14 May 2013

Robert Rosihan Merawat Rumah Keluarga Han di Surabaya




Salah satu objek wisata di Surabaya yang makin diminati pengunjung sejak reformasi adalah kawasan pecinan atau Chinatown. Di kawasan Jalan Karet terdapat tiga rumah sembahyang keluarga konglomerat Tionghoa yang sangat berpengaruh pada masa Hindia Belanda. Yakni, rumah keluarga Han, Tjoa, dan The. Di antara tiga bangunan tua itu, rumah keluarga Han di Jalan Karet 72, Surabaya, sering dikunjungi wisatawan dan berbagai komunitas di Kota Pahlawan.

Berikut petikan percakapan Lambertus Hurek dengan Robert Rosihan, ahli waris dan pemilik bangunan bersejarah di dekat Jembatan Merah, Surabaya, itu.

Bisa diceritakan sedikit sejarah keberadaan keluarga Han di Nusantara?

Keluarga Han pertama kali tiba di di Lasem, Jawa Tengah, pada tahun 1673. Sementara rumah sembahyang keluarga Han di Jalan Karet 72 ini baru didirikan sekitar abad ke-18 atau ke- 19 oleh Han Bwee Koo, generasi keenam.

Perlu saya tegaskan, meskipun sering dikatakan masyarakat sebagai rumah abu, sebetulnya tidak ada abu yang disimpan di rumah ini. Silakan dilihat. Yang ada adalah kayu-kayu simbolis dengan tulisan nama keluarga yang telah meninggal dunia yang disebut sinci.

Papan-papan nama itu ada berapa?

Kalau tidak salah 131. Ini menunjukkan leluhur kami, marga Han, yang telah meninggal dunia untuk selalu didoakan dan dihormati dalam perayaan-perayaan Tionghoa. Kalau melakukan ritual di sini, misalnya saat Sincia (tahun baru Imlek), maka kami harus menyediakan teh sebanyak 131 cangkir. Simbol penghormatan kepada 131 leluhur marga Han.

Dalam setahun berapa kali Anda dan keluarga besar Han mengadakan upacara di sini?

Tiga kali. Yakni, tahun baru Imlek, Ceng Beng setiap tanggal 5 April, dan sembahyang rebutan. Tiga perayaan itu merupakan tradisi yang sangat dikenal masyarakat Tionghoa. Yah, kami ikut melestarikannya, sekaligus merawat bangunan yang cukup bersejarah ini.

Bisa diceritakan bagaimana bangunan ini di masa Orde Baru?

Yah, kita tahulah di masa Orde Baru itu terjadi begitu banyak tekanan kepada para pemilik atau ahli waris bangunan-bangunan tua di kawasan pecinan Surabaya ini. Bangunan-bangunan lama di kawasan ini diklaim karena dianggap tidak ada pemiliknya, telantar, dan sebagainya. Bahkan, ada selentingan mau di-demolish untuk dibangun pusat perbelanjaan seperti mal atau plaza. Ini yang membuat sebagian pemilik bangunan di sekitar sini masih trauma sampai sekarang.

Syukurlah, kami berusaha mempertahankan bangunan ini sehingga masih bisa dinikmati sampai sekarang. Pemkot Surabaya juga telah memasukkannya sebagai salah satu bangunan cagar budaya di Kota Surabaya. Ini sebuah kemajuan yang layak disyukuri karena pemerintah sudah mengakui bahwa bangunan ini punya nilai sejarah yang tinggi, khususnya buat generasi kita di masa mendatang. Lha, andai kata bangunan ini sudah berubah menjadi mal, kelak masyarakat hanya bisa tahu dari buku-buku atau internet.

Mungkin gara-gara trauma, mereka terkesan tertutup. Sepertinya tidak ingin bangunannya dikunjungi mahasiswa, peneliti, wartawan, atau komunitas pencinta sejarah.

