11 May 2013

Perjuangan Oposisi Malaysia Masih Panjang

Kita semua sudah tahu hasil pemilihan raya (pemilihan umum) di Malaysia. UMNO dan kawan-kawan menang lagi. Oposisi atau pembangkang, dengan tokoh utama Anwar Ibrahim, kalah. Tidak mengagetkan karena pemilu di Malaysia memang sudah dirancang sedemikian rupa agar UMNO cs menang terus. 

Sehebat apa pun kekuatan pembangkang, dia boleh dikata mustahil mengalahkan Barisan Nasional. BN itu macam Golkar di Indonesia pada masa Orde Baru. Soeharto dan kaki tangannya merancang sistem politik sedemikian rupa agar Golkar menang terus... sampai kiamat.

Malaysia itu pada hakikatnya sama dengan Golkar di masa Orde Baru. Status quo dipertahankan sedemikian rupa dengan berbagai cara. Termasuk rekayasa, fitnah politik, indoktrinasi, hingga aksi teror dan kekerasan untuk lawan-lawan politik. Siapa saja yang tidak suka Golkar + Orde Baru dicap komunis. Anti-Pancasila, antipembangunan, dan sebagainya.

Tak ada pers bebas semasa Orde Baru. Media dikontrol ketat. Tak boleh ada kritik terhadap Pak Harto dan Orde Baru. Masih lebih baik Malaysia yang punya oposisi, Orde Baru membantai habis gerakan oposisi sampai ke akar-akarnya. Suara kritis para tokoh yang tergabung dalam Petisi 50 ditanggapi dengan reaksi yang sangat keras. Semua tokoh Petisi 50 dianggap musuh negara. Ada yang dijebloskan ke penjara.

Di Malaysia situasinya mengingatkan kita pada Orde Baru. Anwar Ibrahim dijebloskan ke penjara dengan tuduhan yang aneh-aneh. Kaum pembangkang tak punya media untuk sosialisasi dan menyuarakan pendapat. Media-media resmi setiap hari memuat berita dan ulasan miring tentang pembangkang. 

Tapi rupanya pemilihan raya pada 5 Mei 2013 lalu menunjukkan hasil yang lumayan mengejutkan. Koalisi oposisi menang popular vote atau meraih suara terbanyak. Tapi, ketika dikonversi menjadi kursi dengan sistem distrik murni (beda dengan di Indenesia), Pakatan Rakyat justru kalah telak. Ya, begitulah politik. Selalu ada sistem dan cara untuk mengekalkan kekuasaan!

Anwar Ibrahim, Pakatan Rakyat, koalisi oposisi memang sudah kalah. Najib Razak sudah dilantik jadi perdana menteri kembali. Tapi hasil pemilu kali ini sudah berbicara kepada dunia bahwa rezim UMNO, yang menggunakan politik SARA (isu rasial dan agama) untuk mempertahankan status quo itu tidak lagi sekuat dulu. Sudah banyak rakyat Malaysia yang menginginkan perubahan. Dan jumlahnya lebih banyak ketimbang pendukung status quo BN, terlihat dari popular vote yang memenangi oposisi.

Kenyataan ini juga menunjukkan bahwa angin perubahan makin kencang berembus di Malaysia. Bahwa cepat atau lambat kekuasaan status quo UMNO akan berakhir suatu saat. Mungkin lima tahun lagi, 10 tahun, 20 tahun, atau 50 tahun lagi. Mendobrak tembok status quo memang butuh stamina panjang... sangat panjang... karena rezim petahana selalu punya cara dan sumber daya untuk mengekalkan kekuasaannya. 

No comments:

Post a Comment