04 May 2013

Wartawan mati meninggalkan tulisan



"Wartawan yang tidak mencintai bahasa adalah bebal.
Wartawan yang malas terjun melakukan reportase adalah goblok."

Dua kalimat pedas ini disampaikan almarhum Budiman S. Hartoyo dalam berbagai kesempatan. Budiman adalah mantan wartawan majalah Tempo yang sangat concern pada bahasa wartawan. Dia bedah habis kata-kata wartawan, baik magang, yunior, senior, hingga pensiunan, hingga kita tersadar, oh, logika kalimat tidak jalan. Kalimatnya kacau-balau.

Saya tiba-tiba teringat Pak Budiman S. Hartoyo ketika beberapa redaktur mengeluhkan tulisan anak buahnya, wartawan masa kini. "Payah. Yang kita lakukan ini bukan lagi editing, tapi rewriting. Harus menulis ulang, bongkar total susunan tulisannya," kata seorang redaktur yang suka gerundel.

Keluhan klasik. Dalam sebuah pelatihan jurnalistik yang diampu Budiman, yang juga seorang sastrawan, keluhan ini pun terlontar. Dan, solusinya tidak bisa instan atau seketika jadi. "Kuncinya adalah membaca," kata Budiman suatu ketika. Wartawan yang tidak membaca adalah bebal."

Membaca apa? "Apa saja?" katanya.

Membaca selain membuat pengetahuan kita bertambah, pun mengasah logika. Orang yang terbiasa berpikir logis niscaya akan menulis dengan runut. Tidak melompat-lompat. "Biasakan wartawan Anda untuk membaca. Jangan terlalu asyik main games komputer," pesannya. Sederhana saja, tapi aktual.


Ada lagi pesan Budiman S. Hartoyo yang kudu diingat-ingat wartawan dan siapa saja yang bergulat dalam dunia tulis-menulis:

"Seorang penulis yang baik ialah yang menguasai dan mencintai bahasa, sehingga ia mampu menggunakannya sebagai alat pengungkap ekspresi yang pas dan penuh warna."

Pak Budiman sudah cukup lama meninggal dunia. Namun, jejaknya masih sempat terlacak di internet. Posting terakhirnya di wordpress bertanggal 31 Desember 2008. Sayang, blog Budiman yang satunya lagi, di Multiply, sudah tak mungkin lagi kita akses karena Multiply memang sudah menutup layanan blogging. Jejak Budiman S. Hartoyo di internet pun tinggal sedikit.


Gajah mati meninggalkan gading
Wartawan mati meninggalkan tulisan

No comments:

Post a Comment