28 May 2013

Nama sebagai Kata Ganti Orang Pertama

SAYA mau tamasya berkliling-kliling kota
Hendak melihat-lihat keramaian yang ada
SAYA panggilkan becak kereta tak berkuda
Becak becak coba bawa SAYA 

SAYA duduk sendiri dengan mengangkat kaki
Melihat dengan aksi ke kanan dan ke kiri
Lihat becakKU lari bagai takkan berhenti
Becak becak jalan hati-hati


Lagu BECAK ciptaan Ibu Sud, 1942


Vitalia Shesya, yang dikabarkan dekat dengan Ahmad Fathanah, jelas bukan anak-anak atau remaja belasan tahun. Tapi di televisi, TVOne, model ini selalu menyebut namanya, Vita, dan bukan menggunakan kata ganti orang pertama. Bukan hanya Vita, setiap hari kita menyaksikan sebagian besar artis kita juga punya gaya bahasa seperti itu.

“Vita sudah pakai uang itu untuk membeli… Tapi Vita usahin kalo memang harus dikembaliin ke KPK. Vita gak nyangka kalo jadinya kayak gini,” kira-kira begitulah ucapan Vitalia Shesya.

Dari dulu saya cenderung alergi mendengar orang dewasa menggunakan namanya, bukan kata ganti orang pertama. Bukan apa-apa. Guru bahasa Indonesia saya di sebuah SMP Katolik di Larantuka, Flores Timur, dulu sangat tegas dalam mengoreksi kalimat murid-muridnya.

“Pakai SAYA, bukan namamu!” kata Pak Aldo dengan nada tinggi. “Boleh pakai AKU untuk teman-teman sebaya, orang yang akrab, tapi jangan untuk orang yang lebih tua. BETA hanya cocok untuk bahasa percakapan logat Kupang.”

Inilah pelajaran dasar kata ganti orang alias PRONOMINA PERSONA tingkat SMP. Bahasa Nagi atau Melayu Larantuka, yang jad bahasa persatuan di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, NTT, tidak mengenal kata SAYA atau AKU atau BETA atau GUE untuk orang pertama. Orang Larantuka selalu pakai KITA meskipun untuk dirinya sendiri atau orang pertama tunggal.

Karena itulah, guru-guru bahasa Indonesia di Flores Timur, khususnya Pak Aldo ini, sangat keras mengoreksi kalimat murid-murid yang menggunakan kata KITA, KAMI, ANDA, dan sebagainya. Pelajar tidak boleh menyebut nama diri, tapi harus pakai kata ganti orang pertama.

“Vita sakit, Vita mau pulang,” kata-kata macam ini hanya akan jadi bahan tertawaan teman-teman sekelas saya di Flores Timur.

“Kamu seperti anak-anak saja. Sudah besar, tapi cara berbahasanya masih kekanak-kanakan,” kata Pak Aldo yang berasal dari Adonara Timur itu.

Kalau saya amati di televisi, juga di lingkungan pergaulan sehari-hari di Surabaya, Jakarta, Malang, dan kota-kota besar di Jawa, banyak sekali orang dewasa seperti Vita yang selalu menggunakan namanya, tidak memakai SAYA, AKU, GUE, dan sebagainya. Mirip gaya bahasa anak-anak. Hanya anak-anak yang dibenarkan menggunakan namanya karena memang belum mengenal kata ganti orang atau pronomina persona.

Majalah AYAH BUNDA, majalah untuk ibu muda dan sang suami yang masih mengurus bayi dan anak-anak, pun sering membahas persoalan ini. Salah satu artikel menarik di AYAH BUNDA berjudul: Melatih Balita Menggunakan Kata Ganti Orang. Jadi, pelajaran bahasa Indonesia tentang kata ganti orang memang sebaiknya dimulai sejak balita.

Di Flores tidak bisa karena bahasa Indonesia baru mulai dikuasai (itu pun masih jauh bangun) sejak SMP. Kalah jauh dengan anak-anak Tionghoa di Surabaya yang sejak balita sudah diajari bahasa Indonesia, Jawa, Tionghoa, Inggris, dan entah bahasa apa lagi. Saya sendiri baru bisa berbahasa Indonesia setelah berusia 14 tahun. Itu pun gado-gado dengan Melayu Larantuka alias bahasa Nagi.

