28 May 2013

Tabrak Lari Makin Mencemaskan

Sabtu pagi (18/5/2013), usai mengikuti senam Ling Tien Kung bersama komunitas Tionghoa di Lapangan Ole-Ole, Ngagel, Surabaya, saya berjalan kaki melewati Makam Bung Tomo dan Ngagel Jaya Selatan. Tiba-tiba... braaaak!!! Seorang remaja berjilbab terlempar dari sepeda motornya.
Jalan raya sangat ramai. Penuh sesak memang Jalan Ngagel Jaya Selatan setiap pagi dan sore. Orang seakan balapan agar tidak terlambat masuk kerja. Nah, sepeda motor baru si cewek terpisah sekitar lima meter. Saya dan dua orang lain cepat-cepat membantu si korban.
"Awakmu gak popo Ning? Kamu enggak apa-apa?" saya bertanya.
Si gadis itu meringis kesakitan. Dan.. langsung kami bopong ke pinggir jalan, depan toko bahan kimia. Syukurlah, nona ini pakai helm standar, lukanya pun tidak berat. Namun, dia tidak bisa berjalan karena perih luar biasa. Syukurlah, beberapa karyawati kantor sebelah mengajak korban untuk istirahat di kantor mereka. Sambil menunggu jemputan dari keluarga adik remaja itu.
Lantas, di mana laki-laki yang menyerempet korban dari belakang itu?
Ini pertanyaan konyol di Surabaya. Mana ada penabrak yang turun untuk membantu korbannya? Membawa ke rumah sakit atau memperbaiki kendaraan yang rusak? Yang terjadi selama ini di Surabaya, juga kota-kota lain di Jawa Timur, adalah TABRAK LARI.
Setelah menabrak orang, si penabrak lekas-lekas kabur agar tak diketahui orang. Tak peduli korban luka parah, bahkan meninggal dunia. Tabrak lari bahkan sudah menjadi budaya yang sangat merisaukan kita semua. Mudah-mudahan si penabrak lari itu tidak menjadi korban tabrak lari suatu ketika.
Begitulah. Jalan raya di Surabaya, juga kota-kota lain, makin padat dan merisaukan. Hanya Tuhan yang bisa melindungi kita. Sesama manusia pemakain kendaraan justru menjadi serigala bagi manusia lain. Menabrak orang, lalu cepat-cepat melarikan diri. Sangat sedikit penabrak lari yang bisa tertangkap karena polisi kita tidak punya kemampuan untuk mendeteksi pelaku penabrakan.
Di Surabaya hampir tak ada lagi kesempatan buat para penyeberang jalan. Tempat penyeberangan (zebra cross) pun tidak aman. Manusia-manusia di Surabaya tidak menghargai orang yang menyeberang jalan. Ketika ada orang menyeberang, di zebra cross, bukannya memperlembat laju kendaraan, pengendara-pengendara di Surabaya justru mempercepat lajunya.
"Orang Surabaya ini lebih takut menabrak kucing ketimbang manusia. Kalau ada kucing yang lewat, kendaraan-kendaraan pasti berhenti agar tidak membuat kucing itu mati," kata teman saya yang tinggal di Sidoarjo.
Ah, rupanya nyawa kucing lebih mahal daripada nyawa manusia!
Sudah begitu banyak korban tabrak lari, yang meninggal dunia, di Surabaya. Saya teringat Silvana, wartawan RRI Surabaya, yang tewas akibat tabrak lari di Jagir Wonokromo. Silvana meninggalkan dua anak yang belum dewasa. Di mana tanggung jawab dan rasa kemanusiaan para penabrak itu?
Ironisnya, hampir semua jalan utama di Surabaya menggunakan sistem satu arah, sehingga seharusnya lebih aman. Tabrak lari biasanya nyenggol atau nyerempet dari belakang. Karena itu, para korban tak akan pernah tahu wajah penabraknya. Juga tak pernah mengingat nomor motor atau mobil yang dipakai penabrak.

2 comments:

  1. Sepertinya kehati-hatian harus dipertimbangkan matang-matang ya. salam dari Pekalongan kawan, ditunggu komentar baliknya..
    www.ruangbatik.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. iya pak, masalah lalu lintas memang sepertinya masih menjadi salah satu permasalahan yang belum bisa terselesaikan... ditunggu kungjungannya... http://sarmanpsagala.blogspot.com

    ReplyDelete