20 May 2013

TEMPO era Orde Baru lebih asyik

Meskipun rutin membaca beberapa koran, plus laman-laman berita di internet, saya tidak puas kalau belum membaca majalah TEMPO. Karena itu, saya setiap Senin pasti membeli TEMPO di pinggir jalan. Dulu berlangganan, tapi datangnya kalah cepat ketimbang eceran. Mendingan beli eceran yang datangnya lebih cepat.

Membaca majalah TEMPO itu, bagi saya, untuk mengasah perasaan bahasa. Gaya bahasanya enak, pilihan kata oke, ceritanya runut, penuh kejutan. TEMPO juga cenderung anti-akronim, melawan jargon bahasa, cocok dengan filsafat bahasa yang saya anut. TEMPO juga masih memberi tempat untuk catatan pinggir Goenawan Mohamad, yang selalu saya baca meskipun sering kurang saya pahami.

Isu-isu yang sudah dibahas habis koran-koran selama seminggu masih asyik dinikmati di TEMPO. Hanya karena sajiannya yang enak.

Bahkan, majalah TEMPO yang sudah lama pun tetap enak dibaca. Beda dengan koran-koran yang selesai dibaca langsung dipakai untuk membungkus kacang atau dikilokan. Saya tak tega mengkilokan majalah TEMPO meskipun stok saya sudah menumpuk. Eman eman...!

Di saat senggang, saya tetap saja asyik menikmati majalah TEMPO meskipun usianya sudah dua tahun atau tiga tahun silam.

Anehnya, majalah TEMPO edisi lama, sebelum terbit kembali usai reformasi, menurut saya, jauh lebih enak dibaca ketimbang majalah TEMPO hari ini. Majalah TEMPO super lawas, tahun 1980-an, yang pakai kertas koran, hitam putih, halaman warnanya cuma satu dua (untuk iklan dan sampul) itu jauh lebih enak dibaca. Cara berceritanya runut, bahasanya indah, ada humor, ibarat pendekar sakti yang sudah sangat mahir di dunia silat kata-kata.

Kayaknya kepiawaian wartawan dan redaktur TEMPO era reformasi ini dalam bermain kata masih kalah jauh sama para seniornya pada era 1980-an dan 1990-an. Persis musik pop kita yang jauh lebih berkualitas pada era sebelum 2000. Padahal, teknologi rekaman digital dan berbagai fasilitas saat ini 100 kali lebih canggih ketimbang era 1980-an.

Lagu-lagu pop lawas tetap membekas sampai sekarang. Beda dengan lagu-lagu sekarang yang lewat begitu saja. Padahal, kita belum sempat hafal liriknya, apalagi mengendapkannya ke dalam kalbu.

Nah, majalah TEMPO juga begitu. Kehebatan TEMPO generasi 2000-an hanya di tampilan visual. Banyak sekali grafis, kayak pamer seni desain visual, dengan warna-warni dan gambar norak. Sebagai penggemar kata-kata dan bahasa, saya hanya suka membaca komposisi atau ramuan artikelnya.

Jangan-jangan pembaca TEMPO sekarang (mayoritas) lebih doyan info grafis yang sangat dominan itu? Yang jelas, saya termasuk yang minoritas saja deh.

Karena suka majalah TEMPO lawas, maka saya sering mampir ke pusat buku dan majalah bekas di Jalan Semarang, Surabaya. Saya mencoba mencari majalah TEMPO era Orde Baru yang sangat fenomenal itu. Ternyata tidak gampang. Yang banyak di lapak-lapak itu justru majalah-majalah wanita dan semi porno ala Popular dan sejenisnya.

"Majalah TEMPO itu termasuk yang sering dicari orang, tapi stoknya nggak ada," kata Lia, gadis asal Madura, penjaga lapak buku-buku bekas di Kampoeng Ilmu Surabaya, Jalan Semarang.

Hmmm... rupanya para pelanggan majalah TEMPO tempo doeloe mirip saya. Tak mau mengkilokan majalahnya karena ketagihan membaca majalah yang dirintis penyair Goenawan Mohamad itu.

4 comments:

  1. kualitas editor dan Jurnalis bahasa yang menyebabkan berita yang ditampilkan kurang lugas dan tajam, kunjungan balik dong ke blog saya myfamilylifestyle.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Setuju Mas, saya ingat majalah Tempo tahun 80an dulu memang asyik dibacanya, berita apa saja yang rumit percabangan dan implikasinya jadi gamblang dengan membaca Tempo.
    Makanya sudah setahun lebih ini saya berhenti berlangganan dan membaca Tempo, supaya tidak rusak kenangan dan persepsi saya tentangnya!

    ReplyDelete
  3. Catatan Pinggir Bung Goenawan yang paling menarik dan berkesan bagi saya meskipun pada saat itu saya dan adik saya masih SMP. Terima kasih Bung Hurek mengangkat tema ini.

    ReplyDelete
  4. majalah tempo itu fenomenal dan punya style yg keren.

    ReplyDelete