinikmati warga Surabaya agar makin mencintai gedung ini,” katanya bangga.

Di dalam foto post card tersebut, kita bisa melihat secara detail beberapa hal, termasuk pemandangan di sekitar Grha Wismilak. Ada lampu gas yang bisa hidup dengan tarikan bambu. Ada gas station kecil tepat di lokasi yang sekarang jadi pos polisi. Lalu, ada dokar lewat di seberang jalan serta halte mini yang lewat di depan gedung.

“Lewat kartu pos itu saja kita bisa menunjukkan sejarah kita dulu. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga heritage agar anak cucu kita juga masih bisa melihat apa yang kita lihat sekarang. Seperti mata rantai sejarah yang tak akan putus,” ucapnya. (*)


BIODATA SINGKAT

Nama : Henry Najoan
Lahir : Surabaya, 27 Oktober 1962
Istri : Ninik Joyo Ahmadi
Anak : Fabiola Audrey Najoan, Hans William Najoan, dan Raymond Najoan
Jabatan : Chief Personal & Legal Officer PT Wismilak Inti Makmur Tbk
Hobi : Jalan-jalan, kuliner, koleksi foto gedung tua
Alamat : Jalan dr Soetomo 27, Surabaya
Pendidikan : Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang
Organisasi : Sjarikat Poesaka Soerabaia