Betul sekali. Bagaimanapun juga trauma selama rezim Orde Baru itu tidak bisa hilang begitu saja meskipun sekarang sudah era reformasi.

Lantas, apa tujuan Anda membuka kembali rumah sembahyang keluarga Han ini?

Sederhana saja. Saya ingin agar paling tidak anak saya mengetahui bahwa bangunan ini milik leluhurnya. Selain itu, banyak pihak seperti pakar arsitektur, peneliti sejarah, mahasiswa, berbagai komunitas, maupun masyarakat umum tertarik melihat bangunan ini, karena bentuknya merupakan perpaduan tiga budaya. Atap di aula gaya Jawa, ubinnlantai gaya Eropa, dan tempat sembahyang tentunya bergaya Tionghoa. Bahan-bahan kayu yang dipakai pun sangat istimewa karena didatangkan dari luar negeri.

Apa kesulitan Anda dalam mengelola bangunan ini?

Wah, kesulitannya banyak sekali. Kalau mau jujur, bangunan ini sebetulnya cost center, bukan profit center. Sejauh ini kita tidak dapat keuntungan finansial sama sekali. Yang terjadi adalah kita harus mengeluarkan banyak anggaran untuk pemeliharaan. Apalagi, bangunan sebesar ini biaya perawatannya tidak sedikit. Karena itu, banyak bagian bangunan ini yang masih kurang terawat.

Bagaimana dengan usulan dari pihak Universitas Kristen Petra agar dibentuk yayasan untuk memelihara tiga rumah sembahyang di kawasan pecinan ini? Maksudnya agar biaya perawatan bisa ditangani yayasan dan penyandang dananya?

Begini. Dulu, pihak keluarga Tjoa dan keluarga The sebenarnya sudah mengkontak saya untuk membahas permasalahan ini bersama-sama. Sebab, tiga rumah sembahyang di Jalan Karet ini memang punya persoalan yang hampir sama. Yakni, beratnya beban biaya perawatan. Tapi, dalam perjalanannya, masih ada kendala-kendala internal di kalangan keluarga masing-masing. Dan itu tidak mudah karena ahli waris ketiga marga ini sudah terpencar di berbagai kota, bahkan luar negeri.

Bagaimana dengan rencana pemkot untuk menjadikan kawasan pecinan, khususnya Jl Karet, sebagai objek wisata kampung pecinan?

Bagus sekali. Saya tentu sangat mendukung. Bahkan, kami, para pemilik bangunan-bangunan tua di kawasan ini pun pernah diajak bicara oleh pihak pemkot. Kami ingin agar pemerintah membantu upaya pelestarian bangunan-bangunan tua, terutama yang berada di kawasan bisnis. Mengapa? Beban pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB) rasanya sangat berat. Sebab, rata-rata tanah dan bangunan tua sangat luas dan berada di kawasan bisnis.

Kami hanya ingin pemkot sedikit meringankan beban kami. Tidak perlu berupa uang tunai, dalam bentuk keringanan PBB saja, kami sudah bersyukur.

Apa lagi yang perlu dilakukan pemerintah?

Dari segi keamanan dan pengembangan infrastruktur kalau mau dijadikan daerah wisata. Kawasan pecinan ini kan siangnya ramai, penuh dengan truk dan kendaraan-kendaraan besar, tapi malamnya sepi dan dirasa kurang aman. Nah, semua ini harus dipikirkan oleh pemerintah agar kelestarian bangunan-bangunan lama di pecinan ini bisa terjaga.

Apakah pemerintah kita bisa melakukannya? 

Mengapa tidak? Negara-negara lain saja sudah melakukannya, dan hasilnya memang sangat positif bagi pengembangan pariwisata. Singapura misalnya berhasil melestarikan bangunan-bangunan tua yang bersejarah menjadi aset wisata yang ramai dikunjungi wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. (*)

No comments:

Post a Comment