Majalah AYAH BUNDA menulis:

Buah hati Anda tiba-tiba menyebut Bunda dan Ayah dengan kata KAMU. Ia juga sudah tak lagi menyebut nama diri sebagai kata ganti SAYA. Jangan kaget,  ini pertanda salah satu ciri perkembangan bahasa yang baik. Latih dia menggunakannya dengan tepat.”

Kembali ke Vita si model cantik. Mengapa dia masih tetap bergaya bahasa Indonesia ala anak-anak (balita) di forum diskusi formal di televisi yang disiarkan ke seluruh Indonesia?

Ada beberapa kemungkinan:

1. Pelajaran bahasa Indonesia yang diterima Vita di SD, SMP, SMA  kurang bermutu. Topik kata ganti orang pertama dianggap sepele.

2. Guru bahasa Indonesianya tidak sempat mengoreksi kalimat-kalimat muridnya. Mungkin terlalu sibuk atau cuek bebek.

3. Ayah bundanya membiarkan Vita tetap bermanja-manja dengan nama dirinya.

4. Kecerdasan bahasa si Vita memang  kurang. Sudah tua tapi masih tetap merasa bak anak kecil.

5. Menganggap remeh bahasa Indonesia.

3 comments:

  1. numpang komen yah om...
    karena bahasa Indonesia berakar dari bahasa Melayu maka coba diulas sedikit berdasarkan kaedah bahasa Melayu yah...
    dalam tradisi orang Melayu, wajib hukumnya menggunakan nama orang sebagai kata ganti pertama dalam hubungan kekeluargaan... akan terasa janggal kalau menggunakan kata "aku" atau "saya" ketika berbicara kepada orang tua dan keluarga dekat lainnya seperti kakek, nenek, pakcik, makcik, dll...
    ketika menghadap orang2 yg dihormati, baru menggunakan kata "saya"... "saya" ini adalah evolusi dari "hamba", keduanya berakar dari frase "hamba sahaya"... kalo kita lihat film2 yg ber-setting hikayat Melayu maka kata ganti yg dipakai adalah "hamba" dan "tuan hamba"... sebenarnya kata "saya" ini masih baru dan di dalam keluarga sendiri jarang dipakai...

    memang kalo Vita menggunakan namanya sebagai kata ganti di hadapan umum terasa agak janggal, tapi kalo om sebut alasan ketiga bahwa "ayah bundanya membiarkan Vita tetap bermanja-manja dengan nama dirinya", jujur saja saya walaupun sudah dewasa tetapi tradisi di keluarga saya masih seperti itu bahkan saya merasa malu kalau memakai "aku" atau "saya" di hadapan keluarga, kecuali kalo saya harus memberi sambutan di hadapan umum ketika ada pesta, syukuran, dll...

    kalau di hadapan wartawan infotainment mungkin masih wajar saja lah... toh itu masih sopan dan buat saya menunjukkan keakraban... sama seperti Siti Nurhaliza yg selalu menggunakan kata "Siti" ketika di hadapan media...

    mohon dikoreksi yah om jika terjadi kekeliruan... terima kasih...

    ReplyDelete
  2. Terima kasih sudah menulis komentar. Sangat saya hargai karena sudah lama blog-blog Indonesia sepi komentar.

    Saya hanya mengingatkan lagu-lagu anak-anak karya Ibu Sud, Pak Kasur, Bu Kasur, Pak Dal... zaman dulu yang isinya sarat pendidikan. Syairnya mengandung pelajaran bahasa Indonesia, termasuk kata ganti orang pertama SAYA, AKU, KU. Contoh: lagu Becak di atas. Betapa Ibu Sud sejak tahun 1942 memperkenalkan kepada anak-anak Indonesia kata ganti SAYA sambil menikmati becak keliling kota.

    Siti Nurhaliza yang suka memakai SITI untuk kata ganti orang pertama? Hehehe.... Dulu saya pernah bahas. Istrinya Datuk K itu bukan contoh yang baik. Orang Malaysia justru sangat menekankan kata SAYA, bukan nama diri. Tak banyaklah orang Malaysia bercakap macam Siti lah. Tirulah yang baik-baik sahaja lah. Okay???

    Kapan-kapan akan SAYA bahas lebih panjang lagi. Salam sejahtera.

    ReplyDelete
  3. Wah rupanya kita masih perlu banyak belajar tentang Bahasa Nasional kita.... .......supaya kita tak rancu dalam berkomunikasi......

    ReplyDelete