12 May 2013

Pak Suryo, Pendiri PPLH Seloliman, Trawas, Wafat

Saya terkejut bukan main saat membaca berita di internet: Suryo Wardhoyo Prawiroatmodjo meninggal dunia pada 8 Mei 2013 di Jakarta. Pak Suryo, sapaan akrab dokter hewan alumnus Universitas Arlangga, sangat terkenal di kalangan aktivis lingkungan hidup di Jawa Timur, bahkan Indonesia. Dialah yang mendirikan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Mojokerto, pada 1988.

PPLH di dekat situs petirtaan Candi Jolotundo, kaki Gunung Penanggungan, ini jadi jujukan warga Surabaya yang ingin rekreasi atau sekadar belajar lingkungan hidup. Setiap hari ada saja rombongan anak sekolah, mahasiswa, komunitas, hingga keluarga berkunjung dan bermalam di sana. Biasanya, sekali datang ke PPLH, orang akan ketagihan. Datang lagi, lagi, dan lagi... seperti saya.

Tidak mudah bagi Pak Suryo, kelahiran Surabaya, 22 Juni 1956, untuk merintis sebuah pusat pendidikan lingkungan hidup di desa yang cukup terpencil itu. Orang-orang kampung heran dan bertanya-tanya. Ada apa agenda di balik kompleks PPLH? Maklum, PPLH Seloliman saat itu baru pertama di Indonesia.

Tapi, berkat keluwesannya bergaul dengan orang desa, penghayatan budaya Jawa yang dalam, Pak Suryo berhasil menarik simpati warga Seloliman. Dia menggandeng warga desa untuk terlibat dalam kegiatan PPLH. Termasuk memasok bahan-bahan makanan untuk Restoran Alas, khas PPLH. Nama Pak Suryo pun menjadi sangat harum di Seloliman meskipun dia sudah sangat lama menarik diri dari PPLH.

Manajemen PPLH yang sudah berganti beberapa kali pun selalu dibanding-bandingkan dengan Pak Suryo. Kok pengurus PPLH sekarang tidak seperti Pak Suryo? Dulu, waktu dipegang Pak Suryo, PPLH tidak seperti ini. Saya selalu mendengar kata-kata seperti ini. Begitulah, lain koki lain masakan. Dan masakan Pak Suryo rupanya paling pas dengan selera warga Desa Seloliman, lokasi PPLH yang terkenal itu.

"Wafatnya Pak Suryo mengingatkan kita bahwa perjuangan untuk membela lingkungan hidup masih jauh dari sukses. Kita kehilangan perintis, pejuang dan praktisi yang luar biasa," kata Eka Budianta, sahabat almarhum, yang juga penggiat lingkungan.

Pada tahun 1990, Suryo Wardhoyo Prawiroatmodjo mendapat penghargaan internasional Rolex Awards atas kepedulian dan kegiatannya di bidang lingkungan hidup. Bagi Suryo, lingkungan hidup bukan sekadar menanam pohon, tapi meyakinkan orang untuk "mencintai tanah dan tidak akan pernah mengangkat kaki dari bumi," demikian pendapat Suryo yang terpampang pada laman Rolex Awards for Enterprises.

Dua tahun kemudian, 1992, perjuangannya kembali mendapat pengakuan internasional. Kali ini dari Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) The Global 500 Award. Suryo menerima penghargaan ini di Rio de Janeiro, Brasil.

Pak Suryo juga piawai dalam melakukan kaderisasi pejuang lingkungan. Begitu banyak anak-anak muda, yang baru lulus perguruan tinggi, yang diajak bergiat di lingkungan hidup. PPLH pun dia tinggalkan karena sudah ada regenerasi. Kini, begitu banyak kader Pak Suryo yang bergiat di berbagai pusat lingkungan hidup di seluruh Indonesia.

Saya sendiri terkejut ketika bertemu Pak Suryo di markas komunitas Hakka di Surabaya, Jalan Slompretan, beberapa bulan lalu. Saat itu Pak Suryo mendampingi puluhan mahasiswa Universitas Ciputra yang sedang melakukan kuliah budaya di lapangan. "Saya tidak mau para mahasiswa ini hanya kuliah di kelas saja, tapi buta lapangan," katanya.

Karena itu, kunjungan ke markas Hakka itu dinilai. Oh, ternyata Pak Suryo sudah jadi dosen Universitas Ciputra. Saya pun berencana menulis profilnya secara panjang, khususnya pengabdian di bidang lingkungan hidup serta kebudayaan. Namun, rencana itu belum sempat terwujud karena harus antre dengan nama-nama lain yang sudah disiapkan.

Eh, ternyata Tuhan punya rencana lain. Pak Suryo pun dipanggil kembali ke haribaan-Nya. Selamat jalan Pak Suryo! Semoga Anda berbahagia bersama Tuhan, Sang Penguasa Alam Raya!

No comments:

Post a Comment